Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan Sahabat
"Jay! Apa separah itu perlakuan mereka sama, lu?" Tanya Tomi saat mereka sudah berada di parkiran.
Kegiatan pembelajaran sudah usai sepuluh menit yang lalu. Karena Aida masih ada keperluan di sekolah, bibinya itu mengirim pesan. Akhirnya Jay meminta Tomi untuk mengantarkan nya pulang. Padahal jalan kerumah mereka berlawanan arah.
"Maksud, lu?" Tanya Jay balik. Tak mengerti dengan pertanyaan teman karibnya itu.
"Itu. Shilla sama Shitta. Kok mereka sebagai keluarga, nggak peduli lagi sama lu? Padahal kan, keadaan lu kayak gini.?"
"Jadi, lu keberatan nih, ngantar gue pulang?" Ucap Jay menebak fikiran Tomi.
"Bukan gitu sob. Lu tau, kan? Kegiatan gue abis sekolah?" Ucap Tomi dengan canggung.
Jay tahu betul tentang sahabat nya itu. Sepulang sekolah, Tomi kerja serabutan untuk menambah biaya hidup keluarga nya sehari-hari.
Kakak perempuan nya yang belum lama ini menjadi janda pun jadi tanggung jawabnya sekarang.
Tinggal di desa pekerjaan yang bisa di lakukan nya sangat lah terbatas. Jika cuaca bagus, Tomi akan pergi ke kebun karet untuk melakukan penyadapan karet milik keluarga nya. Terkadang juga membantu menyadap milik tetangga jika mereka butuh bantuan.
Tidak hanya itu, jika libur sekolah dia ikut beberapa orang untuk memanen padi. Dan kalau waktu sekolah, dia hanya bisa mengandalkan peruntungan mengangkat gabah padi yang sudah diwadahi karung dari tengah sawah kerumah warga. Jika petakan sawah milik orang cukup jauh dari rumah, maka dia akan di beri upah yang lumayan lebih tinggi.
Hanya dua pekerjaan itu lah yang jadi andalannya dalam menghasilkan uang yang cukup besar. Jika tidak ada, keseharian nya akan diisi dengan ngarit beberapa karung rumput untuk di jual pada peternak sapi. Dan sesekali mencari ikan.
"Hari ini, gue yang gaji lu, deh. Bibi Aida kayaknya masih lama, nih. Anterin gue pulang yah." Pinta Jay sedikit memelas pada sahabat nya itu.
Mendengar kata gaji yang di ucapkan Jay. Seketika itu juga mata Tomi berbinar. "Dari tadi kek ngomong nya.! Let's go lah kalau gitu." Timpal Tomi sambil berusaha menyalakan motor butut nya.
Walaupun Tomi ini berada di keluarga yang kurang mampu. Dia juga tak pernah memanfaatkan Jay sebagai teman dekat dalam urusan materi.
Saat ini Tomi tinggal bersama ibu dan kakak perempuan nya yang sedang hamil. Ayah Tomi sudah lama meninggal. Sementara suami kakaknya itu kabur entah kemana. Karena memang mantan suaminya itu bukan warga daerah sekitar kecamatan Padimas.
Rumah bibi Aida selaku kepala sekolah SMA Negeri satu Padimas memang berada jauh dari gedung sekolah. Mungkin jarak rumah itu kesekolah sama jauhnya dari rumah itu kekota Sutra. Juga sama dengan rumah yang Tomi tempati. Dan kini dia harus mengantarkan Jay terlebih dahulu.
Perjalanan dari sekolah menuju rumah bibi Aida memakan waktu setengah jam. Sama jarak kerumah Tomi itu sendiri. Dan arah tempuhnya berlawanan. Bisa dibayangkan kan? Bisa dong.
Setelah mereka sampai dikediaman bibi Aida, Jay tidak melihat motor matic yang di gunakan Shitta. Berarti sepupunya itu belum sampai di rumah.
Membuka pagar rumah yang tak terkunci itu, dengan tertatih Jay melangkah menuju teras rumah. "Tunggu bentar ya, Tom. Duit gue di dalam nih, sob." Ucap Jay merasa bersalah. Membuat teman nya itu harus menunggu lebih lama.
"Santai saja, Jay. Lagian cuaca siang ini juga panas banget, dah." Ucapnya sambil menghempaskan bokongnya pada kursi di teras rumah itu. Setelah memarkirkan motor bututnya di halaman teras.
Jay pun ikut duduk di kursi satunya lagi yang di batasi meja kecil antara mereka.
"Kayaknya, ntar gue minta tolong lagi deh sama lu, Tom." Ucap Jay setelah mempertimbangkan yang dia fikirkan selama perjalanan dari sekolah tadi.
"Boleh. Pokoknya, hari ini gue milik lu." Ucap Tomi dengan jumawa. Menyatakan kesediaannya untuk membantu temannya hari ini. "Oh iya, lu punya rokok nggak?" Lanjut Tomi bertanya.
Jay menggelengkan kepala nya. "Selama gue gue disini, gue belum ngerokok lagi, Tom." Jawab Jay merasa canggung. Jangan kan merokok, keluar rumah saja, baru pagi ini. Ucap nya dalam hati.
Mendengar itu, Tomi pun berdiri. Dilihatnya ada warung di seberang rumah. "Jay, itu warung, kayaknya masih baru, ya?" Tanya Tomi penasaran. Padahal, baru beberapa bulan ini dia tak melewati jalan ini karena kesibukannya menghasilkan uang.
"Sepertinya begitu. Kata bibi sih, itu anaknya pak Karyo yang baru pulang dari luar negeri yang buka warung." Jawab Jay menjelaskan.
"Hebat ya! Baru pulang luar negeri bisa buka warung kelontong sebesar itu.?" Ucap Tomi penuh kagum.
Jay hanya mengangguk pelan. Membenarkan kesimpulan sahabat nya itu. "Eh, lu mau ngapain, kampret?" Tanya Jay melihat Tomi mengarahkan langkah nya ke warung itu dengan penasaran.
"Beli rokok." Jawab Tomi singkat tanpa menoleh atau pun menghentikan langkah nya.
Beberapa menit kemudian, Tomi kembali dengan membawa dua kopi dengan kemasan cup dan beberapa batang rokok yang di wadahi plastik seukuran panjang rokok.
"Nih! Emang nggak asem tuh mulut?" Ucap Tomi memberikan rokok beserta satu cup kopi pada Jay. Kemudian dia pun membakar ujung rokok nya sendiri dengan sangat santai, seakan sudah jadi rutinitas nya.
Jay tak memberikan komentar, dia hanya meniru kan apa yang di lakukan sahabat nya itu. Setelah nya menikmati kopi itu dengan menyeruput nya dengan perlahan. Kata orang, ngerokok akan lebih nikmat jika di selingi dengan ngopi.
"Ngapain lu senyum-senyum sendiri?" Tanya Jay penasaran melihat Tomi sedari tadi tersenyum sambil melihat kearah warung.
"Cantik banget Kak Kartika, Jay." Ucap Tomi pelan tanpa memalingkan pandangannya.
"Ah elu mah emang gitu. Nggak bisa liat cewek cantik." Timpal Jay yang sudah tahu betul dengan watak sahabat nya itu.
"Nggak nyangka gue, bro. Bisa ketemu sama teman kakak gue itu disini. Padahal dulu dia nggak kayak gitu deh." Ucap Tomi dengan perasaan bahagia nya.
"Lha? Apa iya dia itu Tika temen kak Tasya waktu itu?" Jay juga penasaran tentang sosok yang punya warung di depan itu. Karena memang dia belum pernah bertemu dengan si empunya warung. Dan belum pernah jajan disana.
Tomi menoleh sesaat pada Jay, lalu mengangguk kan kepalanya. "Dia cinta pertama gue, chok!" Ucap nya dengan senyum sumringah.
Jay terkekeh mendengar perkataan kawan nya itu. "Lanjutkan, kawan! Kejarlah keinginan mu!" Canda Jay mengolok-olok sahabat nya itu.
Tak lama kemudian, Shitta dan Shilla datang. "Eh, Tom! Lu disini?" Tanya Shilla setelah turun dari boncengan.
Tomi hanya nyengir menanggapi Shilla.
Karena pintu utama berada di pojok. Shitta dan Shilla harus melewati mereka berdua dulu untuk masuk kedalam rumah. Mereka berdua hanya menampilkan wajah datar ketika pandangannya bertemu dengan Jay yang acuh menghirup sebatang rokok.
"Gue tinggal bentar, ya! Ganti baju dulu." Setelah pintu dibuka oleh Shitta, Jay pun masuk ke dalam menuju kamar tidur yang di tempatinya selama tinggal di rumah ini.
Shitta kembali keteras sambil membawa dua gelas minuman. "Kalian mau kemana?" Tanya Shitta pelan pada Tomi. Seakan takut terdengar oleh oran lain.
"Nggak tau tuh. Si Jay mau ngajak kemana." Balas Tomi sambil mengangkat kedua bahunya.
"Nih minuman nya. Awas kalau nggak kalian minum!" Ancam Shitta. Kemudian langsung ngacir lagi masuk kedalam rumah.
Yah, walaupun dia memang kesal pada Jay saat ini, namun kebiasaan mereka melayani tamu untuk memberi hidangan, walau hanya sekedar minuman tetap lah di lakukan nya.
"Beres." Ucap Tomi. Terkekeh melihat perlakuan keluarga ini yang menurut nya sedikit absurd.
*****