NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: JANJI SEBELUM BADAI

Malam itu, ruang rekreasi Markas Delta-7 terasa lebih hangat dari biasanya. Di tengah meja, berbaring rapi foto-foto hasil jepretan kamera instan yang dibeli Raka dua hari lalu. Ada foto mereka saat makan malam berantakan, foto Bimo dengan boneka beruang raksasa, foto Kai yang gagal meretas mesin claw, dan tentu saja, satu foto utama: keempat wajah mereka yang tersenyum lebar di bawah lautan lentera Festival Cahaya.

Anjing mutan yang mereka selamatkan, Sparky, tidur pulas di kaki Bimo, sesekali menggeram kecil dalam mimpinya seolah sedang mengejar kucing hologram.

"Kalian sadar nggak?" kata Kai tiba-tiba, sambil membolak-balik foto festival itu. "Kita baru kenal beberapa minggu, tapi rasanya... sudah lama banget. Kayak kita udah saling kenal seumur hidup."

"Mungkin karena kita udah lewat banyak hal bareng-bareng," sahut Bimo sambil mengelus kepala Sparky. "Mulai dari misi kucing gila, latihan hancur-hancuran, sampai nyelamatin anjing listrik ini. Kita tim yang solid!"

Elara tersenyum, menatap foto itu lekat-lekat. Jarinya mengusap permukaan foto Raka yang ada di sana. "Iya. Solid. Bahkan kalau semuanya berantakan, kita tetap bisa bangkit lagi."

Raka duduk di sudut sofa, memeluk lututnya. Dia tidak ikut berbicara banyak malam ini. Matanya menatap foto-foto itu dengan pandangan yang dalam, seolah ingin merekam setiap detail pixel-nya ke dalam memori abadinya. Dia tahu, mungkin sebentar lagi, dia tidak akan bisa melihat mereka tertawa seperti ini lagi. Atau lebih buruk, mereka akan melihatnya menghilang sebelum mata mereka sendiri.

Tapi dia tidak boleh merusak suasana ini. Tidak malam ini.

"Eh," Raka memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit serak. "Aku punya ide."

Tiga pasang mata menoleh padanya.

"Ide apa, Rak?" tanya Elara.

"Gimana kalau kita buat janji? Janji khusus buat Squadron Aurora kita," usul Raka, matanya berbinar meski ada bayangan sedih di dalamnya. "Janji bahwa apa pun yang terjadi nanti... apakah kita dapat misi gila, apakah kita dimarahin Komandan, atau apakah dunia mau kiamat sekalipun..."

Dia berhenti sejenak, menatap masing-masing teman-temannya bergantian. Bimo yang polos, Kai yang cerdas, dan Elara yang kuat.

"...kita akan selalu kembali ke markas ini. Ke ruangan ini. Tidak ada yang pergi sendirian. Tidak ada yang ditinggalkan. Kalau satu jatuh, tiga lainnya angkat. Deal?"

Hening sejenak. Lalu, Bimo langsung mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. "Deal! Aku setuju! Nggak ada yang jalan sendirian!"

Kai ikut mengangkat tangan, tersenyum tipis. "Deal. Secara statistik, peluang bertahan hidup kita jauh lebih besar kalau bareng-bareng."

Elara menatap Raka lama. Ada sesuatu di mata pemuda itu yang membuatnya ingin bertanya, "Ada apa denganmu?", tapi akhirnya dia hanya menghela napas dan tersenyum lembut. Dia mengangkat tangannya.

"Deal. Janji Aurora. Apa pun yang terjadi, kita selalu pulang ke sini. Bersama."

Mereka menumpukkan tangan mereka di tengah meja, di atas foto-foto itu. Empat tangan dengan ukuran dan bentuk berbeda, menyatu dalam satu ikatan suci.

"Squadron Aurora!" seru mereka bersamaan.

"Tidak ada yang pergi sendirian!" tambah Bimo dengan suara lantang hingga Sparky terbangun kaget.

Mereka tertawa. Tawa yang lega, tawa yang penuh keyakinan. Mereka benar-benar percaya bahwa janji ini akan kekal. Bahwa persahabatan mereka adalah benteng terkuat di dunia ini.

Ironisnya, Raka tahu dialah yang pertama kali akan melanggar janji ini.

Aku akan pergi sendirian, batinnya sakit. Dan aku akan memastikan kalian tidak pernah tahu kemana aku pergi, supaya kalian tidak mengikuti.

Tapi dia tidak mengatakannya. Dia hanya menekan telapak tangannya lebih kuat ke tumpukan tangan teman-temannya, menyerap kehangatan itu sebanyak-banyaknya. Menyimpannya sebagai bekal untuk perjalanan panjang yang akan dia tempuh seorang diri nanti.

"Sumpah, aku bakal ingat ini selamanya," gumam Elara, matanya berkaca-kaca sedikit. "Ini momen terbaik."

"Iya," bisik Raka. "Terbaik."

Tiba-tiba, layar monitor besar di dinding ruang rekreasi berkedip. Sebuah notifikasi sistem muncul sekilas.

PERINGATAN: Terdeteksi fluktuasi energi tingkat tinggi di Sektor Utara. Pola tidak dikenali. Analisis sedang berlangsung...

Gambar radar muncul di layar. Di pinggiran peta, jauh di luar batas aman kota Neo-Solara, ada bercak merah gelap yang berdenyut pelan. Bentuknya tidak teratur, seperti asap yang menggumpal menjadi badai. Itu bukan anomali biasa seperti anjing mutan tadi. Ini sesuatu yang jauh lebih besar. Lebih ganas.

Kai menoleh ke layar, alisnya berkerut. "Eh, itu apa ya? Kayaknya ada gangguan sinyal lagi di sektor utara."

"Mungkin cuma badai debu digital," kata Bimo santai, tidak terlalu peduli. "Nanti juga hilang sendiri kayak kemarin."

"Iya," sahut Elara, mengalihkan pandangannya kembali ke foto-foto di meja. "Biarkan sistem yang urus. Malam ini milik kita."

Mereka memilih untuk mengabaikannya. Lagi pula, selama ini sistem pertahanan kota tidak pernah gagal. Selama ini, fajar selalu terbit tepat waktu. Mengapa hari ini harus berbeda?

Raka juga menatap layar itu. Tapi berbeda dengan yang lain, jantungnya berdegup kencang. Partikel emas di tubuhnya bergetar hebat, merespons sinyal merah di layar itu. Rasa sakit yang tajam menjalar dari ujung jari hingga ke dada.

Dia mengenal pola energi itu. Itu sama dengan energi yang dia rasakan saat menyentuh anjing mutan tadi, tapi ribuan kali lebih kuat. Lebih jahat.

Itu dia, batin Raka, nafasnya tersengal pelan. Badai Merah. Akhirnya datang juga.

Dia menatap teman-temannya yang masih asyik membahas rencana makan malam besok, masih tertawa, masih hidup dalam ilusi keamanan. Mereka belum tahu bahwa bayangan kematian sudah mengintip dari celah layar monitor itu. Mereka belum tahu bahwa "Janji Aurora" yang baru saja mereka ucapkan akan segera diuji dengan cara paling kejam.

Raka menarik napas dalam-dalam, menelan rasa sakit dan ketakutannya. Dia tersenyum, senyum terakhir yang penuh cinta sebelum topengnya retak sepenuhnya.

"Iya," kata Raka pelan, hampir tak terdengar di tengah tawa mereka. "Malam ini milik kita."

Dia memejamkan mata sebentar, berdoa dalam hati.

Tuhan, atau siapa pun yang mendengar... beri mereka waktu. Beri mereka satu malam lagi untuk bahagia. Besok, jika langit benar-benar berubah merah, biarkan aku saja yang menghadapinya. Jangan sentuh mereka.

Saat dia membuka mata lagi, kilatan merah di layar monitor semakin melebar, memakan sedikit demi sedikit area biru di peta. Badai sudah mulai bergerak. Waktu hampir habis.

Foto-foto di meja masih terpajang indah, menangkap momen kebahagiaan yang membeku. Di foto utama, wajah Raka terlihat begitu cerah, begitu penuh harapan. Seolah dia tidak tahu bahwa dirinya adalah lilin yang sedang terbakar di kedua ujungnya, menerangi orang-orang tercinta hingga habis menjadi abu.

Angin malam berhembus di luar jendela, membawa serta debu halus berwarna emas yang beterbangan dari tubuh Raka, menghilang ke udara sebelum sempat menyentuh lantai.

Janji telah diucapkan. Tapi takdir sudah menulis skenarionya sendiri.

Dan besok, fajar mungkin tidak akan terbit seperti biasa.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!