Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Seragam Putih Abu-Abu dan Penjara Berlapis Emas
Waktu adalah arsitek yang paling kejam sekaligus paling adil. Ia bisa meruntuhkan sebuah bangunan kokoh dalam semalam, namun di sisi lain, ia juga bisa membangun sebuah mahakarya dari puing-puing kehancuran, batu bata demi batu bata, tahun demi tahun.
Tiga tahun telah berlalu sejak masa SMP yang penuh dengan peluh, tangis tertahan, dan sepatu bersol menganga. Angin masa lalu telah menyapu bersih aroma apak dari rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter itu, menggantikannya dengan aroma pinus dari pengharum ruangan otomatis di sebuah rumah mewah berlantai dua yang berdiri megah di salah satu kawasan elit kota.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca patri di kamar Anandara, membiaskan cahaya warna-warni ke atas lantai marmer yang mengkilap. Anandara Arunika, yang kini telah menginjak usia enam belas tahun, berdiri di depan cermin besar berbingkai kayu jati. Ia tengah mengancingkan seragam putih abu-abunya dengan gerakan pelan dan metodis. Seragam itu disetrika licin, baunya harum oleh pewangi pakaian mahal, dan di kakinya kini terpasang sepatu pantofel kulit hitam keluaran merek ternama yang solnya tidak akan pernah lepas meski dipakai berlari memutari lapangan bola puluhan kali.
Dunia Anandara telah berputar seratus delapan puluh derajat.
Pak Dirga tidak sekadar "bangkit". Pria itu melesat seperti roket yang telah lama mengumpulkan bahan bakar. Dedikasinya sebagai drafter, ketajamannya dalam merancang struktur, dan kerja kerasnya siang-malam telah membawanya mendirikan kembali perusahaannya sendiri. Kini, ia bukan lagi kuli bangunan atau mandor yang menunggu upah mingguan. Ia adalah Direktur Utama PT. Dirga Rancang Bangun, sebuah perusahaan konstruksi dan arsitektur raksasa yang memenangkan banyak tender proyek pemerintah dan swasta.
Namun, saat Anandara menatap pantulan dirinya di cermin, ia tidak melihat sosok seorang tuan putri yang bahagia. Wajahnya yang kini tumbuh menjadi sangat cantik—dengan rahang yang tegas, hidung bangir, dan mata hitam legam yang dalam—terlihat sedingin es di kutub utara. Kekayaan tidak menyembuhkan lukanya. Kemewahan tidak mengembalikan kepercayaannya pada manusia. Rumah mewah ini baginya hanyalah sebuah penjara berlapis emas; tempat yang aman dari kemiskinan, namun tetap kosong secara emosional.
"Nanda! Turun, Sayang! Sarapan sudah siap!"
Suara Pak Dirga terdengar dari lantai bawah, menggema melewati tangga marmer yang melingkar elegan. Anandara meraih tas punggungnya—yang kini terbuat dari bahan kanvas premium tanpa ritsleting rusak—dan melangkah keluar kamar.
Di ruang makan yang luas, sebuah meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada roti panggang, telur orak-arik, sosis, buah-buahan segar, dan segelas susu almond. Sangat kontras dengan setengah butir telur mata sapi gosong yang dulu selalu menjadi menu wajib mereka. Pak Dirga duduk di ujung meja, mengenakan setelan jas navy yang pas di badan, membaca berita bisnis dari tabletnya.
"Pagi, Pak," sapa Anandara datar, menarik kursi di sebelah ayahnya.
"Pagi, Anak Gadis Bapak yang paling cantik," Pak Dirga meletakkan tabletnya dan tersenyum hangat, sebuah senyum yang kini terlihat jauh lebih muda dan tanpa beban. "Hari ini hari pertamamu masuk SMA favorit itu, kan? Bagaimana perasaanmu? Gugup?"
"Tidak ada yang perlu digugupkan, Pak. Silabus pelajaran SMA sudah Nanda pelajari sebagian saat liburan semester kemarin. Dinamika sosialnya juga pasti sama saja dengan SMP, hanya melibatkan individu dengan hormon yang sedikit lebih tidak stabil," jawab Anandara seraya mengoleskan selai stroberi ke atas rotinya dengan takaran yang presisi.
Pak Dirga tertawa pelan, meski ada sebersit kekhawatiran di matanya. Putrinya terlalu kaku, terlalu rasional untuk remaja seusianya. "Bukan pelajarannya, Nduk. Maksud Bapak, lingkungan barunya. Teman-teman baru. Anak laki-laki yang mungkin akan mulai mencuri pandang padamu."
Gerakan tangan Anandara terhenti. Matanya menatap tajam ke arah ayahnya. "Nanda ke sekolah untuk belajar dan mengumpulkan portofolio nilai agar bisa masuk universitas terbaik, Pak. Nanda akan membantu mengurus perusahaan Bapak nanti. Nanda tidak punya waktu untuk hal-hal irasional seperti... anak laki-laki."
"Nanda..." Pak Dirga menghela napas panjang. Ia meraih tangan putrinya yang terasa dingin. "Bapak tahu masa lalu kita berat. Bapak tahu apa yang dilakukan ibumu... meninggalkan bekas yang dalam. Tapi Bapak sudah memaafkan, Nduk. Bapak sudah melangkah maju. Kamu juga berhak bahagia. Kamu berhak merasakan masa muda yang normal. Jatuh cinta, patah hati, menangis karena pacar... itu semua bagian dari kehidupan."
Anandara menarik tangannya perlahan. "Bapak boleh melangkah maju dan memaafkan. Tapi Nanda tidak akan pernah lupa. Cinta itu ilusi yang diciptakan otak untuk membenarkan kelemahan manusia. Nanda tidak akan pernah membiarkan diri Nanda menjadi lemah. Cukup Bapak yang hancur dulu, Nanda tidak akan."
Pak Dirga terdiam. Kata-kata putrinya selalu tajam dan tepat sasaran, menembus langsung ke ulu hatinya. Rasa bersalah kembali merayap, menyadari bahwa kegagalannya mempertahankan rumah tangga dulu telah membunuh jiwa gadis kecilnya.
Suara klakson mobil dari luar memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Itu pasti Sinta," ucap Anandara, suaranya kembali datar, seolah perdebatan barusan tidak pernah terjadi. Ia menghabiskan susunya dalam satu tegukan. "Nanda berangkat dulu, Pak. Sopir sudah menunggu di luar."
Anandara mencium tangan ayahnya dan berjalan keluar. Di depan rumah, sebuah mobil sedan hitam mengkilat sudah menanti, lengkap dengan seorang sopir yang membukakan pintu untuknya. Di kursi belakang, seorang gadis dengan jepit rambut warna-warni yang mencolok—benar-benar melanggar aturan tata tertib sekolah—tengah melambaikan tangan dengan antusias.
"Haloo, Nyonya Besar! Selamat datang di hari pertama masa putih abu-abu!" seru Sinta begitu Anandara duduk di sebelahnya.
Persahabatan mereka tidak tergerus oleh perubahan status sosial. Bagi Sinta, Anandara tetaplah Anandara yang kaku dan menyebalkan namun selalu membantunya mengerjakan PR matematika. Dan bagi Anandara, Sinta adalah satu-satunya manusia—selain ayahnya—yang tidak memiliki motif tersembunyi. Sinta tidak peduli Anandara miskin atau kaya raya; Sinta hanya peduli apakah Anandara sudah makan bekalnya atau belum.
"Jepit rambutmu melanggar aturan, Sinta. Guru BK akan menyitamu sebelum kau sempat melewati gerbang," tegur Anandara sambil memakai sabuk pengaman.
"Yah, namanya juga hari pertama, Nan. Harus tampil badai mempesona! Siapa tahu ada kakak kelas tampan yang langsung fall in love at the first sight sama gue," Sinta terkikik geli, membenarkan letak jepit rambutnya yang berbentuk bunga matahari kecil. "Eh, by the way, lo kok auranya suram banget sih pagi-pagi? Abis debat lagi sama bokap lo soal cowok ya?"
"Bukan urusanmu."
"Dih, mulai deh mode kulkas dua pintunya nyala," Sinta mencibir, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Anandara, menyenggol bahu sahabatnya itu. "Nan, lo sadar nggak sih kalau lo itu sekarang makin cantik? Lo nggak bisa selamanya pasang wajah jutek begitu. Di SMA ini banyak cowok-cowok keren dari berbagai penjuru kota. Lo nggak mau gitu nyicipin satu aja? Yang kapten basket kek, atau yang pinter dewa dari klub sains?"
"Mereka semua sama saja, Sinta. Manusia digerakkan oleh insting primitif. Hari ini mereka bilang cinta, besok saat menemukan yang lebih menarik, mereka akan pergi," ucap Anandara dingin. Matanya menatap lurus ke jalanan kota yang mulai padat. "Aku tidak akan membuang waktuku untuk drama murahan seperti itu."
Sinta menghela napas, bersandar kembali ke kursinya. Ia sudah ribuan kali mendengar mantra kebencian Anandara terhadap cinta, namun ia tidak pernah lelah mencoba mendobraknya. "Iya, iya, Nyonya Logika. Tapi awas aja kalau suatu saat nanti lo kemakan omongan lo sendiri. Gue bakal ketawa paling keras pakai toa masjid!"
"Itu tidak akan pernah terjadi."
SMA Negeri 1, sekolah terfavorit di kota itu, dipenuhi oleh ratusan siswa baru yang mengenakan seragam rapi. Bangunan sekolahnya megah, dengan lapangan basket indoor, laboratorium lengkap, dan perpustakaan tiga lantai. Bersekolah di sini adalah sebuah prestise tersendiri.
Begitu Anandara dan Sinta turun dari mobil mewah yang mengantar mereka, puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah mereka. Namun, yang menjadi pusat perhatian utama tentu saja adalah Anandara. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, rambut hitam panjangnya yang berkibar pelan ditiup angin, dan auranya yang dingin serta tak terjangkau membuat banyak siswa laki-laki seketika menahan napas. Ia berjalan melewati koridor seolah ia adalah ratu es yang tengah menginspeksi daerah kekuasaannya.
"Tuh kan, gue bilang juga apa," bisik Sinta sambil menyamai langkah panjang Anandara. "Baru masuk gerbang aja udah banyak yang matanya mau copot ngelihatin lo. Lo harus siap-siap kebanjiran surat cinta nih, Nan."
"Abaikan saja. Mereka hanya buang-buang energi," balas Anandara acuh tak acuh.
Hari-hari pertama di SMA diisi dengan Masa Orientasi Siswa (MOS). Jika bagi siswa lain MOS adalah masa yang melelahkan dan penuh tekanan dari kakak kelas, bagi Anandara, itu hanyalah rentetan tugas tidak efisien yang ia selesaikan dengan sangat mudah. Ketegasannya, kecerdasannya, dan tatapan matanya yang tajam bahkan membuat beberapa kakak kelas senior yang berniat mengerjainya menjadi segan dan mundur teratur.
Di sinilah dinamika masa SMA itu mulai terbentuk dengan jelas. Anandara dengan cepat menjadi legenda di sekolah: siswi kelas sepuluh yang cantik luar biasa, pewaris perusahaan raksasa, cerdas tidak ketulungan, namun berhati sedingin es. Tidak ada yang berani mendekatinya, kecuali Sinta, yang entah bagaimana selalu menempel padanya seperti parasit yang kebal terhadap suhu minus derajat celcius.
Hingga suatu hari, di bulan Februari, tepat pada hari Valentine. Tradisi bertukar cokelat dan bunga sangat kental di sekolah itu.
Saat jam istirahat kedua, Anandara dan Sinta sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon beringin besar di tepi lapangan basket. Sinta sedang asyik memakan cokelat-cokelat yang ia beli sendiri—karena tidak ada yang memberinya—sementara Anandara sedang membaca buku tebal tentang Pengantar Ilmu Ekonomi Makro.
Tiba-tiba, seorang siswa laki-laki tinggi besar menghampiri mereka. Ia adalah Kak Raka, kapten tim basket kelas dua belas yang menjadi idola hampir seluruh siswi di sekolah. Wajahnya tampan, senyumnya menawan, dan dadanya membusung penuh percaya diri. Di tangannya terdapat sebuket mawar merah dan sekotak cokelat mahal berbentuk hati.
Sinta nyaris tersedak cokelatnya sendiri melihat sang kapten basket berdiri tepat di depan meja mereka.
"Permisi, Anandara," Raka menyapa dengan suara baritonnya yang lembut, sebuah senyum maut tersungging di bibirnya. Beberapa siswi yang menonton dari kejauhan mulai berbisik-bisik histeris.
Anandara tidak langsung mendongak. Ia menyelesaikan kalimat di paragraf yang sedang dibacanya, menandai halamannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang sangat datar. "Ya? Ada keperluan apa?"
Raka berdeham pelan, berusaha menjaga kharismanya meski tatapan dingin Anandara entah mengapa membuatnya sedikit gugup. Ia menyodorkan bunga dan cokelat itu. "Aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama MOS. Kamu berbeda dari gadis-gadis lain. Kamu pintar, cantik, dan penuh misteri. Ini untukmu. Selamat hari Valentine. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan malam akhir pekan ini."
Keheningan menyelimuti area di bawah pohon beringin itu. Sinta menahan napas. Ini adalah momen yang mendebarkan. Kapten basket mengajak jalan Nyonya Es!
Namun, Anandara tidak menyentuh buket bunga apalagi cokelat itu. Matanya memindai Raka dari ujung rambut hingga ujung kaki, seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesies serangga baru di bawah mikroskop.
"Kak Raka, benar?" suara Anandara mengalun tenang, tanpa intonasi, tanpa emosi. "Kapten basket kelas dua belas."
"Benar," Raka tersenyum semakin lebar, merasa bahwa Anandara ternyata mengenalnya.
"Berdasarkan probabilitas dan data statistik yang aku amati," Anandara mulai berbicara, suaranya cukup keras untuk didengar oleh siswa-siswa yang berkerumun di sekitar mereka, "Kakak telah putus nyambung dengan tiga perempuan berbeda dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Rata-rata durasi hubungan Kakak adalah tiga koma lima bulan. Alasan putusnya selalu sama: Kakak bosan dan menemukan adik kelas yang 'lebih menarik'."
Senyum di wajah Raka seketika luntur. Wajahnya berubah menjadi sedikit pucat. Bisik-bisik di sekitar mereka kini berubah menjadi kasak-kusuk yang penuh keterkejutan.
Anandara melanjutkan, sama sekali tidak peduli pada harga diri sang kapten yang sedang dihancurkan. "Bunga mawar merah melambangkan hasrat sesaat yang dipengaruhi oleh hormon dopamin dan oksitosin di otakmu, yang akan memudar dalam waktu kurang dari enam bulan. Cokelat itu penuh gula yang hanya akan menyebabkan lonjakan insulin tanpa manfaat nutrisi yang jelas. Dan ajakan makan malammu hanyalah langkah awal dari sebuah pola manipulasi berkedok 'peduli' yang pada akhirnya akan berujung pada pengkhianatan emosional."
Sinta menepuk jidatnya sendiri. Astaga naga, Nanda, lo benar-benar membantai orang ini tanpa ampun, batin Sinta.
"Jadi," Anandara menyandarkan punggungnya ke bangku, menatap tajam ke mata Raka yang kini memerah karena malu dan marah, "Jawaban saya adalah tidak. Saya tidak berminat membuang waktu saya untuk menjadi angka statistik tambahan dalam sejarah hubungan dangkal Anda. Bawa kembali barang-barang ini sebelum saya membuangnya ke tempat sampah organik."
Raka berdiri mematung selama beberapa detik. Harga dirinya hancur lebur di depan publik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik, membawa kembali bunga dan cokelatnya, dan berjalan pergi dengan langkah lebar-lebar menahan amarah yang meledak-ledak.
Begitu Raka pergi, suasana hening sesaat sebelum kembali riuh oleh obrolan takjub dan ngeri dari para penonton. Anandara dengan tenang membuka kembali buku ekonominya seolah ia baru saja mengusir lalat yang mengganggu.
Sinta menatap sahabatnya itu dengan mulut setengah terbuka. "Nan... lo gila ya? Lo baru aja nolak Raka, kapten basket, pakai presentasi data statistik? Lo bener-bener nggak punya hati! Kasihan anak orang, mukanya udah kayak kepiting rebus gitu."
"Dia butuh fakta, aku memberikannya fakta," jawab Anandara santai membalik halaman bukunya. "Kenapa aku harus berbaik hati pada orang yang jelas-jelas punya rekam jejak sebagai pengkhianat? Laki-laki yang mudah mengatakan cinta pada pandangan pertama adalah laki-laki yang paling mudah pergi saat pandangan kedua."
"Tapi kan nggak usah dipermalukan di depan umum gitu, Nanda," Sinta menggeser duduknya mendekat, nadanya berubah serius. "Gue tahu lo punya trauma. Gue tahu apa yang nyokap lo lakuin ke bokap lo itu nyakitin banget. Tapi nggak semua laki-laki di dunia ini kayak nyokap lo, Nan. Lo nggak bisa terus-terusan ngebangun tembok dan nembakin meriam ke siapa aja yang nyoba mendekat."
Mendengar kata 'trauma' dan referensi tentang ibunya, tubuh Anandara menegang. Ia menutup bukunya dengan kasar. "Kau pikir aku berlebihan?"
"Gue pikir lo ketakutan, Nan," jawab Sinta lembut, tangannya terulur menggenggam tangan Anandara yang terkepal erat. "Lo takut disakiti, jadi lo menyakiti orang duluan. Lo pakai logika lo sebagai tameng karena lo takut hati lo yang hancur itu hancur untuk kedua kalinya."
Napas Anandara sedikit memburu. Ia benci dianalisa. Ia benci saat Sinta bisa membaca bagian terdalam dari jiwanya yang mati-matian ia sembunyikan dari dunia luar. Namun anehnya, hanya pada Sinta ia bisa mentolerir hal ini.
"Kau tidak mengerti, Sinta," bisik Anandara, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang dipaksanya diam. "Kalau aku membiarkan ada celah sedikit saja... mereka akan masuk dan menghancurkan apa yang sudah susah payah kubangun bersama ayahku. Ibuku menghancurkan keluargaku atas nama cinta. Cinta itu racun, Sin. Aku lebih baik tidak punya hati daripada harus meminum racun itu."
Sinta menatap mata legam sahabatnya itu. Di balik tatapan tajam nan mematikan yang ditakuti seluruh SMA, Sinta melihat seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang masih berdiri mematung di malam hujan badai, menangisi kehancuran keluarganya.
"Oke," Sinta memeluk bahu Anandara dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu gadis yang kaku itu. "Gue nggak akan maksa lo buka hati sekarang. Tembok lo emang setebal Tembok Besar Cina. Tapi ingat janji gue waktu SMP dulu? Gue akan selalu jadi pelindung lo. Kalau lo butuh rumah yang aman tanpa ada kebohongan cowok-cowok caper, lo selalu punya gue."
Pelukan hangat Sinta perlahan mengendurkan ketegangan di otot-otot tubuh Anandara. Dinding esnya mungkin tebal, tapi Sinta selalu tahu cara menyalakan api unggun kecil di baliknya. "Terima kasih," gumam Anandara nyaris tak terdengar.
Dinamika itu terus berlanjut sepanjang masa SMA. Mereka adalah dua kutub yang bertolak belakang namun tidak bisa dipisahkan. Sinta yang cerewet, aktif di klub teater, nilai pas-pasan, dan sering gonta-ganti naksir kakak kelas meski selalu berakhir patah hati konyol. Dan Anandara, si jenius berhati dingin, juara umum sekolah berturut-turut, tidak pernah mengikuti kegiatan sosial, dan menolak puluhan laki-laki dengan cara yang semakin kreatif dan brutal.
Tentu saja, masa SMA tidak lengkap tanpa kehadiran "musuh bebuyutan". Jesica dan Kiera, yang ironisnya juga masuk ke SMA yang sama, masih sering mencari gara-gara. Namun, strategi mereka harus berubah drastis. Dulu di SMP, mereka bisa menghina sepatu jebol dan kemiskinan Anandara. Sekarang? Mobil Anandara jauh lebih mahal dari mobil ayah Jesica, dan sumbangan Pak Dirga untuk sekolah membuat nama Anandara tidak tersentuh secara finansial maupun akademis.
Karena tidak bisa menyerang secara fisik atau finansial, Jesica dan Kiera menyebarkan rumor jahat. Saat kelas dua belas, rumor menyebar bahwa Anandara menggunakan kekayaan ayahnya untuk membeli kunci jawaban ujian, atau bahwa alasan Anandara tidak punya pacar adalah karena ia menyukai sesama jenis, yakni Sinta.
Suatu hari di kantin, rumor itu terdengar langsung oleh Sinta saat ia sedang memesan bakso. Kiera yang berdiri di belakangnya sengaja berbicara keras-keras kepada Jesica.
"Pantesan aja nolak cowok seganteng Kak Raka dulu. Ternyata selera si Nanda itu cewek bawel yang miskin prestasi," sindir Kiera tajam, memicu tawa dari teman-teman di sekitarnya.
Anandara yang duduk tak jauh dari sana mendengarnya. Ia meletakkan garpunya, wajahnya datar, siap untuk menghampiri mereka dan menghancurkan harga diri Kiera dengan fakta-fakta menyakitkan tentang ayah Kiera yang baru saja terkena kasus penggelapan pajak—informasi yang Anandara dapatkan dari jaringan bisnis ayahnya. Ia sudah mengumpulkan pelurunya.
Namun, sebelum Anandara sempat berdiri, Sinta sudah berbalik. Gadis cerewet itu menyiramkan kuah bakso yang masih panas—untungnya tidak mendidih, hanya cukup membuat kaget dan kotor—ke sepatu putih mahal milik Kiera.
"Aaaarrggh! Sinta gila! Lo apa-apaan sih?!" jerit Kiera histeris melompat mundur.
"Ups, sori, tangan gue licin," Sinta tersenyum miring, senyum yang entah mengapa terlihat sangat mirip dengan senyum sinis Anandara. Tiga tahun bersama membuat Sinta tertular sedikit ketajaman sahabatnya. "Gue cuma mau bersihin mulut lo yang kotor itu, tapi meleset ke sepatu. Maklum, miskin prestasi."
Jesica maju membela temannya. "Lo itu ya! Benar-benar nggak tahu diri! Kalian berdua emang aneh. Nanda si robot tanpa hati dan lo si anjing penjaganya. Menjijikkan!"
Sinta melangkah maju, memangkas jarak, tatapannya menyalang penuh tantangan. "Lebih menjijikkan mana sama orang yang kerjaannya cuma ngurusin hidup orang lain karena hidupnya sendiri terlalu menyedihkan dan kosong? Nanda nggak butuh ngerendahin orang buat ngerasa tinggi kayak kalian. Dan kalau lo berani nyebarin rumor murahan itu lagi, gue pastikan bukan kuah bakso yang tumpah ke sepatu lo, tapi riwayat absen lo yang bakal tumpah ke ruang kepala sekolah!"
Kantin hening. Ancaman Sinta tidak main-main. Semua orang tahu, meski Sinta bawel, ia tidak pernah takut pada siapapun, apalagi jika itu menyangkut keselamatan Anandara.
Jesica dan Kiera akhirnya menyingkir dengan wajah merah padam, menggerutu dan mengumpat, tak berani memperpanjang masalah.
Sinta kembali ke meja Anandara dengan napas memburu, menggebrak meja sedikit keras sebelum duduk. "Dasar ulat bulu! Bikin selera makan gue hilang aja!"
Anandara menatap Sinta lamat-lamat. Tadi, ia sudah siap dengan peluru logikanya untuk menghancurkan Kiera, tapi Sinta memilih menggunakan cara fisik yang barbar untuk membelanya. "Kau tidak perlu melakukan itu, Sinta. Aku punya cara yang lebih elegan untuk membungkam mereka tanpa harus mengotori tanganmu."
"Cara elegan lo itu terlalu lama, Nan. Kadang orang-orang kayak gitu butuh syok terapi," Sinta mendengus kesal, mengelap tangannya dengan tisu. "Lagian, gue kan udah bilang. Gue ini tameng lo. Anjing penjaga lo, kata mereka tadi? Terserah! Gue bangga jadi pelindung lo."
Mendengar itu, ada perasaan hangat yang aneh menyelinap masuk ke rongga dada Anandara. Hatinya yang hampa seperti diberi selimut tebal di tengah badai salju. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ia harus melindungi dirinya sendiri dari dunia, melindungi ayahnya dari kehancuran. Ia terbiasa mandiri dan menolak bersandar pada siapapun. Namun Sinta dengan paksa menjadi tiang sandarannya, tanpa pernah meminta bayaran, tanpa pernah berkhianat.
"Sinta," panggil Anandara pelan.
"Hmm?" Sinta menyeruput es teh manisnya dengan rakus.
"Berjanjilah padaku satu hal."
"Apaan?"
"Jangan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi. Kau dan ayahku... kalian berdua adalah satu-satunya alasan aku masih bisa mentolerir keberadaan manusia di dunia ini." Mata Anandara memancarkan kerentanan yang sangat jarang ia perlihatkan.
Sinta tersenyum lembut. Ia meletakkan gelasnya dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Anandara yang berada di atas meja. Sebuah janji khas anak-anak yang diucapkan oleh dua remaja yang beranjak dewasa.
"Gue janji, Nan. Sampai kita tua, sampai gigi gue ompong dan lo jadi CEO galak yang ditakuti seluruh Indonesia, gue bakal tetap jadi sahabat lo. Lo itu rumah gue, Nan. Tempat gue pulang kalau gue lagi pusing sama cowok-cowok brengsek."
Anandara membalas tautan kelingking itu erat-erat. Ya, Sinta adalah rumahnya. Di balik fasad kebenciannya pada komitmen dan cinta, Anandara telah tanpa sadar menaruh seluruh kepercayaan hidupnya pada persahabatan ini. Ia mencintai Sinta lebih dari saudara sedarah.
Masa SMA pun berakhir dengan gemilang. Anandara lulus sebagai lulusan terbaik dengan nilai sempurna dan langsung diterima di universitas paling favorit di kota mereka, Fakultas Teknik Industri—mengikuti jejak logika dan bisnis ayahnya. Sinta, meski dengan nilai yang pas-pasan dan harus melewati jalur tes mandiri yang penuh dengan doa dan air mata, akhirnya berhasil diterima di universitas yang sama di Fakultas Ilmu Komunikasi, berkat bimbingan belajar intensif berbulan-bulan dari Anandara.
Mereka melangkah keluar dari gerbang SMA dengan kepala tegak. Di depan sana, dunia perkuliahan yang lebih luas, lebih bebas, dan lebih berbahaya telah menanti. Anandara merasa siap menghadapi segalanya. Ia punya uang, ia punya kecerdasan, dan ia punya Sinta yang setia di sisinya. Ia yakin, selama ia menutup rapat pintu hatinya dari laki-laki dan cinta, tidak akan ada tragedi yang bisa meruntuhkan dunianya lagi.
Namun, Anandara lupa akan satu hukum alam yang paling mutlak: dinding setebal apa pun pada akhirnya akan retak jika terus-menerus dihantam oleh takdir. Dan takdir itu kini sedang bersiap dalam wujud seorang mahasiswa berwajah datar dan bermata tajam, yang akan memorak-porandakan bukan hanya hatinya yang membeku, tapi juga rumah persahabatan yang telah susah payah ia bangun bersama Sinta.
Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Bersambung... !
pengamat Senja_