Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Kamu Anakku
"Papa kalian ke mana ya? Kok sampai jam segini belum juga pulang? Bikin orang khawatir aja," gumam Widya mondar-mandir di teras depan rumahnya. Dia tak kunjung bisa tidur, kepikiran terus sama suaminya yang hingga pukul sepuluh malam belum juga pulang.
"Memangnya tadi Papa pamit ke mana sih ma?" tanya Rendra yang tengah bersantai rebahan di lantai teras.
"Cuma pamit mau keluar, nggak dijelasin ke mana perginya. Mama khawatir banget Ren..., takut terjadi sesuatu. Coba kamu hubungi Ren..., barangkali diangkat."
Rendra meraih handphonenya yang tergeletak di lantai dan membuka galeri telepon untuk menghubungi ayahnya.
Tut..., Tut..., Tut..., hingga lama tak ada jawaban. Berkali-kali dia mencoba untuk menghubunginya namun tetap saja tak terjawab.
"Nggak bisa Ma. Ke mana Papa ini, kok sulit banget dihubungi." Pria itu menggerutu dan langsung beranjak. Sudah cukup larut waktunya orang beristirahat malah salah satu anggota keluarganya masih berada di luar, tentu akan menjadi pertanyaan besar, ke mana dia pergi?
"Nina sudah tidur ma?" tanya Rendra yang sedari sore sudah tak mendapati keberadaan adik perempuannya.
"Mungkin. Ada apa kamu nyariin dia Ren?"
Kedekatan Nina dengan Rendra tak membuat orang tuanya curiga, mereka malah bangga anak-anaknya bisa tinggal bersama dengan hidup rukun.
"Rencananya akan kuajak cari Papa keluar. Barangkali ketemu."
"Oh..., gitu? Yaudah kalau gitu Mama panggilin. Tunggu sebentar."
Rendra bangkit dan beranjak menuju kamarnya untuk bersiap-siap, sedangkan Widya bergegas menemui anak perempuannya yang juga sedang beristirahat.
Tok... Tok... Tok...
"Nin..., Nina! Kamu sudah tidur kah?"
Widya mengetuk pintunya beberapa, namun tak juga ada jawaban.
"Nin...!"
Tidak kunjung ada jawaban dia putuskan untuk masuk ke dalam. Sudah pukul sepuluh malam, pasti gadis itu sudah mendengkur pulas di kamarnya.
"Oh..., sudah tidur rupanya," gumamnya. "Ini anak kebiasaan, kalau tidur handphonenya nggak dimatiin dulu."
Widya mematikan handphonenya dan menaruhnya di atas nakas. Setelah itu Ia berniat untuk membangunkannya.
"Nin, Nina! Ayo bangun dulu." Gadis itu terjaga kala ada seseorang yang mengguncang tubuhnya. Matanya begitu mengantuk, malas untuk diajak berbasa-basi.
Dengan mata masih terpejam gadis itu menggumam. "Ih..., Mama apaan sih, aku masih ngantuk nih!"
Tangannya meraba-raba untuk meraih selimut dan menutupi sebagian dari tubuhnya.
"Iya..., Mama minta maaf sudah mengganggu istirahatmu, tapi masalahnya Papa sampai jam segini belum juga pulang. Mama khawatir, dihubungi sama kakakmu juga nggak diangkat. Mama takut terjadi apa-apa sama papa."
Dengan malasnya gadis itu membuka matanya sayup-sayup. Ditatapnya wajah sang ibu yang dilanda kegelisahan. "Ya udah kalau gitu suruh saja kak Rendra mencarinya di luar."
"Barusan kakakmu meminta Mama untuk bangunin kamu, katanya mau diajak keluar untuk cari papa. Kamu mau ya temani kakakmu cari papa?"
Sebenarnya dia juga tidak tega meminta mereka untuk keluar di malam-malam begini. Susana di luar juga kurang aman, sangatlah bahaya untuk keselamatan mereka.
"Kenapa juga harus melibatkan aku sih, ma! Kakak kan bisa mencarinya sendiri," bantah Nina. "Lagipula papa itu kan udah dewasa, nggak perlu dicari-cari seperti anak kecil, terkecuali kalau beliau itu tersesat atau bahkan semalaman nggak pulang. Nanti juga bakalan pulang sendiri kok!"
Widya terdiam, tapi perasaannya sangatlah tak tenang sebelum memastikan suaminya pulang.
"Yaudah kalau kamu nggak mau, mama nggak akan maksa. Biar mama ikut Rendra keluar buat cari Papa."
Nina berdecak. "Ck, huh! Ada-ada saja Mama ini. Tunggulah di rumah, nggak usah keluar!"
Meskipun dengan menggerutu akhirnya Nina beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil jaket yang disimpannya di dalam lemari.
"Cuci mukamu dulu sebelum keluar, biar kelihatan lebih segar, biar nggak ngantuk," nasehat Widya.
"Iya bentar."
Setelah mendapatkan jaketnya Nina menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memperbaiki riasan wajahnya. Meskipun tujuannya keluar hanya ingin mencari ayahnya tapi baginya penampilan itu wajib untuk dijaga.
"Nina mana Ma? Apakah dia bersedia kuajak keluar?"
Rendra tiba-tiba mengejutkannya. Pria itu berdiri tegap di luar pintu kamar putrinya.
"Eh..., i—iya. Dia masih ke kamar mandi. Kamu tunggu sebentar ya? Nggak lama kok."
"Hm.., oke. Setelah selesai suruh dia temui aku di depan ma. Aku mau siapin mobil dulu."
"Baik, akan mama sampaikan."
Nina kembali ke dalam kamarnya dan merapikan rambutnya yang berantakan, dia juga memakai sedikit make up di wajahnya agar terlihat lebih segar.
"Cepatlah kalau berdandan, kakakmu sudah menunggumu di luar."
"Iya tunggu sebentar, kalau nggak sabar ya biarin aja dia pergi sendiri. Kalau butuh ditemani itu harusnya sabar menunggu," jawabnya dengan memoles lipstik di bibirnya. Setelah terlihat lebih segar dia pun meraih jaket yang ditaruhnya di ranjang.
"Aku keluar sekarang. Mama tutup saja pintunya."
Setibanya di halaman, Rendra tercengang menatap kecantikannya. Pria itu sampai tak berkedip sedetik pun.
"Cantik sekali kamu sayang!"
Entah untuk yang ke berapa kalinya pria itu memanggilnya sayang, tapi dia berusaha untuk mengabadikannya.
"Ngapain bengong gitu? Ayo kita jalan!"
"Ah..., i—iya."
Lamunannya seketika buyar. Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Memangnya kita mau cari Papa ke mana?" tanya Nina dengan memasang sabuk pengaman.
"Aku sendiri juga nggak tahu. Mama terlalu cemas, makanya aku putuskan untuk mencarinya."
"Lah..., terus ngapain ngelibatin aku?"
"Ya kan aku butuh teman." Pria itu meliriknya sekilas, tapi matanya tertuju pada spion. Dilihatnya bibir ranum yang begitu menggoda. Tak sadar dia meneguk ludah menginginkannya.
Rendra segera mengusir otak kotornya. Setiap kali berdekatan dengan adik tirinya ia tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik. Hatinya selalu ingin memiliki namun apalah daya adik tirinya itu terlalu dingin dan selalu bersikap jutek padanya.
"Kita coba cari di sekitar cafe ya?"
Nina mengangguk. "Hm..., boleh. "Tapi apakah kamu yakin Papa ada di cafe di daerah ini?"
Rendra mengedikkan bahunya. "Yakin nggak yakin. Apa salahnya kalau kita coba cari dulu."
"Ya udah, terserah kamu aja."
Nina pasrah kemanapun Rendra akan membawanya, asalkan tidak dibawa ke hotel menurutnya masih cukup aman.
Di sebuah cafe yang masih ramai oleh pengunjung, Rendra mengajak Nina masuk. Di sana mereka tidak mendapati keberadaan ayahnya, tapi tanpa sengaja mereka bertemu dengan Wiryo. Pria itu seperti orang kesetanan. Bertemu dengannya langsung ingin memeluknya.
"Anakku! Aku yakin kamu itu anakku!"
Nina tersebut bukan main saat pria itu berusaha untuk memeluknya dengan cekatan Rendra langsung mendorong memisahkannya.
"Anda sudah gila ya Om!" Bisa-bisanya anda memeluk adik saya dan mengakuinya sebagai anak. Memangnya anda pikir anda ini siapa?"
Pria itu bahkan hendak menghukumnya namun ditahan oleh Nina.
"Kak sudah! Biarkan saja. Papa nggak ada di sini. Lebih baik ayo kita pergi!"
Mereka berdua membalikkan badan berniat untuk pergi, namun satu kata yang membuat Nina menghentikan langkahnya.
"Kalian mencari Pak Hermawan? Kalian terlambat Pak Hermawan sudah pergi dari sini. Perlu kalian ketahui saja, Widya itu istriku, dan aku sangat yakin kalau kamu itu anak kandungku!"