Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 7 - Bohong
Bukan tanpa sebab kenapa saat ini Davion memperhatikan Aluna melalui CCTV khusus yang hanya bisa dia akses sendiri, sebab Davion ingin membuktikan bahwa Aluna tidak sesempurna itu.
Aluna pasti hanya manusia biasa yang memiliki sisi munafik di dalam dirinya. Berlagak sempurna hanya untuk menarik perhatian mommy Ivana.
Andai sedikit saja Davion menemukan kelemahan wanita itu, maka Davion akan memiliki alasan kuat untuk segera mengakhiri pernikahan ini. Karena yang selalu mommy Ivana katakan adalah, Aluna gadis yang sangat sempurna untukmu.
Namun selama apapun dia memperhatikan, Davion hanya melihat Aluna yang terduduk di sofa. Sampai akhirnya pelayan datang dan mengantar sarapan. Setelahnya Aluna keluar dari kamar dan Davion tahu wanita itu hendak pergi kemana, mendatanginya di ruangan ini.
Benar saja, tak berselang lama terdengar suara pintu ruang kerjanya yang diketuk dan Aluna masuk.
"Dav, sarapan sudah diantar oleh pelayan. Lebih baik kamu sarapan dulu," ucap Aluna, dia menyebut kamu karena tahu Davion tidak akan merasa nyaman jika makan bersamanya. Jadi biarlah Aluna menunda untuk sarapan, dia bisa makan setelah Davion.
Dan kata Kamu itu juga sedikit menganggu Davion, dia benci sikap Aluna yang seperti ini.
Namun Davion tak menjawab apapun, dia hanya bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan keluar menuju kamar. Aluna mengikuti di belakang dengan jarak aman.
Sesampainya di kamar Davion segera duduk di kursi meja dan memulai sarapan, sementara Aluna melewati meja tersebut dan kembali duduk di sofa.
"Nikmati sarapanmu Dav, aku akan makan setelahnya," ucap Aluna, Dia sudah terbiasa bersikap baik pada semua orang. Jadi tak bisa mengacuhkannya begitu saja. Meski Davion terus menekannya dengan tatapan tajam dan surat kontrak pernikahan, namun Aluna bisa memahami semua hal itu.
Sebab Aluna tahu, Davion tidak menginginkannya. Keberadaannya di sini hanya kesana kesepakatan bisnis diantara papa Pieter dan Daddy Aston.
Sementara Davion lagi-lagi menghela nafasnya dengan kasar, semua makanan ini sedikit pun tidak membuatnya berselera. Terlebih sekarang Aluna seperti menempatkannya sebagai orang paling jahat di dunia ini.
Davion akhirnya pilih untuk acuh, dia segera menyelesaikan makannya dan kembali pergi ke ruang kerja.
Aluna tidak protes sedikitpun dengan semua hal itu, setelah Davion pergi dia pun duduk di kursi meja dan memulai sarapan. Berbagai hidangan lezat tersaji di sana dan rasanya masih hangat.
Ketika Aluna makan dia bahkan masih terlihat anggun. Dan lagi-lagi Davion memperhatikan semua itu melalui layar CCTV dengan tangan yang terkepal kuat di atas meja.
"Dasar aneh!" ucap Davion, dia benar-benar geram sendiri. Rasanya sekali saja dia ingin melihat wanita itu berontak, tapi yang Davion dapatkan hanyalah tentang ketenangan Aluna.
Sampai tak terasa waktu sudah berjalan begitu jauh, sementara Davion sejak tadi belum menyentuh pekerjaannya. Yang dia lakukan hanyalah memperhatikan Aluna.
Menjelang siang Davion akhirnya kembali ke dalam kamar. Pintu terbuka dan seperti yang sudah bisa ia tebak Aluna langsung berdiri menyambutnya.
Gadis itu tersenyum kecil seolah kehadirannya memang sudah ditunggu sejak tadi.
“Dav, kamu ingin istirahat?” tanya Aluna lembut. “Kalau begitu istirahatlah, aku akan keluar dan menemui mommy Ivana.”
Nada suaranya halus sekali, namun justru itu yang membuat Davion semakin terganggu. Seolah dalam keadaan mereka, justru dirinyalah yang kehilangan kendali.
"Tunggu," ucap Davion yang akhirnya buka suara. Satu ucapannya membuat langkah Aluna jadi terhenti.
Ketika Aluna berbalik Davion sudah menatapnya dengan intens, tajam dan terasa dingin seperti biasa. Aluna memang berani membalas tatapan itu, tapi seketika membuatnya terdiam.
Mereka berdiri di jarak yang aman, seperti yang sudah tertulis dalam kontrak pernikahan.
"Berhentilah bersikap seperti ini, aku benar-benar muak melihatnya," ucap Davion.
Aluna mengerutkan kening, belum begitu memahami apa yang dimaksud oleh Davion. Maksudnya sikap yang seperti apa? Katanya dia harus patuh? bukankah ini sudah patuh? lalu Aluna harus seperti apa lagi?
Dia seperti benar-benar tak boleh berdiri di kakinya sendiri. setiap pijakan yang ia ambil harus atas kehendak orang lain.
"Sikap yang seperti apa maksudmu, Dav? katakan dengan jelas agar aku tidak salah lagi," balas Aluna lembut.
"Tutur katamu, gerak geriknya, tindakan mu. Semuanya membuatku kesal!"
Aluna tergugu mendengar bentakan tersebut, seumur-umur dia tak pernah mendapatkan bentakan keras seperti ini. Seketika jantung Aluna bergemuruh dan dia waspada. Bagaimana jika tiba-tiba Davion menyerangnya dengan pukulan?
Nafas Aluna memburu dan dia mundur satu langkah, menyadari betul bahwa Davion sangat tidak menginginkannya.
"Maafkan aku Dav, jika bisa aku juga tidak ingin mengganggumu. Tapi sekarang kita sudah menikah, bisakah, bisakah kita jalani saja semua ini?"
"Diam," balas Davion yang benar-benar geram saat mendengar lembutnya suara Aluna. "Jangan pernah buka mulut mu saat bersamaku, paham?" pinta Davion dengan suara penuh penekanan.
Aluna sontak menutup mulutnya rapat-rapat, dia tidak lagi bicara dan hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Kepala Davion sampai ingin meledak melihat betapa patuhnya Aluna. Wanita itu tak jadi keluar dan kini jadi hanya berdiri diam di hadapannya.
Beberapa saat hening menguasai tempat tersebut, sebelum akhirnya Davion kembali kalah dengan egonya sendiri.
"Pergilah, temui mommy Ivana atau apapun tapi jangan kembali ke kamar sebelum ku perintah."
Aluna tak menjawabnya dengan kata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya lagi.
'Ya Tuhan!' geram Davion di dalam hati, ia melihat Aluna yang akhirnya benar-benar keluar dari dalam kamar ini.
Setelah pintu tertutup barulah Aluna bisa menghalang nafasnya dengan lega, seperti baru saja melepas beban berat di dalam dadanya.
Pernikahan seperti inilah yang akan dia jalani sekarang, bukan untuk satu atau dua hari tapi sampai batas waktu yang ditentukan oleh Davion sendiri.
Aluna kemudian turun ke lantai 1, beberapa pelayan yang melihatnya langsung menunjukkan kepala hormat. Tiba di ruang keluarga ternyata ada mommy Ivana di sana, duduk dan merangkai bunga di dalam vas.
Aluna tak langsung menyapa, dia lebih dulu menatap diam-diam. Mommy Ivana terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi, beliau bahkan terlihat sama baiknya seperti mama Sarah.
Namun kesamaan itulah yang membuat Aluna ragu untuk mendekat, takut bahwa mommy Ivana juga akan mengendalikannya dan Aluna jelas tak akan mampu untuk menolak.
"Nyonya," panggil seorang pelayan hingga membuyarkan semua lamunan Aluna. Panggilan itu juga membuat mommy Ivana menoleh.
Sementara sang pelayan hanya datang untuk mengantar gunting baru yang diminta oleh nyonya Ivana.
"Aluna," panggil mom Ivana dan Aluna tak bisa mengelak lagi, ia akhirnya melanjutkan langkah dan mendekat.
"Mom."
"Duduklah, kita rangkai bunga bersama-sama. Nanti satu letakkan di kamarmu dan Davion," ucap mom Ivana.
Aluna kemudian duduk di tempat yang masih senggang, sebab di sekitar mommy Ivana sudah banyak sekali bunga yang tersedia.
Dengan ragu-ragu Aluna mengambil salah satu bunga.
"Kamu suka bunga apa, Sayang?" tanya mom Ivana penuh perhatian.
Aluna terdiam sejenak, dia sebenarnya sangat menyukai bunga mawar merah yang saat ini ada digenggaman tangannya. Namun selama ini Aluna bahkan tak diizinkan untuk menyentuh bunga tersebut. Sebab Jesselyn tak menyukainya, apa yang di sukai Jesselyn adalah bunga Lily, jadi kata mama Sarah bunga Lily lah yang harus dia sukai juga.
"Bunga Lily, Mom. Aku suka bunga Lily," jawab Aluna dengan tersenyum.
"Bohong, kamu tidak menyukai bunga Lily. Yang kamu sukai adalah bunga mawar merah," balas mom Ivana tanpa keraguan sedikitpun. Di meja ada banyak sekali bunga, termasuk bunga Lily yang Aluna sebutkan. Andai Aluna menyukai bunga itu maka Aluna akan langsung mengambilnya pertama kali, tapi tidak, Aluna justru mengambil bunga mawar merah.
Jantung Aluna sontak berdenyut nyeri ketika mendengar ucapan mom Ivana. Bagaimana mom Ivana bisa membaca pikirannya?
"Sekarang jujur pada Mommy. Kamu suka bunga mawar merah, lalu kenapa malah menyebut bunga Lily?"
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna
sekarang nikmati dulu alurnyaa...
aluna hanya alat.. hanya pengganti.. ortu angkat nya tidak membiarkan aluna menjadi dirinya sendiri.. jika davion tau alunaa hanya angkat sepertinya dia tak akan semena-mena.. dia pasti paham karena biasanya anak angkat dituntut balas budi..
semoga davion segera sadar yaaa alunaaa🥰🥰🥰💪💪💪