Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bab 26
Gedung bendungan itu berdiri seperti rahasia yang lupa cara bicara.
Dindingnya tebal, gelap, dan dingin. Tidak ada jendela. Tidak ada cahaya alami yang masuk. Sisa-sisa lampu tua di langit-langit hanya menggantung seperti tulang-tulang yang tidak lagi berguna. Udara di dalamnya lembap, berbau logam tua dan sesuatu yang lebih tajam—seperti bahan kimia yang sudah terlalu lama tinggal.
Bumi berjalan di belakang Pam dan Nuri, langkahnya bergema pelan di lorong panjang. Setiap suara terasa lebih besar dari seharusnya, memantul dari dinding ke dinding.
Hari sudah menjelang senja di luar sana.
Tapi di dalam sini… waktu terasa berhenti.
Pam berjalan paling depan. Cepat dan pasti. Seolah ia tidak sedang menjelajah tempat asing, tapi pulang ke tempat yang pernah ia kenal. Belok kanan. Turun tangga. Lewat pintu setengah terbuka. Tanpa ragu.
Bumi dan Nuri saling pandang beberapa kali.
“Kamu pernah ke sini sebelumnya?” tanya Nuri akhirnya, suaranya pelan tapi penuh curiga.
Pam tidak berhenti berjalan. “Belum.”
Bumi mengangkat alis. “Serius?”
Pam mengangguk singkat.
Nuri mempercepat langkah, menyamai langkahnya. “Terus kenapa kamu kayak… hafal banget?”
Pam akhirnya berhenti sebentar. Ia menoleh sedikit, matanya tajam tapi lelah.
“Feeling,” katanya pendek. “Yang penting kita turun. Bagian bawah. Tempat saluran limbah bermuara.”
Ia kembali berjalan sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh.
Bumi mendengus kecil.
“Kak,” katanya, menoleh ke Nuri dengan senyum iseng yang muncul tiba-tiba, “makanya sering main game.”
Nuri meliriknya datar. “Apa hubungannya?”
“Di game, kita terbiasa gerak terus. Cari jalan. Nggak bengong liat peta,” lanjut Bumi, setengah bercanda, setengah membela diri.
Nuri menghela napas. “Kamu kira ini game?”
Bumi mengangkat bahu. “Ya nggak sih… tapi anggap aja ini game,” katanya enteng. “Terus nanti dari mesin waktu kita balik ke 2026… kayak semua ini mimpi.”
Langkah Pam tiba-tiba berhenti. Sunyi. Berat. Ia menoleh perlahan ke arah Bumi. Matanya berubah. Bukan marah yang meledak… tapi dingin yang menusuk.
Nuri langsung tahu, bahwa Bumi salah.
“Kamu kira ini semua mimpi?” tanya Pam pelan. Nada suaranya tidak tinggi. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam.
Bumi langsung mengangkat tangan, gugup. “Eh, bukan gitu. Maksud aku—”
Pam sudah berbalik. Dan berjalan lagi. Lebih cepat. Tidak memberi ruang untuk penjelasan.
“Bodoh,” desis Nuri pelan ke arah Bumi, lalu segera mengejar Pam.
Bumi berdiri sebentar. Merasa seperti baru saja menendang batu… dan batu itu jatuh ke jurang tanpa dasar. “Iya… aku bodoh,” gumamnya pada diri sendiri.
Lalu ia berlari kecil, menyusul mereka.
—
Lorong itu berakhir di sebuah ruangan besar.
Ruang kontrol.
Kaca lebar memenuhi satu sisi dinding, sebagian retak tapi masih utuh. Panel-panel mesin berjajar rapi, penuh tombol dan layar… yang kini mati. Kabel menjuntai seperti akar yang kehilangan tanah.
Pam berjalan mendekat ke kaca.
Bumi dan Nuri ikut.
Dan mereka melihatnya. Sebuah kawah. Besar. Dalam. Di dasar kawah itu, mengalir sungai berwarna hijau. Hijau transparan yang seperti ada di kolam dengan dasar berlumut.
Di sekelilingnya, puluhan pipa raksasa menjorok keluar dari dinding kawah. Diameternya sebesar tubuh manusia dewasa. Beberapa berkarat. Beberapa masih tampak utuh.
Pemandangan itu… indah sekaligus mengerikan.
“Ini…” Nuri mendekat ke kaca. “Saluran limbah?”
Pam mengangguk.
Bumi menelan ludah. “Kita… masuk ke situ?”
Pam tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat pergelangan tangannya, melihat jam kecil yang menyala redup. Lalu—klik—ia memotret situasi di depan mereka.
Beberapa detik berlalu.
Sunyi.
Lalu jam itu bergetar pelan. Pam membaca sesuatu. Matanya bergerak cepat.
“Kita ke pipa nomor empat,” katanya akhirnya, menunjuk salah satu pipa di sisi kiri.
Bumi mengikuti arah jarinya.
Pipa itu terlihat… sama saja seperti yang lain.
Gelap, dalam. Mengundang, sekaligus menolak.
Pam langsung berbalik, berjalan menuju pintu keluar ruangan kontrol.
Bumi refleks meraih tangannya.
“Pam… tunggu.” Pam berhenti.
Menoleh perlahan. Tatapannya membuat tangan Bumi terasa salah tempat. “Kamu nggak usah lanjutin ini,” kata Bumi pelan. “Kalau kamu mau kembali ke Na…,”
“Kamu nggak mau bangun dari mimpi?” potong Pam. Nada sinis itu kembali. Lebih tajam dari sebelumnya.
Bumi terdiam.
Nuri memutar matanya, menggeleng pelan sambil bergumam. “Astaga…”
“Pam, aku cuma…,” Bumi berusaha menjelaskan tapi Pam menarik tangannya dari genggaman Bumi. Tidak kasar. Tapi tegas.
“Fokus,” katanya singkat. “Atau kamu bisa balik sendiri.” Ia membuka langkah lagi. Turun tangga menuju jalur bawah. Langkahnya cepat. Seperti ingin menjauh dari kata-kata yang baru saja ia dengar.
Nuri mengikuti, tapi sempat menoleh ke Bumi. “Lain kali mikir dulu sebelum ngomong,” katanya pelan.
Bumi hanya mengangguk. Dadanya terasa berat. Ia tidak tahu harus memperbaiki dari mana.
Tangga menuju bawah gelap dan sempit. Bau limbah mulai terasa lebih kuat, menusuk hidung.
Mereka sampai di sebuah pintu besar. Besi. Tebal. Berkarat.
Pam meraih gagangnya. Menarik. Tidak bergerak. Ia mencoba lagi. Masih sama. “Ke kunci…” gumamnya.
Ia mundur satu langkah.
Buk!
Pam menendang pintu itu.
Suara dentumannya bergema.
Tapi pintu itu… tidak bergerak sedikit pun. Pam menggertakkan giginya. Menendang lagi.
Buk!
Tetap tidak ada perubahan.
Nuri menghela napas. “Kayaknya bukan tipe pintu yang bisa dibuka pakai emosi.”
Bumi mendekat, menatap pintu itu.
“Aku coba.” Bumi menarik Pam untuk menjauhi pintu, lalu menendangnya sekuat tenaga, tapi pintu tidak terbuka.
“Sepertinya ini untuk membuka pintu!” Nuri yang masih ada di ruang kontrol melihat ada tombol yang menunjukkan simbol pintu. Ia lalu menekannya. Pintu terbuka.
“Nice!” Pam mengangkat jemplnya pada Nuri, lalu menggeser badan Bumi yang menghalangi pintu, lalu bergegas jalan ke arah sungai.
Nuri mendekati Bumi, “Kalau minta maaf yang bener!”
Nuri bergegas turun ke kawah, lalu berdiri di sebelah Pam. Suara aliran air membuat Nuri dan Pam susah berbicara. Nuri teriak, “Kita ke pipa itu?” Nuri menunjukkan pipa yang ada di seberang sungai besar.
“Iya!” sahut Pam sambil teriak.
“Kita berenang?” tanya Bumi.
“Nggak. Kita lompat saja. Ini kan mimpi!” sahut Pam, tapi ia bersiap untuk berenang, lalu melompat ke sungai dan berenang dengan cepat agar tidak terbawa arus, lalu berhasil sampai ke seberang dengan mudah.
Nuri melirik Bumi yang minta tolong agar Pam tidak lagi marah, tapi Nuri langsung mengikuti Pam. Melompat ke sungai dan berenang ke tepian dengan mudah. Bumi mengikuti mereka, tanpa berkata apapun.
Pam, Bumi, dan Nuri yang basah dengan air hijau dari limbah, berdiri di depan pipa besar. Air limbah hijau itu tidak berbau, tidak lengket, persis seperti air biasa hanya saja berwarna hijau transparan. Pam berusaha menggoyangkan senapan yang tadi diambil dari penjaga, agar air keluar dari dalamnya. Bumi dan Nuri mengikutinya.
“Ini titik awal, kita mungkin harus menanjak, sekitar lima kilo meter. Dan mungkin diujung sana ada penjaga,” Pam menatap Nuri, menghindari tatapan Bumi.
“Nggak ada jalan lain, kan?” tanya Nuri memastikan.
Pam menggelengkan kepala.
“Pam, aku tadi salah bicara,” Bumi menarik tangan Pam. “Aku nggak bermaksud bilang ini semua mimpi. Aku tahu kamu harusnya ke timur selatan, cari tempat aman itu. Tapi kamu malah membantu aku sama kakakku untuk kembali ke 2026.”
Pam menghela napas. “Aku juga nggak tahu apakah tempat aman di timur selatan itu ada. Kamu membuat aku bertemu dengan ratu adil. Sebuah mitos yang sering dibicarakan orang. Dan ternyata kamu adalah si penolong bumi.”
Nuri dan Bumi saling berpandangan.
“Aku harap, aku bukan bermimpi. Aku ingin bumi ini kembali punya inti yang membuatnya hidup.”
Tak lama kemudian, Pam masuk ke dalam saluran pipa itu.