"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Mahiya menatap langit-langit kamar, reaksi kael tadi jujur sangat menyakitkan, walau mahiya tahu kalau kael tidak memiliki perasaan padanya, tapi melihat pria itu menanggapi ceritanya tadi sangat menyakitkan.
"hhhhhhhh.." desah nafasnya terdengar gusar.
'apa yang kau harapkan mahi?kau berharap kael nangis dan cemburu?'
"hahahaha" mahiya tertawa, tapi tawa itu terdengar sumbang.
Mahiya memiringkan tubuhnya, rasa sedih dan kesal menguasainya saat ini.
"apa yang kau harapkan dari laki-laki yang masih sangat mencintai masa lalunya itu" gumamnya sendu, mata mahiya terlihat sedih.
6 bulan dia menjadi istri kael, sekalipun pria itu tidak pernah menunjukkan kalau kehadiran mahiya bisa mengusik hati.
Pigura foto clarissa saja sampai detik ini, masih setia nangkring diatas nakas ranjang pria itu.
Bagaimana bisa mahiya menggeser posisi sekuat itu dari hati kael. Dia sadar, sesadar-sadarnya kalau kael masih sangat mencintai clarissa.
Karena itu mahiya memilih mundur, jujur dia kalah dalam permainan ini. Mahiya jatuh hati pada suaminya sendiri, dan itu yang membuatnya semakin merasa kecil.
Dari sebelum mereka menikah, kael sudah wanti-wanti kalau tidak boleh ada cinta di antara mereka. Saat itu mahiya setuju, karena dia yakin kalau dirinya tidak akan jatuh hati pada kael.
Tapi dia kalah, yah—dia kalah telak. Belakangan ini mahiya sudah tidak kuat untuk terus berpura-pura bahagia di depan seluruh keluarga mereka.
Mahiya kembali menelentangkan tubuhnya, terbayang kembali wajah kael ketika bertanya siapa pria yang mahiya cintai itu.
Wajah kael terlihat manis dengan senyumnya, tapi malah semakin membuat mahiya merasa kecil. 6 bulan mereka bersama, sekalipun hati pria itu tak pernah bergetar kepadanya.
Mahiya meraba bibirnya, ciuman pertama dan terakhir dari kael 4 bulan yang lalu, menjadi satu-satunya kenangan terindah di hati mahiya.
Tanpa sadar, sudut mata mahiya berembun. Mahiya tahu ternyata dia sangat mencintai pria itu, dan memang satu-satunya cara baginya untuk menyelamatkan hati, adalah berpisah dari kael.
Untungnya mahiya mendapat kesempatan menyelesaikan sisa semesternya di jepang.
Beberapa waktu lalu, mahiya memasukkan formulir untuk mengikuti pertukaran mahasiswa keperawatan, dan ternyata dia terpilih bersama dihya untuk ke jepang, menyelesaikan 2 semester di sana.
"mungkin dengan menjauhi kael, aku akan bisa melupakannya"
Sementara kael yang masih duduk di depan televisi, terlihat melamun.
Pertandingan sepak bola tim kesayangannya sama sekali tak bisa menganggu lamunannya, kael masih terdiam, ucapan mahiya tadi membuatnya sadar bahwa 6 bulan mereka ternyata sia-sia.
Gadis itu tidak pernah menyukainya, ternyata selama ini kael memendam rasa sendirian, dia menyukai mahiya sendirian.
"hhhhhhhh.."
Kael merasa malu dan sedih sekaligus, pria sedewasa dia bisa terjebak dalam permainan yang dibuatnya sendiri. Dia yang dengan pedenya meminta mahiya jangan sampai jatuh cinta padanya, tapi ternyata malah dia yang jatuh duluan kedalam larangannya sendiri.
Kael menoleh ke arah kamar mahiya yang tertutup, wajah tampannya itu terlihat sendu.
"aku yang minta dia jujur jika dia mencintai orang lain, kenapa juga sekarang aku yang merasa sedih" gumamnya pelan, kael beranjak dari sofa, tak lupa dia mematikan televisinya.
Kael berjalan lesu menuju kamarnya, entah mengapa rasa sesak tiba-tiba menyerang dadanya. Beberapa kali kael menarik nafas, seakan ingin menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
*********
"kapan kamu kenalkan pria itu ke kakak?" tanya kael pagi itu saat mereka sarapan, mahiya sedikit tersentak.
Gadis itu mendongak, mengamati wajah kael yang tersenyum lembut padanya.
"kakak bisa makan siang ke rumah makan lesehan tempat kita biasa makan?"
Kael mengangguk, tangannya meraih gelas air putih dan meneguk isinya.
"aku tunggu nanti di sana kak"
Mahiya menunduk cepat, senyuman kael membuatnya ingin menangis.
'oh tuhan, ternyata rasa yang kumiliki untuk kael begitu besar'
"apakah perceraian kita nanti, harus kita bicarakan dengan keluarga kita, mahi?"
"nggak usah kak" geleng mahiya mendongak lagi, menatap mata kael yang sedang menatapnya.
"setelah surat cerai aku terima, aku akan jelaskan sendiri ke orangtuaku, keluarga kak kael itu urusan kakak yah?"
Kael mengangguk tenang, dia sudah berdiri. Sepertinya kael sudah selesai sarapan.
"kamu berangkat bareng kakak, atau gimana?"
Mahiya menggeleng, tapi dia juga ikut berdiri.
"nanti dihya menjemputku kak"
Kael mengernyitkan keningnya.
"dihya? Apakah itu laki-laki yang kamu cintai itu?"
Mahiya mengangguk seraya melangkah menemani kael menuju pintu.
"nanti kakak akan melihatnya langsung"
"baiklah mahi, kalau begitu aku pergi dulu. Nanti hubungi aku, kalau kamu sudah di rumah makan itu yah"
Mahiya hanya mengangguk, tidak menjawab sama sekali. Dia masih berdiri di depan pintu yang menutup, jujur rasa sakit kembali menjalari hatinya.
Reaksi kael sungguh biasa saja.
"hhhhhhhhh"
"siapa juga yang meminta kamu mencintai pria itu, dasar gadis bodoh" keluhnya kesal.
Mahiya beranjak ke kamarnya, dia hendak bersiap-siap, karena dihya janji akan menjemputnya jam 8 pas.
*******
"nanti kita ketemu kak kael, kamu nggak apa-apa kan?"
Dihya menoleh, kepalanya mengangguk paham. Cowok itu nggak menjawab, matanya sedang fokus menatap jalanan.
"boleh aku tahu,kenapa kamu ingin bercerai?"
Mahiya hanya menoleh, pertanyaan dihya sebenarnya sangat sulit untuk dijawab. Tapi karena dihya sudah bersedia menolongnya, mahiya harus jujur.
Terdengar tarikan nafas mahiya yang cukup berat, dihya sampai melirik karenanya.
"aku tak mau semakin menyukai dia" jawab mahiya singkat, mata indah gadis itu terlihat sendu.
"kael pernah bilang ke aku, kalau tidak boleh ada cinta di pernikahan kami, aku nggak mau pria itu membenciku karena hal itu"
Dihya menoleh sekilas ke wajah sendu mahiya, ada yang menusuk dadanya, rasa sakit karena kejujuran mahiya. Tapi dihya nggak mengatakan apapun, dia nggak mau mahiya menjauhinya karena perasaan itu.
Biarlah, dihya ikhlas walau mahiya hanya menganggap dirinya hanya teman dan cuman tempat curhat. Tapi dihya selalu berdoa, semoga suatu saat nanti perasaan mahiya padanya berubah.
"jadi nanti aku harus gimana di depan pak kael?" tanya dihya memecah keheningan yang tiba-tiba mencengkam.
"terserah kamu, gimana baiknya. Yang pasti kael harus yakin kalau kita saling cinta"
Dihya mengangguk cepat memalingkan wajahnya, senyum mahiya barusan terlalu indah, dan jantungnya berdegub kencang karenanya.
"apakah abi dan ummimu tidak masalah, kalau mendengar tentang ini mahi?"
Mahiya tersentak, yah pasti kedua orangtuanya akan kecewa mendengar perceraiannya nanti. Tapi mahiya kan sudah cukup dewasa untuk mengatur hidupnya sendiri.
Dia sudah 20 tahun, sebulan yang lalu. Dia tahu abinya pasti akan membacakan hadist-hadist padanya nanti, mahiya juga tahu umminya pasti nanti akan menangis sedih karenanya.
Tapi mahiya nggak mau mengorbankan hidupnya lagi, 6 bulan hidup dengan pria itu sangat menyakiti hatinya.
Kael hanya menganggapnya partner dalam pernikahan bohongan itu tak lebih, hatinya berdarah sendirian.
Hanya bulan pertama saja dia mampu menjaga hatinya, awal-awal pernikahan mereka mahiya memang tak memiliki perasaan romantis untuk kael, tapi setelahnya hati mahiya selalu berdarah-darah karena harus terus berpura-pura tidak memiliki perasaan pada kael.
Apalagi jika menyadari hati pria itu terkunci rapat, hanya menyimpan nama clarissa di dalamnya. Mahiya bisa apa, selain sadar diri. Mundur teratur satu-satunya jalan baginya untuk menyelamatkan hati mungilnya ini.
"kita sudah sampai mahi" tegur dihya menyadarkan mahiya yang tertegun cukup lama.
"ahhh..iya" tergagap mahiya tersenyum malu mengangguk.
Bersambung..