Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERANG BANTENG DAN SAKTI
Malam semakin larut. Kabut tebal kembali menyelimuti puncak gunung saat Raga, Eyang Sastro, dan Mbah Joyo kembali berdiri di area candi runtuh itu. Napas mereka memburu, keringat bercucuran, tapi mata mereka bersinar penuh keyakinan.
Di hadapan mereka, pasukan Kanjeng Raden sudah siap sedia menunggu. Sang Raja berdiri gagah dengan tombak di tangan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Nyi Blorong tampak cantik namun muram, dan di sisi lain berdiri sosok jenderal kedua yang bertubuh kekar, kulitnya gelap legam, wajahnya garang dengan tato api di pipi. Itu adalah Ki Barita, panglima perang yang terkenal kejam.
Sang Raja menatap tas dan bungkusan yang dibawa Raga.
"Hmm... kalian benar-benar datang membawa barang..." gumamnya pelan, terdengar sedikit terkejut tapi berusaha tidak menunjukkan kekaguman. "Aku kira kalian akan lari atau gagal di tengah jalan."
"Kami menepati janji, Kanjeng," jawab Eyang Sastro tegas. "Ini Batu Meteor Langit, dan ini Harimau Hitam hidup yang Kanjeng minta."
Raga meletakkan batu meteor yang bersinar biru itu di atas batu datar. Lalu ia mengeluarkan harimau kecil yang sedang tidur.
"Kembalikan ukuran aslinya, Raga," perintah Eyang Sastro.
Raga menaburkan serbuk sebaliknya. Puff! Seketika tubuh harimau itu membesar kembali menjadi ukuran aslinya yang raksasa! Namun karena masih terkena pengaruh mantra tidur dan gelang akar bahar, ia hanya menggeram pelan dan tampak tenang, tidak mengamuk.
Mata merah Sang Raja menyipit melihat harimau itu.
"Bagus... sangat bagus... Kalian memang lebih tangguh dari yang aku kira..."
Ia lalu menatap tajam.
"TAPI... itu baru syarat administrasi! Sekarang saatnya UJIAN NYALI! Ingat janji kita! 3 LAWAN 3! SIAPKAN DIRIMU!!!"
BRAAAAKK!!!
Sang Raja melambaikan tangan! Tiba-tiba tanah di antara kedua belah pihak terbakar! Api biru dan merah menyala tinggi membentuk dinding pemisah arena pertarungan!
"ATURANNYA SEDERHANA! YANG BISA BERDIRI TEGAK SAMPAI AKHIR, DIA PEMENANGNYA! YANG JATUH... MATI!!! HAHAHAHA!!!"
"Siap Kanjeng!" teriak Eyang Sastro.
"Raga! Kau lawan Nyi Blorong! Jangan kasihan! Dia sudah bukan wanita yang kau kenal lagi! Joyo! Kau lawan Ki Barita si panglima itu! Aku yang hadapi Raja ini!"
"Siap Eyang!" seru Raga dan Mbah Joyo serentak.
"MULAAAAAAI!!!"
RAGA VS NYI BLORONG
"Silakan, Mas... atau harus aku panggil Tuan Pendekar?" suara Nyi Blorong terdengar dingin dan sinis. Wajahnya yang cantik perlahan berubah menjadi campuran antara manusia dan ular, rambutnya berubah menjadi ribuan ekor ular kecil yang menggeliat-geliat.
"Aku tidak mau melawanmu, Nyi Blorong..." kata Raga sambil mencabut kedua kerisnya. "Tapi aku tidak mau jadi budak selamanya."
"Kalau begitu mati saja!" teriak Nyi Blorong.
Ia menghentakkan kakinya! Tanah di depan Raga meledak! Ribuan duri tajam dan akar pohon menyambar keluar menyerang Raga!
WUSSS! WUSSS!
Raga bergerak lincah bagai kera. Ia menari menghindari serangan duri itu. Srettt! Satu kerisnya ia gunakan untuk menebas akar-akar yang menyerang, satu lagi siap menyerang balik.
"AYO! TUNJUKKAN KEMAMPUANMU!" teriak Nyi Blorong. Ia mengubah wujudnya menjadi asap hitam lalu muncul kembali di belakang Raga, mencakar punggungnya!
BYURrr!
Untung gelang akar bahar di tangan Raga bersinar! Cakar Nyi Blorong terpental seakan menyentuh besi panas!
"AWW!!!" Nyi Blorong kesakitan. "Benda sialan!"
Raga memanfaatkan kesempatan itu. Ia memutar tubuhnya dan mengayunkan Keris Berluk 9!
"SELESAI!"
TRANGGG!!!
Tapi Nyi Blorong bukan lawan biasa. Ia menangkis dengan tangan kosong yang berubah menjadi keras seperti batu! Benturan dahsyat terjadi! Raga terdorong mundur beberapa langkah, tangannya gemetar hebat karena getaran kekuatan lawan.
Pertarungan mereka sangat cepat! Terbang, memukul, menebas, menghilang, muncul lagi! Api berkobar di mana-mana!
MBAH JOYO VS KI BARITA
Di sisi lain, suasana jauh lebih brutal dan kasar.
Mbah Joyo berhadapan dengan Ki Barita yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Ki Barita tidak pakai senjata, hanya tinju dan cakar yang besar dan keras seperti baja.
BUGH! DUGHhh!
Ki Barita memukul tanah! Gelombang kejut membuat Mbah Joyo terpental!
"Woy orang tua! Lemas sekali kau!" ejek Ki Barita dengan suara serak. "Mending pulang saja sebelum tulangmu remuk!"
"Jangan meremehkan orang tua, setan!" bentak Mbah Joyo. Ia mengeluarkan seikat jarian dan manik-manik doa.
"HYAAA!!!"
Mbah Joyo melemparkan manik-manik itu ke arah musuh! Prang! Prang! Manik-manik itu berubah menjadi ribuan jarum emas kecil yang menusuk-nusuk tubuh Ki Barita!
"ARRGH! SAKIT!!!" Ki Barita marah besar. Tubuhnya mengeluarkan asap hitam untuk menetralkan racun jarum itu.
Ia lalu mencabut sebatang pohon besar yang ada di dekatnya, lalu menggunakannya sebagai pentungan!
WUSH! WUSH!
Ia memukul-mukul ke arah Mbah Joyo dengan liar! Pohon itu menghantam batu-batu besar hingga hancur berkeping-keping!
Mbah Joyo kelabakan menahan serangan itu. Ia harus mengerahkan seluruh kesaktiannya hanya untuk bertahan hidup. Napasnya sudah mulai ngos-ngosan, kakinya gemetar menahan beban serangan yang luar biasa berat itu.
EYANG SASTRO VS KANJENG RADEN
Ini adalah pertarungan yang paling menakutkan.
Eyang Sastro berdiri tenang menghadap raksasa di depannya. Kanjeng Raden tersenyum miring.
"Akhirnya... ada lawan yang sepadan..." gumam Sang Raja.
"Kanjeng... masih ada waktu untuk berdamai..." kata Eyang Sastro pelan.
"TERLAMBAT!!!"
BRUUUUAAAKKK!!!
Sang Raja menyerang! Tombak panjangnya diayunkan dengan kecepatan kilat!
TRANG!!!
Eyang Sastro menangkis dengan tongkat kayunya! Percikan api terbang ke mana-mana! Guncangan kekuatannya membuat tanah di sekitar mereka retak-retak!
Mereka bertarung dengan kecepatan luar biasa! Mata manusia biasa tidak bisa mengikuti gerakan mereka! Hanya terlihat bayangan hitam dan emas yang saling menyerang!
"KENAPA KAU KERAS KEPALA SASTRO?!!" teriak Sang Raja sambil menusukkan tombak berkali-kali.
"KARENA KAU YANG SALAH MENGARTI HUKUM!!!" balas Eyang Sastro sambil memukul dada Sang Raja dengan gagang tongkatnya!
DUGHhh!!!
Sang Raja terhuyung mundur! Ia terkejut! Jarang ada manusia yang bisa memukul tubuhnya sampai bergeser!
"BAGUS! KAU HEBAT! TAPI LIHAT INI!!!"
Sang Raja melepaskan kekuatan penuhnya! Tubuhnya membesar dua kali lipat! Matanya menyala merah membara! Aura hitam pekat mengelilingi tubuhnya seperti naga raksasa!
"MATILAH!!!"
Tombak itu dihantamkan ke bawah dengan kekuatan penuh!
JLEEEBBB!!!
Eyang Sastro tidak sempat menyingkir! Ia mengangkat tongkatnya melindungi kepala!
TRRRROOOOONNNNGGG!!!
Ledakan dahsyat terjadi! Asap hitam dan debu beterbangan menutupi seluruh area!
"EYANG!!!" teriak Raga dan Mbah Joyo panik melihat guru mereka terkena serangan mematikan itu.
Sang Raja berdiri tegak di tengah asap, napasnya memburu sedikit. Ia yakin Eyang Sastro pasti sudah hancur berkeping-keping.
Namun...
Saat asap mulai menipis...
Terlihat Eyang Sastro masih berdiri! Tapi tubuhnya bersinar kuning keemasan seperti matahari! Ia menggunakan ilmu perisai diri tingkat tinggi! Meskipun wajahnya pucat dan darah segar menetes dari sudut bibirnya, ia masih tegak berdiri!
"Belum... selesai..." desis Eyang Sastro.
Mata Kanjeng Raden membelalak lebar. Kali ini ia benar-benar kaget dan terkesan.
"Kau... kau benar-benar monster juga ya, orang tua..."
Pertarungan belum selesai! Semua pihak sudah mulai kehabisan tenaga, tapi semangat mereka justru membara semakin tinggi! Ini adalah perang tanding yang akan diceritakan turun-temurun selama ratusan tahun!