Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Gemblengan Lembah Kerinci dan Pusaka Naga Emas
Angin pegunungan Kerinci yang dingin menusuk tulang seolah tak berdaya menembus kulit pemuda yang tengah berdiri kokoh di atas sebuah batu runcing.
Di bawahnya, jurang menganga lebar dengan kabut tebal yang menutupi dasarnya.
Pemuda itu adalah Rangga Nata, yang kini telah genap berusia dua puluh tahun.
Tubuhnya yang dulu ringkih kini tampak tegap dengan otot-otot kawat yang liat, hasil tempaan tak kenal ampun selama lima belas tahun.
Di depannya, sang Pertapa Gila Tanpa Tanding duduk bersila di atas selembar daun pisang yang anehnya tidak melengkung sama sekali di bawah beban tubuhnya. Kakek tua itu menyesap tuak dari labunya, lalu terkekeh nyaring.
"Rangga, kau sudah menguasai tujuh dari sembilan bagian ilmu Langkah Naga Menembus Awan. Tapi hatimu masih seberat batu kali. Dendam pada Macan Hitam itu seperti api; jika tidak kau kendalikan, ia akan membakar dirimu sendiri sebelum membakar musuhmu!" ujar si kakek dengan nada yang tiba-tiba berwibawa.
"Guru, bagaimana aku bisa melupakan jerit tangis penduduk Desa Bungo Tanjung? Darah ayah dan bunda masih terasa hangat di mataku setiap kali aku memejamkan mata," sahut Rangga dengan suara rendah namun bertenaga.
Si kakek menghela napas panjang. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati sebuah celah di dinding gua yang tertutup air terjun abadi.
Dengan sekali lambaian tangan yang mengandung tenaga dalam murni, aliran air terjun itu seolah terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah kotak kayu jati kuno yang memancarkan hawa murni yang luar biasa.
"Hari ini, genap lima belas tahun kau bersamaku. Sudah saatnya kau memegang tanggung jawab ini," kata sang Pertapa Gila. Ia membuka kotak itu.
Seketika, cahaya kuning keemasan yang menyilaukan mata menyeruak keluar, menerangi seisi lembah yang mulai gelap. Di dalam kotak itu terbaring sebilah pedang dengan sarung bermotif sisik naga yang sangat indah. Gagangnya berbentuk kepala naga yang tengah menganga, dengan sebutir permata merah delima di bagian matanya.
"Inilah Pedang Naga Emas Seribu Langit," bisik sang Pertapa Gila. "Pedang ini tidak bisa dihunus oleh sembarang orang. Ia hanya akan patuh pada pendekar yang memiliki hati lurus dan niat suci. Jika hatimu hanya berisi dendam buta, pedang ini akan menjadi beban seberat gunung di tanganmu."
Rangga melangkah maju dengan gemetar. Saat tangannya menyentuh gagang pedang, sebuah getaran hebat merambat ke seluruh tubuhnya. Ia merasa seolah-olah ada seekor naga raksasa yang tengah mengawasi jiwanya.
Sringgg!
Begitu pedang itu ditarik dari sarungnya, suara dentingnya memecah kesunyian lembah, diikuti oleh raungan halus yang menyerupai naga. Bilah pedang itu berwarna emas berkilauan, mengeluarkan hawa panas yang sejuk secara bersamaan.
"Luar biasa..." desis Rangga terpana.
"Gunakanlah untuk membela yang lemah di bumi Andalas ini, Rangga. Macan Hitam kini telah menjadi penguasa hitam yang sangat kuat di Gunung Tiga Puluh. Ia telah bersekutu dengan kekuatan gelap yang lebih besar dari yang kau bayangkan," ujar sang Pertapa Gila.
Rangga berlutut, menjura dengan hormat kepada gurunya. Di tangannya, Pedang Naga Emas Seribu Langit seolah menjadi bagian dari lengannya sendiri.
"Aku bersumpah, Guru. Dengan pedang ini, keadilan akan kembali tegak di tanah kelahiranku. Darah harus dibayar dengan keadilan, bukan sekadar nyawa."
Sang Pertapa Gila tersenyum tipis. Ia tahu, pengembaraan besar.
Rangga Nata menggenggam hulu pedang itu dengan tangan yang gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena energi murni yang meluap-luap dari bilah emas tersebut seolah sedang menggeledah isi sukmanaya.
Sang Pertapa Gila Tanpa Tanding hanya berdiri memperhatikan dengan mata menyipit, sesekali meneguk tuak dari labu kuningnya yang tak pernah kosong.
"Jangan hanya mengandalkan otot lenganmu, Rangga! Pedang Naga Emas Seribu Langit tidak diciptakan dari besi biasa. Ia ditempa dari sari pati petir dan air mata naga langit.
Jika batinmu kotor oleh dendam yang buta, pedang itu akan terasa seberat seribu kuintal!" teriak sang guru, suaranya menggelegar mengalahkan suara deburan air terjun di belakang mereka.
Rangga memejamkan mata. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga dalam yang telah ia latih selama lima belas tahun. Namun, benar kata gurunya.
Begitu ia membayangkan wajah kejam Macan Hitam yang tertawa di atas jasad ibunya, pedang di tangannya mendadak menjadi sangat berat.
Ujung pedang itu perlahan turun, menghujam ke batu cadas hingga retak. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahi Rangga.
"Sial! Mengapa begitu berat?!" geram Rangga, giginya berkerit menahan beban.
"Karena kau memegang pedang itu dengan tangan seorang pembunuh, bukan tangan seorang pelindung!" sahut Pertapa Gila sambil melompat ringan, mendarat di atas ujung dahan pohon pinus yang melengkung di tepi jurang.
"Ingat ajaran dasarmu, bocah! Silat adalah gerak batin yang mewujud dalam raga. Jika batinmu hanya ingin menghancurkan, maka kau takkan pernah bisa menguasai senjata yang diciptakan untuk menjaga keseimbangan alam."
Rangga menarik napas panjang. Ia mencoba mengatur jalan darahnya, menenangkan gejolak amarah yang selama ini menjadi bahan bakarnya untuk berlatih.
Ia membayangkan wajah lembut ibunya, Ayu Ningsih, dan senyum bijak ayahnya. Ia teringat pesan terakhir sang bunda: "Kau adalah putra naga. Kau harus hidup!"
Perlahan, aura merah kemerahan yang sempat menyelimuti tubuh Rangga berganti menjadi cahaya keemasan yang tenang.
Beban berat di tangannya perlahan memudar. Pedang itu kini terasa seringan bulu angsa.
Sreeet!
Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Rangga mengayunkan pedang itu ke arah udara kosong.
Sebuah larik cahaya emas melesat dari ujung bilah pedang, membelah kabut tebal yang menyelimuti lembah hingga menampakkan dasar jurang untuk sekilas.
"Bagus! Itulah jurus Naga Emas Membelah Samudra," puji sang Pertapa Gila sambil bertepuk tangan bocah.
"Tapi ingat, pedang ini memiliki seribu perubahan. Di tangan yang salah, ia akan membawa bencana. Di tanganmu, ia harus menjadi harapan bagi rakyat Andalas yang kini tertindas oleh taring-taring tajam kelompok hitam."
Selama tujuh hari tujuh malam berikutnya, Rangga tidak berhenti berlatih. Ia belajar menyatukan gerak langkahnya dengan getaran pedang tersebut.
Di bawah guyuran air terjun yang dinginnya mampu membekukan darah, ia berlatih meditasi sambil memangkas tetesan air yang jatuh dengan kecepatan kilat.
Suatu malam, saat bulan purnama sempurna menggantung di atas puncak Kerinci, sang Pertapa Gila memanggilnya ke tepi api unggun.
"Esok, matahari akan membawamu ke arah timur. Pergilah ke Jambi. Aku mendengar kabar bahwa Macan Hitam kini telah membangun istana megah di atas penderitaan rakyat. Ia telah mengumpulkan jagoan-jagoan bayaran dari seantero nusantara, bahkan ada yang datang dari tanah seberang," ujar kakek itu dengan nada serius.
Pertapa Gila menyerahkan sebuah bungkusan kain kumal kepada Rangga. "Di dalamnya ada rompi kulit harimau putih, warisan dari kakek buyutmu yang juga seorang pendekar besar di tanah ini. Pakailah. Ia akan melindungimu dari senjata rahasia yang beracun."
Rangga menerima bungkusan itu dengan khidmat. Ia tahu, masa-masa tenang di bawah bimbingan sang guru telah berakhir. Di depannya membentang jalan panjang yang penuh dengan ceceran darah dan pengkhianatan.
"Terima kasih atas segalanya, Guru. Hamba berjanji tidak akan mempermalukan nama besar Guru," ujar Rangga sambil bersujud di kaki sang Pertapa Gila.
"Sudahlah, jangan cengeng! Pergi sana! Dan ingat satu hal lagi..." Sang kakek tertawa terkekeh-kekeh sambil kembali bertingkah seperti orang gila, berguling-guling di tanah.
"Kalau bertemu gadis cantik, jangan kau pelototi seperti melihat hantu! Kau itu Pendekar Naga, bukan Pendekar Mata Keranjang! Ha ha ha!"
Rangga hanya bisa tersenyum simpul menggelengkan kepala. Dengan langkah mantap dan Pedang Naga Emas Seribu Langit yang tersembunyi di balik jubah kain kasarnya, ia melangkah turun menuju kaki gunung. Di kejauhan, hutan Andalas yang lebat seolah berbisik, menyambut kembalinya sang putra naga yang telah lama hilang.
Bersambung...