Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Hari hari berlalu dengan suasana yang mulai terasa lebih hangat dan manis di antara mereka berdua. Setelah insiden ngidam tempo hari, tembok penghalang di hati mereka semakin menipis. Arka menjadi lebih lunak dalam bersikap dan Aluna pun semakin berani menunjukkan sisi manja dan perasaannya.
Meskipun belum ada kata kata cinta yang terucap secara jelas, namun perlakuan mereka sudah layaknya suami istri yang saling menyayangi. Arka sering kali tidur di kamar yang sama demi memantau kondisi Aluna di malam hari dan Aluna pun sudah merasa nyaman berada di dekat pria itu setiap saat.
Ketenangan itu akhirnya terganggu ketika suatu pagi Arka menerima telepon dari orang tuanya yang tinggal di luar kota. Mereka memaksa ingin datang berkunjung ke kediaman Arka karena sudah tidak sabar ingin melihat langsung calon cucu pertama mereka yang sedang dikandung.
Arka sempat menolak dan mencari berbagai alasan untuk menunda, namun desakan dari ibunya sangat kuat dan tidak bisa ditawar lagi. Akhirnya pria itu terpaksa menyetujui kedatangan mereka akhir pekan ini.
"Aluna..." panggil Arka serius saat mereka sedang sarapan pagi itu. "Orang tuaku akan datang hari ini. Mereka ingin menemuimu dan melihat kondisi kandunganmu."
Aluna tersedak sedikit mendengarnya. Ia langsung terlihat gugup dan panik. "Ha... benar Tuan? Ibu dan Ayah Tuan akan datang? Tapi Aluna belum siap sama sekali. Aluna takut tidak bisa bersikap baik di depan mereka."
"Tenang saja. Ayahku orangnya santai dan bijaksana. Dia pasti akan mengerti situasi kita," ucap Arka mencoba menenangkan. "Tapi Ibuku... dia orangnya sangat tegas. Jadi nanti kalau dia bicara agak keras atau ketus kamu jangan ambil hati ya. Cukup diam dan angguk saja," pesan Arka mengingatkan dengan wajah yang terlihat sedikit cemas.
Aluna mengangguk patuh, meski jantungnya berdegup kencang. "Baik Tuan. Aluna mengerti. Aluna akan bersikap sebaik mungkin dan tidak akan mempermalukan Tuan."
Sore harinya, mobil orang tua Arka tiba di halaman rumah. Arka dan Aluna sudah berdiri menunggu di depan pintu utama menyambut kedatangan mereka dengan penuh rasa hormat.
Kemudian turunlah sepasang suami istri yang tampak sangat berwibawa dan kaya raya. Pria itu adalah Tuan Mahendra, ayahnya Arka yang terlihat ramah dan tersenyum hangat. Sedangkan wanita di sebelahnya Nyonya Soraya, memiliki aura yang sangat dingin, angkuh, dan tatapan yang menilai.
"Assalamualaikum..." sapa Aluna pelan sambil menunduk dalam memberikan hormat.
Nyonya Soraya tidak membalas salam atau tersenyum. Ia hanya mendengus pelan lalu langsung berjalan masuk melewati Aluna seolah gadis itu hanyalah sebuah tiang penyangga pintu yang tidak berarti.
"Mana cucuku? Biarkan Ibu lihat," ucap Nyonya Soraya datar saat duduk di sofa utama.
Arka segera mempersilakan Aluna maju. "Ini dia Bu. Aluna sedang mengandung anak laki laki yang sehat dan kuat sesuai permintaan Ibu dan Ayah."
Nyonya Soraya menatap Aluna dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan menghakimi yang sangat menyakitkan.
"Jadi dia ini wanita yang kau maksud itu Arka? Wanita yang kau jadikan wadah untuk pewaris keluarga Mahendra?" ucap Nyonya Soraya.
"Benar Bu. Aluna gadis yang baik dan sehat. Dia sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik," jawab Arka.
"Baik apanya?" potong Nyonya Soraya ketus dengan suara yang cukup keras terdengar di seluruh ruangan.
"Lihatlah dia Arka. Penampilannya biasa saja, auranya tidak ada, dan asal usulnya juga jelas dari kalangan bawah. Kau sungguh membuat Ibu kecewa berat sekali," ungkap Nyonya Soraya dengan nada ketus.
"Kenapa kau tidak mencari wanita dari kalangan terpandang atau putri rekan bisnis kita saja? Mereka kan cantik, pintar dan berkelas. Kenapa harus memilih gadis miskin dan tidak jelas latar belakangnya ini?" serang wanita itu lagi tanpa ampun.
Aluna menunduk dalam memeluk perutnya erat erat menahan air mata yang ingin tumpah. Hatinya terasa perih dan hancur diterpa kata kata pedas itu di depan umum.
"Ibu..." Tuan Mahendra mencoba menenangkan istrinya. "Sudahlah Bu. Yang penting anaknya sehat dan garis darahnya murni kan itu yang kita butuhkan. Lagipula ini keputusan Arka sebagai pemimpin keluarga sekarang."
"Ini soal gengsi dan harga diri keluarga kita Pa! Bagaimana nanti kalau orang orang tahu bahwa pewaris tunggal kita lahir dari rahim seorang wanita jelata yang bahkan tidak mampu membiayai hidup ibunya sendiri dulu?" Nyonya Soraya memotong dengan nada tinggi.
"Itu sangat memalukan dan menjatuhkan nama baik kita di mata masyarakat elit!" lanjutnya.
Aluna merasa ingin menangis dan lari menjauh dari tempat itu, namun tangan Arka dengan sigap memegang bahunya erat erat memberi kekuatan agar gadis itu tetap berdiri tegak.
"Ibu tolong bicara sopan sedikit. Aluna adalah ibu dari cucu Ibu dan dia ada di sini dengan cara yang halal dan sah menurut perjanjian," ucap Arka tegas membela Aluna meski tidak berani membentak ibunya secara langsung.
"Perjanjian apa yang kamu bicarakan? Kontrak menyedihkan itu?" Nyonya Soraya berdiri dan berjalan mendekati Aluna. Ia menatap gadis itu dengan tatapan jijik.
"Dengar ya kamu nona muda. Ingat posisimu yang sebenarnya. Kau di sini hanya karena perutmu berguna untuk melahirkan cucuku. Tapi jangan pernah berharap bisa masuk sepenuhnya menjadi bagian dari keluarga ini atau menganggap dirimu menantu sah ya. Itu mustahil!"
"Setelah anak lahir nanti kau akan menerima uangmu dan kau harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan putraku. Jangan pernah bermimpi bisa menikmati harta atau status kami karena kau tidak pantas mendapatkannya!" cecar Nyonya Soraya.
Kata kata itu sangat tajam dan menyakitkan. Aluna tidak kuat menahan lagi, air matanya menetes membasahi pipi. "Iya Tante... Aluna mengerti... Aluna tidak berani menginginkan apa apa selain keselamatan bayi..."
"Sudah cukup Bu!" Arka di depan Aluna, melindunginya dari tatapan tajam ibunya. "Masih hari pertama bertemu, Ibu sudah menyakiti perasaannya seperti itu. Ingat! Dia sedang hamil besar dan emosinya tidak stabil." bela Arka.
"Ibu tidak peduli! Yang penting, Ibu ingin pernikahan resmi segera dilaksanakan!" tuntut Nyonya Soraya kembali ke topik awal. "Kau harus segera menikah dengan wanita terpilih yang sudah Ibu siapkan dari keluarga bangsawan itu. Biarkan anak di dalam perut ini lahir, tapi istrimu harus yang terpandang!"
"Tidak bisa, Bu! Sampai detik ini, tidak ada rencana pernikahan dengan siapapun." Arka menolak keras dengan tegas. "
"Kau..." Nyonya Soraya terlihat sangat marah mendengar penolakan itu.
"Ayah tolong katakan pada Ibu," Arka menoleh pada ayahnya. "Aku sudah terlalu besar untuk diatur urusan hati dan keluargaku. Aku tahu apa yang terbaik untuk warisku dan untuk masa depan kita semua."
Tuan Mahendra menghela napas, lalu mengangguk setuju pada anaknya. "Baiklah kalau itu keputusanmu Nak. Ayah percaya padamu. Tapi Ibumu ini biar Ayah yang yang urus dan bujuk pelan pelan."
Malam itu suasana rumah menjadi sangat tegang dan mencekam. Nyonya Soraya mengunci diri di kamar tamu dan tidak mau makan malam bersama. Sementara Aluna merasa sangat sedih dan minder karena dianggap tidak pantas dan rendah derajatnya.
Arka menemui Aluna di kamar yang sedang menangis tersedu sedan di balik selimut. Pria itu duduk di tepi ranjang dan mengusap punggung gadis itu pelan pelan.
"Jangan dengarkan kata kata Ibuku tadi ya," ucap Arka lembut. "Dia memang seperti itu sifatnya tapi dia tidak jahat kok. Dia hanya terlalu menjaga gengsi dan nama baik keluarga."
"Tapi Tuan... apa benar Aluna tidak pantas berada di sini dan bersama Tuan?" tanya Aluna dengan suara terisak. "Apa Aluna terlalu rendah untuk menjadi ibu dari anak Tuan?"
Arka membalikkan tubuh Aluna agar menghadap padanya. Ia menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya dengan sangat lembut.
"Di mataku dan di hadapan Tuhan, kamu adalah wanita paling hebat dan sempurna yang pernah aku kenal," ucap Arka tegas dan tulus. "Asal usul atau harta tidak menjamin kebaikan hati seseorang. Dan aku sudah memilihmu jadi tidak ada satu orang pun bahkan orang tuaku sekalipun yang berhak menghakimi pilihan aku."
"Kamu tetap di sini. Kamu tetap ibu dari anakku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hatimu lagi," lanjut Arka sambil memeluk tubuh itu erat erat." lanjut Arka.
Aluna tersenyum tipis di balik air matanya. Ia merasa kuat kembali berkat dukungan pria itu. Namun, ia tahu perang dengan ibu mertua yang kejam itu baru saja dimulai dan perjalanan menuju bahagia masih sangat panjang dan berliku.