Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 23
"Elisaaaa ... Elisaaaa ... Astaga kemana anak itu!" Teriak Bu Sri keluar dari dalam kamarnya.
Dia bahkan hampir terjatuh karena banyaknya pakaian yang berserakan di atas tempat tidur dan juga lantai kamarnya. Entahlah sepertinya seluruh isi di dalam lemari sudah pindah semua. Berhamburan di mana-mana. Bau tak enak juga tercium. Baju lama dan baru bersatu padu dan saling bertumpuk berbagi aroma.
"Elisa! Sini kamu!" teriak Bu Sri lagi, suaranya naik satu oktav.
Ia mencoba melangkah, tapi kakinya malah terjerat daster batik lawas yang melilit bak jebakan batman. Bruk! Bu Sri mendarat mulus di atas tumpukan cucian kering yang sudah menggunung selama dua minggu. Alih-alih sakit, ia malah merasa seperti rebahan di kasur busa yang sangat empuk, namun baunya... ah, campuran antara parfum kedaluwarsa dan keringat sisa pasar kemarin.
"Iya, Buuu! Bentar!"
Elisa muncul dengan rambut acak-adakan, di kakinya ada banyak kardus dan bubble wrap bekas paket online milik mereka. Perutnya berbunyi nyaring, protes karena sejak pagi hanya diisi segelas air putih dan juga roti di warung saat akan pergi ke rumah Fathur.
"Ibu ngapain tiduran di situ?" tanya Elisa polos sambil memegangi perutnya.
"Ibu jatuh, Elisa! Kamu lihat ini, rumah sudah kayak kapal pecah yang habis dihantam meteor!" seru Bu Sri sambil berusaha bangun.
"Ibu lapar. Cepat liat di lemari makan ada apa!" sepulang dari rumah dinas Fathur, Dia lupa minta di traktir makan oleh Dona. Alhasil dia sekarang kelaparan.
Elisa dengan gontai menyeret langkah menuju dapur. Ia membuka pintu lemari makan dengan penuh harapan. Kosong. Hanya ada satu butir bawang putih yang sudah bertunas dan sebuah plastik kerupuk yang isinya tinggal remah-remah.
"Zonkkk, Bu. Adanya cuma remah doa," keluh Elisa.
"Coba cek kulkas."
Mereka berdua kini berdiri di depan kulkas. Bu Sri menarik pintunya dengan dramatis. Bukannya aroma makanan lezat, yang keluar justru bau "eksotis" yang membuat hidung mereka langsung mengkerut. Di sana hanya ada beberapa botol air mineral dingin. Tak ada yang berwarna apalagi minuman kaleng berso-da.
Tangan Bu Sri naik ke rak atas, Isinya hanya botol saus sambal yang sudah menghitam di pinggirnya. Membuka rak lain, hanya Ada kotak plastik tertutup rapat. Setumpuk sayuran yang sudah berubah wujud jadi lendir hitam karena lupa dia masak. Bukan lupa lebih tepatnya malas.
"Elisa, ini serius? Tidak ada sisa rendang atau minimal telur sebutir pun?" tanya Bu Sri dengan nada putus asa.
"Adanya cuma penyesalan, Bu," jawab Elisa datar sambil menutup pintu kulkas dengan kaki.
Bu Sri terduduk di kursi meja makan yang untungnya tidak tertutup tumpukan baju. Ia menatap nanar ke arah wastafel. Piring-piring kotor itu menumpuk seperti candi mini, lengkap dengan sisa-sisa saus yang sudah mengeras bak semen beton. Entah berapa lama tak mencuci piring.
Tetangga yang di minta beres-beres di rumahnya tempo hari enggan kembali bekerja padanya. Apalagi dia juga meminta tambahan gaji, melihat banyaknya pekerjaan di rumah Bu Sri. Bu Sri yang perhitungan mana mau menambah, apalagi sekarang Fathur tak memberinya lagi uang bulanan. Jatah bulan ini belum dia terima karena Fathur marah.
"Ibu lapar sekali, Elisa," keluh Bu Sri sambil memijat pelipisnya kelaparan membuatnya pusing.
Elisa hanya bisa bersandar di pintu dapur, menatap ibunya dengan tatapan nanar.
"Ya sudah, kita pesan makanan lewat aplikasi saja kalau begitu. Tapi... saldo aku nol, Bu. Habis buat bayar ongkir paket yang tadi Ibu lihat di depan."
Mendengar kata 'saldo nol', mata Bu Sri langsung melotot. Bu Sri sambil merogoh saku dasternya. Wajahnya tiba-tiba pucat.
"HP Ibu... tadi Ibu taruh di mana ya?"
Elisa juga ikut meraba kantong celananya. Kosong.
"Tadi aku taruh di meja ruang tamu, tapi meja itu kan sekarang sudah tertutup gunung pakaian yang Ibu lempar tadi..."
Mereka berdua saling berpandangan. Di tengah rumah yang penuh tumpukan barang, mencari sebuah ponsel ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
"Tadi Ibu tumpuk bajunya di sebelah mana?!" tanya Elisa panik.
"Mana Ibu ingat! Tadi kan Ibu main lempar aja!"
Kini, demi bisa makan, ibu dan anak yang malas itu terpaksa melakukan hal yang paling mereka benci: Bongkar tumpukan baju dan beres-beres.
Sambil bersin-bersin karena debu, Bu Sri menggerutu. Elisa hanya bisa menghela napas sambil mengangkat tumpukan daster. Sampai akhirnya Fajar dan Fikri yang di panggil akhirnya datang. Mereka berdua bahkan belum selesai membereskan rumah.
"Kebetulan kalian datang! Fik, belikan dulu ibu dan Elisa nasi goreng di depan nggak pake pedes!" jawab Bu Sri.
"Uangnya mana Bu?" tanya Fikri.
"Pake uang kamu!" jawab Bu Sri membuat Fikri berdecak kesal.
Kedua anak lelaki Bu Sri yang selalu dia banggakan itu tak pernah mau mengeluarkan banyak uang untuk ibu dan adiknya. Apalagi untuk biaya bulanan. Bisa-bisa mereka kena omel istrinya yang perhitungan. Apalagi biaya keluarga mereka jug tak sedikit. Makanya mereka sangat mendukung perbuatan Bu Sri kepada Fathur. Karena dengan begitu Bu Sri tak akan meminta uang kepada mereka berdua.
"Ada apa sih, Bu? Sampai harus kumpul mendadak begini? Lagian rumah kok kotor begini! Kemana si Rumi? Kenapa dia nggak beres-beres rumah?" tanya Fajar setelah Bu Sri selesai makan.
Bu Sri mulai terisak, mengeluarkan jurus andalannya.
"Itulah yang ingin ibu bicarakan dengan kalian. Bahkan kalian lihat sendiri, ibu dan adikmu sampai kelaparan seperti ini. Semuanya karena wanita kampungan dan setelah itu!"
"Fathur sudah keterlaluan, Fajar! Dia pindah ke rumah dinas yang bagus, Fajar sudah naik jabatan jadi wakil manager. Tapi ibu malah diusir oleh istrinya yang sombong itu! Bahkan dia mengatakan tak mau lagi mengurus kebutuhan ibu dan Elisa. Bahkan satu rupiah pun mereka tak mau!" adu Bu Sri tana menceritakan alasan Fathur mengatakan hal seperti itu.
Farid mengerutkan kening.
"Masa iya Fathur begitu? Setahuku Fathur itu yang paling penurut sama ibu. Bahkan dia tak akan membiarkan ibu menangis apalagi sampai tak memberikan uang bulanan. Gaji manager itu besar Bu! bahkan fasilitasnya juga sangat banyak!" Bu Sri hanya terisak sedangkan kedua anak lelakinya saling pandang menahan kesal. Kesal karena memikirkan harus menanggung biaya ibu dan kuliah adiknya.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/