NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Malam jatuh sepenuhnya menyelimuti mansion saat mobil Benedict memasuki gerbang. Pria itu langsung menanggalkan seluruh pakaiannya begitu sampai di kamar. Ia melangkah ke dalam bilik pancuran, membiarkan air dingin mengguyur kepala hingga tubuhnya.

Setelah merasa benar-benar bersih, Benedict keluar hanya dengan mengenakan celana kain hitam panjang dan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka di tiga kancing teratasnya, memperlihatkan dadanya yang bidang dan rambutnya yang masih basah.

Ia berjalan ke arah meja samping tempat monitor kendali mansion berada. Benedict menekan satu tombol interkom, langsung menghubungkannya pada pelayan.

“Anna,” panggil Benedict, suaranya yang serak dan rendah bergaung di speaker monitor.

“Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” sahut Anna dari seberang sana.

“Bawakan sebotol red wine ke dekat kolam renang belakang. Sekarang.”

“Baik, Tuan. Segera saya siapkan.”

Benedict mematikan interkom, lalu melangkah menuju area luar.

Di tepi kolam renang yang luas, dengan air yang tampak tenang dan memantulkan cahaya bulan, Benedict duduk di sebuah kursi lounge. Botol wine sudah tertata rapi di atas mejanya.

Benedict menuangkan cairan merah gelap itu ke dalam gelasnya. Ia menyesap minuman itu perlahan, membiarkan rasa pahit dan alkohol membakar tenggorokannya, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya.

Sementara itu, Zara melangkah keluar dari kamarnya. Kamarnya mendadak terasa begitu sempit dan mengukung pikirannya. Ia berniat mencari angin segar untur menjernihkan pikirannya, melangkah pelan menyusuri koridor kaca yang menghadap langsung ke halaman belakang. Saat pandangannya terlempar ke arah kolam renang, langkah kaki Zara terhenti.

Di bawah temaram cahaya bulan, ia meliat siluet benedict yang sedang duduk menyendiri, manatap kosong ke arah air. Namun, dari jarak sejauh ini pun, Zara bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh pria itu. Bahunya kaku, dan caranya mencengkeram gelas terlihat begitu sarat akan beban.

Zara terdiam sejenak, menimbang langkahnya. Logikanya menyuruhnya kembali ke kamar dan mengunci pintu, namun rasa penasarannya jauh lebih kuat. Ia membuka pintu geser dengan sangat pelan, lalu berjalan melewati hamparan rumput basah yang dingin. Ia berhenti beberapa langkah di samping kursi, menatap wajah benedict dari samping.

“Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikiranmu,” ucap Zara.

Benedict tidak langsung menoleh. Ia hanya memutar gelas di jemarinya, membuat cairan merah di dalamnya bergoyang.

“Kau punya kebiasaan buruk berkeliaran di tengah malam, Zara?” ucap benedict datar.

“Aku hanya mencari angin segar. Aku sulit tidur,” sahut Zara

Zara melihat botol wine yang sudah berkurang setengah. “Apakah kau sulit tidur juga? sampai harus menghabiskan setengah botol wine sendirian?”

Benedict mendengus sinis, sebuah tawa pendek yang hambar. Ia meneguk sisa wine di gelasnya, lalu meletakkan dengan dentingan keras.

“Aku tidak punya kemewahan untuk tidur nyenyak, Zara. Terakhir kali aku menutup mata terlalu lama, para bajingan itu menghancurkan milikku.”

Zara terdiam sejenak, menatap riak air dalam kolam. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman getir muncul disana.

“Dulu, ketika aku masih kecil dan sering sulit tidur,” ucap Zara, suaranya melembut. “Ibuku akan datang ke kamarku. Dia membawa secangkir susu hangat dengan sedikit madu, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambutku sampai aku tidur.“

Zara beralih menatap Benedict. “Ibuku selalu bilang, pikiran yang penuh tidak bisa dipaksa istirahat. Harus ada sesuatu yang bisa menenangkannya. Tapi melihat caramu…… sepertinya alkohol bagimu adalah susu hangat bagiku.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku, Zara. Jadi berhenti membawa cerita fiksi masa kecilmu ke hadapanku” ucap Benedict, matanya menatap kosong ke arah air kolam.

Zara tidak menanggapinya lagi, ia merapikan jubah tidurnya yang sedikit bergeser, lalu melirik botol wine di atas meja. Tanpa meminta izin, ia melangkah mendekat dan mengambil gelas kosong, lalu menuangkan caira merah gelap itu ke dalamnya.

Benedict meliriknya dari sudut mata, sebelah alisnya terangkat melihat kelancangan Zara yang menuang minumannya sendiri.

“Aku tidak ingat pernah menawarimu minum.”

“Anggap saja kita sudah akrab dan saling berbagi minuman,” balas Zara.

Zara membawa gelas itu ke bibirnya, lalu meneguknya. Rasa panas yang membakar langsung menyengat lidah dan kerongkongannya.

Benedict mendengus sinis, melihat ekspresi Zara. “Wine itu terlalu berat untukmu. Letakkan gelas itu sebelum kau tidak busa berjalan kembali ke kamarmu.”

Efek alkohol berkadar tinggi milik Benedict bekerja dengan sangat cepat pada tubuh Zara yang sama sekali tidak terbiasa minum. Dalam hitungan detik, sensasi hangat itu menyebar ke dadanya, membuat kepalanya terasa ringan dan melayang.

Zara terkekeh pelan, ia melangkah mendekati kursi Benedict dengan tumpuan yang mulai sedikit goyah, namun sepasang matanya tetap menatap langsung ke dalam manik Benedict.

“Kau tahu…..” ucap Zara, wajahnya mulai memerah dan pandangannya sedikit kabur saat ini menunduk untuk menyejajarkan wajahnya dengan Benedict.

“Aku bisa membaca raut wajahmu yang kusut….. pasti ada sesuatu yang membuatmu kesal.”

Pandangan Benedict seketika menajam. “Kau mulai melewati batas, Zara. Rasa penasaranmu itu suatu hari nanti bisa membuatmu berakhir di tempat yang salah.”

“Aku tidak penasaran dengab urusanmu,” tukas Zara, minuman itu membuat bicaranya menjadi lebih berani dari biasanya.

Zara kembali meneguk wine di gelasnya hingga tersisa sedikit. “Wajah kusutmu itu….. sangat menggangguku…… kau terlihat menakutkan.”

Benedict terdiam, memperhatikan perubahan pada wanita di hadapannya. Manik mata Zara yang biasanya jernih dan penuh kewaspadaan kini tampak sayu dan berair.

“Kau mabuk, Zara,” ucap Benedict. “Letakkan gelas itu dan kembali ke kamarmu sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku.”

“Aku tidak mabuk,” elak Zara keras kelas.

Zara mencoba melangkah mundur untuk membuktikan ucapannya, namun kakinya justru tersandung ujung jubah tidurnya sendiri.

Prangg!.

Gelas di tangannya terlepas, pecah berkeping-keping. Tubuh Zara limbung ke depan, kehilangan keseimbangan.

Sebelum tubuh gadis itu menghantam lantai, tangan Benedict bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pinggan Zara, menarik tubuh ramping itu dalam satu sentakan kasar hingga Zara jatuh terduduk di atas pangkuannya.

Aroma Dior Sauvage yang menguar dari tubuh Benedict bercampur dengan pekatnya aroma wine langsung membanjiri indra penciuman Zara. Kepalanya semakin berputar, membuatnya terpaksa mencengkeram kerah kemeja Benedict agar tidak terjatuh.

“Sudah kukatakan, wine ini terlalu berat untukmu,” ucap Benedict tepat di depan wajah Zara.

Jarak mereka begitu dekat hingga deru napas mereka saling berkejaran. Tangan Benedict mengunci pinggang Zara dengan erat. Zara mendongak, menatap bibir Benedict lalu beralih ke sepasang mata elang milik pria itu. Bukannya takut, pengaruh alkohol justru membuat Zara menyunggingkan senyum tipis.

“Berhenti memutar tempat ini, Tuan…..” gumam Zara tidak jelas.

Alisnya bertaut rapat, tangannya yang masih meremas meremas kemeja Benedict merosot pelan karena tenaganya yang mendadak hilang.

“Kepalaku……”

Suara Zara melemah, berubah menjadi bisikan parau akibat kantuk dan mabuk yang menghantam kesadarannya sekaligus. Ia tidak mampu lagi menahan berat kepalanya sendiri. Detik berikutnya, kelompok mata wanita itu terpejam rapat, dan kepalanya terkulai lemas, bersandar tanpa permisi di atas dada bidang Benedict yang hangat.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!