NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMPLOP KECIL PEMBAWA BADAI

Setelah makan malam usai, Damira kembali ke kamarnya dan mendapati ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Mbak Wulan, istri dari Mas Damar. Meskipun mereka terpisah jarak karena Mbak Wulan ikut menemani Mas Damar di asrama, hubungan mereka sangat dekat, layaknya kakak dan adik kandung.

"Halo, Mbak Wulan?" sapa Damira saat mengangkat telepon.

"Mir, sehat? Mbak dengar tadi dari Mbak Tari, emang kurang ajar ya si Nayaka itu," suara Mbak Wulan terdengar penuh emosi namun tetap berusaha tenang agar tidak memicu tangis Damira lagi. "Tapi tenang, Mbak nggak cerita apa-apa ke Ayah Nanda—Mas Damar-mu itu. Kalau dia tahu detilnya sekarang, bisa-bisa dia nekat minta izin pulang cuma buat nyari itu orang lagi."

Damira menghela napas lega. Ia tahu sebutan "Ayah Nanda" adalah panggilan sayang Mbak Wulan untuk Mas Damar. Jika Mas Damar yang seorang anggota TNI itu tahu Nayaka mendatangi kantor Damira dan membuat kekacauan lagi, situasinya bisa menjadi sangat serius.

"Iya Mbak, makasih ya nggak langsung bilang ke Mas Damar," bisik Damira.

"Sama-sama, Sayang. Oh iya, kamu sudah dengar soal tawaran kerja itu dari Ibu? Rekan Mbak ada yang bilang memang lagi ada lowongan di sini. Kerjanya bagus, lingkungannya juga sehat," lanjut Mbak Wulan dengan nada menyemangati. "Mbak sama Mas Damar bakal senang banget kalau kamu mau ke sini. Kamu bisa tinggal sama kami di asrama, atau nanti kita cari tempat yang paling nyaman buat kamu. Pokoknya di sini kamu aman, nggak bakal ada yang berani macam-macam, apalagi si Nayaka itu."

Damira terdiam sejenak, menatap langit-langit kamarnya. Tawaran dari Mbak Wulan terasa seperti angin segar. "Mira masih pertimbangkan dulu ya, Mbak. Tapi jujur, Mira butuh ketenangan itu."

"Iya, pikirin pelan-pelan. Mbak cuma mau kamu tahu, kalau di sini pintu rumah kami selalu terbuka buat kamu. Kamu butuh tempat buat sembuhin hati, kan? Di sini tempatnya, Mir. Kita mulai lembaran baru tanpa bayang-bayang masa lalu yang toxic itu," ucap Mbak Wulan lembut sebelum mengakhiri pembicaraan.

Di saat Damira sedang merasakan hangatnya dukungan keluarga, suasana di tempat lain justru berbanding terbalik. Di sebuah ruangan yang pengap oleh kemarahan, Azzura tersungkur di lantai yang dingin, memeluk perutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Rambutnya berantakan, dan sudut bibirnya nampak sedikit pecah akibat luapan emosi pria di hadapannya.

"Maaf... jangan pukulin aku lagi, Nay... Kasihan anak ini," rintih Azzura dengan suara yang hampir habis. Air matanya mengalir deras, membasahi lantai saat ia berusaha meringkuk untuk melindungi janin dalam kandungannya. Ia berharap ada sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri pria yang pernah sangat ia cintai itu.

Namun, Nayaka hanya berdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan yang benar-benar dingin, tanpa ada sedikit pun rasa iba. Ia melonggarkan ikatan dasinya, napasnya masih memburu karena emosi setelah pertemuannya dengan Damira tadi berakhir gagal total. Baginya, kehadiran janin itu bukan lagi sebuah anugerah, melainkan penghalang besar yang menghancurkan rencananya untuk kembali bersama Damira.

"Itu anak lo, buat apa gue kasihan?" desis Nayaka dengan nada suara yang rendah namun sangat mematikan. Ia menatap Azzura seolah wanita itu hanyalah sampah yang mengotori jalannya. "Gara-gara lo dan janin sialan itu, Damira makin benci sama gue! Lo pikir dengan hamil, gue bakal luluh? Yang ada gue makin muak lihat muka lo!"

Nayaka mencengkeram rahang Azzura dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang penuh kebencian. "Dengar ya, Azzura. Kalau sampai Damira benar-benar pergi karena kekacauan yang lo buat, jangan harap lo atau anak itu bisa hidup tenang. Lo yang sudah mulai permainan ini, jadi jangan pernah minta belas kasihan dari gue."

Ia menghempaskan wajah Azzura hingga wanita itu kembali terjerembap. Tanpa memedulikan isak tangis Azzura yang semakin histeris, Nayaka melangkah pergi dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Azzura dalam kehampaan yang mengerikan. Di sana, Azzura baru menyadari bahwa pria yang ia perjuangkan mati-matian ternyata tak lebih dari seorang iblis yang tak memiliki hati nurani.

Azzura terisak hebat di atas lantai yang dingin, memeluk perutnya yang kini menjadi beban sekaligus misteri yang paling menakutkan dalam hidupnya. Kata-kata dingin Nayaka tadi masih terngiang, menghujam jantungnya lebih dalam daripada rasa sakit fisik yang ia rasakan. Dalam kesendirian yang menyesakkan itu, penyesalan mulai merayap seperti racun ke seluruh tubuhnya.

"Andai aku berani tolak perjodohan ini," rintihnya dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. "Mungkin aku sudah bahagia sama Satya... Mungkin aku sedang menata masa depan yang normal, tanpa harus merasa kotor seperti ini."

Bayangan wajah Satya yang tulus dan penuh perhatian melintas di benaknya, membuat dadanya semakin sesak. Satya adalah satu-satunya cahaya yang seharusnya ia jaga, namun kini ia merasa telah menyeret pria itu ke dalam lubang kegelapan yang ia ciptakan sendiri karena ketidakberaniannya melawan kehendak orang tua dan obsesi gila Nayaka.

Ketakutan terbesar Azzura bukan hanya pada amarah Nayaka, melainkan pada kenyataan yang menggerogoti jiwanya setiap malam. Ia menatap perutnya dengan tangan gemetar. "Aku bahkan nggak takut soal hamil... tapi aku takut karena sampai sekarang aku nggak tahu ini anak siapa," bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Pikiran itu membuatnya merasa mual. Di antara paksaan Nayaka yang penuh kekerasan dan hubungannya yang penuh tekanan, ia merasa kehilangan kendali atas tubuh dan takdirnya sendiri. Azzura menyadari bahwa ia telah terjebak dalam jaring-jaring dosa yang tak berujung, sementara pria yang ia harapkan bisa menjadi pelindung justru berubah menjadi monster yang paling ingin ia hindari. Di ruangan sunyi itu, hanya ada penyesalan yang terlambat dan rahasia kelam yang siap menghancurkan siapa pun yang menyentuhnya.

Pagi itu di kantor, suasana terasa sangat dingin bagi Damira. Ia mencoba fokus pada layar komputernya, namun konsentrasinya buyar saat pintu kaca lobi terbuka. Sosok yang muncul adalah Citra, salah satu rekan kerjanya yang terkenal paling tahu segala gosip di kantor tersebut.

Citra melangkah mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara cemas dan ragu. Ia berdiri di samping meja Damira, sesekali melirik ke arah pintu masuk seolah takut seseorang akan muncul lagi seperti kemarin.

"Mir," panggil Citra pelan, suaranya hampir berbisik.

Damira mendongak, matanya menatap Citra dengan datar. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi. "Ada apa, Cit? Kalau soal pekerjaan, aku baru mau mulai kerjakan laporan bulanan."

"Bukan soal kerjaan, Mir. Ini soal pria yang kemarin buat keributan di lobi," potong Citra cepat. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Damira. "Pagi tadi, sebelum aku masuk, aku lihat mobil pria itu—Nayaka, kan namanya?—parkir di seberang jalan. Dia cuma diam di dalam mobil, menatap ke arah gedung kita."

Damira terdiam, jemarinya yang tadi berada di atas keyboard kini mengepal erat. Rasa tidak nyaman kembali merayap di tengkuknya. Ternyata ancaman Nayaka bukan sekadar gertakan sambal.

"Terus, kamu mau bilang apa ke aku, Cit?" tanya Damira dengan nada yang berusaha ia jaga agar tetap stabil.

Citra menghela napas, raut wajahnya berubah menjadi penuh simpati yang tulus. "Aku cuma mau bilang... hati-hati, Mir. Sorot matanya nggak enak banget. Aku nggak tahu masalah apa yang kalian punya, tapi kalau kamu butuh bantuan buat lapor ke sekuriti atau mau ditemani ke parkiran nanti sore, kasih tahu aku ya."

Damira menatap Citra cukup lama. Ternyata Citra yang biasanya hanya suka bergosip, kali ini menunjukkan kekhawatiran seorang teman.

"Makasih, Cit. Aku hargai itu," jawab Damira pendek.

"Oh, satu lagi," Citra mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku blazernya dan meletakkannya di meja Damira. "Tadi ada kurir ojek online yang titip ini di depan gedung buat kamu. Katanya dari 'N'. Aku nggak tahu itu siapa, tapi perasaanku nggak enak pas nerimanya."

Damira menatap amplop itu dengan ragu. Nama 'N' sudah pasti adalah Nayaka. Apakah pria itu sedang mencoba mencuci otaknya lagi, atau justru ini adalah bentuk teror baru yang akan merusak harinya? Mengingat tawaran Mas Damar semalam, Damira kini semakin yakin bahwa bertahan di sini hanya akan membuatnya terus menjadi mangsa bagi kegilaan Nayaka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!