Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk TV
Arjuna Madhava alias Juned, sang aktor narsis kebanggaan komplek, terpaksa menyetujui permintaan sutradaranya untuk syuting di lingkungan rumahnya sendiri demi menambah penghayatan karakter. Namun, di balik wajah tampannya yang terpampang di baliho depan komplek, Juned memendam kekhawatiran besar terhadap kelakuan para tetangganya yang sering kali "ajaib".
Sebelum kru film datang membawa lampu-lampu raksasa, Juned mencoba melakukan pencegahan dini melalui grup WhatsApp kebanggaan Pak RT.
[Grup WA: Warga Guweh]
Juned: "Assalamuaikum warga! Besok rumah saya dan area taman Blok C bakal dipakai syuting film terbaru saya. Mon kareh tolong (Kalau boleh tolong), jangan ada yang teriak-teriak atau minta foto pas kamera lagi rolling ya. Ini urusan profesional! "
Adit: "WADUH! Artis komplek mau beraksi! Tenang Ned, gue bakal pasang tarif parkir buat kru film lu. Lumayan buat nambahin modal nikah! "
Vino: "Syuting apa kau Ned? Kalau butuh behind the scene (BTS) pake kamera DSLR-ku, bilang saja. Tapi bayarannya nasi kotak dua! "
Genta: "Kang Juned! Boleh nggak Genta jadi figuran yang lewat sambil nyanyi? Siapa tahu sutradaranya butuh suara merdu buat soundtrack dadakan! "
Hani: "Juneeeeed! Kenapa nggak bilang dari kemarin? Aku mau dekor taman pake bunga-bunga paling cantik biar frame film kamu makin estetik!
Sarah: "SIAP-SIAP GANTI OUTFIT! Gue bakal live streaming proses syutingnya, exclusive dari balik pagar rumah Malik! Judulnya: 'Gantengnya Tetanggaku Saat Akting'. Mantul parah pasti! "
Jisel: "Ned, do you need a stylist? Aku ada beberapa koleksi baju yang cocok buat karakter kamu. Daripada kamu pake kemeja sutra yang kancingnya dibuka dua mulu, bosen liatnya! "
Juned yang sedang membaca pesan-pesan itu sambil menggaruk kepalanya hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, meminta warga Griya Visual untuk diam adalah misi yang lebih mustahil daripada menghafal naskah seratus lembar.
Juned: "Pokoknya jangan ada yang bawa toa masjid atau ring light ke dekat set! @Sarah @Genta awas kalian ya! "
Ayu: "... (Hanya menyimak sambil memastikan gorden kamarnya tertutup rapat agar tidak kena sorot lampu syuting) "
Pak RT: "Tenang Juned! Papi Bambang bakal jadi satpam asmara sekaligus satpam lokasi besok. Yang berisik, iuran sampahnya Papi naikin dua kali lipat!
Lokasi syuting di sekitar taman Blok C dan rumah Juned seketika dipadati warga yang mendadak punya "urusan mendesak" untuk lewat di depan kamera. Berbagai kekocakan terjadi karena ambisi warga yang ingin mencuri frame agar wajahnya masuk televisi. Adit berkali-kali lewat di belakang Juned sambil mempraktikkan gerakan dancenya
Genta pura-pura menyiram tanaman sambil bersenandung dengan volume yang sengaja dikeraskan, berharap sutradara terpikat pada suaranya. Di sisi lain Sarah berdiri paling depan dengan ring light portabel, melakukan vlogging tepat di samping asisten sutradara yang sedang sibuk mengatur adegan.
Vino bukannya membantu, malah sibuk mengambil foto candid kru film untuk dijadikan bahan konten, bahkan sempat berdebat soal angle dengan fotografer resmi set.
"Aduh, pening kepalaku! Beremmah be'en kabeh?! (Gimana kalian semua?!)" teriak Juned frustrasi sambil memegang naskahnya. Sutradara dan kru film mulai terlihat stres karena setiap kali kata "Action!" diteriakkan, selalu ada warga yang mendadak muncul sebagai figuran tak diundang.
Kekacauan itu baru berhenti total saat sebuah motor besar hitam menderu masuk ke area Blok C. Bima, sang Kapten Unit Jatanras, datang dengan seragam lengkap dan wajah kaku yang memancarkan aura otoritas.
Tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun, Bima hanya melepaskan helm dan menatap tajam ke arah kerumunan warga. Efeknya instan, Adit langsung pura-pura sibuk mencuci motor di garasinya sendiri.
Sarah mematikan ring light-nya dan bersembunyi di balik pagar rumah. Sedangkan Genta mendadak diam dan pura-pura sedang fokus membaca buku. Kula yang tadinya mau meminta tanda tangan sutradara langsung memutar balik motor Aerox-nya.
"Lapor, area sudah steril. Silakan dilanjutkan," ucap Bima singkat kepada sutradara sambil melirik Juned.
Hani yang melihat kedatangan Bima langsung berlari ke pagar rumahnya, melupakan sejenak keramaian syuting. "Aww, Mas Bimaaa! Gagah banget kalau lagi nertibin warga!" serunya dengan centil.
Bima hanya memberikan anggukan minimalis, lalu berdiri bersedekap di pojok set untuk memastikan tidak ada lagi warga yang berani melakukan "aksi masuk TV".
Di tengah hiruk-pikuk lokasi syuting yang mulai kondusif berkat kehadiran Bima , salah satu kru film justru melihat peluang konten menarik. Mereka ingin mewawancarai salah satu warga karena tingkah lucu dan keunikan karakter yang mereka lihat selama proses pengambilan gambar.
Sontak saja, pengumuman wawancara itu memicu keributan baru. Semua warga berebut ingin masuk kamera, terutama Pak RT yang langsung merapikan rambutnya dan tampil narsis di barisan paling depan. Namun, Juned yang sudah pening melihat kelakuan warganya, segera mengambil tindakan. Ia menyeret Kiran, sang desainer high-fashion, untuk maju ke depan kamera.
Kiran yang masih dalam mode meditasi tampak sangat percaya diri saat mikrofon disodorkan. Sayangnya, jawaban yang keluar dari mulut Kiran benar-benar tidak nyambung dengan pertanyaan kru, ia malah sibuk membahas "aura ketenangan" dan "frekuensi semesta". Juned hanya bisa menepuk jidatnya melihat sang desainer yang bicara melantur di depan kru film internasionalnya.
Melihat Kiran gagal total, Pak RT kembali merangsek maju dengan penuh ambisi. Ia sudah menyiapkan pidato panjang tentang kerukunan warga. Begitu kamera menyorot wajahnya, keberanian Pak RT mendadak menguap. Suaranya gemetar hebat, keringat dingin bercucuran, dan ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun selain gumaman yang tidak jelas.
Papi Gaul yang biasanya sangat berisik di grup WhatsApp itu ternyata mengalami demam panggung yang parah di depan kamera sungguhan.
Melihat situasi yang semakin memalukan, Juned akhirnya menunjuk Ara. Produser musik yang perfeksionis dan galak ini dianggap sebagai satu-satunya warga yang paling normal dan logis jika diwawancarai.
Ara maju dengan wajah pucat namun sangat tenang. Ia memberikan jawaban yang singkat, padat, dan sangat efisien, persis seperti cara dia membalas pesan di grup.
Kru film akhirnya bernapas lega karena mendapatkan jawaban yang berbobot, sementara warga lainnya hanya bisa menonton dari balik pagar dengan rasa iri yang menggelitik. Vino yang melihat dari kejauhan tidak lupa mengambil foto para warga saat wawancara, siap untuk menjadikannya bahan ledekan baru di grup warga nanti malam.