NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama dan Bibir Merah Muda

Tiga minggu berlalu. Musim semi menyelinap masuk. Hari pertama kuliah tiba.

Pukul 07.00, Florence berdiri di hadapan cermin. Map Columbia di meja sudah kosong—formulirnya ia tanda tangani tiga malam lalu, diam-diam, ketika jarum jam hampir menyentuh tengah malam. Tak ada syarat tertulis. Tak ada perintah “Kau harus terapi.” Hanya tanda tangan yang gemetar. Ia paham, kesempatan itu bukan untuk ditawar. Hanya untuk dijalani.

Hari ini ia memilih dress krem berlengan panjang. Sederhana. Rambutnya tergerai. Untuk pertama kali dalam dua bulan, ia membuka kotak rias kecil yang diselipkan Reginald diam-diam.

Alis coklat ia arsir tipis. Bibirnya disapu merah muda—bukan merah darah, melainkan rona kelopak bunga yang baru merekah. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk dirinya. Untuk mengingat rasanya menjadi manusia.

Di lobi, Lucifer sudah menunggu. Seperti hari ke toko buku. Kemeja hitam digulung hingga siku, tanpa jas. Tak ada pengawal di dalam mansion. Namun di luar, empat SUV hitam berjaga. Marco di depan. Vulture di belakang. Penembak berjaga di atap seberang. Lucifer bilang tak ada perlakuan khusus di kelas. Ia tidak berbohong. Hanya di kelas. Di luar gerbang, seluruh Manhattan bisa berubah jadi medan tempur.

Florence turun. Lucifer mendongak. Lalu membeku.

Ia sudah mengenal kecantikan Florence sejak malam di pulau itu—saat gadis itu diseret masuk ke kurungannya, mata basah namun tak sudi menunduk. Kala itu, kecantikan Florence menusuk seperti bilah: telanjang, keras kepala, memalukan untuk ditatap lama-lama.

Kini, Florence yang sama berdiri di hadapannya. Riasan samar membingkai wajahnya, bibir merah muda seperti kelopak pertama musim semi, dan di balik matanya, hampa yang dulu mencekik kini mulai retak.

Bukan cantik yang membuat dadanya sesak.

Yang membuatnya takut adalah bahwa kali ini, kecantikan itu hidup. Dan hidup berarti bisa diambil siapa saja..

Rahang Lucifer mengatup hingga uratnya menegang. Sial. Saat ini akhirnya tiba. Florence bukan lagi tawanan. Ia kini mahasiswa—muda, memikat, lepas. Dan dunia luar pasti akan melahapnya dengan tatapan.

“Kau... siap?” Suaranya beku, sengaja dikerat. Jika sedikit saja retak, ia mungkin membanting pintu dan membatalkan segalanya.

Florence mengangguk pelan. Matanya tak berani singgah lama di wajah Lucifer. Jari-jarinya menggenggam erat tali tas kanvas, sampai buku-buku jarinya memutih—tas yang menyimpan tiga buku dari toko kemarin, kini terasa berat menahan gemetar.

Mereka melangkah menuju mobil. Jarak tiga meter yang mereka jaga tetap membentang di antara keduanya. Namun hari ini, keharuman samar dari Florence—bukan wewangian mahal, mungkin hanya sisa sabun atau sentuhan lip balm merah muda itu—merayap pelan ke indra Lucifer. Tanpa sadar ia menurunkan kaca jendela sedikit, sekadar memberi ruang pada udara agar akalnya tak ikut sesak.

 

Columbia. Gerbang utama. Jam 08.00.

Marco turun, membuka pintu untuk Florence. Lucifer tetap di dalam.

“Jam empat sore. Aku di sini,” katanya dari dalam mobil. “Jika ada apa-apa, Marco di gerbang. Atau Vulture di kafetaria. Kau takkan melihat mereka. Tapi mereka ada.”

Florence mengangguk. Ia melangkah keluar sendiri. Tas di bahu. Bibir merah muda. Rambutnya tertiup angin musim semi.

Lucifer menatap dari balik kaca. Tiga mahasiswa yang lewat berhenti sejenak, kepala menoleh, bisik dan senyum menempel pada punggung Florence hingga sosok itu lenyap di balik gerbang.

Darahnya mendidih. Jarinya meremas kertas di saku sampai ujungnya kusut. Satu kesempatan. Jangan kau Rusak.

Ia memejam, menarik napas dalam-dalam. Ia memang memikat. Wajar mereka menoleh. Kau takkan bisa menembak seluruh kampus, Azrael. Kau sendiri yang berjanji.

“Bos,” Marco kembali, hati-hati. “Kita... kembali?”

“Tidak,” jawab Lucifer. “Kantor. Ada urusan dengan keluarga Russo pukul sembilan. Tapi...” Ia menatap gerbang Columbia. “...kembali ke sini pukul tiga. Aku menunggu di sini.”

Ada urusan mafia. Penyelundupan pelabuhan. Pengkhianat di Chicago. Uang yang harus dicuci. Namun separuh pikirannya tertinggal di gerbang itu. Di bibir merah muda itu.

 

Di kelas Sastra Inggris 101, Florence memilih baris ketiga dekat jendela. Tak bersembunyi. Dulu di panti ia selalu duduk depan, berani bertanya. Hari ini ia hanya mendengar. Menulis. Tangannya masih gemetar saat menggenggam pulpen, tapi ia menulis.

Benar saja, tatapan-tatapan itu datang. Saat kelas bubar, seorang pemuda mendekat.

“Hei, mahasiswa baru? Aku Dylan. Belum pernah lihat kamu waktu orientasi.” Rambut pirang. Senyum rapi. Bau parfum mahal. Anak keluarga kaya, jelas.

Florence mengangkat kepala. Menatap Dylan sekilas, lalu melirik ke luar jendela. Di seberang jalan, SUV hitam terparkir. Kaca gelap. Ia tahu siapa yang mengirimnya.

“Florence,” jawabnya singkat. Tanpa senyum. Lalu ia merapikan buku dan pergi, meninggalkan Dylan terdiam.

Di toilet, ia menyandarkan dahi pada dinginnya dinding keramik dan menghela napas. Cermin di hadapannya menampilkan seorang gadis dengan riasan samar dan bibir merah muda.

Cantik.

Kata itu mengambang di kepalanya—ucapan Dylan, gumam orang-orang di koridor, bahkan pantulan dirinya sendiri. Namun yang terbayang justru wajah Lucifer pagi tadi: rahang mengeras, tangan mengepal, menahan diri untuk tidak melarangnya pergi.

Ia menyentuh ujung bibirnya pelan, seolah memastikan rona itu nyata.

Satu kesempatan, bisiknya pada cermin. Untuk dia. Untukku.

 

Jam empat sore. Tepat.

Florence keluar gerbang. Lucifer sudah berdiri di samping mobil, bukan di dalamnya. Kemeja hitamnya kusut. Lingkaran gelap menghiasi matanya. Rapat dengan Russo pasti melelahkan. Ada bekas darah tipis di buku jarinya—sudah dibersihkan, tapi Florence yang pernah merawat luka tahu tandanya.

Lucifer tak bercerita. Ia hanya membuka pintu. “Masuk.”

Florence masuk. Jarak tiga meter itu tetap ada. Namun hari ini, ia meletakkan tiga bukunya di tengah. Di ruang kosong antara mereka. Tak sengaja, tapi juga tak ia geser.

Mobil melaju. Hening. Hingga Lucifer bersuara tanpa menoleh.

“Hari pertama... bagaimana?”

Kendaraan melaju dalam bungkam. Hingga akhirnya Lucifer membuka suara, tatapannya tetap lurus ke depan.

“Hari pertama... bagaimana?”

Florence menunduk pada buku di pangkuannya, lalu melirik luar jendela, lalu meremas ujung jarinya sendiri.

“...Berisik,” jawabnya pelan. Jujur. “Tapi... tidak menyakitkan.”

Hanya dua kalimat. Lebih panjang dari kemarin. Dan di dalamnya terselip kata yang selama ini ia takutkan.

Lucifer mengangguk kaku. Namun di balik tulang rusuknya, sesuatu retak pelan. Bukan lapisan es yang selama ini ia pelihara. Melainkan rantai yang ia kunci sendiri.

Ia tak bertanya tentang Dylan. Tak bertanya siapa yang menyapa Florence. Tak bertanya mengapa ia pulang tepat waktu tanpa mampir ke mana-mana. Karena satu kesempatan itu termasuk percaya. Setipis benang, tapi ia pegang.

Di mansion, Florence turun lebih dulu. Sebelum masuk, ia berhenti. Tak menoleh. Tapi bersuara ke udara. Ke Lucifer.

“Besok... jam delapan. Kelas pagi.”

Itu bukan permintaan. Itu pemberitahuan. Izin bagi Lucifer untuk tetap ada di harinya.

Lucifer tak menjawab. Ia masuk mobil setelah Florence lenyap di balik pintu.

“Jalan,” katanya pada Marco.

Di dalam mobil, ia membuka laci. Laporan Vulture tergeletak di sana.

Subjek: Florence. Interaksi: 1. Mahasiswa bernama Dylan Mercer, anak senator. Menyapa. Subjek menjawab singkat, lalu pergi. Tak ada kontak fisik. Tak ada percakapan lanjutan. Status: Aman.

Lucifer membakar kertas itu. Abunya ia buang ke luar jendela.

Dylan Mercer. Anak senator. Ia menyimpan nama itu. Bukan untuk dibunuh. Belum. Hanya untuk diingat. Karena iblis boleh mengalah. Boleh percaya. Tapi iblis tak pernah lupa.

Di kamar, Florence menyeka warna dari bibirnya hingga kembali pucat. Ia tak merasa kehilangan. Besok ia bisa mengulanginya. Besok ia kembali ke kelas. Besok... Lucifer akan menunggunya di gerbang pukul delapan, tanpa perlu ia pinta.

Beku di dadanya belum cair sepenuhnya. Namun hari ini, celah itu tidak retak lagi. Ia melebar satu jengkal.

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!