NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Melampaui Batas Manusia

Malam pun tiba.

Hujan turun deras membasahi hutan di sekitar Desa Sura. Langit sepenuhnya tertutup awan hitam pekat, dan dari kejauhan terdengar suara gemuruh petir yang bergulung-gulung di balik langit malam.

Cang Li berjalan mengikuti Guru Ling melewati jalan setapak yang licin dan berbatu. Jubah tipis yang ia kenakan sudah basah kuyup sejak beberapa menit lalu, tetapi ia tetap memaksa langkahnya tetap mantap.

Setiap sambaran cahaya petir yang sesekali membelah langit membuat bayangan pepohonan di sekitar mereka tampak seperti tangan-tangan hitam yang bergerak di tengah kegelapan.

Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di depan sebuah air terjun besar yang tersembunyi di tengah pegunungan hutan.

Pemandangan di sana begitu menggetarkan.

Air jatuh deras dari tebing tinggi dengan suara gemuruh yang sangat keras, seolah-olah seluruh isi gunung sedang runtuh ke bawah. Kabut air menyebar ke mana-mana, bercampur dengan hujan malam dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Cang Li menelan ludah.

Bahkan sebelum latihan dimulai, tempat itu sendiri sudah terasa seperti ujian.

Ia menoleh ke arah Ling. “Guru… apa saya benar-benar akan baik-baik saja?”

Ling berdiri tegak di sampingnya, wajahnya tetap setenang biasanya meskipun jubahnya juga telah basah oleh hujan.

“Jika kau tetap fokus dan tidak panik, peluangmu untuk bertahan jauh lebih besar,” jawab Ling. “Percayalah pada tubuhmu sendiri. Tubuhmu sudah ditempa selama bertahun-tahun jauh sebelum kau menyadarinya.”

Kalimat itu membuat Cang Li sedikit terdiam.

Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat pada masa kecilnya, saat Ye Chen pernah memaksanya duduk di bawah aliran sungai kecil selama berjam-jam sambil mengatur napas dan aliran energi.

Dulu ia selalu menganggap itu latihan yang aneh dan menyiksa.

Namun sekarang, ia mulai memahami bahwa semua itu mungkin memang telah dipersiapkan untuk malam ini.

Ling lalu menunjuk ke arah batu datar di bawah derasnya air terjun.

“Lepaskan bajumu.”

Cang Li langsung menoleh cepat. “Apa?”

“Lepaskan bajumu,” ulang Ling datar. “Tubuhmu harus menerima tekanan air dan petir secara langsung. Jika kau masih menutupi tubuhmu, aliran energinya akan terganggu.”

Cang Li menatap gurunya dengan ekspresi tidak percaya.

“Di tengah hujan begini?” tanyanya.

“Apakah kau ingin menjadi lebih kuat, atau ingin terus mengeluh?” balas Ling tanpa perubahan nada.

Cang Li menghela napas panjang. “Kadang-kadang saya merasa Guru memang sengaja ingin membuat saya mati lebih cepat.”

“Kalau aku ingin membunuhmu, aku tidak perlu repot-repot melatihmu selama ini.”

Jawaban itu membuat Cang Li tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Dengan pasrah, ia mulai melepas pakaian atasnya. Begitu kulit tubuhnya terkena angin malam dan hujan secara langsung, rasa dingin yang menusuk langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahunya menegang, napasnya sedikit tercekat, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk berjalan ke arah air terjun.

Setiap langkah terasa berat.

Saat ia akhirnya duduk bersila di atas batu besar tepat di bawah jatuhnya air, tekanan yang menghantam pundak dan punggungnya hampir membuatnya terjatuh saat itu juga.

“Berat sekali…” gumamnya sambil mengatupkan rahang.

Air yang menghantam tubuhnya terasa seperti puluhan palu yang jatuh tanpa henti dari atas. Namun perlahan-lahan, ia mulai mengatur napas, memejamkan mata, dan memusatkan pikirannya seperti yang selama ini diajarkan oleh Ye Chen dan kemudian disempurnakan oleh Ling.

Dari kejauhan, Ling berdiri di bawah pohon besar sambil mengawasinya dengan tajam.

Wajah pria itu tenang, tetapi sebenarnya seluruh indranya sedang siaga penuh.

Ia tahu bahwa bagian tersulit belum dimulai.

Beberapa menit pertama berlalu tanpa kejadian berarti.

Cang Li mulai merasa sedikit lebih stabil. Tubuhnya memang masih menggigil, tetapi ritme napasnya sudah jauh lebih teratur. Dalam hati, ia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin latihan ini tidak akan seburuk bayangannya.

Namun pikiran itu baru bertahan sesaat.

Karena beberapa detik kemudian, langit tiba-tiba memancarkan cahaya putih yang begitu terang hingga seluruh area hutan terlihat seperti siang hari.

BRAKKK!

Suara petir yang menggelegar memecah udara.

Dan pada saat yang sama, Cang Li merasakan sesuatu yang sangat aneh.

Arus listrik alami dari langit mulai merambat mengikuti aliran air terjun, lalu menghantam tubuhnya secara langsung.

“Ugh—!”

Mata Cang Li langsung terbuka lebar.

Seluruh otot di tubuhnya menegang dalam sekejap. Rasa sakit itu jauh lebih brutal daripada petir spiritual yang biasa ia gunakan sendiri. Ini bukan energi yang bisa ia kendalikan, melainkan kekuatan alam liar yang datang tanpa ampun.

Ia berusaha tetap duduk tegak, tetapi tubuhnya mulai bergetar hebat.

Di kejauhan, Ling menatap dengan sorot mata tajam.

“Mulai bereaksi…” gumamnya pelan.

Cang Li menggertakkan giginya, mencoba bertahan.

Namun sambaran demi sambaran berikutnya datang semakin keras.

Setiap aliran listrik yang masuk ke tubuhnya terasa seperti merobek meridian dari dalam. Napasnya menjadi kacau. Jantungnya berdebar liar. Bahkan aliran energi spiritual di dalam tubuhnya mulai bergerak tidak beraturan, seolah ada sesuatu yang selama ini tertahan kini sedang dipaksa bangkit secara paksa.

“AARRGHHH!”

Teriakan Cang Li menggema di tengah malam.

Pada saat itulah, sesuatu yang tidak seharusnya muncul mulai memancar dari tubuhnya.

Di sela-sela petir ungu yang biasanya menyelimuti dirinya, mulai terlihat kilatan cahaya lain.

Bukan ungu.

Melainkan emas.

Mata Ling langsung membelalak.

“Itu…!”

Aura petir emas mulai bergetar liar di sekitar tubuh Cang Li, bercampur dengan sambaran petir alam dan membentuk tekanan yang sangat mengerikan. Batu di bawah air terjun mulai retak, aliran air di sekitarnya bergetar hebat, dan tanah di sekitar tempat itu dipenuhi percikan listrik yang berbahaya.

Ling tidak ragu lagi.

Ia langsung melesat ke depan dengan kecepatan penuh.

“Cang Li!” serunya.

Namun pada saat Ling tiba di dekatnya, tubuh Cang Li sudah berada di ambang batas.

Mata pemuda itu setengah terbuka, tetapi kesadarannya hampir sepenuhnya hilang. Aura petir emas yang tadi sempat muncul mulai liar dan tidak stabil, seolah berusaha menembus sesuatu yang menahannya dari dalam.

Ling segera menempelkan telapak tangannya ke dada Cang Li.

“Tenang… jangan sampai lepas sepenuhnya,” gumamnya serius.

Ia segera menyalurkan energi spiritualnya untuk menekan gejolak di dalam tubuh Cang Li. Proses itu jauh lebih sulit daripada yang ia duga. Segel di dalam tubuh pemuda itu jelas telah terguncang hebat oleh tekanan badai, dan sebagian kekuatan yang tertahan di dalamnya nyaris memaksa keluar.

Ling mengeraskan rahangnya.

“Masih terlalu cepat… tubuhmu belum siap menerima semuanya sekaligus.”

Petir emas itu terus berusaha keluar beberapa saat lagi, tetapi perlahan-lahan mulai meredup. Aura ungu yang liar juga mulai menenangkan diri, dan akhirnya tubuh Cang Li kehilangan seluruh tenaga lalu jatuh lunglai ke depan.

Untungnya, Ling sempat menangkapnya sebelum terbawa arus deras air terjun.

Hujan masih turun tanpa ampun saat Ling membawa tubuh Cang Li menjauh dari bawah air. Ia meletakkannya di bawah pohon besar, lalu kembali memeriksa aliran energi di dalam tubuh muridnya itu.

Setelah beberapa saat, Ling akhirnya menghela napas panjang.

“Berhasil…” katanya pelan.

Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya jauh lebih serius dari biasanya.

“Tubuhmu berhasil bertahan,” lanjutnya dalam hati sambil menatap wajah Cang Li yang pucat. “Meridianmu telah melebar… dan sebagian dari segel itu benar-benar melonggar.”

Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa kapasitas energi spiritual di tubuh Cang Li sudah jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Meski hanya sebagian, perubahan itu sangat nyata.

Namun Ling juga tahu bahwa apa yang baru saja muncul malam ini bukan sekadar peningkatan kekuatan biasa.

Kilatan petir emas tadi adalah pertanda bahwa sesuatu yang jauh lebih berbahaya masih tertidur di dalam diri Cang Li.

Dan untuk saat ini, rahasia itu belum boleh diketahui oleh siapa pun.

“Belum waktunya,” bisik Ling pelan.

Setelah memastikan kondisi tubuh Cang Li stabil, Ling pun membawa muridnya kembali ke rumah.

Tiga hari kemudian.

Pagi yang tenang menyelimuti rumah kayu di tengah hutan.

Cahaya matahari masuk lembut melalui celah jendela, menyinari ruangan yang dipenuhi aroma obat herbal dan teh hangat. Di atas ranjang kayu, Cang Li masih terbaring dengan wajah pucat, sementara di sampingnya duduk Su Yan yang tampak jauh lebih lesu daripada biasanya.

Selama tiga hari terakhir, ia hampir tidak pernah meninggalkan sisi ranjang itu terlalu lama.

Setiap kali Ling selesai mengganti ramuan atau memeriksa aliran energi Cang Li, Su Yan akan kembali duduk di tempat yang sama dan menunggu dalam diam.

Pagi itu, saat Su Yan sedang menatap wajah Cang Li dengan khawatir, jari pemuda itu tiba-tiba bergerak pelan.

Mata Su Yan langsung membesar.

“Guru!” panggilnya cepat. “Guru, dia bergerak!”

Beberapa detik kemudian, kelopak mata Cang Li mulai terbuka perlahan.

Pandangan matanya sempat kabur, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai bisa melihat langit-langit kayu di atasnya, lalu sosok Su Yan yang berada sangat dekat di samping ranjang.

Cang Li mengernyit lemah. “Senior…?”

Begitu mendengar suaranya, wajah Su Yan langsung berubah cerah.

Tanpa sempat menahan dirinya sendiri, ia langsung memeluk Cang Li erat-erat.

“Syukurlah… akhirnya kau bangun juga!” katanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Cang Li membeku total.

Tubuhnya masih lemah, otaknya juga belum sepenuhnya sadar, tetapi satu hal yang langsung ia sadari dengan sangat jelas adalah bahwa Su Yan sedang memeluknya dengan sangat erat.

“Se-Senior…?” ucapnya kaku.

Beberapa detik kemudian, Su Yan baru sadar apa yang ia lakukan.

Ia langsung melepaskan pelukannya dan mundur dengan wajah memerah.

“A-aku hanya…” katanya gugup. “Aku hanya… memastikan kau benar-benar bangun, itu saja!”

Cang Li menatapnya dengan wajah bingung. “Apa saya… pingsan lama?”

Saat itulah Guru Ling masuk ke dalam ruangan sambil membawa semangkuk obat.

“Tidak terlalu lama,” jawabnya santai. “Hanya tiga hari.”

Mata Cang Li langsung melebar. “Tiga hari?!”

Ling meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil dekat ranjang.

“Kau seharusnya berterima kasih karena tubuhmu masih cukup keras untuk menahan latihan itu. Kalau bukan karena fondasi latihanmu sejak kecil cukup baik, kau mungkin tidak akan bangun secepat ini.”

Cang Li masih terlihat terkejut, tetapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Ling menambahkan dengan nada datar yang justru terdengar sangat sengaja,

“Lagipula, selama tiga hari ini ada seseorang yang hampir tidak pernah berhenti mengkhawatirkanmu.”

Su Yan langsung menoleh tajam. “Guru!”

Ling pura-pura tidak melihat reaksi muridnya.

“Setiap pagi dia datang paling awal. Setiap malam dia pulang paling akhir. Bahkan sempat memaksaku memeriksa nadimu berkali-kali seolah aku tidak tahu caranya merawat pasien—”

“GURU!” seru Su Yan dengan wajah merah padam.

Cang Li menoleh ke arah Su Yan dengan ekspresi yang perlahan berubah canggung.

Su Yan makin salah tingkah.

“Itu… itu bukan seperti yang kau pikirkan!” katanya cepat. “Aku hanya… hanya tidak mau kalau Junior sepertimu mati sebelum turnamen dimulai. Itu akan merepotkan, mengerti?!”

Cang Li menatapnya beberapa detik, lalu untuk pertama kalinya sejak bangun, senyum tipis yang benar-benar hangat muncul di wajahnya.

“Begitu ya,” katanya pelan.

Su Yan langsung menatapnya dengan jantung berdegup tak karuan.

Ling yang melihat pemandangan itu hanya menggeleng kecil sambil menahan senyum.

Beberapa saat kemudian, suasana ruangan yang sebelumnya tegang perlahan berubah jauh lebih ringan. Bahkan ketika Su Yan, karena terlalu malu, akhirnya memukul lengan Guru Ling sambil terus memprotes, Cang Li justru ikut tertawa kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Suara tawa itu sederhana, tetapi terasa sangat hangat di dalam rumah kayu kecil di tengah hutan itu.

Untuk sesaat, mereka bertiga tidak lagi memikirkan turnamen, ancaman organisasi rahasia, ataupun bayangan perang yang perlahan mendekat.

Mereka hanya menikmati ketenangan singkat yang mungkin tidak akan bertahan lama.

Namun justru karena itulah, momen itu menjadi begitu berharga.

Karena tanpa mereka sadari, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

End Chapter 33

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!