NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 17 Efek Samping yang tidak Profesional

Makan siang itu ternyata membawa satu masalah besar.

Atau lebih tepatnya— terlalu banyak saksi.

Karena begitu lift basement kantor terbuka—

Rania Azarina langsung tahu hidupnya tidak akan tenang lagi.

Karena lobby kantor PT Jaya Media mendadak terlalu hening.

Bukan hening normal.

jenis hening yang semua orang pura-pura sibuk padahal jelas sedang menguping.

Lobby kantor yang biasanya penuh suara keyboard, langkah kaki, dan orang-orang sibuk—

mendadak terasa seperti adegan film dokumenter.

Semua orang diam.

Menatap.

Ke arah mereka.

Rania melangkah masuk lebih dulu.

Berusaha terlihat normal.

Profesional.

Tidak baru saja makan siang terlalu intim dengan suami kontraknya yang entah kenapa mulai mengganggu kestabilan mental.

Di belakangnya—

Gavin Mahendra berjalan santai.

Terlalu santai.

Satu tangan di saku.

Tatapan datar.

Seolah tidak ada satu gedung sedang mengamati hidup pribadinya.

Padahal ada.

Sangat ada.

Dan lebih parah lagi—

tangan pria itu refleks menahan pintu lift untuknya.

Sopan.

Natural.

Seolah itu kebiasaan.

Dan—

sayangnya—

terlihat terlalu domestik.

Rania ingin menghilang.

Seketika.

Rania mempercepat langkah.

Lalu—

“Rania.”

Ia berhenti refleks.

Menoleh.

Gavin mengangkat sesuatu kecil.

“…Ponselmu.”

Oh.

Sial.

Ponselnya tertinggal di mobil.

Rania langsung mengambilnya cepat.

“Thanks.”

Gavin tidak menjawab.

Hanya menatap sekilas.

Lalu—

“Dan—”

Tatapannya turun ke wajah Rania.

berhenti sepersekian detik terlalu lama di bibirnya.

“Lipstikmu geser.”

Apa?

Rania membeku.

Seketika.

Refleks menyentuh bibir.

“Oh Tuhan.”

Dia langsung membuka kamera depan.

Dan benar.

Lipstiknya sedikit berantakan.

Karena makan.

Dan—

sedikit karena tadi panik makan pedas.

Oh Tuhan.

Semua orang dengar tidak tadi?

Rania mendadak ingin mati elegan.

Namun Gavin hanya mengeluarkan sapu tangan kecil.

Memberikannya.

Natural.

Seolah hal itu biasa.

“Sudut kiri.”

Lobby benar-benar hening sekarang.

HR literally berhenti berjalan.

Nisa— yang entah sejak kapan muncul di dekat coffee station— membeku seperti habis melihat mukjizat.

Kevin yang kebetulan keluar lift:

“…BRO.”

Rania langsung mengambil sapu tangan.

“Terima kasih.”

Cepat.

Terlalu cepat.

Lalu hampir kabur ke lift.

“Pak Gavin,” suara Kevin masuk sambil menahan tawa, “lo berubah banget, sumpah.”

Tatapan Gavin langsung dingin.

“Kerjaan kamu selesai?”

Kevin diam.

“Oke saya pergi.”

Dan kabur.

Pengecut.

Lift akhirnya tertutup.

Begitu pintu menutup—

Rania langsung memejam mata.

Sebentar.

Lalu membenturkan pelan kepala ke dinding lift.

Kenapa hidupnya begini?

Kenapa Gavin mendadak—

perhatian?

Dan yang lebih mengganggu—

kenapa itu terasa terlalu menyenangkan?

DIVISI MARKETING WAR SURVIVOR

Nisa:

BUUUUUUUU

Tika:

PAK GAVIN BENERIN LIPSTIK IBU DI LOBBY 😭😭😭

Seno:

SAYA LIAT SENDIRI

Nisa:

DIREKTUR DINGIN KOK BISA MODE SUAMI

Rania

kerja.

Nisa

OHHHH MALU

Tika

BU MUKANYA MERAH YA TADI

Rania

bonus dipotong.

Nisa

worth it.

Kurang ajar.

___

Setelah kejadian di lobby.

Rania mencoba kerja.

Benar-benar mencoba.

Tapi otaknya terus replay kejadian tadi siang.

Lipstikmu geser.

Kenapa cara Gavin bilang itu terdengar—

terlalu terbiasa?

Dan sejak kapan dia memperhatikan wajahnya sedetail itu?

Pintu pantry terbuka.

Suara dua staf terdengar samar.

“…Kirain dulu Pak Gavin sama Bu Clarissa bakal nikah.”

“Iya, mereka deket banget kan?”

“Thursday lunch terus.”

“Eh taunya nikah sama Bu Rania.”

“Tapi sekarang keliatan lebih cocok sih…”

“Pak Gavin berubah banget.”

Rania terdiam.

Tangannya berhenti di keyboard.

Thursday lunch.

Tempat favorit.

Kebiasaan.

Oh.

Jadi memang sedekat itu.

Dan Entah kenapa— pikiran itu mengganggu lebih dari seharusnya.

Menyebalkan.

Padahal—

apa urusannya?

Ini kontrak.

Kontrak.

Bukan hubungan sungguhan.

Lalu kenapa—

pikiran tentang Gavin dan Clarissa makan siang berdua terasa mengganggu sekali?

Kenapa dirinya membayangkan—

mereka pernah tertawa bersama?

Pernah sedekat itu?

Dan kenapa—

itu membuat suasana hatinya buruk?

Rania langsung menutup laptop terlalu keras.

Tidak.

Dirinya cuma tidak suka Clarissa.

Sudah.

Itu saja.

Pasti.

Sisa hari itu berjalan aneh. Atau lebih tepatnya— Rania berusaha bekerja sementara seluruh kantor tampak lebih tertarik pada kehidupan cintanya.

Pukul lima sore.

Kantor mulai sepi.

Rania masih di meja kerja.

Deadline campaign regional belum selesai.

Ponselnya bergetar.

GAVIN

Satu chat.

Masih di kantor?

Rania mengetik cepat.

Rania

Iya.

Balasan datang terlalu cepat.

Gavin

Kenapa?

Kenapa?

Rania

Kerjaan.

Tiga detik.

Lalu:

Gavin

Jangan pulang terlalu malam.

Pause.

Ponselnya bergetar lagi.

Turun 15 menit lagi.

Rania mengernyit.

Untuk?

Balasan:

Gavin

Saya jemput.

Rania

Excuse me?

Saya bisa pulang sendiri.

Typing…

Gavin

Saya tahu.

Pause.

Tapi tetap saya jemput.

Jantungnya melakukan sesuatu yang tidak profesional lagi.

Sial.

Di lantai direktur.

Clarissa berdiri di depan meja Gavin.

Tangannya menyilang.

Tatapan tajam.

“Kamu serius?”

Gavin tetap membaca dokumen.

“Dalam hal?”

“Kamu jemput dia pulang sekarang?”

Tidak ada jawaban.

Clarissa tertawa kecil.

Tidak lucu.

“Kamu nggak pernah begini.”

Masih diam.

“You never cared this much.”

Jeda kecil.

Lalu—

Gavin akhirnya mengangkat kepala.

Tatapannya tetap datar.

Namun kali ini—

sedikit terlalu tenang.

“People change.”

Clarissa menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Sedikit pahit.

“…Or maybe,” katanya pelan, “you actually like her.”

Sunyi.

Gavin tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya— Gavin tidak punya jawaban cepat.

Karena anehnya— pertanyaan itu terasa terlalu mengganggu.

Terlalu dekat dengan sesuatu— yang belum ingin ia pikirkan.

Dan itu…

masalah.

Ponsel Gavin bergetar.

Nama Rania muncul.

Rania

Saya turun sekarang.

Gavin langsung mengambil jasnya.

Tanpa sadar— berdiri terlalu cepat.

Sial.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!