NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.23

Mobil yang dibawa Harlan melaju dengan tenang di jalanan yang ramai oleh para pengemudi yang cukup memadati jalan raya ibu kota

Dibawah lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya senja yang perlahan menghilang. Alisa menikmati perjalanannya dengan cukup tenang.

Sampai akhirnya, perhatian Alisa mulai teralihkan saat Harlan melajukan mobilnya, memasuki sebuah kawasan gedung yang menjulang tinggi, berdiri kokoh dengan arsitektur modern yang elegan. Area tersebut terlihat jauh lebih tertata, bersih, dan tenang dibandingkan jalanan yang baru saja mereka tinggalkan.

Alisa menoleh ke luar jendela, matanya mengamati sekeliling dengan saksama. Sampai akhirnya, mobil yang ia tumpangi, memasuki basement salah satu gedung tinggi itu.

“Kita… mau ke mana, Mas?” tanyanya pelan.

Harlan melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. Lalu kembali fokus ke arah depan. Mencari tempat parkir yang tidak jauh dari pintu masuk dari arah basement itu.

“Memangnya, mau kemana lagi. Tentu saja ke rumah kita.” jawabnya santai.

Alisa sedikit mengernyit, namun tidak bertanya lebih lanjut.

Beberapa menit kemudian, Harlan pun mulai memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesin mobil itu dan bersiap untuk keluar.

“Ayo turun. Kita sudah sampai.” ucapnya sembari membuka seatbelt yang membelit tubuhnya.

Harlan turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membuka pintu di sisi Alisa.

“Ayo.” ucapnya sembari mengulurkan tangan nya agar bisa digunakan Alisa sebagai pegangan.

Alisa keluar perlahan, matanya kembali menyapu seluruh sudut ruang basement.

“Jadi… kita akan tinggal disini?” tanyanya, sedikit ragu.

“Iya. Untuk sementara waktu, kita tinggal di apartemen dulu. Nanti, setelah semuanya berjalan dengan lancar, baru kita pindah ke rumah yang lebih luas. Kamu… tidak keberatan, kan? Kalau sementara waktu, kita tinggal di sini dulu?” tanya Harlan memastikan jika Alisa tidak keberatan untuk tinggal di apartemen lebih dulu.

“Tentu saja tidak. Rumah ataupun apartemen, kan, sama-sama tempat tinggal,”

“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, kalau begitu, ayo. Kita naik ke lantai atas. Unit milikku ada di lantai 15.”

Keduanya pun berjalan menuju ke arah lift, yang akan membawa mereka ke lantai 15. Dimana unit milik Harlan berada di lantai itu. Refleks, Alisa berjalan sedikit lebih dekat ke Harlan, seolah tanpa sadar mencari perlindungan di tempat yang asing itu.

Harlan menyadarinya, namun tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyesuaikan langkahnya agar tetap seiring dengan Alisa.

Mereka memasuki lift khusus penghuni. Harlan menekan salah satu tombol lantai atas, lalu pintu lift pun tertutup perlahan.

Di dalam ruang sempit itu, Alisa kembali terdiam. Ia menatap angka-angka yang terus bertambah di layar digital, yang ada tepat di samping pintu lift itu. Hingga akhirnya…

“Ting.”

Pintu lift terbuka perlahan. Menandakan jika mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju

Lorong di lantai tersebut terlihat jauh lebih sepi dan privat. Pencahayaannya hangat, dengan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki.

Harlan berjalan menuju salah satu pintu di ujung lorong, lalu berhenti. Ia mengeluarkan kartu akses, menempelkannya pada sensor.

Bip.

Pintu itu pun terbuka. Sebelum masuk, Harlan menoleh terlebih dahulu ke arah Alisa, memberi isyarat halus. Mempersilahkan istrinya itu untuk ikut masuk

“Ayo, kita masuk.” ucapnya

Alisa ragu sejenak, namun kemudian melangkah masuk. Mengikuti Harlan yang sudah lebih dulu masuk kedalam.

Begitu ia berada di dalam, langkahnya langsung terhenti. Matanya membulat sempurna saat melihat bagaimana mewah dan luasnya unit apartemen itu.

Ruangan itu luas… jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Interiornya modern, didominasi warna netral yang elegan. Jendela besar membentang di salah satu sisi ruangan, memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Lampu-lampu yang berkelap-kelip dari gedung-gedung tinggi, sudah seperti bintang-bintang yang menghiasi langit yang gelap.

Ruangan itu memiliki ruang tamu yang cukup luas dan di area lebih dalam ada ruang santai yang terhubung langsung dengan ruang makan dan dapur bergaya open space. Semuanya tertata rapi, bersih, dan terasa mewah dan… mahal.

Alisa menelan ludah pelan. Ia benar-benar tidak pernah menyangka, jika ia akan tinggal di tempat yang sangat luas dan mewah.

“Ini… besar sekali…” gumamnya hampir tak terdengar.

Harlan menutup pintu terlebih dahulu, sebelum akhirnya, ia berjalan mendekat ke arah Alisa yang masih terpaku di tempatnya, terpukau dengan tempat yang baru ia datangi.

“Kenapa bengong? Ayo masuk. Kita istirahat di dalam.” ujarnya menarik lembut tangan Alisa masuk lebih dalam.

Alisa menurut, kembali mengikuti langkah Harlan yang membawanya ke ruang santai. Keduanya pun duduk di sofa besar yang ada di sana.

“Bagaimana, kamu suka apartemennya?” tanya Harlan setelah keduanya duduk berdampingan.

“Apartemen nya… bagus banget, Mas. Pasti sewanya mahal, ya?” jawab Alisa, balik bertanya.

Harlan mengernyit. Bingung dengan pertanyaan yang Alisa layangkan.

“Sewa? Sewa apa?”

“Tentu saja apartemennya. Memangnya apa lagi.”

Seketika, tawa Harlan pun langsung pecah. Menggema di seluruh ruangan. Membuat Alisa menatap bingung ke arah pria itu.

Tawa Harlan masih terdengar beberapa saat sebelum akhirnya mereda. Ia menggeleng pelan, masih menyisakan senyum di wajahnya. Membuat Alisa semakin bingung.

“Kenapa… Mas ketawa?” tanyanya, sedikit canggung.

Harlan menghela nafas, lalu menatap Alisa dengan sorot mata yang lebih lembut.

“Apartemen Ini… milikku, Alisa.”

Kalimat itu membuat Alisa terdiam.

Sejenak, ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Matanya kembali menyapu ruangan itu, seolah mencoba mencerna ulang apa yang baru saja ia dengar.

“Apartemen ini, milik Mas Harlan?” ulangnya dengan sedikit meninggikan suaranya karena kaget.

Masih dengan senyuman di wajahnya, Harlan mengangguk.

“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya balik Harlan.

Alisa menggeleng cepat, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

“Enggak… cuma… kaget aja.” jawabnya tersenyum canggung.

Harlan masih menatap Alisa, memperhatikan wajah gadis beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Kaget… kenapa?” tanyanya akhirnya, lebih serius.

“Kaget saja… padahal… Mas masih muda, tapi… sudah sangat mapan. Jujur, aku belum pernah melihat orang seperti Mas. Mas hebat, keren.” jawabnya jujur namun tetap hati-hati.

Harlan semakin melebarkan senyumannya, ia tahu dan ia sudah menduga akan jawaban itu.

“Jangan memujiku seperti itu. Aku tidak sehebat yang kamu kira.”

Alisa menoleh, sedikit terkejut saat Harlan melarangnya untuk memuji dirinya.

Harlan kemudian berdiri dari duduknya, lalu mengajak Alisa untuk berkeliling ruangan.

“Ayo, aku tunjukkan kamar dan ruangan lainnya yang ada di sini.” ujarnya.

Alisa ikut berdiri, lalu kembali mengikuti langkah Harlan yang berjalan menuju ke arah sebuah pintu, lalu Harlan membuka pintu itu.

Klik

“Kreekkkk.”

“Ini kamar kita.”

Alisa melangkah masuk perlahan.

Kamar itu tidak kalah luas dari ruang tamu. Tempat tidurnya berukuran sangat besar, dengan sprei berwarna netral yang rapi.

Di sisi lain, terdapat lemari besar, meja kerja, dan jendela tinggi yang kembali memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Lampu-lampu kota masih berkelip di luar sana. Alisa berjalan mendekat ke arah jendela, menatap keluar tanpa sadar.

“Pemandangan nya… indah sekali.” gumamnya pelan.

Harlan berdiri tidak jauh di belakangnya, memperhatikan.

Untuk sesaat, ia tidak mengatakan apa-apa. Lalu… perlahan… Harlan berjalan mendekat. Berdiri tepat di samping Alisa.

“Mulai hari ini, kita akan mulai semuanya dari sini.” ucap Harlan membuat Alisa menoleh ke arahnya.

1
Uba Muhammad Al-varo
siapa tuh orang yang sedang ngintip dan menguping Harlan dan Alisa 🤔🤔🤔
Teh Yen
ngeri banget yah suasana d rmh kakek Harlan
Titik Ristiana
up lg kpn??
🌸 Triyani 🌸: maaf, insya Allah malam ini. aku nya sakit kak. jdi belum sempet nulis 🙏
total 1 replies
Teh Yen
smngta Alisa d Harlan kalian pasti bisa melewati semuanya bersama
Ariany Sudjana
kan kamu itu pelacur murahan Yuni, yang hanya ingin kekayaan pak Ali
Uba Muhammad Al-varo
harus lebih tegas lagi pak Ali kalau ngomong sama bu Yuni
Teh Yen
gegara siapa tuh pak Ali d Bu yuni jadi cekcok.terus gegara putri semata wayang mu lah Bu Yuni yg kabur d hari pernikahan 😏 sadar diri dong sedikit putrimu yg salah nyalahin Alisa terus heran 😏
Teh Yen
lah jd ikutan bingung aku hehe 😁,, tp jangan terlalu banyak berpikir Alisa suamimu kan kaya sekarang kamu istri pengusaha loh setidaknya itu salah satu bentuk tanggung jawab Harlan suamimu kalau kamu mau sekolah desain lagi ya kan jd terima saja
Eti Alifa
semoga anak2 author segera sehat kembali.
Eva Karmita
sama otor di tempat ku juga lagi musim demam bapil mungkin karena cuaca hujan panas ... aku aja satu rumah kenak semua 🥺 ..,, semoga otor dan keluarga cepat sembuh aamiin 🤲🤲
maya ayu
semoga lekas sembuh thoorrr.. amiiinn🙏🙏🙏
Uba Muhammad Al-varo
iya kakak Author 👍👍👌 yang diutamakan semuanya pada sehat, aamiin...🙏❤️💪💪💪
vita
sll suka karya2nya
Teh Yen
engg pa pa thor ,, smoga lekas sembuh yah semuanya
Elisabeth Ratna Susanti
like, subscribe plus 🌹 untuk karya keren jni🥰
🌸 Triyani 🌸: makasih kak 🤗🥰🙏
total 1 replies
Teh Yen
Alisa bingung yah mau pesen yg mana abisnya harganya.mahal" untuk dia hihii
Uba Muhammad Al-varo
Harlan apa benar kamu udah memahami Alisa, makanya sekalian kamu selidiki Alisa Harlan,ada apa sebenarnya yang terjadi pada Alisa 🤔🤔🤔
maya ayu
semangat othooorrrrr aku suka novel2 mu❤️❤️❤️👍👍
Uba Muhammad Al-varo
kini saatnya Alisa bahagia semenjak dari kecil ditinggalkan dan tanpa kasih sayang bpknya sekarang ada Harlan yang akan menyayangi, mencintai dan membahagiakan mu Alisa
Uba Muhammad Al-varo
semoga cepat sembuh kakak, aamiin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!