NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Keheningan di dalam ruang kerja CEO Dirgantara Group terasa semakin pekat, namun kali ini bukan oleh tekanan bisnis, melainkan oleh debar jantung dua orang yang telah terpisah selama seribu hari. Cahaya matahari sore menerobos melalui jendela kaca besar, membiaskan warna jingga yang hangat pada wajah Adel yang merona.

Devan tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. Ia telah menjadi singa di dunia bisnis, namun di hadapan Adel, ia hanyalah pria yang dahaga akan pengakuan. Tangannya yang besar perlahan menyusuri garis rahang Adel, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah gadis itu dengan gerakan yang memabukkan.

"Kau terlalu banyak bicara soal bisnis, Adel," bisik Devan, suaranya kini serak dan rendah, penuh dengan kerinduan yang hampir meledak. "Tidakkah kau tahu? Seluruh kontrak triliunan ini tidak ada harganya dibanding satu detik kau menatapku seperti ini."

Adel menahan napas. Logikanya yang biasanya setajam silet kini tumpul seketika. Jarak di antara mereka terkikis. Aroma maskulin Devan—campuran antara kayu cendana dan aroma kekuasaan—memenuhi indra penciumannya. Saat wajah Devan semakin merunduk, Adel secara tidak sadar memejamkan matanya, membiarkan jemarinya mencengkeram jas mahal yang dikenakan pria itu.

Bibir Devan hampir saja menyentuh milik Adel. Hanya tinggal satu milimeter lagi. Sebuah janji tiga tahun yang akan segera lunas—

*BRAKKKK!*

Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu terbanting keras hingga menghantam dinding. Suara benturan itu menggema seperti ledakan di dalam ruangan yang sunyi.

"DEVAN! APA-APAAN INI?!"

Adel tersentak hebat, seolah tersengat listrik. Ia segera mendorong dada Devan dan mundur beberapa langkah dengan napas tersengal. Wajahnya merah padam, bukan lagi karena romansa, melainkan karena kaget dan malu yang luar biasa.

Devan berdiri mematung, kepalan tangannya mengeras di samping tubuh. Ia perlahan memutar tubuhnya, matanya berkilat penuh amarah yang sangat mematikan. Di ambang pintu, Clarissa berdiri dengan napas memburu, wajahnya tertutup riasan tebal yang kini tampak retak karena emosi. Ia mengenakan gaun sutra pendek yang terlalu mencolok untuk suasana kantor.

"Clarissa," desis Devan. Suaranya terdengar seperti geraman serigala yang mangsanya baru saja diganggu. "Berani sekali kau menyentuh pintuku tanpa izin."

Clarissa mengabaikan peringatan itu. Matanya beralih ke arah Adel, menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan penghinaan. "Aku sudah menduganya! Aku tahu ada alasan kenapa kau mengunci diri di sini! Dan ternyata benar... kau sedang bersama gembel ini!"

Clarissa melangkah masuk, suara sepatu hak tingginya berdentum provokatif di atas lantai marmer. Ia menunjuk wajah Adel dengan jarinya yang gemetar.

"Heh, buruh IT! Dasar murahan!" teriak Clarissa. "Kau pikir dengan sedikit kepintaran kode-kodemu itu, kau bisa menggoda tunanganku? Kau lupa posisi? Kau itu hanya staf teknis yang kebetulan dapat proyek karena belas kasihan Dirgantara!"

Adel yang sudah kembali tenang, melipat tangannya di dada. Ia menatap Clarissa dengan pandangan datar, seolah sedang melihat serangga yang berisik. "Nona Clarissa Mahendra... jika saya adalah buruh IT, maka Anda adalah apa? Seorang pengangguran yang hobinya mendobrak pintu orang lain?"

"JAGA MULUTMU!" Clarissa berteriak histeris. Ia menoleh pada Devan, mencoba memasang wajah memelas. "Devan, sayang, kau lihat kan betapa tidak sopannya dia? Dia itu anak panti yang tidak tahu diri! Dia mencoba merayumu agar perusahaannya yang kecil itu tidak bangkrut. Kita ini tunangan, Devan! Keluarga kita sudah sepakat!"

Devan tertawa. Sebuah tawa yang sangat dingin hingga membuat suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. Ia melangkah mendekati Clarissa, memaksa wanita itu mundur karena aura intimidasi yang begitu besar.

"Tunangan?" Devan mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Clarissa, sepertinya otakmu perlu diperiksa. Pertunangan itu sudah mati di detik aku tahu kau bukan darah daging Mahendra yang asli. Dan bahkan jika kau adalah seorang putri raja sekalipun, aku tidak akan pernah sudi menyentuh wanita sepertimu."

"Tapi Ayah bilang—"

"Aku tidak peduli apa yang dikatakan Tuan Mahendra!" Devan memotong dengan bentakan yang membuat Clarissa terlonjak. "Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya. Adelard adalah klien kehormatanku. Dia adalah CEO A-Shield, perusahaan yang nilai teknologinya lebih tinggi dari seluruh aset yang kau miliki. Dan yang paling penting..."

Devan kembali menoleh pada Adel, tatapannya melembut sesaat sebelum kembali tajam pada Clarissa.

"...dia adalah satu-satunya wanita yang punya hak untuk berada di ruangan ini. Sementara kau? Kau hanyalah sampah masa lalu yang lupa dibuang."

Wajah Clarissa memucat. "Kau... kau menghinaku demi dia? Demi anak buangan ini?!"

"Dia bukan anak buangan," sela Devan, ia melangkah ke sisi Adel dan secara posesif merangkul pinggang gadis itu di depan mata Clarissa. "Dia adalah ratu yang sedang membangun takhtanya. Dan kau, Clarissa... kau hanyalah penonton yang sebentar lagi akan melihat bagaimana keluargamu jatuh di tangannya."

Adel menatap tangan Devan di pinggangnya. Ia merasa terlindungi, namun ia juga tahu ini saatnya menunjukkan taringnya sendiri. Adel maju satu langkah, melepaskan diri dari rangkulan Devan untuk berdiri tepat di depan Clarissa.

"Clarissa," ucap Adel dengan nada yang sangat tenang namun menusuk. "Kau selalu menghinaku sebagai buruh IT, gembel, atau anak panti. Tapi taukah kau? Buruh IT inilah yang sekarang memegang kunci keamanan data perusahan ayahmu. Buruh IT inilah yang bisa menghancurkan reputasi Mahendra Group hanya dengan satu klik jika aku mau."

Adel tersenyum tipis, sebuah senyuman pemenang yang membuat Clarissa gemetar. "Sekarang, keluar dari sini sebelum aku membatalkan seluruh kontrak kerja sama dengan perusahan ayahmu dan membiarkan kalian membusuk di jalanan. Dan oh... jangan pernah sebut dirimu tunangan Devan lagi. Itu membuat telingaku sakit karena mendengar kebohongan yang begitu murah."

Clarissa mendesis, wajahnya merah padam menahan malu. "Kalian... kalian akan menyesal! Aku akan bilang pada Ibu! Aku akan bilang pada Ayah kalau kau berselingkuh dengan jalang ini, Devan!"

"Silakan," jawab Devan acuh tak acuh. "Satpam! Seret wanita ini keluar dan pastikan dia tidak pernah bisa menginjakkan kaki di gedung Dirgantara selamanya!"

Dua petugas keamanan bertubuh besar segera masuk dan memegang lengan Clarissa.

"LEPASKAN! KALIAN TAHU SIAPA AKU?! DEVAN! ADEL! AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN!" teriakan Clarissa perlahan menghilang seiring diseretnya dia keluar dari koridor eksekutif.

Setelah pintu kembali ditutup, suasana kembali hening. Namun, momen romantis yang tadi sempat memuncak kini telah menguap, digantikan oleh sisa-basi kemarahan.

Adel menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk membahas 'pertanggungjawaban rindu', Tuan Dirgantara."

Devan menggeram frustrasi, ia memukul telapak tangannya ke dinding. "Sialan. Wanita itu benar-benar perusak suasana. Aku seharusnya sudah memenjarakannya sejak dulu."

Adel tertawa kecil, ia berjalan menuju meja dan mengambil tasnya. "Aku harus kembali ke kantor. Timku sedang menungguku untuk laporan akhir."

Devan segera mencegat Adel di depan pintu. "Tunggu. Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah membuatku 'digantung' seperti ini, Adelard."

Adel menatap Devan dengan tatapan menggoda. "Tiga tahun kau bisa menunggu, Devan. Apa susahnya menunggu beberapa hari lagi? Buktikan padaku kau bisa menangani gangguan seperti Clarissa dan keluargaku, baru aku akan mempertimbangkan untuk melanjutkan... diskusi kita yang tadi."

Devan menghela napas pasrah, namun ia menarik tangan Adel dan mencium punggung tangannya dengan sangat lama. "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika nanti aku menagihnya dengan bunga yang sangat tinggi."

Adel hanya tersenyum dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia merasa sangat puas. Bukan hanya karena proyek besar itu, tapi karena ia tahu, pria paling kuat di negeri ini benar-benar bertekuk lutut di bawah kakinya. Dan untuk Clarissa? Itu hanyalah pemanasan sebelum kehancuran yang sesungguhnya dimulai.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!