Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Malam itu, kediaman Widjaja tampak seperti benteng yang tidur. Anggara baru saja selesai menjamu tamu partainya dan sudah masuk ke kamar utama. Namun, bagi Aurora, malam justru baru saja dimulai. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, ia mengenakan silk robe merah maroon yang sangat pendek, dibalut dengan jaket hoodie kebesaran milik Langit yang ia curi kemarin untuk menyamarkan siluetnya.
Di bawah, dekat pintu belakang yang menuju area paviliun, Pak Bambang dan Bintang sudah berdiri seperti agen rahasia amatir. Pak Bambang memegang senter yang dimatikan, sementara Bintang sibuk memantau CCTV dari ponselnya.
"Suami aku mana?" bisik Aurora, muncul tiba-tiba dari balik bayangan pintu dapur.
"Astagfirullah, Non! Kaget saya!" Pak Bambang mengelus dada. "Ada di kamarnya, Non. Sepertinya lagi bersih-bersih senjata atau laporan, saya kurang tahu."
"Oke deh. Pak Bambang, Bintang, sehat terus ya! Kalian emang sekutu paling oke. Bonus kopi dan martabak besok menyusul!" Aurora memberikan kedipan jahil sebelum melesat keluar, menyeberangi taman kecil yang memisahkan mansion dengan paviliun.
Bintang menggeleng-gelengkan kepala. "Pak, kita ini ajudan Bapak atau kaki tangannya Non Aurora sih sebenarnya?"
"Ssst! Diam kamu, Bin. Yang penting mereka bahagia. Kasihan Langit, siang tadi sudah habis diomeli Bapak, malam ini dia butuh hiburan," sahut Pak Bambang sambil kembali ke posisinya.
Langit baru saja selesai mandi. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis dan masih sedikit basah terpapar udara dingin kipas angin. Ia baru saja duduk di tepian kasur saat pintu kamarnya terbuka pelan tanpa ketukan.
"Ra?" Langit terperanjat, langsung berdiri tegak. "Kamu nekat banget ke sini jam segini? Tadi aku dengar suara mobil Bapak baru masuk."
Aurora menutup pintu, menguncinya rapat-rapat, lalu melepas hoodie kebesarannya hingga hanya menyisakan jubah satin tipis yang nyaris transparan di bawah lampu neon paviliun yang remang.
"Bapak sudah tidur, Mas. Dan aku kangen," ucap Aurora manja. Ia melangkah mendekat, jarinya merayap di atas otot perut Langit yang keras. "Lagian, masa pengantin baru tidurnya pisah? Aku nggak tahan tidur di kamar sendirian sementara suami aku di sini kedinginan."
Langit menarik napas panjang, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya. "Ini paviliun, Ra. Dindingnya tipis. Pak Bambang dan Bintang ada di depan."
"Biarin aja. Mereka kan udah tahu kita nikah," Aurora berjinjit, melingkarkan tangannya di leher Langit. Ia mencium aroma sabun maskulin dari kulit Langit yang hangat. "Mas... jangan jadi robot dulu malam ini. Aku mau kamu."
Langit tidak bisa lagi menolak. Ia menyambar pinggang Aurora, mengangkatnya hingga duduk di atas meja kayu kecil di sudut kamar—meja yang penuh dengan buku taktik dan laporan. Aurora tertawa kecil saat beberapa berkas jatuh ke lantai.
"Kamu nakal banget, Aurora," bisik Langit di ceruk leher istrinya. Suaranya serak, penuh gairah yang tertahan.
"Aku cuma nakal sama suamiku sendiri," balas Aurora dengan desahan halus saat bibir Langit mulai menjelajahi tulang selangkanya.
Di Luar Kamar (Teras Paviliun)
Pak Bambang dan Bintang sedang duduk di bangku kayu, hanya berjarak beberapa meter dari jendela kamar Langit yang tertutup gorden tipis. Suasana malam yang sunyi membuat suara-suara sekecil apa pun merambat dengan jelas.
Brak! (Suara meja yang tergeser)
"Aduh, Mas... pelan-pelan..." Suara Aurora terdengar samar namun jelas nadanya.
Bintang yang sedang meminum kopi langsung tersedak. "Uhuk! Pak... itu... itu suara Non Aurora?"
Pak Bambang langsung pura-pura batuk keras untuk menutupi suara dari dalam. "Ehem! Ehem! Bin, coba kamu cek gerbang depan, sepertinya ada kucing lewat!"
"Kucing apa Pak, itu jelas-jelas suara—"
"Mas Langit... ahh... kamu kenceng banget..." Suara desahan Aurora kembali terdengar, kali ini diikuti suara tempat tidur kayu yang berderit ritmis. Kriet... kriet... kriet...
Wajah Bintang memerah padam. Ia menatap Pak Bambang dengan mata melongo. "Pak, tempat tidur Bang Langit kayaknya butuh dikasih pelumas besok pagi. Berisik banget."
Pak Bambang menghela napas, berusaha tetap tenang meski telinganya juga panas. "Sudah, Bin. Jangan didengerin. Namanya juga pengantin baru yang dipaksa pisah ranjang sama mertua. Itu namanya pelepasan stres."
"Tapi Pak, itu suaranya makin... wah, Bang Langit ternyata ganas juga ya kalau di dalam kamar," bisik Bintang sambil senyum-senyum sendiri.
Di dalam, Langit dan Aurora sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Langit membenamkan wajahnya di rambut Aurora, napasnya memburu saat ia menyatukan tubuh mereka di atas kasur sempit paviliun yang kini menjadi saksi bisu penyatuan mereka yang panas.
"Mas... aku sayang kamu..." Aurora membisikkan kata-kata itu di tengah ciuman mereka yang dalam.
Langit tidak menjawab dengan kata-kata, tapi lewat sentuhan dan gerakannya yang semakin menuntut. Ia mencintai wanita ini dengan seluruh jiwanya, dan di kamar sempit ini, status sosial mereka menguap sepenuhnya. Hanya ada Langit dan Aurora, suami dan istri yang sedang merayakan kebebasan mereka.
Beberapa saat kemudian, saat semuanya mencapai puncaknya, Aurora memekik pelan sambil mencengkeram bahu Langit yang berkeringat.
"Waduh," gumam Bintang sambil menutup telinganya. "Pak, saya pindah tidur ke pos depan aja deh. Nggak kuat saya denger 'siaran langsung' begini."
Pak Bambang terkekeh, meski ia juga merasa canggung. "Ya sudah, sana pergi. Biarkan mereka. Tapi ingat Bin, jangan pernah bahas ini di depan Bapak kalau kamu masih sayang nyawa."
"Siap, Pak! Rahasia negara ini mah!" Bintang ngacir pergi sambil menahan tawa.
Pak Bambang menatap pintu kamar Langit yang masih tertutup. Ia tersenyum tipis. "Selamat ya, Ngit. Akhirnya kamu benar-benar jadi laki-laki."
Di dalam kamar, Aurora tertidur pulas di pelukan Langit, kelelahan namun sangat bahagia. Sementara Langit tetap terjaga sejenak, mengelus rambut istrinya, menyadari bahwa meski hari esok ia akan kembali dimarahi oleh Anggara, malam ini ia adalah pria paling beruntung di dunia.
***
Suasana di lobi utama mansion Widjaja terasa dingin meski jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi. Cahaya biru remang dari lampu taman masuk melalui celah gorden besar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mencekam. Aurora berjalan berjinjit, tangannya masih memegang erat tudung hoodie kebesaran milik Langit yang menutupi jubah satinnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya membawa sisa-sisa kelelahan yang tampak... bahagia.
Baru saja satu kakinya menapak pada anak tangga ketiga, sebuah suara bariton yang berat dan dingin memecah kesunyian.
"Habis dari mana kamu, Aurora?"
Aurora tersentak kaget hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia berpegangan erat pada handrail tangga dan menoleh cepat. Di sana, di balik meja kerja kecil di sudut ruang tengah, Anggara Widjaja duduk dengan lampu meja yang menyala redup. Di tangannya ada sebuah tablet, namun matanya menatap tajam ke arah putri bungsunya.
"Papa! Ngagetin aja sih," keluh Aurora sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang. Ia mencoba mengatur raut wajahnya agar tampak sedatar mungkin.
Anggara berdiri, melangkah perlahan mendekati tangga dengan tangan tertaut di belakang punggung. "Papa tanya sekali lagi, habis dari mana kamu jam begini? Masuk lewat pintu belakang dengan pakaian seperti itu?"
"Papa kayak detektif aja," Aurora mencoba berkelit. "Tadi aku cuma... cari angin di taman. Nggak bisa tidur."
"Cari angin pakai jaket Langit?" Anggara menunjuk logo kesatuan di dada jaket yang dipakai Aurora. Tatapannya semakin menusuk. "Habis dari mana kamu?"
Aurora menghela napas panjang. Ia sudah lelah harus terus bermain kucing-kucingan di rumahnya sendiri. Dengan gerakan berani, ia melepaskan tudung jaketnya dan menatap ayahnya dengan dagu terangkat.
"Abis dari kamar suami aku, kenapa? Nggak boleh ya?" jawab Aurora enteng.
Wajah Anggara memerah seketika. Urat di pelipisnya tampak menegang. "Aurora! Papa sudah bilang, selama kalian masih di rumah ini, kalian harus menjaga batasan! Kamu tahu betapa berisikonya kalau pelayan atau orang lain melihat kamu menyelinap ke paviliun ajudan malam-malam?"
"Batasan apa sih, Pa?" Aurora memutar bola matanya. "Kami sudah nikah. Sah. Secara agama, secara hukum. Kenapa Papa masih mau ngatur kapan aku boleh ketemu suamiku sendiri?"
"Ini soal martabat! Soal citra keluarga!" bentak Anggara pelan namun penuh penekanan.
"Udah ah, Pa. Aurora capek banget, mau tidur," potong Aurora sambil melangkah naik. Ia berhenti sejenak di anak tangga kelima, lalu menoleh dengan senyum miring yang sangat provokatif. "Tadi aku abis 'ngelayanin' Mas Langit, jadi sekarang aku butuh istirahat total. Papa jangan berisik lagi ya."
Anggara tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Ia melongo, benar-benar syok mendengar ucapan yang begitu frontal dan vulgar dari mulut putrinya sendiri. Ia mematung di kaki tangga, menatap punggung Aurora yang menghilang di balik pintu kamar lantai atas dengan perasaan campur aduk antara marah, malu, dan tidak percaya.
Sementara itu, suasana di paviliun ajudan jauh lebih riuh. Langit baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian seragam lengkap, siap memulai tugas paginya. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah paviliun, ia langsung disambut oleh "sidang umum".
Pak Bambang sedang menyeduh kopi sambil senyum-senyum sendiri, sementara Bintang dan dua ajudan junior lainnya, Dedi dan Rian, sudah duduk melingkar seperti sedang menunggu konferensi pers.
"Pagi, Bang Langit yang perkasa," celetuk Bintang dengan nada yang sangat menyebalkan.
Langit mengernyitkan kening. "Pagi. Kenapa kalian kumpul di sini? Jadwal Bapak jam tujuh, cepat siap-siap."
"Waduh, perintahnya langsung tegas ya setelah 'lembur' semalam," goda Dedi sambil menyikut Rian.
Langit berhenti merapikan baretnya. Ia menatap mereka satu per satu. "Maksud kalian apa?"
"Halah, Bang! Nggak usah akting kaku lagi," Bintang berdiri dan merangkul bahu Langit. "Semalam itu paviliun kayak ada gempa lokal. Tempat tidur lo bunyi kriet-kriet kayak mau patah, Bang. Belum lagi suara Non Aurora yang... wah, saya sampai harus pasang headset dengerin musik metal biar nggak dapet 'dosa' kuping."
Wajah Langit yang biasanya pucat kini memerah sampai ke telinga. Ia mencoba tetap tenang meski hatinya sangat malu. "Bintang, jaga bicaramu. Itu masalah pribadi."
"Pribadi sih pribadi, Bang, tapi volumenya itu lho!" sahut Rian sambil tertawa. "Kita semua di sini saksi bisu perjuangan Abang semalam. Hebat ya, pantesan pagi ini Abang kelihatan seger banget, meski matanya agak mata panda dikit."
Pak Bambang ikut menimpali sambil meletakkan cangkir kopinya. "Ngit, saran saya ya, besok-besok kalau Non Aurora datang lagi, tolong kaki tempat tidurnya dikasih ganjal karet. Kasihan si Bintang, dia sampai nggak berani keluar mau buang air kecil gara-gara takut ganggu 'konser' kalian."
"PAK BAMBANG!" seru Langit, benar-benar kehilangan wibawanya.
"Hahaha! Santai, Ngit. Kita semua senang kok liat kamu bahagia," ucap Pak Bambang sambil menepuk punggung Langit. "Tapi hati-hati, tadi saya liat Bapak mukanya sepet banget pas keluar kamar. Kayaknya Non Aurora abis bikin ulah lagi."
"Dia... dia bilang apa?" tanya Langit cemas.
"Nggak tahu pasti, tapi kayaknya Non Aurora abis ngaku dosa dengan cara yang sangat frontal," jawab Bintang sambil nyengir. "Saran gue, Bang... hari ini jangan deket-deket Bapak dulu kalau nggak mau dikuliti hidup-hidup."
Langit menghela napas panjang. Ia tahu hari ini akan menjadi hari yang berat. Di satu sisi, ia merasa sangat bahagia karena momen intimnya dengan Aurora, namun di sisi lain, ia harus menghadapi kemurkaan Anggara yang dipicu oleh kejujuran istrinya yang terlalu berani.
"Sudah, bubar semua! Kembali ke posisi masing-masing!" perintah Langit dengan nada otoriter, meski ia tahu ledekan rekan-rekannya tidak akan berhenti sampai di sini.
Saat ia berjalan menuju lobi untuk menjemput Anggara, Langit bergumam dalam hati, "Aurora... kamu benar-benar mau bikin suamimu ini pensiun dini ya?"
Tapi di balik kecemasannya, ada senyum tipis yang tersungging. Ia tahu, meskipun dunia di luar paviliun ini penuh dengan drama politik dan amarah Anggara, di dalam kamar sempit itu, ia adalah pria paling beruntung yang pernah ada.
***
Aurora bener-bener ya 🤣🤣💃💃