NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:144.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang tersisa

Azura cepat-cepat menyembunyikan kertas itu, namun terlambat, sepertinya Xavier sudah melihatnya. Buktinya mata pria itu terus terpaku pada apa yang dia sembunyikan. Saat lelaki itu mengganti posisinya dari berbaring menjadi duduk dengan posisi yang siap mengambil ancang-ancang, Azura ikut waspada.

Ia mundur selangkah. Tepat ketika Xavier berdiri dan melangkah mendekatinya dengan kecepatan yang luar biasa, Azura langsung mengisi kertas tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.

Tak berhenti sampai di situ saja, Xavier nekat memasukkan tangannya ke dalam mulut Azura untuk merampas kertas yang mungkin saja belum habis di makan semuanya.

Azura meronta sekuat tenaga, matanya membelalak karena kaget dan sakit. Ia berusaha menutup mulutnya, berusaha menelan gumpalan itu secepat mungkin, namun kekuatan Xavier jauh di atas dirinya. Jari-jari kasar dan keras itu mengorek masuk, menyentuh lidah dan langit-langit mulutnya, membuatnya mual dan hampir muntah. Air mata keluar dari sudut matanya karena hampir muntah.

"Apa isi surat itu?! Siapa yang mengirimnya?!" desis Xavier, wajahnya begitu dekat hingga napas panasnya menerpa wajah Azura. Ia semakin memaksa, jari-jarinya menyelam lebih dalam, berusaha mencari sisa kertas yang sudah hancur lebur dan bercampur air liur.

"Sakit... lepaskan..." rintih Azura di sela-sela sumbatan mulutnya, tubuhnya gemetar hebat. Demi putranya ia tidak apa-apa diperlakukan seperti penjahat yang baru tertangkap basah.

Akhirnya, Xavier menarik tangannya kembali. Di ujung jarinya hanya tersisa sedikit sisa serat kertas yang sudah tak berbentuk lagi dan tak mungkin dibaca. Ia menatap jari-jarinya itu dengan tatapan membunuh, lalu menatap Azura yang terhuyung mundur sambil terbatuk-batuk hebat, air mata dan air liur bercampur di wajahnya.

"Kau memang tak bisa dipercaya," ucap Xavier dingin, suaranya penuh kekecewaan yang bercampur amarah meluap. Ia mengusap tangannya ke kain jubahnya seolah baru saja memegang sesuatu yang menjijikkan.

"Selalu saja ada rahasia, selalu saja ada pesan rahasia. Kau pikir dengan memakannya, kau bisa menyembunyikan segala niat jahatmu dariku?"

Azura menekan dadanya yang sesak, napasnya tersengal. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa takut, sakit hati, dan keputusasaan yang mendalam. Ia tahu, momen ini semakin membuat keyakinan Xavier bahwa ia adalah wanita licik. Harapan untuk dipercaya semakin menjauh, namun ia tak menyesal. Asalkan isi pesan itu tidak diketahui Xavier atau siapa pun, asalkan nyawa putranya masih bisa ia jaga, ia rela diperlakukan seburuk apa pun.

"Itu... bukan apa-apa..." jawabnya lirih, suaranya parau dan menyakitkan.

"Hanya... pesan tak penting."

Xavier mendengus keras, mendekat lagi hingga wajah mereka hampir bersentuhan.

"Kau pikir aku bodoh? Kau sampai menelan habis kertas itu dan masih bilang pesan tidak penting? Huh! Aku bukan laki-laki bisa kau bodohi. Katakan, kau dan penguasa-penguasa sialan itu sedang bersekutu membunuhku kan?"

Xavier maju terus hingga tubuh Azura menubruk dinding kamar. Pria itu menekan tubuh mungil Azura.

"Kau ingin membunuhku, hm?"

Azura menggeleng. Xavier tersenyum miring. Tangannya bergerak kasar mencengkeram rahang Azura, memaksanya mendongak agar menatap lurus ke arahnya.

"Surat itu pasti berisi perintah baru, bukan? Langkah apa yang harus diambil selanjutnya? Kapan waktu yang tepat untuk menghabisiku? Katakan padaku, seberapa mahalkah harga nyawaku di matamu dan para penguasa itu?"

"Terserah kau percaya atau tidak, tapi dari awal aku tidak pernah ingin menyakitimu." ucap Azura.

Xavier mendengus.

"Tidak pernah ingin menyakitiku? Tapi kau tetap memanfaatkanku, itu yang namanya tidak pernah ingin menyakiti? Kau berlagak seperti wanita lemah yang butuh pertolongan, berlagak punya trauma yang bahkan lihat orang asing saja ketakutan, kau ..."

Ucapan Xavier terjeda beberapa. Dia terlalu emosional. Butuh waktu untuk melanjutkan.

"Kau... Menciptakan Emely yang tidak pernah ada! Memakai wajah polos dan mata berkaca-kaca itu hanya untuk mencuri perhatianku, untuk membuatku luluh, untuk membuatku jatuh dalam pesona dan kepolosanmu!"

Suara Xavier meninggi, bergetar hebat menahan amarah yang meluap-luap, matanya menyala penuh kebencian namun juga ada kilatan rasa sakit yang mendalam, rasa sakit karena merasa telah dikhianati begitu parah. Tangannya semakin kuat mencengkeram rahang Azura, membuat wanita itu menahan rintih di dalam tenggorokannya.

"Menurutmu, apalagi yang masih perlu ku percaya dari penipu ulung seperti dirimu? Apa yang tersisa?"

Tanpa sadar air mata jatuh dari pipi Azura. Air mata yang entah kenapa membuat Xavier makin sakit hati melihatnya. Ia melepas cengkeramannya dari rahang Azura dan membuang muka dari wanita itu.

"Hapus air mata palsumu itu. Aku tidak akan tertipu lagi." katanya berusaha menahan emosi agar tidak meledak-ledak lagi.

Azura cepat-cepat menghapus air matanya. Xavier kembali menatapnya.

"Dengar baik-baik," tatapannya tetap tajam.

"Kalau kau berniat membunuhku, berdoalah agar kau berhasil. Karena jika tidak, bukan hanya kau yang akan aku habisi. Tapi semua orang di Kerajaan ini juga."

Azura tersenyum hambar, dia tidak berkata apa pun sampai saat kata-katanya keluar, giliran Xavier yang terdiam.

"Aku tidak pernah ingin membunuhmu. Kau mau percaya padaku atau tidak, itu urusanmu. Aku tahu aku sangat bersalah padamu. Dan aku akan menebus kesalahanku nanti. Berikan aku waktu. Setelah itu, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi. Aku akan menghilang dari hidupmu selamanya."

Suara Azura terdengar datar namun penuh kepahitan, seolah setiap kata yang keluar itu adalah potongan jiwanya yang ia korbankan satu per satu. Kalimat itu menohok dada Xavier dengan cara yang tak terduga, membuat amarah yang tadi berkobar hebat itu seketika terhenti, digantikan oleh rasa bingung yang bercampur rasa sakit yang aneh.

Menghilang? batin Xavier bergema kencang. Kenapa kalimat itu terdengar begitu menyakitkan di telinganya? Bukankah itu yang selalu ia inginkan? Menyingkirkan wanita penipu ini dari hidupnya selamanya? Tapi saat Azura mengucapkannya sendiri dengan nada pasrah seolah tak ada lagi yang tersisa baginya di dunia ini, Xavier justru merasa seolah ada bagian dari dirinya yang akan ikut hancur bersamaan dengan kepergian wanita itu.

Ia menatap wajah pucat di hadapannya, mencari jejak kebohongan, mencari tanda-tanda sandiwara seperti biasa. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan mata yang kosong, lelah, dan penuh keputusasaan yang nyata, bukan kepura-puraan.

"Menghilang?" ulang Xavier pelan, suaranya serak dan berat.

"Kau pikir sesederhana itu? Setelah kau mengacak-acak seluruh hidupku, setelah kau membuatku menjadi seperti orang bodoh karena percaya padamu ... kau pikir kau bisa pergi begitu saja?"

Xavier melangkah mendekat lagi, jaraknya begitu dekat hingga napas mereka saling bersentuhan, namun kali ini tak ada lagi kekerasan, hanya ada ketegangan.

"Jangan bermimpi, Azura. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun, dan aku tidak akan membiarkanmu menghilang sampai aku mendapatkan semua jawaban dan pembalasan yang pantas kau terima. Kau milikku, entah kau sebagai istriku atau sebagai tahananku. Sampai aku memutuskan, kau akan tetap ada di sini, di bawah pengawasanku, membayar setiap kebohongan yang pernah kau buat... bahkan jika itu berarti aku harus mengikatmu seumur hidup. Jadi, teruslah berakting jadi istriku yang baik."

Setelah mengatakan itu, Xavier kembali naik ke kasur, meninggalkan Azura yang masih berdiri dengan wajah yang benar-benar kelelahan.

1
kiya
harusnya xavier merampas kertas itu dan membacanya biar terkuak sedikit misteri azura
j4v4n3s w0m3n
lanjuttt ahhh 👍
j4v4n3s w0m3n
aduh azura.knp.gak cerita aja sih ...
Usagi tzukino
cieee yg marah istrinya di jelekin orang,
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
Soraya
mampir thor
van aurora
puas bgt part ini..arghh..gitu dong xavier
Hanima
👍👍👍
Hanima
/Sweat//Cry/
Ko
Rasainnn kau azura.. Xavier itu tulus menyayangi & merawat kau dlu tapi kau menipunya. Dasar wanita jahat. Lagian udh gak suci lg sbg istri pangeran mahkota..
Syifa Azhar
ana dan isol baiknya kalian laporkan keadaan azura pada pangeran Xavier biar bisa bantu selamatkan putranya😀💪
🌿🌺WINA🌸🌿
Pangeran xavier tidak rela istrinya dihina dan direndahkan, bagus pangeran xavier bela istrimu...pangeran xavier sampai mengancam elish kasih pelajaran...
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...

putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...

putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...

pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...

kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
wanti astuti
Mamposs loh elish... Makanya mulut tuh di jaga jangan kaya ember bocor nyerocoss aja terus luh
mimief
harga diri istrinya adalah muka sang suami bukan?
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
🌿🌺WINA🌸🌿
Demi keselamatan anaknya, putri azura rela diperlukan kasar sama pangeran xavier... pangeran xavier makin marah dan emosi salahpaham, putri azura tidak mau berkata jujur...

putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....

tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...

pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
Bunda Dzi'3
Ana Isol Hrsnya Klian Ceritakan ke Xavier menderitanya Azura Di kerajaan nya Sndri 😭
faridah ida
kereen̈ Xavier ...👍👍👍👍
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍
Rina
perjalanan mereka kayaknya rumit Dan masih panjang.. semoga Ada kebahagiaan ya..
faridah ida
bener Xavier , maka nya kamu jangan percaya sama mulut Elish ..
faridah ida
bener2 nih sih Elish mulut nya jahat banget ,...
faridah ida
harusnya kamu sama Xavier bilang jujur aja Azura ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!