NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Rasa sakit itu datang lebih dulu sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya.

Diandra merasa seolah seluruh tulangnya telah remuk dan parunya diisi oleh air yang membekukan.

Saat ia perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamarnya yang mewah, melainkan atap putih kusam dengan lampu neon yang berkedip redup.

Diandra mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri yang tajam menjalar dari pergelangan hingga bahunya.

Ia menoleh perlahan dan melihat tubuhnya sendiri.

"Kenapa tanganku sekecil ini? Kenapa kulitku penuh dengan memar biru dan bekas luka yang tidak pernah ada sebelumnya?" gumam Diandra.

Seorang dokter paruh baya dengan raut wajah lelah segera menghampiri saat melihat pasiennya siuman.

Ia memeriksa denyut nadi dan pupil mata gadis itu dengan teliti.

"Gia? Kamu bisa dengar suaraku?" tanya dokter itu dengan nada yang sangat akrab, namun terselip nada kasihan di dalamnya.

Diandra hanya terdiam, tenggorokannya terasa sangat kering seperti terbakar.

Ia menatap dokter itu dengan tatapan tajam dan penuh tanya dengan tatapan yang biasa ia gunakan di ruang rapat dewan direksi, bukan tatapan seorang remaja yang ketakutan.

Dokter itu menghela napas panjang, mengira gadis itu sedang syok.

"Gia, jangan dipaksakan dulu kalau masih sakit. Saya tahu ini berat, tapi kamu sudah aman di sini. Kamu beruntung warga menemukanmu di sungai tadi."

Dokter itu sudah sangat mengenal "Gia". Gadis malang ini adalah pasien langganan puskesmas; terkadang datang dengan luka di kening, tangan yang terkilir, atau memar di punggung akibat perundungan yang ia alami di sekolah. Namun kali ini, luka-lukanya hampir merenggut nyawanya.

Diandra berusaha bersuara. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—tipis, serak, dan sangat muda.

"Gia...?" gumam Diandra pelan, dahinya berkerut dalam.

"Gia siapa?"

Dokter itu tertegun sejenak. "Kamu Gia, nak. Apa kepalamu terbentur sangat keras sampai lupa namamu sendiri?"

Diandra mengabaikan pertanyaan dokter itu. Ia memaksakan dirinya untuk bangun meski seluruh tubuhnya memprotes.

Matanya menyisir ruangan kecil itu sampai ia menemukan sebuah cermin kecil di atas nakas sebelah ranjangnya.

Dengan tangan yang gemetar, ia meraih cermin itu.

Detik berikutnya, napas Diandra tercekat. Wajah yang terpantul di sana bukanlah wajahnya.

Bukan wajah CEO Diandra yang berusia 28 tahun dengan riasan elegan.

Yang ia lihat adalah wajah seorang gadis remaja berusia 17 tahun.

Matanya besar namun redup, rambutnya acak-acakan, dan ada bekas luka di sudut bibirnya.

"Ini mustahil, batin Diandra berteriak. Siapa gadis ini? Dan di mana tubuhku? Gumam Diandra.

Diandra masih terduduk kaku di atas ranjang puskesmas yang keras.

Dokter dan perawat sibuk memeriksa selang infus dan denyut nadinya, namun atensi Diandra sepenuhnya tersedot oleh sebuah televisi tua yang tergantung di sudut ruangan.

Suara janggal dari berita pagi itu membuat jantungnya berdegup kencang.

"Berita terkini, CEO muda berbakat, Diandra, ditemukan tak sadarkan diri di pinggiran sungai setelah diduga mengalami kecelakaan hebat semalam. Saat ini, korban dinyatakan dalam kondisi koma di Rumah Sakit Pusat..."

Diandra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kecelakaan di sungai?" batinnya geram.

Mereka benar-benar menutupi jejak pembunuhan itu dengan sangat rapi.

Mita pasti telah mengatur skenario sedemikian rupa agar dunia percaya bahwa ia jatuh ke sungai secara tidak sengaja, bukan didorong dari lantai delapan gedung kantornya sendiri.

Layar televisi kemudian berganti menampilkan siaran langsung dari bandara.

Kamera-kamera wartawan tampak berdesakan, lampu kilat menyambar berkali-kali saat sesosok pria dengan langkah terburu-buru keluar dari pintu kedatangan internasional.

Wajah suaminya terlihat sangat pucat, matanya merah menyiratkan kesedihan dan kepanikan yang mendalam.

Diandra ingin berteriak memanggil nama pria itu, ingin mengatakan bahwa ia ada di sini, terperangkap dalam tubuh asing ini. Namun, pemandangan berikutnya membuat darah Diandra mendidih.

Mita muncul dari kerumunan, langsung menghambur ke pelukan Pratama.

Adik tirinya itu menangis sesenggukan, tubuhnya bergetar seolah ia adalah orang yang paling terpukul atas musibah ini.

"Mas, Mbak Diandra, Mas. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi," isak Mita di pelukan Pratama, suaranya terdengar jelas melalui mikrofon wartawan yang mendekat.

Pratama tampak mengusap bahu Mita dengan lemah, mencoba memberikan ketenangan meski ia sendiri tampak hancur.

Di depan kamera, Mita terlihat seperti adik yang sangat menyayangi kakaknya. Namun Diandra tahu kebenarannya—pelukan itu adalah pelukan ular yang sedang merayakan kemenangannya.

"Wanita ular," desis Diandra dengan suara serak yang asing di telinganya.

"Gia? Kamu bicara apa, Nak?" tanya dokter yang masih berada di sampingnya, merasa heran dengan perubahan ekspresi gadis SMA di depannya yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.

Diandra tidak menjawab. Ia memalingkan wajah dari televisi, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang buram.

"Mita, kamu pikir kamu sudah menang?" gumamnya rendah.

"Tunggu sampai aku kembali ke depan wajahmu dengan tubuh ini. Aku akan menghancurkanmu perlahan, persis seperti caramu mendorongku malam itu."

Suasana di koridor VVIP rumah sakit itu begitu mencekam.

Pratama melangkah dengan kaki yang terasa berat menuju bangsal tempat istrinya dirawat.

Saat pintu terbuka, pemandangan di depannya nyaris membuat lututnya goyah.

Diandra terbaring kaku, dikelilingi oleh berbagai mesin penopang hidup.

Wajah cantiknya kini penuh luka, dan tubuhnya terlihat hancur seolah baru saja dihantam beban yang luar biasa berat.

Pratama mendekat, menyentuh tangan Diandra yang dingin dengan gemetar.

Matanya yang tajam mulai menyisir setiap inci luka di tubuh istrinya.

Ia bukan pria bodoh; ia tahu ada yang tidak beres.

"Diko, kemarilah," ucap Pratama dengan suara rendah namun penuh wibawa.

Diko, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya, segera melangkah maju.

"Apa kecelakaan di sungai bisa mengakibatkan luka seperti ini?" tanya Pratama, matanya masih terpaku pada Diandra.

"Ini lebih terlihat seperti luka seseorang yang jatuh dari ketinggian. Pola lukanya tidak masuk akal jika hanya karena hanyut."

Diko terdiam, ikut mengamati kondisi sang CEO.

"Selidiki semuanya. Cari tahu apa yang terjadi dalam dua jam terakhir sebelum dia ditemukan. Dan ingat, rahasiakan penyelidikan ini dari siapa pun, termasuk keluarga besarnya," perintah Pratama tegas.

Diko menganggukkan kepala patuh. Tepat saat itu, pintu terbuka dan Mita masuk dengan wajah sembap.

Ia kembali memerankan sandiwaranya, menangis terisak sambil mencoba mendekati ranjang Diandra.

Pratama hanya menatapnya datar, menyembunyikan kecurigaan yang mulai tumbuh di hatinya.

Sementara itu, di puskesmas kota tetangga, Diandra yang berada di dalam tubuh Gia sedang berjuang melawan frustrasi.

Ia harus menghubungi Pratama sebelum Mita bergerak lebih jauh.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia memanggil seorang perawat yang sedang mengganti cairannya.

"Suster, bolehkah saya meminjam ponselmu sebentar? Hanya satu panggilan saja," pinta Diandra dengan nada memohon.

Perawat itu menatapnya ragu. "Bukankah dari catatan medis, kamu tidak punya keluarga lagi? Kamu tinggal di panti asuhan, kan?"

Diandra tertegun sejenak, baru menyadari betapa malangnya nasib Gia. Namun ia cepat menguasai diri.

"Aku hanya ingin menghubungi seorang teman, Sus. Tolonglah."

Karena kasihan, perawat itu akhirnya memberikan ponselnya.

Dengan jari gemetar, Diandra menekan nomor pribadi Pratama yang sudah ia hafal di luar kepala.

Di seberang sana, ponsel Pratama berdering. Ia menjauh dari Mita untuk mengangkatnya.

"Halo, siapa ini?"

Mendengar suara berat suaminya, air mata Diandra nyaris jatuh.

"Mas, ini aku. Ini aku, istrimu, Diandra."

Hening sejenak. Napas Pratama terdengar memburu di telepon, namun suaranya kemudian berubah menjadi dingin dan penuh amarah.

"Jangan gila! Istriku sedang koma di depan mataku sekarang. Siapa pun kamu, jangan berani-berani mempermainkan situasi ini!"

Klik.

Panggilan diputus sepihak. Diandra menatap layar ponsel yang gelap itu dengan nanar.

Ia memukul ranjangnya pelan, merutuki kebodohannya sendiri.

Ia lupa bahwa bagi dunia, Diandra adalah wanita kaya yang sedang meregang nyawa di rumah sakit mewah, sementara dirinya saat ini hanyalah Gia, seorang siswi SMA yang kumal dan tak punya apa-apa.

"Mas, bagaimana caranya aku meyakinkanmu?" bisiknya perih.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!