Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — Momen yang Tak Terlupakan
Malam Sydney dingin, tapi apartemen Bella hangat karena lampu-lampu kuning lembut dan aroma kopi sisa sore tadi. Bella duduk di sofa, selimut tipis membungkus tubuhnya, sambil memikirkan hari-hari terakhir. Kehadiran Dominic yang konsisten, perhatian yang tanpa pamrih, semuanya membuat hatinya campur aduk.
Ia mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus kembali pada Dominic—senyum tipisnya, tatapan penuh penyesalan, dan cara pria itu selalu menghargai ruangnya.
Tiba-tiba, ketukan di pintu membuat Bella menoleh.
“Bella…”
Suara itu membuat tubuhnya menegang sekaligus berdebar. Dominic berdiri di sana, sedikit basah karena hujan ringan yang turun sebelumnya. Di tangan kanannya, ia membawa secangkir cokelat panas, di tangan kiri sebuah selimut hangat.
“Dominic, kau terlalu sering muncul,” ujar Bella, mencoba terdengar tegas tapi suaranya bergetar tipis.
Dominic tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku nggak bisa diam. Aku nggak mau ada malam lagi yang kau lalui sendiri. Dan aku… aku ingin kita bicara. Terkadang, tatap mata lebih bisa bicara daripada kata-kata.”
Bella menelan ludah. Ia tahu Dominic sedang bermain dengan hatinya—tapi bukan sekadar menggoda. Ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang tulus.
Dominic duduk di sofa, menyerahkan cokelat panas itu padanya.
“Hangatkan diri dulu,” katanya lembut.
Bella menerima cangkir itu, merasakan aroma cokelat yang manis. Ia menatap Dominic, dan untuk pertama kali, tanpa disadari, hatinya sedikit melunak. Dominic menatap balik, tanpa kata-kata, hanya tatapan yang berbicara: maaf, aku menyesal, aku ingin kau percaya lagi.
Malam itu sunyi, hanya terdengar hujan di luar dan suara napas mereka. Bella menyesap cokelatnya perlahan, sementara Dominic tetap duduk di sampingnya, menjaga jarak tapi tetap terasa dekat.
“Bella…” Dominic akhirnya memecah kesunyian. “Aku nggak minta kau memaafkan aku sekarang. Tapi aku mau kau tahu, aku nggak akan mengulang kesalahan itu. Aku nggak akan pernah selingkuh lagi. Aku hanya ingin kita… kita berdua, utuh lagi.”
Bella menunduk. Suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku… aku takut, Dominic. Takut terluka lagi. Aku nggak ingin hatiku patah lagi.”
Dominic meraih tangan Bella, lembut tapi tegas.
“Tak apa kalau kau takut. Aku mau tunggu. Aku akan sabar sampai kau benar-benar siap percaya lagi.”
Mereka duduk bersebelahan, tangan saling menggenggam. Perlahan, Dominic mulai menyingkap selimut yang menutupi tubuh Bella, hanya untuk membuatnya hangat. Bella tak menolak. Ada rasa nyaman yang ia rindukan—rasa yang sempat hilang karena pengkhianatan masa lalu.
Dominic memandang Bella dalam-dalam. “Aku ingin kau tahu, malam ini aku hanya ingin kita dekat… bukan karena aku ingin menang, tapi karena aku ingin kau merasa aman. Bahwa aku ada untukmu, selalu.”
Bella menelan ludah. Hatinya campur aduk—marah, benci, tapi juga rindu. Dominic perlahan merapatkan tubuhnya ke Bella, tetap menghormati ruangnya, tapi memberikan kehangatan yang selama ini ia rindukan.
Momen itu sunyi, tapi penuh arti. Tidak ada kata-kata manis berlebihan. Hanya kehadiran dan kontak yang lembut, membuat hati Bella sedikit demi sedikit luluh. Dominic tidak memaksa, hanya hadir, menunggu, dan menunjukkan keseriusannya.
Bella menutup mata, merasakan tangan Dominic di tangannya. Ia tahu ini langkah pertama, kecil tapi berarti. Ia mulai membuka hati sedikit demi sedikit, mempercayai Dominic bukan karena kata-kata, tapi karena tindakan nyata yang ia lakukan setiap hari.
Dominic menunduk, berbisik lembut di telinga Bella, “Aku mencintaimu. Aku nggak akan menyerah. Biarpun kau jual mahal, aku akan tetap di sini. Untukmu. Untuk bayi kita.”
Dan malam itu, dalam kehangatan apartemen yang sederhana, Bella merasakan sesuatu yang lama ia rindukan—kepercayaan kecil mulai tumbuh, cinta yang perlahan kembali, dan harapan baru yang tak pernah ia duga bisa ada lagi.
Dominic tersenyum tipis, menatap Bella dengan penuh penyesalan, cinta, dan tekad. Ia tahu jalan mereka masih panjang, penuh konflik, dan rintangan. Tapi malam itu, satu hal jelas: mereka memulai babak baru. Bukan dengan kata-kata manis semata, tapi dengan kehadiran, tindakan, dan cinta yang tulus.
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹