ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32—Hadiah Untuk Sang Ibu Negara
Upacara baru saja selesai. Lapangan SMA garuda mulai sepi, hanya menyisakan beberapa panitia yang sibuk mengangkat alat-alat dan mengembalikan ke gudang.
Rahmat belum juga pergi, sebenarnya dia ingin ikut pergi ke tempat Alfian untuk bergabung dalam sesi jawab tanya antar polisi untuk memahami lebih lanjut motifnya.
Namun kakak kelas dia tidak menunjukan batang hidung, dan dia masih ada urusan dengan orang tersebut. Sebuah kado terlihat dia bawa.
Langkahnya mantap menaiki anak tangga. Ia tahu dimana harus mencari sang iron lady saat keramaian mulai memudar.
Dan benar saja. Di balkon roftop yang menghadap langsung ke arah gunung merapi di kejauhan. Anisa duduk sendirian di sana.
“udah gue duga. Pasti kakak disini! Gue cari kakak dimana - mana tadi, ternyata disini!”
Anissa menoleh, ia hanya menghela napas panjang. "Aku butuh udara, Rahmat. Aku cuma sedikit capek.”
Rahmat tersenyum tipis. Ia berdiri di samping Anissa, lalu mengeluarkan kotak itu. "Kalau begitu, ini solusi dariku. Hadiah kelulusan, atau mungkin... ucapan terima kasih atas 'bantuan khusus' di gudang tadi."
Anissa menoleh, alisnya bertaut saat melihat desain kotak tersebut. Rahmat membukanya, memperlihatkan sebuah Headset ANC (Active Noise Canceling) berwarna navy blue dengan aksen telinga kucing yang lucu namun tetap terlihat premium.
“ini headset …kenapa desainnya telinga kucing? Kamu bercanda?” Anissa sempat protes, itu jelas bukan gaya dia. namun Rahmat sudah lebih dulu melangkah di belakangnya.
"Percaya padaku, ini cocok untukmu," bisik Rahmat. Dengan gerakan lembut, ia memakaikan headset itu ke kepala Anissa. Jemari Rahmat menyentuh pelan sisi headset, menekan tombol Power hingga lampu indikatornya menyala biru.
Dan
Bip.
Tiba-tiba saja Anisa tersentak kaget,kedua bola matanya terbuka lebar. Seketika saja, suara angin yang menderu di atap, suara knalpot kendaraan dari jalan bawah, suara para panitia, dan segala kebisingan mendadak senyap. Hening.
Anisa tertegun. Ia memejamkan mata, merasakan kedamaian luar biasa. Bagi dirinya, dunia ini sudah cukup terlalu berisik, dia tipe orang yang menyukai kesunyian, dalam artian normal. Akhir-akhir ini banyak yang terjadi dan kebisingan membuat dia mual.
Namun hadiah dari adik kelas yang seolah paham dirinya membuat pertahanan sang iron lady runtuh. Sebuah senyum tulus—paling manis yang pernah dikeluarkan terukir disana. Dia yang biasanya cool, kalem, mendadak seperti gadis remaja pada umumnya.
Bukan artinya dia tidak murah senyuman, justru sebaliknya Anisa sering tersenyum dan terbilang ramah, hanya saja itu untuk membuat topeng, kali ini senyumannya adalh jenis yang berasa dari lubuk hati paling dalam.
Rahmat terkekeh. Dia sempat merasa terkejut melihat senyuman manis dari Anisa. “Gimana kak? Hadiah dari adik kelasmu, nyaman kan?”
Anissa mengangguk pelan, masih dengan mata terpejam dan senyuman yang tidak kunjung berhenti.
Lalu hembusan angin berhembusan, rambut si gadis itu bergoyang mengikuti arah mata angin.
Mata iron lady terbuka. Mata Anissa yang biasanya tajam dan penuh otoritas, kini meredup lembut, memantulkan cahaya senja yang keemasan.
Ia menatap Rahmat cukup lama, seolah sedang mencoba mencerna bagaimana adik kelasnya ini bisa membaca sisi terdalam dari dirinya yang selalu ia sembunyikan di balik tumpukan berkas OSIS.
"Kamu..." Anissa menggantung kalimatnya. Ia menyentuh pinggiran headset telinga kucing itu dengan ujung jarinya. "Kenapa kamu bisa tahu kalau aku sangat membenci kebisingan?"
Rahmat menyandarkan punggungnya di pagar pembatas rooftop, menatap Merapi yang mulai tertutup kabut.
"Sederhana, Kak. Orang yang selalu bicara dengan nada tenang dan tegas seperti Kakak biasanya sedang berusaha menekan keributan di dalam kepalanya sendiri. Aku cuma ingin memberikan 'tombol jeda' untuk Kakak."
Anissa tertegun. Kalimat itu menghujam tepat ke jantungnya. Selama ini, semua orang mengandalkannya, menuntutnya menjadi pemimpin yang tak tergoyahkan. Hanya Rahmat yang datang bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk memberi "ruang napas".
Beberapa saat kemudian, si iron lady menatap dia tanpa henti.
Rahmat mematung. Apa dia tidak terlalu suka—?
Dan diantara kemungkinan cerah-suramnya masa depan, Anisa sekali lagi berkata. “Terima kasih.”
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM NOTIFIKASI: HUBUNGAN MENINGKAT]
Karakter: Anisa Pradipta
Affection Level: 80% (jatuh cinta tahap awal)
Efek: Anissa mulai melihatmu bukan sebagai adik kelas, melainkan sebagai pria yang bisa ia percayai sepenuhnya.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat merasakan desiran aneh di hatinya. Itu berdetak, ia bahkan sempat membeku atas senyuman manis dan perpaduan antara cahaya senja yang memantul di matanya. Anisa terlihat begitu lembut dan cantik.
Dia seniornya, berbeda dengan Kanaya dan alya dia memberikan sedikit sentuhan hati yang tidak bisa dikatakan.
“Sama-sama, kak! Gue senang kalau lo senang. Balik ke topik utama tentang Alfian—-”
Brak
Namun, keheningan magis itu terusik oleh suara pintu kayu rooftop yang terbanting terbuka dengan keras.
”KETEMU ! Ternyata kamu di sini kak Anisa!”
Suara Alya yang melengking cemas seketika terhenti. Ia berdiri di ambang pintu bersama Kanaya. Alya tampak membawa sebuah bungkusan kado berpita merah muda yang sudah agak lecek karena diremas, sementara Kanaya membawa kotak hadiah yang berisi jam tangan untuk kakak kelasnya.
Keduanya mematung melihat pemandangan di depan mereka. Rahmat yang berdiri sangat dekat dengan Anissa, dan sang Ketua OSIS yang masih mengenakan headset telinga kucing sambil tersenyum manis—pemandangan yang bahkan tak pernah mereka bayangkan dalam mimpi terliar sekalipun.
"Wah, wah... sepertinya kita salah waktu ya, Alya?" celetuk Kanaya dengan nada yang sangat tajam, meskipun ia berusaha tetap terlihat tenang.
“Yah, siapa peduli,” celuluk balik Alya. “Kita datang dengan tujuan yang sama …”
Dan mereka pun melanjutkan pemberian hadiah tersebut. Alya yang memberikan sebuah pulpen lucu berbentuk telinga kelinci—yang tidak seberapa tapi dia yakin ketua osis itu akan sering butuh untuk mengerjakan tugas dan menandatangani sesuatu.
Sementara kanya memberikan sebuah jam tangan yang kemarin ia beli.
Anisa melihat semua hadiah itu dan merasa terharu. “Wah-wah, terima kasih, semuanya.”