NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Pagi itu, kediaman utama keluarga besar Satrya tampak lebih sibuk dari biasanya. Aroma melati segar dan harum masakan khas Nusantara memenuhi udara. Hari ini adalah hari arisan keluarga besar sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi ajang unjuk gigi, kekuasaan, sekaligus tempat berkumpulnya para pewaris takhta bisnis mendiang Hengky Satrya. Bagi Calista, ini bukan sekadar pertemuan keluarga, melainkan medan perang baru yang harus ia taklukkan dengan keanggunan.

Mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna champagne yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, Calista menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan tusuk konde emas warisan yang diberikan Denis tadi pagi. Denis bersikeras agar ia tampil maksimal sebagai Nyonya Satrya yang sah.

"Ingat, Calista," suara Denis terdengar dari ambang pintu kamar. Pria itu sudah rapi dengan kemeja batik tulis sutra yang senada. "Keluarga besar mendiang Papaku adalah orang-orang yang sangat memperhatikan detail. Mereka menghormati kekuatan, bukan kelemahan."

Calista berbalik, memberikan senyum tipis yang kini tampak lebih percaya diri. "Aku tidak akan mempermalukanmu, Mas Denis. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menarikku turun dari posisi ini."

Denis menatapnya intens, seulas rasa bangga muncul di matanya. Kejadian tamparan beberapa hari lalu sepertinya memang telah membangkitkan sisi petarung dalam diri Calista yang selama ini terpendam.

Begitu mereka melangkah masuk ke ruang perjamuan, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Calista berjalan dengan dagu terangkat namun tetap tersenyum ramah. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari pojok ruangan, tempat Susi dan Puput sudah lebih dulu duduk bersama lingkaran tante-tante sosialita.

Puput, yang pipinya sudah kembali mulus berkat polesan makeup tebal namun hatinya masih menyimpan dendam kesumat, berbisik pada Mamanya. "Lihat, Ma. Gayanya sudah seperti ratu sejagad. Padahal kita tahu dia cuma wanita beruntung yang menempel pada Mas Denis."

Susi mendengus, menyesap tehnya dengan anggun yang dipaksakan. "Biarkan saja. Di depan bibi-bibi Mas-mu yang cerewet itu, dia tidak akan bertahan lama. Sekali saja dia salah bicara, mereka akan mencabiknya hidup-hidup."

Namun, prediksi Susi salah besar.

Calista memulai langkahnya dengan menyapa Tante Widya, adik tertua dari almarhum Hengky Satrya yang dikenal paling disegani dalam keluarga. Tante Widya adalah wanita besi yang memegang beberapa yayasan sosial keluarga.

"Selamat siang, Tante Widya. Senang sekali bisa bertemu langsung. Mas Denis sering menceritakan betapa beliau sangat menghargai dedikasi Tante dalam mengelola yayasan pendidikan," ucap Calista sembari menjabat tangan dan melakukan sedikit gestur hormat yang sangat sopan.

Tante Widya mengangkat alisnya, menatap Calista dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Oh, jadi ini istri pilihan Denis. Bicaramu cukup manis, nak. Tapi di keluarga ini, kita butuh lebih dari sekadar kata-kata manis."

"Saya sangat setuju, Tante. Karena itu, saya sudah mempelajari beberapa program terbaru yayasan. Jika Tante berkenan, saya ingin sekali ikut berkontribusi dalam penggalangan dana bulan depan," balas Calista dengan tenang dan cerdas.

Mata Tante Widya berbinar. Ia jarang menemukan istri muda yang langsung menunjukkan ketertarikan pada pekerjaan sosial daripada sekadar membicarakan tas branded. "Menarik. Kita akan bicara lebih lanjut setelah makan siang."

Melihat Calista yang dengan cepat bisa masuk ke dalam lingkaran Tante Widya membuat Susi dan Puput merasa panas. Mereka sengaja mendekat, mencoba menyela pembicaraan.

"Duh, Tante Widya, jangan terlalu serius bicaranya. Calista ini mungkin masih bingung kalau bicara soal yayasan. Dia kan masih baru di dunia kita," ucap Susi dengan nada yang pura-pura bersahabat, namun terselip racun di dalamnya.

Puput menimpali dengan tawa kecil. "Benar, Tante. Mungkin Calista lebih cocok kalau kita ajak bicara soal belanja di pasar tradisional atau cara berhemat, ya kan Cal?"

Calista tidak terpancing. Ia justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu dan tidak tertekan. "Pasar tradisional memang tempat yang menyenangkan, Puput. Di sana kita belajar banyak tentang realitas ekonomi masyarakat. Mas Denis juga sering bilang kalau sebuah bisnis yang besar harus memiliki fondasi yang kuat di masyarakat bawah. Bukankah begitu, Mas?"

Denis yang berdiri tidak jauh dari sana mengangguk tegas. "Tepat sekali. Pemahaman Calista tentang ekonomi riil justru membantuku melihat banyak sudut pandang baru."

Skakmat. Susi dan Puput terdiam dengan wajah yang kaku. Dukungan terbuka dari Denis membuat posisi Calista semakin tak tergoyahkan.

Selama acara berlangsung, Calista seolah menjadi bintang utama. Ia tidak hanya berdiam diri di samping Denis. Ia berkeliling, menyapa saudara sepupu, mendengarkan cerita para sesepuh, dan sesekali memberikan pendapat yang berbobot tanpa terkesan menggurui.

Ia sangat pandai menempatkan diri. Saat berbicara dengan para pria, ia menunjukkan kecerdasan intelektualnya. Saat bersama para wanita, ia menunjukkan kehangatan dan kesopanan yang tinggi. Bahkan ia tidak segan membantu menuangkan minuman untuk paman-paman Denis, sebuah gestur kecil yang menunjukkan bahwa ia tidak sombong meskipun telah menjadi istri dari orang nomor satu di perusahaan Satrya.

"Istrimu luar biasa, Denis," bisik Paman Gunawan, salah satu orang kepercayaan mendiang Hengky. "Dia mengingatkanku pada ibumu. Tenang, namun memiliki wibawa yang kuat."

Denis tersenyum bangga. Ia memandangi Calista dari kejauhan. Wanita itu sedang tertawa bersama beberapa sepupu wanita Puput yang tadinya sangat skeptis. Calista berhasil memenangkan hati mereka hanya dalam hitungan jam.

Puput yang merasa kehilangan panggung benar-benar merasa gerah. Ia merasa seperti bayangan yang tidak terlihat di rumahnya sendiri. Setiap kali ia mencoba memancing perhatian dengan membicarakan liburannya ke Eropa, orang-orang justru kembali bertanya pada Calista tentang pendapatnya mengenai isu-isu yang lebih menarik.

"Mama, aku tidak tahan lagi! Kenapa semua orang memujinya?" bisik Puput dengan nada kesal di pojok teras.

Susi mengepalkan tangannya di balik kipas suteranya. "Sabar, Puput. Biarkan dia menikmati harinya sekarang. Orang-orang seperti dia biasanya akan terjatuh karena kesombongannya sendiri. Kita hanya perlu menunggu celah."

Namun, hingga arisan berakhir, celah itu tidak pernah muncul. Calista menutup acara dengan memberikan cinderamata kecil yang ia pilih sendiri sebuah syal batik tulis karya pengrajin lokal yang sedang ia bantu promosikan. Pemberian yang personal dan elegan itu semakin memperkuat citranya sebagai wanita yang peduli pada seni dan budaya.

Saat para tamu mulai pulang, Tante Widya menghampiri Calista sekali lagi. "Calista, datanglah ke rumah Tante minggu depan. Ada beberapa berkas yayasan yang ingin Tante tunjukkan. Aku suka caramu berpikir."

"Dengan senang hati, Tante. Terima kasih atas undangannya," jawab Calista dengan anggun.

Setelah rumah mulai sepi, Calista menarik napas lega. Ia merasa sangat lelah secara mental, namun hatinya puas. Ia berhasil melewati ujian pertama di depan keluarga besar Satrya.

Denis menghampirinya, melepaskan tusuk konde emas dari rambut Calista dengan lembut. "Kau melakukannya lebih baik dari yang kubayangkan, Calista. Susi dan Puput terlihat sangat menderita sepanjang hari ini."

Calista menoleh ke arah Denis, matanya berkilat penuh kemenangan. "Itu baru permulaan, Mas. Aku ingin mereka tahu bahwa posisi yang aku tempati ini bukan hanya karena keberuntungan, tapi karena aku memang layak berada di sini. Dan mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan mereka merasa nyaman jika mereka terus mencoba mengusikku."

Denis terkekeh, menarik pinggang Calista mendekat. "Sepertinya aku benar-benar harus berhati-hati padamu sekarang. Kau jauh lebih berbahaya daripada mawar manapun yang pernah kutanam."

Malam itu, di kediaman Satrya yang kembali tenang, Calista tahu bahwa ia telah mengukir namanya di hati keluarga besar almarhum Hengky Satrya. Ia telah membangun perisai baru, bukan dengan amarah atau tamparan, melainkan dengan kecerdasan dan pesona yang tak bisa dibantah. Sementara di kamar sebelah, Susi dan Puput hanya bisa meratapi kekalahan telak mereka hari ini.

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!