Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Bayangan Sang Raja
Perjalanan melintasi perbatasan Hutan Kematian terasa seperti berjalan di atas seutas benang laba-laba di atas jurang neraka. Memasuki minggu ketiga perjalanan, pepohonan mati mulai digantikan oleh tebing-tebing batu hitam yang menjulang tinggi, membentuk celah sempit yang dikenal sebagai Ngarai Ratapan.
Langkah Zeng Niu yang biasanya tanpa cela tiba-tiba terhenti saat sebuah tangan gemuk mencengkeram bahunya dengan kekuatan putus asa.
Zeng Niu menoleh, bersiap menghunus belatinya, namun ia melihat Bao Tuo yang sudah jatuh berlutut. Wajah si gendut itu tidak lagi pucat, melainkan seputih kain. Seluruh tubuhnya bergetar begitu hebat hingga gigi-giginya bergemeletuk merdu. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
"B-bawah tanah... s-sembunyi... sekarang..." bisik Bao Tuo parau, nyaris tanpa suara. Air mata ketakutan menggenang di pelupuk matanya. "Radar bahayaku... rasanya seperti mau meledak."
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Bao Tuo, insting bertahan hidup Zeng Niu langsung mengambil alih. Ia tidak bertanya. Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, ia menarik kerah Bao Tuo, menyeretnya ke dalam sebuah retakan sempit di bawah formasi batu raksasa, dan menutupi celah itu dengan tumpukan lumut kering serta daun busuk.
Zeng Niu menekan titik akupunktur di dadanya sendiri untuk memperlambat detak jantungnya hingga nyaris berhenti, menahan napasnya sepenuhnya. Bao Tuo meringkuk menyusut menjadi bola, memejamkan mata sambil memeluk kepalanya.
Tiba-tiba, langit sore yang kemerahan berubah menjadi gelap gulita.
Suhu udara anjlok drastis. Udara di sekeliling mereka terasa sangat berat, seolah ribuan kati besi menekan paru-paru mereka. Dari kejauhan, terdengar suara desisan yang membuat ruang itu sendiri bergetar dan retak.
Di atas ngarai, tiga kilatan cahaya pedang melesat membelah langit dengan kecepatan gila. Itu adalah tiga kultivator berpakaian jubah putih berkilau. Di bawah kaki mereka terdapat pedang terbang yang memancarkan aura Foundation Establishment yang sangat kuat. Di mata fana, mereka adalah dewa yang agung.
Namun, wajah ketiga kultivator "dewa" itu kini dipenuhi keputusasaan dan air mata.
"Kakak Pertama! Gunakan Esensi Darahmu! Kita tidak bisa lari dari makhluk Tingkat Raja ini!" teriak salah satu dari mereka, suaranya dipenuhi teror murni.
Makhluk Tingkat Raja. Setara dengan monster ranah Nascent Soul. Keberadaan mutlak yang bisa meratakan gunung dan membelah lautan.
Dari balik kabut gelap yang menutupi langit, sebuah wujud mengerikan menampakkan diri. Ia adalah Kelabang Besi Ratusan Wajah sepanjang puluhan tombak. Setiap ruas tubuh baja hitamnya ditempeli wajah-wajah manusia yang merintih kesakitan, dan dari sela-selanya memancar racun kabut ungu yang melelehkan batu di bawahnya.
Sang Raja Monster bahkan tidak perlu mengejar dengan cepat. Ia hanya membuka rahangnya yang dipenuhi ribuan taring.
Sebuah daya hisap yang melanggar hukum alam terjadi. Ruang di sekitar ketiga kultivator Foundation Establishment itu melengkung. Pedang terbang mereka berderak patah, perisai energi yang setebal dinding baja hancur seperti kertas basah.
"TIDAAAAK! LELUHUR, SELAMATKAN KAMI!" jerit mereka bersamaan saat tubuh mereka ditarik mundur melintasi udara secara paksa, jatuh tepat ke dalam rahang maut sang kelabang raksasa.
KRAAAK!
CROOOOT!
Suara kunyahan tulang dan cipratan darah yang menutupi langit terdengar sangat jelas. Hujan darah segar mengguyur batu tempat Zeng Niu dan Bao Tuo bersembunyi. Tiga kultivator agung itu dimakan hidup-hidup semudah mengunyah kacang goreng.
Di dalam celah batu, keringat dingin membasahi seluruh punggung Zeng Niu. Tangannya yang memegang belati bergetar kecil. Untuk pertama kalinya, pemuda berhati dingin itu merasakan "kekecilan" yang sesungguhnya. Di hadapan kekuatan mutlak Tingkat Raja, semua kecerdikan, kelicikan, dan tekad bertahan hidupnya hanyalah lelucon yang menyedihkan.
Setelah memakan mangsanya, Kelabang Besi Ratusan Wajah itu mendesis puas, tubuh raksasanya merayap menembus awan dan perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan Ngarai Ratapan dalam keheningan yang mencekam.
Zeng Niu dan Bao Tuo tidak bergerak selama dua jam penuh. Mereka tidak berani bahkan untuk menarik napas dalam.
Baru setelah aura kematian itu benar-benar lenyap ditelan angin, Zeng Niu menendang tumpukan lumut yang menutupi mereka dan merangkak keluar. Wajahnya sangat pucat, namun matanya memancarkan cahaya ambisi yang kelam dan membara.
Suatu hari nanti, batin Zeng Niu, menatap langit yang kosong. Suatu hari nanti, aku tidak akan lagi bersembunyi di bawah batu.
Bao Tuo ikut merangkak keluar, muntah-muntah di tanah berlumpur karena sisa tekanan aura Tingkat Raja yang merusak perutnya.
Zeng Niu mengabaikan si gendut dan berjalan ke titik di mana sisa-sisa darah ketiga kultivator itu jatuh. Di antara genangan darah merah keemasan tanda kultivator ranah Foundation Establishment ia melihat tiga benda kecil yang berkilau terkena cahaya matahari terbenam.
Itu adalah tiga buah cincin perak berukir kaligrafi awan. Cincin Ruang Penyimpanan.
Di dunia luar, cincin seperti ini adalah pusaka yang bisa memicu perang antar klan kecil. Ruang di dalamnya dibentuk oleh hukum alam, mampu menyimpan benda tanpa menambah beban.
Zeng Niu memungut ketiga cincin tersebut, membersihkan darahnya, lalu mencoba mengalirkan kekuatannya. Namun, tidak ada yang terjadi. Cincin itu terasa seperti besi mati di tangannya. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga Penempatan Tubuh Tahap 4 miliknya untuk memaksanya terbuka, namun segel cincin itu tidak bergeming.
"Tidak bisa, Saudara Niu," Bao Tuo bersuara parau sambil mengusap sisa muntahnya, berjalan tertatih mendekat. Matanya tiba-tiba berbinar saat melihat benda di tangan Zeng Niu, melupakan trauma sesaat yang lalu. "Itu Artefak Spasial! Cincin ini memiliki susunan formasi internal. Hanya energi Qi Langit dan Bumi yang bisa mengaktifkan prasasti di dalamnya. Kekuatan fisik murni, sekuat apa pun, hanya akan menghancurkan cincinnya dan membuat isinya hilang di celah ruang!"
Zeng Niu menatap cincin itu dalam diam. Akar spiritualnya adalah sampah, dan saat ini ia murni melangkah di jalan fisik. Ia bahkan belum memadatkan sebutir debu Qi pun di Dantiannya.
Tanpa banyak bicara, Zeng Niu melemparkan ketiga cincin berharga itu ke dada Bao Tuo. Si gendut menangkapnya dengan panik seolah itu adalah bayi yang baru lahir.
"Hah?! K-kau menyerahkannya padaku?" tanya Bao Tuo tak percaya.
"Kau punya Qi Tahap 2. Buka dan lihat isinya," perintah Zeng Niu datar. "Pemilik aslinya sudah mati dimakan monster, segel jiwa mereka di cincin ini pasti sudah hancur. Kau hanya perlu mengalirkan Qi-mu."
Bao Tuo menelan ludah. Ia menempelkan cincin pertama ke keningnya, menyalurkan Qi elemen tanahnya yang tipis. Benar saja, segel yang tak bertuan itu langsung terbuka.
"Dewa Langit yang Agung..." rahang Bao Tuo nyaris jatuh menyentuh tanah. Tangannya bergetar hebat. "S-Saudara Niu! Kita... kita kaya raya!"
Dengan jentikan jarinya, serangkaian benda melesat keluar dari cincin dan menumpuk di tanah bebatuan.
Pertama, sebuah tumpukan kecil yang memancarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat murni. Ada ratusan Kristal Roh kelas rendah, dan bahkan puluhan Kristal Roh kelas menengah! Aura dari batu-batu itu membuat udara di sekitar mereka langsung terasa menyegarkan.
Kedua, tiga potong Artefak Tingkat Rendah: sebuah Belati Terbang Giok, Cermin Penahan Aura, dan Jubah Sutra Tahan Api.
Ketiga, dan yang paling membuat mata Zeng Niu berkedut, adalah setumpuk kertas kuning berukir tinta merah darah: Jimat Spiritual.
"Ada tiga Jimat Peledak Elemen Api tingkat Foundation Establishment, dan dua Jimat Teleportasi Jarak Pendek (Seratus Tombak)!" lapor Bao Tuo sambil melompat kegirangan. "Jimat ini dirancang khusus untuk darurat, hanya butuh sedikit picuan energi murni untuk aktif!"
Zeng Niu menatap tumpukan harta itu. Ini adalah sumber daya yang luar biasa besar untuk ukuran pengembara jalanan seperti mereka.
"Simpan semuanya di dalam cincin itu," kata Zeng Niu, suaranya tidak menampakkan emosi berlebihan. "Kau yang pegang cincinnya."
Bao Tuo menghentikan tariannya. Ia menatap Zeng Niu dengan bingung. "S-Saudara Niu, kau serius? Jika aku memakai cincin ini dan kabur dengan Jimat Teleportasi, kau tidak akan pernah bisa mengejarku."
Zeng Niu menatap si gendut tepat di matanya. Tatapannya sangat tenang, namun membekukan darah. "Kau bisa kabur. Tapi kau tidak bisa bertahan hidup sendirian di tempat ini dengan kecepatan dan kepengecutanmu. Aku butuh ruang penyimpananmu. Kau butuh perlindunganku untuk sampai ke Akademi Jiannan."
Bao Tuo terdiam, menatap tumpukan mayat monster dan medan Hutan Kematian di sekelilingnya. Ia tahu Zeng Niu seratus persen benar. Harta sebanyak apa pun tidak berguna jika ia mati dikunyah Serigala Retak esok hari.
"Selain itu," tambah Zeng Niu, menyeka darah dari belatinya. "Saat aku butuh jimat peledak itu di tengah pertarungan, kau harus menanamkan jejak Qi-mu ke dalamnya dan melemparnya tepat sasaran. Jika kau meleset atau terlambat... aku akan memastikan lehermu patah lebih dulu sebelum monster yang membunuh kita."
Bao Tuo menelan ludah dengan susah payah, senyumnya menjadi sangat kaku. "T-Tentu saja! Saudara Niu, serahkan tugas menyetor harta ini pada tangan kananku yang sangat setia! Aku adalah perbendaharaan berjalanmu!"
Si gendut segera menggunakan Qi-nya untuk menyimpan kembali semua harta itu ke dalam cincin dan memakainya di jarinya dengan bangga, meski kakinya masih sedikit gemetar.
Bagi Zeng Niu, ini adalah kesepakatan murni. Di era yang kejam ini, ia tidak bisa mengontrol Dantiannya sekarang, namun ia telah mengikat sebuah Dantian hidup yang akan bekerja untuknya. Membawa tiga cincin penuh harta, mereka berdua kembali melangkah menembus ngarai, satu langkah lebih dekat menuju pintu gerbang peradaban yang tersisa.