Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Di dalam mobil, suasana sempat dipenuhi keheningan, yang aneh, bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi justru karena terlalu banyak yang ingin keluar dan harus ditahan.
Lita yang duduk di kursi depan mengemudi menggantikan Sekar beberapa kali menarik napas panjang, jelas sedang menahan diri untuk tidak melontarkan komentar tentang apa yang baru saja mereka lihat di rumah Aji. Wajahnya terlihat kesal, tangannya sesekali bergerak gelisah, seolah kata-kata itu sudah berada di ujung lidahnya.
Namun sebelum akhirnya benar-benar keluar, Sekar yang duduk di kursi belakang bersama Sea, pelan menggeleng dan memberi isyarat kecil.
Tidak perlu kata-kata, tapi Lita langsung mengerti. Ada Sea di sana. Dan Sekar tidak ingin, tidak akan pernah membiarkan anaknya mendengar hal buruk tentang ayahnya, tentang keluarga yang selama ini menjadi dunianya, meski hati Sekar sendiri sudah penuh sesak oleh amarah, kecewa, dan luka yang belum sempat sembuh.
Sekar memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela, menatap jalanan tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar cepat, menyusun satu per satu hal yang harus ia lakukan. Ada terlalu banyak yang harus dipikirkan, tentang sekolah Sea yang terhenti, tentang kondisi psikologis anak itu yang jelas berubah, tentang lingkungan yang harus segera ia perbaiki, tentang bagaimana ia harus memperkenalkan kembali dirinya sebagai “rumah” yang aman bagi Sea. Semua itu berdesakan di kepalanya, menuntut untuk segera diselesaikan. Tapi Sekar tahu, ini bukan waktunya. Bukan sekarang.
Perlahan, ia menunduk dan menatap Sea yang duduk diam di sampingnya. Anak itu memeluk tas kecilnya, matanya melihat ke depan, tapi kosong. Sekar merasakan sesuatu di dadanya runtuh pelan. Ia tidak ingin pertemuan pertama mereka setelah sekian lama ini dipenuhi dengan ketegangan dan kesedihan. Ia ingin Sea mengingat hari ini sebagai sesuatu yang hangat. Sebagai awal yang baik.
“Ibu ajak kamu jalan dulu ya,” ucap Sekar lembut, mencoba menghadirkan senyum yang tulus meski hatinya masih bergetar. “Kita ke mall, mau?”
Sea menoleh pelan. Tidak ada lonjakan antusias seperti dulu, tapi ada sedikit cahaya yang muncul di matanya. Ia mengangguk kecil.
Itu sudah cukup bagi Sekar.
Sesampainya di mall, Sekar menggenggam tangan Sea erat, seolah tidak ingin melepaskannya sedetik pun. Mereka berjalan menyusuri toko demi toko, dan di sanalah hati Sekar benar-benar diuji. Saat ia mulai memilihkan pakaian untuk Sea, ia baru benar-benar menyadari kondisi anaknya. Baju yang dikenakan Sea tampak sempit, warnanya sudah pudar, bagian lengannya bahkan terlihat mulai usang. Sekar menahan napasnya. Dadanya terasa seperti diremas kuat.
Tanpa berkata apa-apa, ia mulai mengambil beberapa potong pakaian, gaun kecil berwarna cerah, kaos lembut, celana yang nyaman. Ia berusaha memilih yang terbaik, yang paling cantik, yang paling layak… seolah ingin menebus semua hari yang terlewat tanpa kehadirannya. “Ini cantik nggak?” tanya Sekar pelan, memperlihatkan sebuah dress berwarna pink.
Sea menatapnya, lalu untuk pertama kalinya sejak tadi, ada senyum kecil yang muncul. “Cantik…” jawabnya lirih.
Senyum itu langsung menghantam hati Sekar. Ia menoleh cepat, berpura-pura sibuk memilih baju lain, padahal matanya mulai panas. Ia tidak boleh menangis di sini. Tidak di depan Sea.
Mereka lanjut membeli sepatu, sandal, bahkan beberapa mainan kecil yang diam-diam membuat Sea sedikit lebih hidup. Lita yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum, meski sesekali matanya ikut berkaca-kaca melihat bagaimana Sekar berusaha menutup semua lukanya dengan kasih sayang yang begitu besar.
Setelah itu, Sekar mengajak mereka makan. Ia memilih tempat yang nyaman, memesan banyak makanan, lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Ia bahkan membeli berbagai bekal untuk dibawa pulang, seolah ingin memastikan bahwa malam ini tidak akan ada kekurangan apa pun.
Selama makan, Sekar berusaha mengajak Sea berbicara pelan-pelan. Tentang hal-hal ringan. Tentang makanan favoritnya. Tentang warna kesukaannya. Ia tidak menyentuh hal-hal berat. Tidak bertanya kenapa Sea berubah. Tidak menyinggung apa yang terjadi di rumah tadi. Ia hanya ingin anaknya merasa aman dulu.
Dan perlahan, meski masih kaku, Sea mulai merespon. Itu sudah lebih dari cukup.
Malam mulai turun saat mereka akhirnya meninggalkan mall. Sekar mengajak Sea masuk ke mobil, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih hangat. Tujuan mereka berikutnya adalah rumah baru Sekar—rumah yang selama ini hanya menjadi mimpi di tengah keterpurukan, dan kini benar-benar berdiri nyata.
Saat mobil berhenti di depan rumah itu, Sekar menoleh pada Sea. “Ini rumah Ibu sekarang,” ucapnya pelan. “Mulai malam ini, Ibu sama Nenek tinggal di sini.”
Sea menatap rumah itu dengan diam, matanya mengamati setiap sudut dari balik kaca mobil.
Sekar tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan anaknya lagi. “Ibu harap… kamu juga bisa segera di sini,” lanjutnya lirih, hampir seperti doa.
Ia turun dari mobil, membuka pintu untuk Sea, lalu menuntunnya masuk. Di dalam rumah itu, semuanya masih terasa baru, cat yang masih bersih, ruangan yang luas, udara yang berbeda. Tapi bagi Sekar, bukan itu yang paling penting. Yang terpenting adalah… harapan.
Sementara itu, di sudut hatinya, Sekar sudah menyimpan rencana-rencana besar. Tentang sekolah Sea. Tentang kehidupan yang lebih layak. Tentang masa depan yang akan ia bangun kembali, satu per satu. Dan meski masih banyak hal yang belum pasti malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sekar merasa… ia selangkah lebih dekat untuk benar-benar membawa pulang anaknya.
***
Sebenarnya, jauh di dalam hati, Sekar tidak menginginkan keramaian apa pun. Tidak ada acara, tidak ada tamu, tidak ada suara riuh yang memecah keheningan yang selama ini ia rindukan. Ia hanya ingin satu hal yang sederhana, waktu.
Waktu yang utuh, tanpa gangguan, tanpa rasa takut akan direbut kembali. Ia ingin duduk berdua dengan Sea, memandangi wajah anaknya lebih lama, mendengarkan suaranya, merasakan kembali kedekatan yang dulu pernah begitu mudah dimiliki.
Ada begitu banyak hari yang hilang, begitu banyak momen yang tidak pernah ia lalui bersama Sea, dan sekarang, ketika akhirnya anak itu ada di dekatnya lagi, Sekar ingin menebus semuanya, pelan-pelan, tanpa terburu-buru. Terlebih lagi setelah melihat bagaimana Sea berubah lebih diam, lebih hati-hati, seolah dunia telah mengajarkannya sesuatu yang terlalu berat untuk anak seusianya, Sekar semakin yakin bahwa yang dibutuhkan putrinya bukan keramaian, melainkan ketenangan dan rasa aman.
Namun Sekar juga tidak bisa menutup mata terhadap satu hal yaitu usaha Lita. Sahabatnya itu sudah terlalu banyak berbuat, terlalu banyak ikut menanggung, bahkan sering kali melangkah lebih dulu demi Sekar. Undangan kecil yang ia buat, rencana sederhana yang mungkin bagi Lita adalah bentuk harapan baru, bukan sesuatu yang pantas untuk ditolak begitu saja. Sekar tahu, ini bukan sekadar acara. Ini cara Lita menunjukkan bahwa hidup Sekar tidak berhenti di luka. Bahwa masih ada hal-hal yang bisa dirayakan, sekecil apa pun itu. Maka Sekar memilih diam. Ia tidak menolak, tidak juga mengeluh. Ia hanya mengikuti, mencoba menerima bahwa mungkin kebahagiaan juga perlu dibiasakan kembali, meski hatinya belum sepenuhnya siap.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗