Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Baikan.
"Papa?" Ucap Arvano pelan.
Alga mengangguk. "Angkat saja."
Arvano masih ragu. Namun akhirnya menerima panggilan itu. "Halo."
Suara Bagaskara terdengar dari seberang. "Arvano."
Sudah lama Arvano tidak mendengar suara ayahnya setenang ini, biasanya selalu tegas, selalu keras. Namun kali ini berbeda.
"Kamu di mana?" Tanya Bagaskara.
"Kenapa?" Balas Arvano.
"Papa mau bicara." Ucap Bagaskara.
"Kita tidak ada yang perlu dibicarakan." Sahut Arvano dengan tegas.
Suasana hening beberapa detik, namun Bagaskara tidak marah. Justru Bagaskara menghela napas, lalu berkata pelan. "Pulanglah."
Arvano mengernyit. "Untuk apa?"
"Aku mau minta maaf." Ucapannya itu membuat Arvano membeku. Begitu juga ketiga sahabatnya, meskipun mereka sudah tahu isi pembicaraan itu.
Mendengar langsung dari mulut Bagaskara tetap terasa mengejutkan.
"Papa" Suara Arvano terdengar pelan. Untuk sesaat bahkan mengira dirinya salah dengar.
Namun Bagaskara melanjutkan. "Pulanglah. Aku menunggumu, kita bicara di rumah."
Lalu telepon terputus. Arvano masih memegang ponselnya dengan tatapannya yang kosong, seolah otaknya belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi.
Sampai akhirnya Devon tertawa kecil. "Lo enggak salah dengar."
Fero ikut mengangguk. "Pak Bagaskara benar-benar berubah."
Arvano menatap mereka. "Kalian tahu sesuatu?"
Alga tersenyum. "Lebih baik Lo pulang."
Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Argas, pikiran Arvano dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa yang sebenarnya terjadi?Kenapa ayahnya berubah? Kenapa tiba-tiba meminta maaf? Dan kenapa menyuruhnya pulang?
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, namun tidak ada satu pun yang bisa dijawab.
Begitu turun dari mobil. Arvano langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Saat pintu terbuka, langsung melihat semua orang berada di ruang tamu. Bagaskara, Indah, Feni, dan Satrio.
Mereka semua sedang menunggunya, namun yang membuat Arvano terkejut, semua tersenyum. Tidak ada wajah marah, tidak ada ketegangan, tidak ada kemarahan seperti terakhir kali.
Indah berdiri lebih dulu. "Arvano."
Arvano menghampiri mereka, masih bingung. Bagaskara kemudian berdiri, perlahan berjalan mendekat. Lalu berhenti tepat di depan putranya.
Suasana menjadi hening. Feni dan Satrio bahkan menahan napas, karena mereka tahu momen ini penting.
Bagaskara akhirnya berkata. "Maaf."
Arvano membeku. Semua orang terdiam.
Ucap Bagaskara "Papa salah." Lanjut Bagaskara.
"Terlalu keras, terlalu memikirkan status, terlalu memikirkan perusahaan dan tidak melihat hati Aurel."
Indah tersenyum haru. Feni sampai berkaca-kaca.
Bagaskara melanjutkan. "Papa sudah memikirkan semuanya, Papa setuju menerima Aurel."
Mata Arvano langsung memerah, tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu.
Bagaskara menghela napas. "Lagipula, Papa bisa lihat kalau kalian benar-benar saling mencintai."
Arvano tidak bisa menahan senyumnya. Beban besar yang selama ini menekan dadanya seperti menghilang begitu saja.
Indah langsung berdiri dan memeluk Arvano. "Selamat."
Feni ikut tersenyum. "Akhirnya."
Satrio juga tertawa kecil. "Rumah ini jadi ramai lagi."
Bagaskara lalu menepuk bahu putranya. "Nanti kalau Aurel kembali, Papa akan bicara baik-baik dengannya dan meminta maaf."
Arvano mengangguk. "Terima kasih, Yah."
Hubungan ayah dan anak itu kembali mencair. Suasana ruang tamu berubah hangat. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi perdebatan, yang ada hanya kelegaan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena ponsel Arvano tiba-tiba bergetar. Nama Devon muncul di layar.
Arvano langsung mengangkatnya. "Halo?"
Suara Devon terdengar cepat. "Van!"
"Ada apa?" Tanya Arvano.
"Kami lihat Aurel!" Ucap Devon.
Tubuh Arvano langsung menegang. "Apa?"
"Kami lihat Aurel, barusan!" Ulang Bicaranya Devon.
Arvano langsung berdiri dari sofa, semua orang di ruang tamu menoleh.
"Di mana?" Tanya Arvano cepat.
"Di dekat warteg. Dia sama Tara." Kata Devon.
Arvano langsung menggenggam ponselnya erat. "Kalian yakin?"
Kata Devon "Sangat yakin. Itu Aurel. Enggak mungkin salah lihat."
Jantung Arvano langsung berdebar kencang. Sudah berhari-hari mencari, sudah berhari-hari tidak tahu keberadaan Aurel. Dan sekarang, Akhirnya ada kabar. "Gue ke sana sekarang."
Telepon langsung ditutup.
Indah berdiri. "Arvano?"
"Aurel ditemukan." Ucap Arvano kegirangan.
Semua orang langsung membelalakkan mata. "Apa?!" Seru Feni.
"Aurel?" Tanya Satrio.
Arvano mengangguk cepat. "Iya, Aku harus menjemputnya."
Bagaskara tersenyum. "Pergilah, bawa dia pulang dan katakan Papa ingin minta maaf."
Mata Arvano langsung berbinar. "Terima kasih, Pah."
Tanpa menunggu lebih lama. Arvano berlari keluar rumah. Masuk ke mobil. Mesin langsung menyala. Mobil melesat meninggalkan halaman rumah.
Sementara di ruang tamu. Semua orang tersenyum lega. Mereka berharap semuanya segera berakhir bahagia, namun tidak ada yang tahu.
Aurel dan Tara sedang berjalan santai di trotoar. Mengobrol seperti biasa dan sama sekali tidak menyadari, Seseorang sedang melaju menuju mereka dengan perasaan yang tak bisa lagi ditahan.
Seseorang yang membawa kabar terbesar dalam hidup mereka.
Bahwa hubungan mereka akhirnya direstui.
Bahwa mereka tidak perlu bersembunyi lagi.