“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Benua Binghuo
Ia beralih kembali ke Shan Luo yang masih terduduk lemah.
Mo Huang merangkak keluar dari tato di lengan Shan Luo, gemetar ketakutan di hadapan Yan Bingchen. Han Xiao pun hanya bisa mematung di sudut ruangan, kehilangan semua kata-kata konyolnya.
"Dantianmu retak, Bocah," ucap Yan Bingchen santai. Ia melambaikan tangannya, dan seberkas cahaya biru masuk ke tubuh Shan Luo, seketika meredakan rasa sakit dan menyatukan kembali retakan di Inti Sejatinya. "Aku sedang bosan. Dan karena kau ada hubungannya dengan 'anak itu', aku memutuskan untuk ikut campur sedikit."
Yan Bingchen berbalik, menatap ke arah utara, ke arah Benua Binghuo.
"Kau ingin mengejarnya, kan? Kau ingin membereskan urusanmu dengan keluarga Shan?" Yan Bingchen bertanya tanpa menoleh.
Shan Luo mengepalkan tangannya, berdiri dengan sisa kekuatannya. "Ya. Aku akan membunuhnya."
"Bagus. Semangat yang berapi-api," Yan Bingchen terkekeh. "Kebetulan aku juga harus kembali ke rumahku di Benua Binghuo. Daripada kau berjalan kaki dan mati di tengah jalan, ikutlah denganku."
Han Xiao akhirnya bisa bicara, meski suaranya mencicit. "K-kita akan pergi bersama pemimpin tertinggi benua? Ke Benua Binghuo?"
"Kenapa tidak?" Yan Bingchen melirik Han Xiao dengan senyum tipis yang menawan namun misterius. "Ayo berangkat. Aku ingin tahu seberapa jauh 'sampah' ini bisa terbang setelah aku memberinya sedikit dorongan."
Shan Luo menatap ke arah langit yang kini mulai terang. Ia tahu ini adalah kesempatan gila, melangkah masuk ke sarang serigala bersama seekor naga abadi.
Namun, demi ibunya, demi dendamnya, dan demi membuktikan dirinya pada Lin Yue, ia akan menempuh jalan ini.
"Mari pergi," ucap Shan Luo mantap.
Dengan lambaian jubah Yan Bingchen, aula makam itu mendadak lenyap dalam pusaran cahaya.
Hanya dalam satu kedipan mata, sensasi gravitasi yang merenggut kesadaran itu hilang.
Cahaya menyilaukan memudar, digantikan oleh pemandangan yang membuat Shan Luo tertegun hingga napasnya tertahan di tenggorokan.
Mereka tidak lagi berada di reruntuhan makam yang pengap. Di depan mereka membentang sebuah benua yang seolah-olah dipahat dari mimpi.
Langitnya berwarna gradasi oranye dan biru langit, di mana awan-awan uap panas menari di antara puncak gunung yang tertutup salju abadi.
"Wow ... Anda benar-benar bisa melakukan ini? Jarak antar benua bukan halangan bagi Anda?" Han Xiao melongo, memutar tubuhnya 360 derajat untuk memastikan ini bukan ilusi.
Yan Bingchen tidak menjawab. Ia hanya berjalan santai, langkahnya ringan seolah tidak baru saja melakukan teknik perpindahan ruang tingkat tinggi yang menguras energi.
Ia menuntun mereka menyusuri jalanan luas yang terbuat dari marmer putih yang tidak licin meski tertutup lapisan es tipis.
Di sepanjang jalan, Shan Luo melihat pemandangan yang tidak pernah ia temukan di wilayah Federasi Lin atau kekuasaan klan Shan yang korup.
Orang-orang berlalu-lalang dengan rambut yang kebanyakan didominasi berambut merah membara atau berambut biru es, menandakan mereka keturunan Klan asli.
Tentu saja ada orang biasa yang di lindungi oleh kekuasaan dua Klan besar ini.
Mereka tampak sehat, mengenakan pakaian berkualitas, dan yang paling mengejutkan Shan Luo, ia tidak menemukan satu pun pengemis atau anak terlantar di sudut jalan. Semua tampak sejahtera.
"Apa mereka dari Klan Api Abadi dan Es Abadi?" Han Xiao berbisik, mengekor di belakang. "Aku pernah membaca sejarah ... Anda adalah sosok legendaris yang menyatukan dua klan yang bermusuhan selama berabad-abad ini. Benua ini benar-benar maju."