Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Kamar itu kini pengap oleh aroma gairah, keringat, dan sisa-sisan pergulatan yang emosional. Jam dinding digital di sudut ruangan menunjukkan pukul tiga pagi, namun denyut kehidupan di atas ranjang king size itu belum benar-benar meredup. Cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden memberikan siluet tubuh mereka yang masih menyatu di balik selimut yang berantakan.
Nyx Morrigan terengah-engah, rambut pendeknya basah oleh peluh yang menempel di dahi. Tubuhnya terasa ringan sekaligus remuk, sebuah sensasi asing yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap inci kulitnya terasa sensitif, dan jantungnya masih berdetak dalam irama maraton yang melelahkan.
"Knox... sudah..." bisik Nyx parau. Suaranya hampir hilang, hanya berupa embusan napas di telinga pria itu. "Besok lagi... aku mohon. Aku benar-benar lelah."
Knox, yang berada di atasnya dengan kedua lengan kokoh menopang tubuh, menatap Nyx dengan tatapan yang jauh dari kata mengantuk. Matanya yang hitam berkilat, penuh dengan rasa lapar yang baru saja terpuaskan namun seolah ingin terulang kembali. Ia mengecup ujung hidung Nyx, lalu turun ke bibirnya yang sedikit bengkak karena cumbuannya.
"Aku baru saja merasakannya, Sayang," gumam Knox, suaranya berat dan serak, mengirimkan getaran elektrik ke tulang belakang Nyx. "Masa baru dua kali sudah mau selesai? Kau tahu aku anak teknik, kan? Aku suka melakukan pengujian berulang untuk memastikan semuanya... presisi."
Nyx mendengus lemah, mencoba memukul bahu Knox namun tangannya justru berakhir melingkar di leher pria itu. "Kau gila, Knox. Ini bukan mesin. Ini aku."
"Tentu saja ini kau," Knox menyeringai nakal, mencium perpotongan leher Nyx dan memberikan lumatan kecil di sana. "Dan kau terlalu indah untuk dibiarkan tidur begitu saja. Sekali lagi, hm? Yang terakhir ini. Aku berjanji akan melakukannya dengan sangat pelan."
Nyx menatap mata Knox. Ia melihat gairah, namun di balik itu, ia melihat kekaguman yang tulus. Rasa lelahnya seolah menguap saat melihat betapa Knox memujanya melalui tatapan itu. Tanpa kata, Nyx hanya mengangguk pelan, memberikan izin bisu yang langsung disambut Knox dengan ciuman dalam yang membungkam sisa protesnya.
Kali ini, tidak ada lagi kekacauan teori teknik atau ketergesaan yang menyakitkan. Knox bergerak dengan irama yang jauh lebih tenang, seolah setiap gerakannya adalah untaian kata yang ingin ia sampaikan. Ia memandu Nyx masuk ke dalam gelombang gairah yang lebih dalam, lebih emosional.
Di tengah desah napas yang beradu, suasana di kamar itu mendadak berubah menjadi sangat intim. Knox menatap mata Nyx lekat-lekat, mengunci pandangannya seolah ingin menembus hingga ke dasar jiwa gadis itu.
"Nyx..." bisik Knox di sela napasnya yang memburu. "Dengarkan aku."
Nyx mengerang kecil, mencengkeram lengan Knox saat sensasi nikmat itu kembali merayapi sarafnya. "Hmm?"
"Mulai malam ini," Knox menjeda kalimatnya, memberikan dorongan lembut yang membuat Nyx memejamkan mata rapat-rapat. "Kau bukan lagi gadis yang sendirian di dunia ini. Kau bukan anak simpanan Beckham, kau bukan rahasia Morrigan yang terbuang. Kau adalah duniaku."
Nyx mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Knox. Kata-kata itu lebih tajam dari peluru dan lebih hangat dari selimut mana pun.
"Aku mencintaimu, Nyx," ucap Knox tulus. "Mungkin aku mesum, mungkin aku brengsek di jalanan, tapi untukmu... aku akan menjadi benteng paling kokoh. Siapa pun yang mencoba menyentuhmu, siapa pun yang mencoba membuatmu menangis lagi—termasuk keluargamu sendiri—mereka harus melangkahiku dulu."
Air mata Nyx jatuh, membasahi bantal. Ia menarik kepala Knox ke bawah, menyatukan kening mereka. Di tengah penyatuan fisik yang intens ini, Nyx merasakan jiwanya yang selama ini retak mulai merekat kembali. Janji perlindungan dari Knox terasa seperti mantra yang menghapus semua trauma masa lalunya.
"Aku akan menjagamu, Sayang," bisik Knox lagi, kali ini lebih romantis, hampir seperti doa. "Jangan pernah takut lagi. Kau punya aku. Kau punya tempat untuk pulang. Selamanya."
Puncak gairah itu akhirnya datang, namun kali ini tidak meledak dengan liar. Itu adalah sebuah pelepasan yang manis, panjang, dan penuh perasaan. Knox membenamkan wajahnya di leher Nyx, memeluknya se'erat mungkin seolah tidak ingin ada udara yang lewat di antara mereka.
Lama mereka terdiam dalam posisi itu, hanya mendengarkan detak jantung masing-masing yang perlahan mulai kembali normal. Knox tidak segera beranjak. Ia tetap di sana, menjaga kehangatan mereka, terus membisikkan kata-kata cinta yang selama ini Nyx kira hanya ada dalam buku sastra yang ia pelajari.
"Tidurlah, Nyx Beckham Morrigan-ku," ucap Knox pelan sambil menyelimuti tubuh polos mereka berdua. "Mulai besok, hidupmu hanya akan berisi kebahagiaan. Aku menjaminnya dengan nyawaku."
Nyx tersenyum dalam pelukan Knox, matanya perlahan menutup. Untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidupnya, Nyx tidak lagi merasa takut pada hari esok. Karena di belakangnya, ada sepasang lengan kuat yang siap menahan dunia agar tidak runtuh menimpanya.
Malam itu, di bawah saksi bisu kota Los Angeles, dua jiwa yang patah itu telah menemukan rumah mereka yang sesungguhnya.
🌷🌷🌷
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂