NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Shane

Langkah kaki Aiena yang terbungkus sepatu flatshoes menghantam lantai marmer lobi dengan terburu-buru, menciptakan irama ganjil yang mencerminkan kekacauan di dalam dadanya. Berkat gerakan cepatnya, ia berhasil menyelinap masuk ke dalam lift tepat sebelum pintu logam itu tertutup rapat.

Di dalam kotak besi yang bergerak naik, wanita itu memejamkan mata, berusaha mengusir segala rasa tak nyaman di hati dan tubuhnya akibat apa yang baru dilakukan Haze padanya beberapa menit lalu. Meski banyak karyawan lain bersama dengannya disana, ia tak berinteraksi kali ini. Hanya berusaha tersenyum ramah pada mereka.

Angka digital di atas pintu lift terus berganti hingga mencapai lantai sebelas. Begitu denting singkat terdengar dan pintu terbuka, ia segera melesat keluar, menuju ke ruang divisi pemasaran. 

Kartu lanyard di tangannya ia tempelkan pada mesin absen tepat dua menit sebelum waktu kerja dimulai. Nyaris terlambat. Mungkin benar-benar terlambat jika tidak keburu masuk ke dalam lift tadi.

Usai menyapa beberapa rekan setimnya, Aiena menghempaskan tubuhnya di kursi kerja, sebuah gerakan yang langsung memicu rasa nyeri tajam di bagian bawah tubuhnya. Ia meringis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan denyut rasa sakit itu. 

Segera Aiena menyalakan komputer, ia ingin segera tenggelam dalam kesibukan kerja untuk melupakan apa yang menyambut paginya tadi. Perangkat lunak dibuka, siap untuk membantunya mengerjakan tugas terbaru. Poster produk baru yang akan dirilis minggu depan menjadi pelariannya. Kesepuluh jarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memilih palet warna, mengatur tipografi, dan menyusun elemen visual. 

Aiena memaksakan fokusnya pada pekerjaan itu. Namun tiba-tiba insting buruknya mendadak bangkit. Secara impulsif, ia memutar kursi kerjanya ke arah jendela kaca besar di samping kubikel. Pandangannya meluncur turun, menembus jarak sebelas lantai menuju pelataran di seberang gedung.

Jantung Aiena serasa berhenti berdetak. Di sana, di bawah deretan pohon peneduh yang sama, mobilHaze masih terparkir diam. Pria itu tidak pergi. Ia masih di sana, memantau Aiena dari jarak yang tidak jauh, namun juga tidak begitu dekat.

Tidak mau tertekan dengan itu dan jadi tidak produktif, Aiena memilih untuk duduk kembali di hadapan komputer. Lanjut bekerja. Ia memasang senyum di wajahnya tak hanya agar terlihat baik-baik saja, namun juga untuk membuat hati dan pikirannya menjadi lebih tenang.

***

Aiena sedang menunggu botol minumnya terisi penuh ketika sebuah bayangan pria dewasa berbadan tegap berhenti tepat di sampingnya. 

Itu Shane, bosnya berdiri di sana dengan membawa beberapa map tipis di tangan. Ekspresinya tampak lebih serius daripada biasanya, dengan kening yang sedikit berkerut. Pria itu menumpukan satu tangannya di meja dispenser, memposisikan dirinya sedemikian rupa hingga percakapan mereka tidak terdengar oleh karyawan lain. 

“Di seberang ada mobil mencurigakan. Hitam. Milik pacarmu?” tanya Shane berbisik.

Aiena tersentak kecil, nyaris menumpahkan airnya. “Iya, benar, Pak Shane.”

Shane tidak tampak terkejut, namun rahangnya mengeras seketika. Ia menarik napas panjang, lalu menegakkan punggungnya, memancarkan otoritas yang tenang namun mengancam. Pria itu melirik jam tangannya sejenak sebelum kembali menatap Aiena dengan intensitas yang berbeda.

“Saya akan membereskan itu. Kamu tenang saja. Nanti sore pulang sama saya saja biar aman.”

Tanpa menunggu jawaban, Shane berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar yang penuh tujuan, meninggalkan Aiena yang terpaku menatap punggung bosnya, antara rasa lega dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi jika dua kekuatan itu saling berbenturan.

***

Sesuai instruksi Shane melalui telepon kantor setengah jam yang lalu, begitu jam kantor berakhir, Aiena langsung menuju lift khusus yang membawanya turun ke basement. Begitu pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah, ia langsung dapat melihat sedan hitam mewah Shane mesinnya telah menyala halus. Kaca jendela diturunkan sedikit, Shane memberi isyarat dengan anggukan kepala agar Aiena segera masuk. 

Tanpa membuang waktu dan sebelum ada yang melihat, Aiena masuk ke kursi penumpang depan. Begitu pintu kembali ditutup, ia menghela napas panjang seolah baru saja lolos dari kejaran maut.

“Dia sudah pergi, Na. Satpam memastikan dia nggak berputar-putar di sekitar blok ini lagi,” ujar Shane sambil memindahkan tuas transmisi ke posisi jalan. Mobil itu meluncur tenang keluar dari lantai basement.

“Saya takut dia marah, Shane…”

“Aman. Saya nggak pakai nama kamu. Satpam ngusir dia dengan alasan ketertiban.”

“Makasih ya, Shane…”

Hening sempat menyelimuti kabin selama beberapa menit saat mereka keluar menuju jalan raya. Shane melirik ke arah Aiena yang terus menunduk, tampak gelisah dan banyak pikiran.

“Kenapa nggak putus aja, Na?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Shane, rendah namun penuh selidik. 

Aiena menelan menyandarkan kepalanya ke sandaran jok, wajahnya menatap lurus ke depan, ke jalanan yang mulai ramai.

“Awalnya dia tidak seperti itu, Shane. Kami pacaran sejak SMA. Saya merasa dia sangat mencintai saya.” Wanita itu menjeda, suaranya mulai bergetar. “Tapi perlahan, perhatian itu berubah menjadi penjara. Dia mulai mengatur semuanya, posesif dan pencemburu. Saya pernah minta putus, tapi dia menyakiti saya. Juga terus mengejar saya.”

Shane terdiam, jemarinya mencengkram kemudi lebih erat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat menonjol. Ia bisa merasakan aura keputusasaan yang memancar dari wanita di sampingnya. 

“Memaksakan putus sama saja bunuh diri, Shane…”

Mendengar pengakuan jujur itu, Shane tidak memberikan penghakiman. Ia hanya melambatkan laju kendaraannya, memberikan ruang bagi Aiena untuk bernapas dalam keamanan yang ia tawarkan, sementara otaknya mulai menyusun rencana yang jauh lebih besar untuk memastikan pria itu benar-benar lenyap dari hidup gadis di sampingnya.

Dalam hati, Shane berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Aiena dengan segala apa yang ia bisa. Ia bertekad untuk melepaskan Aiena dari jeratan pacarnya yang posesif dan berbahaya.

***

1
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
Quoari
Iya, udah berapa kali
Wid Sity
lama juga menghilangnya, untung gak dipecat
Quoari: Sembuhnya lama. Ga dipecat karena shane
total 1 replies
Wid Sity
hey, sadar Na. Kamu kesakitan kan gara2 Haze. Jangan luluh
Wid Sity
harusnya kamu minta maaf utk hal lain sat. Gak sadar diri salahnya apa
Quoari: Emang gitu dia. Pinter manipulasi perasaannya aiena
total 1 replies
Wid Sity
tapi kalo kamu meninggal duluan gara2 melakukan hal aneh2. Ortumu lebih terpukul lagi, Na
Quoari: Untungnya nggak terjadi
total 1 replies
Wid Sity
kok Aiena gak mau cerita ya? Kalo cerita kan bisa dibantu. Kalo dipendem sendiri, selamanya akan terjerat dengan Haze dong
Quoari: Percuma, haze yang dibela
total 1 replies
Wid Sity
Haze tu tampang malaikat tapi berhati iblis
Quoari: Betul
total 1 replies
Wid Sity
Haze gila ya, cemburu sama darah daging sendiri. Enggak mau ada anak. Kalo gak mau ada anak, harusnya jangan kawin, sat. Doyan kawin doang, gak mau anaknya
Quoari: Emang egois dan posesif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!