Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi ini, tidak ada aroma masakan dari dapur. Tidak ada suara langkah ringan Arsyi yang biasanya sudah sibuk sejak subuh. Rumah terasa lebih tenang bahkan cenderung hening.
Di meja makan, hidangan sarapan telah tersaji rapi. Namun, jelas bukan buatan Arsyi. Semua tertata dengan standar pelayan rumah rapi, sempurna, tetapi tanpa sentuhan hangat yang biasanya terasa.
Harsa turun dari lantai atas dengan langkah tenang. Setelan kerjanya sudah rapi seperti biasa, wajahnya kembali menunjukkan ekspresi datar yang sulit ditebak.
Namun, saat ia melangkah mendekati meja makan, alisnya sedikit berkerut. Ia memperhatikan hidangan di atas meja, lalu melirik ke arah dapur.
“Ini bukan masakan Arsyi…” gumamnya pelan.
Mbak Sari yang berada di dekat sana segera menghampiri dengan sikap sopan. “Selamat pagi, Pak.”
Harsa mengangguk singkat. “Arsyi di mana?”
“Bu Arsyi ada di kamar Melodi, Pak,” jawab Mbak Sari.
Harsa terdiam sejenak.
Biasanya, di jam seperti ini, Arsyi sudah berada di meja makan, atau setidaknya menyapanya sebelum ia berangkat kerja namun pagi ini tidak ada. Seolah-olah wanita itu benar-benar menjalankan apa yang ia katakan semalam tentang menjaga jarak.
Harsa menarik kursi dan duduk, namun tangannya tidak langsung meraih sendok. Ia menatap kosong ke arah meja makan, pikirannya kembali pada kejadian malam sebelumnya, kata-kata yang ia ucapkan dengan penuh emosi.
“Aku tidak ingin kamu menungguku…”
“Jangan berharap lebih…”
Tanpa sadar, rahangnya mengeras.
“Pak … sarapannya?” tanya Mbak Sari hati-hati.
Harsa tersentak pelan. “Iya.”
Ia mulai makan, namun gerakannya terasa lebih lambat dari biasanya. Entah kenapa, makanan yang tersaji terasa hambar, meskipun secara rasa tidak ada yang salah.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Harsa akhirnya meletakkan sendoknya, lalu berkata singkat, “Saya berangkat sekarang.”
Mbak Sari mengangguk. “Baik, Pak.”
Namun, sebelum benar-benar pergi, Harsa berdiri sejenak, seolah memikirkan sesuatu. Lalu ia berkata tanpa menatap langsung,
“Sampaikan pada Arsyi … saya sudah berangkat.”
Mbak Sari sedikit terkejut, namun tetap mengangguk. “Baik, Pak. Nanti saya sampaikan.”
Harsa tidak menambahkan apa pun lagi. Ia langsung berbalik dan melangkah keluar rumah.
Di lantai atas, di dalam kamar Melodi.
Arsyi sedang duduk di samping boks bayi, menggendong Melodi yang tampak tenang dalam pelukannya. Tangannya bergerak perlahan menepuk punggung bayi itu, sementara tatapannya kosong, seolah pikirannya jauh melayang.
Wajahnya terlihat lebih tenang pagi ini. Namun, bukan karena hatinya sudah baik-baik saja. Melainkan karena ia telah memutuskan sesuatu.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Arsyi lembut.
Mbak Sari masuk dengan senyum tipis. “Bu Arsyi, Pak Harsa sudah berangkat kerja.”
Arsyi mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Terima kasih.”
“Beliau juga titip pesan…” lanjut Mbak Sari hati-hati. “Beliau bilang, untuk menyampaikan kalau beliau sudah berangkat.”
Arsyi terdiam sejenak. Namun, entah kenapa, itu tetap menyisakan rasa yang sulit dijelaskan.
“Baik, Mbak,” jawabnya akhirnya dengan suara pelan.
Setelah Mbak Sari keluar, Arsyi kembali menatap Melodi. Ia tersenyum tipis, meskipun matanya sedikit berkaca-kaca.
“Mulai sekarang … kita fokus berdua saja, ya,” bisiknya lembut. Tangannya mengusap kepala bayi itu dengan penuh kasih.
Mobil Harsa telah pergi meninggalkan halaman rumah itu, meskipun sesekali iya masih melirik ke arah rumahnya melalui kaca spion mobil. Harsa menghela napas berat entah karena menyesal atas ucapannya atau pada akhirnya lega karena Arsyi menjaga jarak.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂