Di dunia modern yang penuh hiruk-pikuk, seorang pemuda bernama Lin Xiao meninggal dunia karena kecelakaan tragis. Jiwa-nya yang kuat tidak lenyap, melainkan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang bocah yatim piatu berusia lima belas tahun bernama Xiao Lin di sebuah desa kecil di benua kultivasi bernama Benua Qingyun. Tubuh baru ini lemah, meridian-nya rusak, dan bakat kultivasinya hanya tingkat rendah sekali. Namun, Lin Xiao membawa serta ingatan lengkap kehidupan sebelumnya serta sebuah sistem warisan kuno yang tersembunyi di dalam jiwa-nya: “Cincin Reinkarnasi Abadi”.
Dengan pengetahuan modern, tekad besi, dan rahasia sistem yang memungkinkan ia menyerap energi langit bumi ribuan kali lebih cepat, Xiao Lin mulai perjalanan kultivasi yang tak terbayangkan. Ia akan membalas dendam atas kematian orang tua angkatnya, menghancurkan sekte-sekte tirani, menaklukkan kerajaan-kerajaan, melintasi lautan daratan, memasuki alam roh, alam dewa, hingga akhirnya menantang para dewa kuno dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Berburu Pertama Kali
Pagi menyingsing di Desa Batu Hitam. Kabut tipis masih menyelimuti pinggir hutan, dan suara ayam jantan berkokok dari kejauhan. Xiao Lin bangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya yang kemarin masih terasa lemah kini sudah sedikit lebih ringan setelah meridian pertama terbuka. Ia mengambil kapak kayu tua yang sudah tumpul dari sudut gubuk, lalu menyelinap keluar tanpa membangunkan siapa pun.
Warga desa yang melihatnya berjalan menuju gerbang kayu hanya menggelengkan kepala. Seorang nenek yang sedang menyapu halaman berteriak pelan, “Xiao Lin! Jangan nekat ke hutan sendirian! Kamu masih kurus kering seperti itu, nanti dimakan serigala!”
Xiao Lin hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Di dalam hatinya ia bergumam, “Kalau mereka tahu apa yang ada di dalam tubuhku sekarang, pasti mereka yang akan ketakutan.”
Hutan di utara desa tidak terlalu dalam, tapi penuh binatang liar tingkat rendah. Xiao Lin melangkah cepat, kakinya yang ringan menyusuri semak belukar. Cincin Reinkarnasi Abadi di jiwa-nya terus memberi petunjuk halus tentang arah angin dan jejak binatang.
Tak lama kemudian, ia mendengar geraman rendah. Dari balik pohon besar, seekor serigala liar berbulu abu-abu muncul. Matanya merah, taringnya tajam. Binatang itu tingkat satu, cukup kuat untuk membunuh seorang pemuda desa biasa dalam satu gigitan.
“Bagus,” bisik Xiao Lin. “Target pertama.”
Serigala itu langsung menyerang. Tubuhnya melompat cepat, cakarnya mengarah ke leher Xiao Lin. Tapi Xiao Lin sudah siap. Dengan gerakan yang ia ingat dari latihan bela diri di kehidupan sebelumnya, ditambah insting kultivasi baru, ia menggeser tubuh ke samping. Kapak di tangannya berputar, diisi sedikit energi qi yang ia miliki.
“Teknik Langit Abadi – Pukulan Angin!”
Kapak itu menyabet dengan suara mendesing. Bukan kekuatan kasar, tapi qi yang mengalir membuat kapak terasa lebih tajam. Serigala itu mengelak, tapi terlambat. Kapak menggores bahunya dalam-dalam. Darah menyembur.
Binatang itu mengaum marah dan menyerang lagi. Kali ini Xiao Lin tidak mundur. Ia melompat maju, tangan kiri menampar rahang serigala tepat di titik lemah. Qi mengalir dari telapak tangannya, menghantam tulang rahang dengan keras.
“Kraaak!”
Leher serigala itu patah seketika. Tubuh besarnya ambruk ke tanah hutan, tak bergerak lagi.
Xiao Lin bernapas agak cepat, tapi matanya berbinar. Ia langsung duduk bersila di samping bangkai serigala. Darah binatang itu masih hangat. Dengan teknik yang diajarkan sistem, ia meletakkan tangan di atas luka dan menarik esensi darahnya.
Suara sistem bergema di pikirannya:
“Selamat! Anda berhasil membunuh Binatang Liar Tingkat 1 (Serigala Abu). Energi Qi +35. Poin Pengalaman +70. Esensi darah murni berhasil diserap. Bakat meridian naik sedikit lagi.”
Energi hangat mengalir masuk ke meridian yang baru terbuka. Xiao Lin merasakan tubuhnya semakin kuat. Otot-otot kecil di lengannya mulai terbentuk. Ia terus duduk di sana hampir satu jam, membersihkan darah serigala dan mengubahnya menjadi qi murni.
Ketika ia bangkit, level kultivasinya sudah naik.
Status Baru:
Tingkat Kultivasi: Tahap Awal Tingkat 1
Energi Qi: 85/200
Bakat Meridian: Tingkat 2 (Sedang Pulih)
Xiao Lin tersenyum puas. “Baru satu binatang, tapi sudah terasa bedanya. Kalau begini terus, dalam beberapa hari aku bisa mencapai Tingkat 2.”
Ia menyeret bangkai serigala itu kembali ke desa. Warga yang melihatnya terbelalak. Anak kecil berlarian mendekat, ibu-ibu desa berbisik-bisik. “Xiao Lin… kok bisa? Kemarin dia masih lemah sekali!”
Seorang pemuda desa yang biasa membully-nya dulu mendekat dengan wajah iri. “Hei, yatim piatu! Kamu dapat serigala dari mana? Pinjamkan kapakmu dong!”
Xiao Lin hanya melirik dingin. “Kalau mau, buru sendiri di hutan. Tapi hati-hati, jangan sampai jadi makanannya.”
Ia tidak peduli. Pulang ke gubuk, ia memotong daging serigala, merebus sebagian untuk makan malam, dan menyimpan sisanya untuk dijual besok di pasar desa. Malam itu, ia kembali duduk bersila dan memutar Teknik Kultivasi Dasar Langit Abadi sampai larut.
Meridian kedua di kaki kirinya mulai terbuka sedikit. Energi qi bertambah lagi.
Tapi kedamaian itu tidak bertahan lama.
Pagi harinya, saat Xiao Lin hendak berburu lagi, suara terompet darurat berbunyi dari gerbang desa. Warga berlarian panik.
“Gerombolan bandit datang! Mereka lebih banyak dari biasanya! Upeti bulan ini mereka minta dua kali lipat!”
Xiao Lin berdiri di depan gubuknya, tangan kanannya menggenggam kapak yang sudah dibersihkan. Matanya menyipit melihat debu yang mengepul di jalan setapak menuju desa.
“Waktunya tiba lebih cepat dari yang kukira,” gumamnya pelan. “Gerombolan bandit yang membunuh orang tuaku… hari ini kalian akan bayar hutang darah.”
Ia melangkah keluar, tubuhnya kecil tapi aura qi-nya sudah mulai terasa berbeda. Warga desa yang ketakutan memandangnya dengan heran. Mereka tidak tahu bahwa bocah yatim piatu yang dulu selalu bersembunyi itu kini sudah berubah.