Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ruang IGD – Rumah Sakit
“Cepat! Bilas terus dengan air!” teriak seorang dokter.
Amy terbaring di ranjang, tubuhnya meronta.
“AAAAHHH!! SAKIT!!”
Perawat menahan tangannya.
“Jangan disentuh! Itu akan memperparah lukanya!”
Air terus disiramkan ke sisi wajahnya.
“Pastikan tidak ada sisa zat yang tertinggal!” ujar dokter tegas.
Kulit di sisi wajah Amy tampak memerah dan mulai melepuh.
“Bagaimana matanya?” tanya perawat.
“Masih responsif, tapi iritasi. Terus bilas!” jawab dokter cepat.
Amy menangis histeris.
“Wajahku… wajahku…!”
Beberapa saat kemudian, kondisinya mulai melemah.
“Kita pindahkan ke ruang tindakan,” perintah dokter.
Beberapa jam kemudian – Luar ruang perawatan
Jason Long yang masih duduk di kursi Roda dengan wajah tegang.
Tangannya mengepal, urat di pelipisnya menonjol.
Pintu terbuka.
Seorang dokter keluar, melepas sarung tangannya.
Jason langsung maju.
“Dokter, bagaimana kondisi putriku?” tanyanya tegang.
Dokter menatapnya serius.
“Tuan, saya akan jelaskan secara langsung.”
Jason menahan napas.
“Luka di wajah putri Anda disebabkan oleh zat kimia. Bagian yang terkena adalah sisi wajah, terutama pipi dan area dekat mata.”
“Apakah itu parah?” tanya Jason.
“Termasuk kategori sedang,” jawab dokter jujur. “Tidak mengenai seluruh wajah, tapi cukup dalam untuk merusak lapisan kulit.”
Wajah Jason mengeras.
“Bagaimana dengan matanya?”
“Untuk saat ini, penglihatannya masih aman,” jelas dokter. “Tapi terjadi iritasi berat. Kami masih harus memantau beberapa hari ke depan.”
Jason sedikit lega… tapi tetap tegang. “Apakah dia bisa sembuh total?” tanyanya langsung.
Dokter terdiam sejenak, lalu menjawab tegas,“Tidak bisa kembali 100% seperti semula.”
Suasana langsung hening.
“Namun,” lanjutnya, “dengan operasi dan perawatan lanjutan, kondisi wajahnya bisa sangat membaik.”
“Seberapa jauh membaik?” desak Jason.
“Secara umum, wajahnya masih bisa terlihat normal,” jawab dokter. “Tapi kemungkinan besar akan ada bekas... entah berupa perbedaan warna kulit atau jaringan parut ringan.”
Jason mengepalkan tangan.
“Berarti… tetap ada bekas?”
“Ya,” jawab dokter tanpa menghindar. “Itu tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Hanya bisa diperbaiki dan disamarkan.”
Jason menunduk, napasnya berat. “Berapa kali operasi yang dibutuhkan?” tanyanya.
“Tidak hanya satu,” jelas dokter. “Kemungkinan beberapa tahap. Dimulai dari pemulihan luka, lalu rekonstruksi, dan perawatan lanjutan.”
Dokter menatapnya lebih dalam.
“Yang paling penting sekarang bukan hanya fisik… tapi juga kondisi mentalnya.”
Jason terdiam.
Beberapa detik berlalu…
Lalu ia mengangkat kepala.
Tatapannya dingin.
“Siapa pun yang membuatnya seperti ini…” ucapnya pelan, “akan membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.”
Beberapa saat kemudian
“Tangkap gadis itu,” perintah Jason. “Bawa dia ke hadapanku… dengan cara apa pun.”
Asistennya sedikit ragu.
“Tuan… mengenai masalah ini… Nona Amy yang memulai lebih dulu. Kalau kita bertindak sekarang, saya khawatir—”
“Lalu kenapa kalau Amy yang mulai dulu?!” potong Jason tajam.
Tatapannya penuh amarah.
“Kedua anakku menjadi seperti ini karena gadis sialan itu! Satu cacat, satu lagi terluka. Kirim orang. Tangkap dia. Dan siksa dia perlahan… sampai dia menyerah.”
Asisten itu menunduk.
“Baik, Tuan.”
***
Di sisi lain – Kafe dekat kampus
Colly duduk santai, mengunyah permen karet.
Di depannya, Wilbert terlihat gelisah.
“Colly, kabar tentang Amy sudah menyebar,” katanya serius. “Lukanya cukup parah. Kemungkinan wajahnya akan meninggalkan bekas permanen.”
Ia menatap Colly dalam.
“Aku yakin Jason Long tidak akan tinggal diam. Lebih baik kau tinggal di tempatku untuk sementara.”
Colly tetap santai.
“Selama aku hidup di dunia ini…” ucapnya ringan, “baru kali ini aku bertemu musuh yang begitu… gila.”
Wilbert mengernyit.
“Colly, Jason Long itu kejam. Anak buahnya banyak. Sehebat apa pun dirimu, kau tidak akan mudah menghadapi mereka.”
Ia ragu sejenak.
“Perlu aku hubungi paman dan bibimu?”
Colly langsung menatap tajam.
“Jangan pernah lakukan itu.”
Nada suaranya berubah serius.
“Aku yang memulai semua ini. Aku yang akan menyelesaikannya.”
Ia bersandar.
“Aku tidak ingin keluargaku ikut terlibat. Aku tidak butuh perlindungan.”
Wilbert menghela napas.
“Lalu kau mau apa? Melawan mereka dengan kekerasan?”
Colly tersenyum tipis.
“Siapa bilang aku hanya bisa main kekerasan?” katanya santai." Aku juga bisa mengunakan akal. Tenang saja… dibandingkan dengan Tommy dan Sammo, keluarga Long itu ... hanya seekor semut.”
Sesaat kemudian Colly langsung beranjak dari sana.
Wilbert hanya bisa menatapnya.
“Colly… benar-benar tidak bisa dihentikan…” gumamnya.
***
Tempat Pelatihan Wushu
Suara pukulan bergema di ruangan.
Beberapa murid berlatih dengan serius.
Di sudut...
Micheal berdiri di depan patung kayu.
Duk! Duk! Duk!
Gerakannya cepat. Tepat. Kuat.
Setiap pukulan terdengar keras, penuh tenaga.
Keringat mengalir di wajahnya.
Tatapannya fokus… dingin.
Seolah ia sedang melampiaskan sesuatu.
Seorang murid berhenti sejenak, memperhatikan. “Pelatih… terlihat berbeda hari ini…”
Duk!
Suara pukulan masih bergema di ruangan.
Duk! Duk!
Micheal terus melatih pukulannya pada patung kayu.
Langkah cepat terdengar dari belakang.
Leo, asistennya, masuk dengan wajah serius.
“Tuan muda,” ucapnya pelan.
Micheal tidak langsung berhenti.
“Ada kabar dari keluarga Long.”
Duk!
Pukulan terakhir mendarat.
Baru kemudian Micheal berhenti.
Ia mengambil handuk dan mengelap keringatnya.
“Apa?” tanyanya singkat.
Leo menunduk sedikit.
“Amy Long sebelumnya mencoba menyiramkan air keras ke Colly Shen,” jelasnya. “Namun… dia justru menjadi korban.”
Micheal terdiam.
Tatapannya berubah.
“Kini dia dirawat di rumah sakit. Kondisi wajahnya cukup parah… dan kemungkinan tidak akan pulih sepenuhnya,” lanjut Leo.
Suasana menjadi hening.
Micheal menarik napas pelan. “Dengan sifat Jason Long…” ucapnya tenang, “dia tidak akan tinggal diam.”
Leo mengangguk.
“Benar, Tuan muda. Menurut informasi, Jason sudah mengirim sejumlah anak buahnya untuk mengincar Colly Shen.”
Micheal menatap lurus ke depan.
Matanya dingin.
“Sepertinya…” ucapnya perlahan, “sudah waktunya.”
Leo sedikit terkejut.
“Tuan muda?”
Micheal meremas handuk di tangannya.
“Aku akan menyelesaikan urusan lama dengan keluarga Long.”
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄