Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Waktu
“Rayna, siapa itu?”
Rayna bergeming. Tatapannya terkunci pada sosok pria yang berdiri di depannya. Nicholas, setelan jasnya masih rapi, namun aura dominan yang biasanya ia bawa tampak luruh. Tidak ada intimidasi, yang tertinggal hanya sorot mata yang penuh beban dan rasa bersalah.
Elson keluar didampingi Ivana. Begitu mengenali sang tamu, mata Elson langsung menajam.
“Kamu…” desisnya kesal. “Nicholas. Beraninya kamu datang kemari!”
Nicholas menunduk dalam. Tanpa pembelaan dam tanpa ego.
“Saya datang untuk meminta maaf secara pribadi,” ucap Nicholas, suaranya berat namun stabil. “Kepada Anda berdua… dan terutama, kepada Rayna.”
Elson mendengus sinis. “Maaf? Setelah cucu saya dipaksa masuk ke dalam pernikahan yang berantakan itu? Anda pikir kata 'maaf' bisa menghapus trauma?”
Amarah Elson yang meluap membuat Chira, yang sejak tadi diam, refleks bersembunyi di balik kaki Rayna.
“Pa… tenanglah. Biarkan dia bicara,” bisik Ivana sambil mengusap lengan suaminya.
Nicholas tetap menunduk, menerima setiap cacian. “Saya tidak akan membela anak saya. Apa yang dilakukan Deva… adalah sebuah kegagalan fatal. Dan saya sebagai ayahnya, gagal mendidiknya.”
Ivana melangkah maju, menatap Nicholas dengan sorot yang lebih lunak. “Kesalahan anak memang luka bagi orang tua. Tapi permusuhan tidak akan menyembuhkan apa pun.” Ia menoleh pada Elson. “Pa, kita sudah di usia senja. Apa yang kita cari selain ketenangan? Mama tidak mau kebencian ini menjadi warisan bagi anak-cucu kita nanti.”
Kata-kata Ivana seperti air yang menyiram bara. Elson terdiam, rahangnya yang kaku perlahan melunak meski sorot matanya masih menyimpan sisa ketegasan.
“Jangan biarkan kesalahan ini terulang,” ucap Elson pendek, sebuah tanda gencatan senjata.
Nicholas mengangguk khidmat. “Terima kasih.” Ia lalu beralih pada Rayna. Pria yang memimpin Astro Tech itu kini merendahkan kepalanya di hadapan seorang gadis muda.
“Rayna… saya minta maaf. Kamu adalah korban dari keegoisan keluarga kami.” Nicholas menatapnya tulus. “Keputusan ada di tanganmu sepenuhnya. Jika kamu ingin mengakhiri pernikahan ini, saya akan mengurus semuanya dengan adil.”
Ia berhenti sejenak, ada keraguan sebelum ia melanjutkan, “Namun… sebagai seorang ayah yang melihat anaknya hancur, saya mohon… jika masih ada setitik ruang di hatimu, tolong pertahankan dia. Demi Deva.”
Jantung Rayna berdegup kencang. “Apa yang terjadi pada Deva?”
Nicholas memejamkan mata sejenak. “Dia sakit. Demam tinggi sejak kemarin, tapi bukan itu yang paling mengkhawatirkan. Dia… dia menyakiti dirinya sendiri. Dia meracau memanggil namamu, menolak makan, menolak tidur. Saya belum pernah melihat anak saya sehancur ini sebelumnya,” jelasnya. Sebenarnya Deva yang ingin menemui Rayna, namun Nicholas melarang karena cemas Elson akan menghabisi putranya itu.
Dunia Rayna seolah berhenti berputar. Bayangan Deva yang arogan kini berganti dengan bayangan pria yang rapuh.
“Aku… aku butuh waktu, Om,” bisik Rayna parau. “Aku harus bicara dengan Bang Eden.”
Nicholas tersenyum pahit, ada kelegaan kecil di sana. “Ambillah waktu sebanyak yang kamu perlukan. Setidaknya, masih ada harapan.” Ia menyerahkan kartu namanya.
“Hubungi saya kapanpun kamu siap.”
Setelah Nicholas pergi, suasana kembali sunyi. Ivana mendekati Rayna yang masih terpaku.
Rayna langsung menghambur ke pelukan neneknya. “Aku bingung, Nek… aku benar-benar bingung.”
“Apapun pilihanmu, Nenek ada di pihakmu,” bisik Ivana menenangkan.
Elson berdeham, berusaha menutupi rasa harunya. “Kita tetap harus bicara pada orang tuamu.”
“Jangan, Kek… mereka pasti marah besar,” sahut Rayna takut.
“Mereka akan tahu, cepat atau lambat,” timpal Elson tegas sambil merangkul bahu cucunya. “Tapi jangan takut. Jika mereka marah, Kakek yang akan berdiri paling depan untuk melindungimu.”
Di sudut teras rumah, Chira berdiri dengan mata berkaca-kaca. Bocah yang biasanya ceria itu kini sesenggukan.
“Eh, Chira kenapa sayang?” tanya Ivana kaget.
Chira mengusap hidungnya yang memerah. “Chila… Chila juga mau dipeluk, Oma…” ucapnya cadel.
Tawa Ivana hampir pecah. Ia merentangkan tangannya, menyambut cucu kecilnya itu.
____
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗