Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17 Efek Samping yang tidak Profesional
Makan siang itu ternyata membawa satu masalah besar.
Atau lebih tepatnya— terlalu banyak saksi.
Karena begitu lift basement kantor terbuka—
Rania Azarina langsung tahu hidupnya tidak akan tenang lagi.
Karena lobby kantor PT Jaya Media mendadak terlalu hening.
Bukan hening normal.
jenis hening yang semua orang pura-pura sibuk padahal jelas sedang menguping.
Lobby kantor yang biasanya penuh suara keyboard, langkah kaki, dan orang-orang sibuk—
mendadak terasa seperti adegan film dokumenter.
Semua orang diam.
Menatap.
Ke arah mereka.
Rania melangkah masuk lebih dulu.
Berusaha terlihat normal.
Profesional.
Tidak baru saja makan siang terlalu intim dengan suami kontraknya yang entah kenapa mulai mengganggu kestabilan mental.
Di belakangnya—
Gavin Mahendra berjalan santai.
Terlalu santai.
Satu tangan di saku.
Tatapan datar.
Seolah tidak ada satu gedung sedang mengamati hidup pribadinya.
Padahal ada.
Sangat ada.
Dan lebih parah lagi—
tangan pria itu refleks menahan pintu lift untuknya.
Sopan.
Natural.
Seolah itu kebiasaan.
Dan—
sayangnya—
terlihat terlalu domestik.
Rania ingin menghilang.
Seketika.
Rania mempercepat langkah.
Lalu—
“Rania.”
Ia berhenti refleks.
Menoleh.
Gavin mengangkat sesuatu kecil.
“…Ponselmu.”
Oh.
Sial.
Ponselnya tertinggal di mobil.
Rania langsung mengambilnya cepat.
“Thanks.”
Gavin tidak menjawab.
Hanya menatap sekilas.
Lalu—
“Dan—”
Tatapannya turun ke wajah Rania.
berhenti sepersekian detik terlalu lama di bibirnya.
“Lipstikmu geser.”
…
Apa?
Rania membeku.
Seketika.
Refleks menyentuh bibir.
“Oh Tuhan.”
Dia langsung membuka kamera depan.
Dan benar.
Lipstiknya sedikit berantakan.
Karena makan.
Dan—
sedikit karena tadi panik makan pedas.
Oh Tuhan.
Semua orang dengar tidak tadi?
Rania mendadak ingin mati elegan.
Namun Gavin hanya mengeluarkan sapu tangan kecil.
Memberikannya.
Natural.
Seolah hal itu biasa.
“Sudut kiri.”
…
Lobby benar-benar hening sekarang.
HR literally berhenti berjalan.
Nisa— yang entah sejak kapan muncul di dekat coffee station— membeku seperti habis melihat mukjizat.
Kevin yang kebetulan keluar lift:
“…BRO.”
Rania langsung mengambil sapu tangan.
“Terima kasih.”
Cepat.
Terlalu cepat.
Lalu hampir kabur ke lift.
“Pak Gavin,” suara Kevin masuk sambil menahan tawa, “lo berubah banget, sumpah.”
Tatapan Gavin langsung dingin.
“Kerjaan kamu selesai?”
Kevin diam.
“Oke saya pergi.”
Dan kabur.
Pengecut.
Lift akhirnya tertutup.
Begitu pintu menutup—
Rania langsung memejam mata.
Sebentar.
Lalu membenturkan pelan kepala ke dinding lift.
Kenapa hidupnya begini?
Kenapa Gavin mendadak—
perhatian?
Dan yang lebih mengganggu—
kenapa itu terasa terlalu menyenangkan?
DIVISI MARKETING WAR SURVIVOR
Nisa:
BUUUUUUUU
Tika:
PAK GAVIN BENERIN LIPSTIK IBU DI LOBBY 😭😭😭
Seno:
SAYA LIAT SENDIRI
Nisa:
DIREKTUR DINGIN KOK BISA MODE SUAMI
Rania
kerja.
Nisa
OHHHH MALU
Tika
BU MUKANYA MERAH YA TADI
Rania
bonus dipotong.
Nisa
worth it.
Kurang ajar.
___
Setelah kejadian di lobby.
Rania mencoba kerja.
Benar-benar mencoba.
Tapi otaknya terus replay kejadian tadi siang.
Lipstikmu geser.
Kenapa cara Gavin bilang itu terdengar—
terlalu terbiasa?
Dan sejak kapan dia memperhatikan wajahnya sedetail itu?
Pintu pantry terbuka.
Suara dua staf terdengar samar.
“…Kirain dulu Pak Gavin sama Bu Clarissa bakal nikah.”
“Iya, mereka deket banget kan?”
“Thursday lunch terus.”
“Eh taunya nikah sama Bu Rania.”
“Tapi sekarang keliatan lebih cocok sih…”
“Pak Gavin berubah banget.”
Rania terdiam.
Tangannya berhenti di keyboard.
Thursday lunch.
Tempat favorit.
Kebiasaan.
Oh.
Jadi memang sedekat itu.
Dan Entah kenapa— pikiran itu mengganggu lebih dari seharusnya.
Menyebalkan.
Padahal—
apa urusannya?
Ini kontrak.
Kontrak.
Bukan hubungan sungguhan.
Lalu kenapa—
pikiran tentang Gavin dan Clarissa makan siang berdua terasa mengganggu sekali?
Kenapa dirinya membayangkan—
mereka pernah tertawa bersama?
Pernah sedekat itu?
Dan kenapa—
itu membuat suasana hatinya buruk?
Rania langsung menutup laptop terlalu keras.
Tidak.
Dirinya cuma tidak suka Clarissa.
Sudah.
Itu saja.
Pasti.
Sisa hari itu berjalan aneh. Atau lebih tepatnya— Rania berusaha bekerja sementara seluruh kantor tampak lebih tertarik pada kehidupan cintanya.
Pukul lima sore.
Kantor mulai sepi.
Rania masih di meja kerja.
Deadline campaign regional belum selesai.
Ponselnya bergetar.
GAVIN
Satu chat.
Masih di kantor?
Rania mengetik cepat.
Rania
Iya.
Balasan datang terlalu cepat.
Gavin
Kenapa?
…
Kenapa?
Rania
Kerjaan.
Tiga detik.
Lalu:
Gavin
Jangan pulang terlalu malam.
Pause.
Ponselnya bergetar lagi.
Turun 15 menit lagi.
Rania mengernyit.
Untuk?
Balasan:
Gavin
Saya jemput.
…
Rania
Excuse me?
Saya bisa pulang sendiri.
Typing…
Gavin
Saya tahu.
Pause.
Tapi tetap saya jemput.
Jantungnya melakukan sesuatu yang tidak profesional lagi.
Sial.
Di lantai direktur.
Clarissa berdiri di depan meja Gavin.
Tangannya menyilang.
Tatapan tajam.
“Kamu serius?”
Gavin tetap membaca dokumen.
“Dalam hal?”
“Kamu jemput dia pulang sekarang?”
Tidak ada jawaban.
Clarissa tertawa kecil.
Tidak lucu.
“Kamu nggak pernah begini.”
Masih diam.
“You never cared this much.”
Jeda kecil.
Lalu—
Gavin akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya tetap datar.
Namun kali ini—
sedikit terlalu tenang.
“People change.”
Clarissa menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Sedikit pahit.
“…Or maybe,” katanya pelan, “you actually like her.”
Sunyi.
Gavin tidak langsung menjawab.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya— Gavin tidak punya jawaban cepat.
Karena anehnya— pertanyaan itu terasa terlalu mengganggu.
Terlalu dekat dengan sesuatu— yang belum ingin ia pikirkan.
Dan itu…
masalah.
Ponsel Gavin bergetar.
Nama Rania muncul.
Rania
Saya turun sekarang.
Gavin langsung mengambil jasnya.
Tanpa sadar— berdiri terlalu cepat.
Sial.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.