kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Masih tidak diterima
Waktu terus berjalan…
Rumah itu tetap berdiri megah, tak berubah sedikitpun dari luar indah, rapi, sempurna, namun di dalamnya ada sesuatu yang tumbuh dengan cara yang tidak seimbang. Valerina Halvard, nama itu perlahan mengisi setiap sudut rumah, tangisnya selalu disambut dengan pelukan dan tawanya dirayakan dengan senyum yang hangat.
Langkah kecilnya diabadikan dalam bingkai-bingkai foto yang kini menghiasi dinding, Ia hadir dengan semua hal yang tidak pernah dimiliki oleh Marsha, tanpa ada yang benar-benar menyadari sejak kapan Selena berubah.
Di hadapan Valerina, ada kelembutan yang dulu tak pernah terlihat senyumnya bukan lagi sekadar formalitas, tatapannya mengandung kehangatan bahkan kebanggaan, Dan hal-hal kecil yang bagi orang dewasa mungkin tak berarti justru menjadi segalanya bagi seorang anak.
Suatu pagi, seorang desainer butik datang membawa beberapa kotak besar. “Koleksi terbaru, Nyonya. Kami siapkan khusus untuk Nona Valerina.”
Kotak-kotak itu dibuka satu per satu, gaun kecil dengan renda halus yang jatuh sempurna dan sepatu mungil dengan pita lembut di atasnya, aksesori kecil yang dirancang dengan detail, seolah memang ditujukan untuk seorang putri. Valerina berdiri di depan cermin, berputar pelan.
“Mama, ini cantik sekali…” suaranya penuh kegembiraan.
Selena tersenyum senyum yang tulus. “Kamu memang pantas mendapatkannya.” Di ambang pintu Marsha berdiri diam, tidak ada yang memanggilnya dan tidak ada yang menyadari kehadirannya, matanya tertuju pada gaun-gaun itu, bukan karena ia ingin memilikinya melainkan karena ia mulai memahami sesuatu bahwa ia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia itu.
Beberapa hari kemudian, pengasuhnya datang membawa beberapa pakaian.“Ini untuk Nona Marsha dari lemari Nona Valerina yang sudah tidak dipakai.” bajunya masih sangat layak, bersih, rapi dan bahkan hampir seperti baru.
Namun tetap saja itu bukan miliknya Marsha menerimanya tanpa sepatah kata, Jemarinya , kain itu perlahan, seolah memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia pahami, tidak ada keluhan ataupun pertanyaan. seakan-akan ia sudah terlalu sering berada di posisi itu, hingga tak lagi merasa perlu berharap lebih.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama.
Jika Valerina terjatuh Selena akan segera menghampiri, memeluknya, menenangkan dengan suara lembut yang nyaris berbisik, Namun ketika Marsha terluka “Pengasuh, tolong lihat anak itu.” Tidak pernah lebih dari itu.
Jika Valerina menginginkan sesuatu keinginannya hampir selalu terpenuhi, bahkan sebelum sempat ia ulangi, namun jika Marsha hanya berdiri sedikit lebih dekat “Jangan mengganggu.” tidak ada nada tinggi tapi matanya menatap penuh kebencian.
—
Suatu sore, hujan turun perlahan di balik jendela besar rumah itu, Valerina duduk nyaman di pangkuan Selena, sebuah buku cerita terbuka di tangan mereka, suara kecilnya mengalun riang, membaca dengan terbata namun penuh semangat, sesekali ia tertawa dan Selena ikut tersenyum.
Sementara itu di sudut ruangan, Marsha duduk diam Ia memeluk boneka lama boneka yang dulunya juga milik Valerina, matanya sesekali melirik ke arah mereka ada sesuatu di sana, sebuah keinginan kecil yang tak pernah benar-benar ia ucapkan, perlahan, ia berdiri langkahnya ringan dan hati-hati, seolah takut suara sekecil apa pun akan mengganggu momen itu.
“Mama…” Suaranya lembut dan ragu.
Selena menjawab tanpa menoleh.
“Iya, Valerina?”
Marsha terdiam sesaat.
“…aku Marsha.”
Baru saat itu Selena menoleh tatapannya turun sekilas lalu kembali pada buku di tangannya, “Ada apa?” jawabnya dengan sangat dingin.
Marsha menggenggam ujung bajunya. “Aku… boleh ikut?”
Hening…
Beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya Valerina hanya melirik sebentar, lalu kembali tenggelam dalam ceritanya, Selena menarik nafas pelan. “Valerina sedang belajar. Jangan mengganggu.”
Namun cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang bahkan belum sempat tumbuh utuh, Marsha mengangguk kecil. “…iya.” tidak ada protes dan tidak ada air mata, ia berbalik, langkah kecilnya mulai menjauh pelan, hampir tanpa suara. Namun kali ini tidak seperti biasanya, jika dulu ia masih menoleh masih menyimpan harapan kecil untuk dipanggil kembali kali ini tidak, Ia berjalan lurus dan tanpa menoleh lagi.
—
Malam itu, untuk pertama kalinya Marsha tidak datang ketika waktu makan tiba, pengasuh menemukannya di kamar, duduk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. “Non, ayo makan ya…”
Marsha menggeleng pelan.
“Aku tidak lapar.”
Padahal perutnya berbunyi pelan namun ada rasa lain yang jauh lebih besar daripada lapar.
Sejak hari itu Marsha mulai berubah lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamarnya, Ia tidak lagi mencoba mendekat dan tidak lagi memanggil “Ibu”. tidak lagi berdiri di ambang pintu, menunggu dilihat.
Ia menjadi lebih diam dan terlalu diam untuk anak seusianya dan tanpa ada yang benar-benar menyadari jarak itu tidak lagi sekadar ada, Ia mulai mengeras, Perlahan namun pasti menjadi dinding yang suatu hari nanti tidak akan mudah dihancurkan.
Musim berganti tanpa benar-benar terasa Marsha tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya, bukan karena waktu yang mempercepatnya melainkan keadaan yang memaksanya, Di usia lima tahun, ia sudah terlalu terbiasa mengurus dirinya sendiri, sudah sangat mandiri makan tanpa harus disuapi, bermain tanpa harus ditemani, bahkan terjatuh tanpa benar-benar berharap akan ada yang datang.
Namun hari itu tubuh kecilnya akhirnya menyerah demam datang sejak pagi, awalnya hanya hangat lalu perlahan meningkat, Pengasuhnya menyadari perubahan itu saat Marsha tidak menyentuh sarapannya. “Non… tidak mau makan?”
Marsha menggeleng pelan. “Aku tidak lapar…” suaranya lemah, tidak seperti biasanya,
Pengasuh itu mendekat, menyentuh keningnya dan seketika raut wajahnya berubah, terlalu panas untuk ukuran anak seusianya. “Ya Tuhan…” Ia segera membawakan kompres, memberi obat penurun demam, mencoba menenangkan.
Namun menjelang siang keadaan tidak membaik tubuh kecil itu justru semakin lemah, nafasnya mulai berat, matanya setengah terpejam dengan panik, pengasuh itu mencoba menghubungi Selena. Namun jawabannya hanya singkat. “Aku sedang ada meeting penting. Urus saja dulu.” tidak ada pertanyaan lanjutan ataupun kekhawatiran yang terdengar.
Pengasuh itu menahan nafas sejenak tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.
“Baik, Nyonya…” Namun hatinya terasa jatuh, ia juga merasakan sakitnya karena dirinyalah yang mengasuh Marsha sejak bayi.