NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. Persembunyian Tuan Rumah

Pintu terbuka dan tiga sahabat Nala dari daerah—Maya, Riri, dan Dika—merangsek masuk seperti rombongan turis yang baru menemukan objek wisata langka. Mereka berteriak, bertepuk tangan, dan langsung sibuk melakukan room tour mandiri tanpa izin.

"Gila, Nal! Lo beneran sudah jadi sultan di Jakarta ya?" teriak Maya sambil mengelus meja marmer Saga dengan penuh kekaguman.

"Unit loft begini sewanya sebulan bisa buat makan sekampung setahun!"

Nala tertawa kaku, tangannya sibuk merapikan tumpukan majalah arsitektur Saga yang berserakan. "Ah, biasa saja. Ini... ini harga promo kok! Strategi marketing!"

"Strategi marketing atau strategi cari jodoh?" celetuk Dika sambil melempar tasnya ke sofa.

Tepat di samping kemeja biru navy milik Saga. Jantung Nala nyaris copot. Ia melihat tangan Dika hampir menyentuh kemeja itu. Dengan gerakan yang lebih cepat dari pemain bulu tangkis profesional, Nala menyambar kemeja itu dan langsung menyampirkannya ke pundaknya sendiri.

"Nal, itu kemeja siapa?" tanya Riri dengan mata menyipit tajam. "Ukurannya gede banget, nggak mungkin punya lo."

Nala memutar otak sampai terasa berasap.

"Ini? Oh! Ini... ini tren terbaru! Oversized shirt! Gue beli di toko baju bekas karena lagi pengen gaya tomboy. Estetik kan?"

"Toko baju bekas tapi wanginya parfum mahal begini?" Maya mencium udara di sekitar kemeja itu.

"Wanginya kayak cowok-cowok sukses di drakor yang punya trauma masa kecil."

Nala berkeringat dingin. Emang bener, dia cowok sukses yang punya trauma kalau rumahnya berantakan! batin Nala.

Sementara itu, di lantai atas, Saga duduk di tepi tempat tidurnya dengan posisi kaku. Ia bisa mendengar setiap kata, setiap tawa, dan setiap langkah kaki yang menginjak lantai kayu loft-nya. Ia meremas bantal dengan geram saat mendengar suara keripik yang dikunyah dengan keras.

"Jangan sampai mereka menyentuh maket saya..." bisik Saga pada dirinya sendiri, suaranya lebih mirip doa putus asa.

Kembali ke bawah, situasi semakin genting. Dika, yang memang dasarnya tidak bisa diam, mulai berjalan ke arah tangga menuju lantai atas.

"Nal, gue mau liat kamar atas dong! Pasti pemandangannya langsung ke city light Jakarta ya?"

"EHHH! JANGAN!" Nala langsung berdiri di depan tangga, merentangkan tangannya lebar-lebar seperti penjaga gawang.

Dika menghentikan langkahnya, bingung.

"Kenapa? Lo sembunyiin simpanan di atas?"

"Bukan! Atas... atas lagi berantakan banget!

Gue habis bongkar koper dan... dan ada bocor di atap! Iya, lagi diperbaiki, bahaya kalau lo ke sana!"

Nala memberikan alasan paling tidak masuk akal sedunia mengingat cuaca di luar sudah terang benderang.

"Bocor? Unit mewah begini bocor?" Maya mulai curiga. Ia berjalan menuju dapur dan matanya tertuju pada sebuah mesin kopi espresso manual yang harganya bisa buat beli motor matic.

"Gila, Nal. Lo sejak kapan jago bikin kopi pakai mesin ribet begini? Bukannya lo biasanya minum kopi sasetan?"

Nala berlari ke dapur, mencoba menutupi mesin kopi itu dengan tubuhnya. "Gue... gue lagi belajar jadi barista! Buat nambah-nambah skill di CV!"

Riri, yang paling teliti di antara mereka, tiba-tiba memungut sesuatu dari balik vas bunga.

Sebuah kancing kemeja berwarna perak. "Nal, lo yakin tinggal sendirian di sini? Ini jelas banget kancing kemeja cowok. Dan mesin kopi ini... bukannya ini merk yang dipakai orang-orang kaya itu ya?"

Nala merasa oksigen di ruangan itu mulai menipis. Ia tertawa garing.

"Itu... itu kancing baju bokap gue yang kebawa! Aduh, kalian tuh kepo banget sih! Mending kita makan pizzanya di balkon yuk? Pemandangannya lebih bagus!"

Saat Nala mencoba menggiring teman-temannya ke balkon, sebuah suara keras terdengar dari lantai atas.

BRAAAKKK!

Saga tidak sengaja menjatuhkan botol minumnya saat mencoba berpindah posisi agar kakinya tidak kesemutan.

Keheningan seketika menyergap unit 402. Maya, Riri, dan Dika serentak menatap ke arah plafon lantai atas.

"Nal..." bisik Maya dengan wajah pucat.

"Katanya lo tinggal sendiri. Kok ada suara orang di atas?"

"Itu... itu tikus!" seru Nala panik.

"Tikus Jakarta ukurannya segede apa sampai suaranya kayak benda berat jatuh gitu?!" Dika mulai bersiap-siap mengambil payung di dekat pintu sebagai senjata. "Jangan-jangan ada maling, Nal! Ayo kita cek ke atas!"

"JANGAN! BIAR GUE AJA!" Nala berteriak, tapi teman-temannya sudah tidak peduli. Mereka merasa perlu melindungi sahabat mereka dari "penyusup".

Saga, yang mendengar langkah kaki banyak orang menaiki tangga kayu, panik bukan main. Ia tidak punya tempat sembunyi lagi selain... kolong tempat tidur.

Dengan gerakan yang sangat tidak estetik bagi seorang arsitek ternama, Saga merayap masuk ke bawah kasur tepat saat pintu kamarnya didorong terbuka oleh Dika.

"KOSONG!" seru Dika sambil memeriksa sekeliling kamar yang sangat rapi.

Nala berdiri di ambang pintu dengan wajah

pucat pasi. Matanya melirik ke arah kolong tempat tidur, di mana ia bisa melihat ujung jari kaki Saga yang mengintip sedikit.

"Tuh kan kosong... Mungkin cuma angin yang lewat jendela yang kebuka," ujar Nala dengan suara bergetar.

Maya masuk ke kamar, mencium aroma ruangan. "Wanginya enak banget. Serius, Nal, selera lo jadi berkelas banget semenjak pindah ke sini."

Maya hampir saja duduk di tepi tempat tidur untuk mencoba keempukan kasurnya, yang mana pasti akan membuat Saga terjepit di bawah sana, ketika Nala berteriak lagi.

"EHHH! KITA MAKAN PIZZANYA DI BAWAH AJA! GUE LAPER BANGET!"

Nala menarik tangan Maya dengan paksa keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, Nala sempat memberikan tatapan "Maafkan saya, tolong jangan mati" ke arah kolong tempat tidur.

Saga, yang terhimpit di antara debu dan lantai dingin, hanya bisa menggertakkan gigi.

Tiga puluh hari lagi... batin Saga. Tiga puluh hari lagi menuju pernikahan ini, dan saya sudah merasa seperti buronan di rumah saya sendiri.

Tapi Saga tidak tahu, bahwa kejutan sesungguhnya baru saja dimulai ketika salah satu teman Nala menemukan sebuah undangan pernikahan kosong yang terselip di bawah meja makan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!