Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
BAB 34: Panggilan di Meja Sidang dan Tegasnya Sikap sang Penerus
Kabut tebal yang menyelimuti kawasan agrowisata Bogor perlahan menipis, terkikis oleh berkas-berkas sinar matahari pagi yang menembus sela-sela pohon pinus. Udara dingin pegunungan masih menyisakan embun di atas permukaan tenda dome. Namun, ketenangan pagi itu mendadak buyar ketika sebuah mobil sedan hitam premium berpelat nomor khusus yayasan bergerak pelan memasuki area parkir utama kompleks perkemahan.
Kehadiran mobil tersebut langsung memicu bisik-bisik tegang di antara para murid yang sedang bersiap untuk agenda bakti sosial. Kabar mengenai perkelahian brutal antara Zayn Dominic dan Christian Narendra di bawah kobaran api unggun semalam ternyata telah sampai ke telinga pihak manajemen tertinggi sekolah di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Kepala SMA Pelita, Pak Baskoro, datang langsung ke Bogor pagi ini untuk menyelesaikan skandal yang melibatkan dua anak dari keluarga paling berpengaruh di yayasan tersebut.
Di dalam tenda komando utama, atmosfer terasa begitu mencekam, pekat oleh ketegangan yang kaku. Pak Baskoro duduk di balik meja kayu portable dengan wajah yang dipenuhi guratan kecemasan yang amat sangat. Di hadapannya, Zayn Dominic dan Christian Narendra berdiri berdampingan, namun jarak di antara mereka sengaja dipisahkan oleh dua orang guru kedisiplinan.
Penampilan kedua cowok dominan itu pagi ini menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya adu fisik semalam. Sudut bibir kiri Zayn tampak membengkak keunguan dengan plester medis menutupi luka robek di pelipis mata elangnya—buah dari rawatan telaten Elva tadi malam. Namun, ekspresi wajah tampan Zayn tetap sedingin es, kaku, dan acuh tak acuh. Di sebelahnya, Christian juga tampil dengan memar kebiruan di rahang kirinya, namun pembawaannya sebagai anak diplomat tetap tenang, anggun, dan tidak menunjukkan indikasi ketakutan sedikit pun.
"Zayn, Christian... apa-apaan keributan yang kalian buat semalam?!" Pak Baskoro membuka suara, suaranya berat namun ada nada bergetar karena dia tahu betul siapa sosok ayah dari kedua murid di depannya ini.
"Kalian ini murid tingkat akhir, teladan bagi adik kelas! Zayn, kamu itu ketua OSIS! Bagaimana bisa kamu melayangkan pukulan mentah di depan ratusan murid?!"
Zayn tidak langsung menyahut. Dia hanya membuang muka ke arah jendela tenda dengan santai, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana olahraga hitamnya. Sifat arogansi dan dominasinya sebagai penguasa sekolah tidak berkurang seujung kuku pun meski sedang disidang.
"Dia yang duluan memprovokasi gue di teritorial kelas gue, Pak. Gue cuma meluruskan aturan," ketus Zayn lempeng tanpa rasa bersalah.
Christian menyipitkan mata hazel-nya sedikit, lalu menoleh ke arah Pak Baskoro dengan senyuman tipis yang sangat formal. "Saya hanya menawarkan camilan secara sopan kepada teman sekelas, Pak. Tapi tampaknya Ketua OSIS kita ini memiliki masalah besar dalam mengendalikan ego pribadinya hingga menggunakan kekerasan fisik."
"BACOT LO!" desis Zayn rendah, rahang tegasnya kembali mengeras sempurna dengan sepasang mata elang yang berkilat memancarkan api cemburu murni yang berbahaya ke arah Christian. Zayn maju satu langkah, bersiap untuk merangsek maju jika guru kedisiplinan tidak dengan sigap menahan bahu tegapnya.
"Zayn! Jaga sikap kamu!" tegur Pak Baskoro, buru-buru menyeka keringat dingin di dahinya. Pak Baskoro berada di posisi yang sangat dilematis. Menghukum Zayn berarti menantang keluarga Dominic selaku pemilik yayasan terbesar, namun membiarkan Christian tanpa keadilan juga berbahaya mengingat ayah Christian adalah seorang diplomat senior yang memiliki jaringan hukum internasional yang kuat.
Sementara sidang menegangkan berlangsung di dalam tenda komando, Elva Ileana berdiri di luar batas tali pembatas dengan perasaan cemas yang luar biasa besar. Jemari tangan kecilnya meremas erat ujung sweter putihnya, dan matanya tidak sedetik pun lepas dari pintu tenda yang tertutup rapat. Di lehernya, sisa tanda merah pekat baru yang dibuat Zayn tadi malam tersembunyi dengan aman di balik kerah pakaiannya yang dinaikkan.
Leo, Arkan, dan Kevin berdiri membentengi Elva dari jarak dekat, memastikan tidak ada murid lain yang berani mendekat atau melayangkan bisikan miring mengenai keterlibatan Elva dalam perkelahian dua cowok paling populer tersebut.
"Tenang, Elva. Zayn nggak bakal kenapa-kenapa. Bokap nya kan pemegang saham utama di sekolah ini, Pak Baskoro nggak punya nyali buat ngeluarin surat skorsing resmi buat dia," bisik Kevin mencoba menenangkan dengan cengiran khasnya yang sedikit dipaksakan.
Leo melirik pintu tenda dengan pandangan serius. "Ini bukan cuma soal kekuasaan yayasan, Vin. Ini soal gengsi dan integritas organisasi. Christian sengaja memakai jalur formal sekolah buat memojokkan posisi Zayn sebagai ketua OSIS. Dia pintar memanfaatkan celah aturan."
...----------------...
Kembali ke dalam tenda komando, Pak Baskoro akhirnya menghela napas pendek yang sangat berat, mengambil selembar surat keputusan dari dalam map logistiknya.
"Karena kejadian ini melibatkan pelanggaran kedisiplinan tingkat berat di depan umum, sekolah tidak bisa menutup mata seutuhnya. Christian, kamu mendapatkan surat teguran keras pertama karena memicu provokasi di area perkemahan."
Pak Baskoro beralih menatap Zayn dengan tatapan yang sarat akan permohonan terselubung. "Dan untuk kamu, Zayn... sebagai Ketua OSIS, tindakan fisikmu tidak bisa ditoleransi untuk sementara waktu. Hak otoritar mu dalam memimpin agenda bakti sosial siang ini akan dialihkan kepada Wakil Ketua OSIS, Leo. Kamu dibebaskan dari seluruh tugas lapangan hari ini dan diwajibkan tetap berada di dalam area tenda komando untuk melakukan refleksi diri. Apakah kamu keberatan?"
Hukuman 'tahanan tenda' ini sebenarnya adalah bentuk perlindungan halus dari Pak Baskoro agar Zayn tidak kembali terlibat gesekan fisik dengan Christian di luar sana.
Zayn Dominic mendengus sinis, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis penuh arti. Sifat posesif dan otaknya yang cerdas langsung menangkap keuntungan terselubung dari hukuman ini.
Dibebaskan dari tugas lapangan berarti dia memiliki waktu penuh sepanjang hari untuk mengurung dan menjaga Elva bersamanya di dalam tenda, menjauhkan gadis itu dari jangkauan angin London seutuhnya.
"Gue nggak keberatan, Pak," jawab Zayn lempeng, suaranya terdengar begitu tenang dan sarat akan otoritas mutlak.
"Tapi gue punya satu syarat. Elva Ileana harus tetap di sini bersama gue buat membantu penyusunan laporan administrasi OSIS yang tertunda. Dia asisten pribadi gue selama kegiatan PKL ini."
Christian Narendra yang mendengar syarat dari Zayn seketika menyipitkan matanya tajam. Senyuman formal di bibir tampannya mendadak membeku. Christian sadar, dalam perebutan ruang catur kali ini, Zayn berhasil memanfaatkan hukuman sekolah untuk mempertegas benteng perlindungan posesifnya, mengunci mentari kecilnya di dalam ruang steril yang tidak akan bisa ditembus oleh strategi sehalus apa pun dari luar.
Pak Baskoro yang tidak mau memperpanjang perdebatan langsung mengangguk cepat. "Baik, Elva akan ditugaskan membantu administrasi di sini. Sidang selesai. Kalian berdua bisa keluar."
Zayn membalikkan tubuh tegapnya seutuhnya, melangkah lebar keluar dari tenda komando dengan rahang tegas yang kembali terangkat penuh kemenangan. Begitu dia melangkah keluar dan mendapati Elva sedang menatapnya dengan mata bulat yang berkaca-kaca karena cemas, Zayn langsung meraih jemari tangan kecil gadis itu, menggenggamnya dengan cengkeraman yang hangat dan mengunci sela-sela jari mereka di depan Christian yang berjalan di belakangnya.
Perang terbuka di antara dua cowok dominan satu kelas ini dipastikan telah memasuki babak baru yang semakin intens di bawah dinginnya pegunungan Bogor.