NovelToon NovelToon
Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pengganti / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Pengasuh
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.

Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.

Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.

"​Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."

Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ceraikan Dia

“Tunggu, kamu salah paham!”

Jemari Rayna terhenti di kancing kedua begitu Deva menahannya.

“A-aku menyuruhmu pergi, bukan… buka baju di sini,” ucap Deva gugup. Jantungnya berdegup cepat, rona merah samar muncul di wajahnya.

Rayna terdiam sejenak. Tatapannya kosong seperti sedang memproses sesuatu, dan itu justru membuat Deva makin kesal.

“Ah, jadi begitu!” Rayna tiba-tiba menepuk telapak tangannya sendiri hingga Deva tersentak.

“Maksudnya aku pergi ambilkan baju Kak Deva ke dalam rumah, ya?” lanjutnya, tersenyum canggung karena sadar ia salah paham.

Deva mendesis pelan, lalu memalingkan wajah.

“Sudahlah, pergi saja! Berhenti menggangguku,” usirnya, menunjuk ke arah pintu tanpa menatap Rayna.

Rayna melipat bibirnya, namun tetap bangkit tanpa membalas. Baru beberapa langkah, ketukan di pintu membuatnya berhenti.

Tok… tok…

Deva langsung terperanjat. Wajahnya kembali panik. Dengan cepat ia meraih selimut dan menarik Rayna ke sudut ruangan.

“Shh! Diam di sini. Jangan gerak, jangan bicara!” bisiknya tergesa, menutupi tubuh Rayna dengan selimut.

Rayna makin bingung. Bukankah mereka sudah resmi menikah? Kenapa harus sembunyi seperti ini?

Rasa penasarannya menang. Ia mengintip sedikit dari balik selimut.

Seorang bocah berdiri di depan Deva. Wajahnya tampan, perpaduan antara Nicholas dan Alexa, dengan ekspresi datar yang hampir tak berubah.

Bocah itu sempat melirik ke arah sudut ruangan, namun Deva segera bergeser menghalangi pandangannya.

“Ck, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu dari tadi,” decak Deva, langsung merampas pakaian dan senter dari tangan bocah itu.

Bocah itu, Xavier tidak menjawab. Ia hanya menatap datar.

Saat Deva mulai mengenakan pakaiannya, Rayna buru-buru menutup mata. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar tak karuan.

Tiba-tiba, suara datar Xavier memecah suasana.

“Kok ada bau lain di sini?” Ia mengendus pelan, lalu menatap tajam ke arah Deva.

“Bang Dev barusan sama siapa?”

Deva membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.

“Bau lain? Nggak ada kok. Aku cuma sendirian di sini. Sana, kamu balik saja ke dalam rumah,” elak Deva, mencoba mendorong adiknya keluar dari rumah pohon.

Namun bukannya turun, Xavier justru duduk santai di tepian, kakinya menggantung.

“Nanti saja. Aku mau di sini dulu. Mau bicara sebentar denganmu, Bang,” ucapnya tenang, menatap rembulan yang menggantung di langit.

Deva menghela napas panjang. Sekilas ia melirik ke arah Rayna, memberi isyarat dengan mata agar gadis itu tetap diam di tempatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Deva akhirnya, ikut duduk di samping Xavier.

Xavier terdiam cukup lama, seolah menyusun kata. Lalu tanpa basa-basi, ia langsung menyinggung hal yang selama ini dihindari.

“Aku cuma mau tahu, kenapa Bang Deva tidak masuk saja ke dalam? Padahal banyak kamar kosong yang bisa dipakai.”

Deva mendengus pelan.

“Aku tidak mau satu atap dengannya,” jawabnya terus terang.

Kalimat itu seperti menghantam Rayna dari dalam. Dadanya sesak seketika. Tubuhnya lemas tak bertulang.

“Kenapa?” tanya Xavier lagi, datar. “Dia sudah resmi jadi keluarga kita. Seharusnya tidak masalah, kan?”

Hening.

Deva tidak langsung menjawab.

“Kalau memang tidak mau dengannya… kenapa tidak menceraikannya saja?”

Kali ini Deva benar-benar terdiam. Kepalanya tertunduk.

Di sudut ruangan, Rayna meremas dadanya sendiri, menahan sesuatu yang terasa menyesakkan. Sangat sakit sampai rasanya ingin berteriak saat itu juga.

“Xavier, kamu masih anak-anak. Jangan ikut campur urusan kami,” ucap Deva akhirnya, sedikit kesal.

Xavier meliriknya tipis.

“Aku memang masih anak-anak. Tapi setidaknya aku tidak kekanak-kanakan seperti Bang Deva.”

Ucapan itu telak, membuat Deva bungkam.

“Jujur saja,” lanjut Xavier, “Bang Deva masih suka padanya, kan?”

Tangan Deva langsung mengepal kuat.

“Aku membencinya lebih daripada apapun!” bentaknya, suaranya meninggi.

Rayna menunduk dalam, jemarinya mencengkeram kain di dadanya.

“Benci?” Xavier tersenyum samar, seolah tak percaya. “Kalau benci, kenapa setiap hari Bang Deva justru terlihat seperti merindukannya?”

Deva tidak menjawab.

“Bukannya benci… Bang Dev sebenarnya senang, kan? Akhirnya bisa bersama dia lagi.”

Tatapan Xavier tajam, seolah mampu menembus isi kepala Deva.

Deva buru-buru memalingkan wajah, rahangnya mengeras.

“Aku akan senang kalau dia kembali ke Meksiko dan tidak pernah lagi muncul di hadapanku.”

Kalimat itu dingin. Terlalu dingin dan menyakitkan.

Dan cukup untuk menghancurkan harapan yang Rayna coba pertahankan.

Xavier berdiri, menepuk ringan celananya. Ia menatap Deva sekali lagi.

“Kalau memang itu yang Bang Deva inginkan… ceraikan dia besok pagi. Biar Ayah bisa mengirimnya kembali ke orang tuanya.”

Tanpa menunggu jawaban, Xavier langsung menuruni tangga rumah pohon.

Hening.

Suasana mendadak terasa kosong dan dingin.

Deva masih duduk diam, pikirannya kacau. Namun beberapa detik kemudian, ia bangkit dan langsung terkejut karena Rayna sudah berdiri tepat di hadapannya.

Mata gadis itu merah, bukan karena marah… tapi karena air mata yang mati-matian ia tahan.

Saat itu juga Deva sadar—semua ucapannya tadi terdengar.

“Kamu…” suara Deva melemah. Tangannya terulur, ingin menyentuh.

Namun Rayna menepisnya. Plak!

Ia melangkah tergesa hingga bahunya sempat menabrak lengan Deva.

“Rayna—”

Deva hendak menahan, tapi terlambat.

Rayna sudah menuruni tangga dan berlari menjauh.

Deva hanya bisa berdiri diam. Tangannya mengepal kuat, kepalanya tertunduk.

Bayangan air mata Rayna barusan terus terlintas di benaknya dan entah kenapa, itu jauh lebih menyakitkan daripada yang ia kira. “Apa tadi aku sudah bicara keterlaluan?”

Rayna berlari tanpa arah, langkahnya menggema di lorong panjang yang sunyi. Malam terasa begitu mencekam, hanya suara napasnya yang tersengal dan detak jantungnya yang tak beraturan menemani.

Ia berhenti tepat di depan jendela besar.

Sinar rembulan masuk melalui kaca, membentuk bayangan pucat di lantai. Rayna bersandar lemah di dinding di sampingnya.

Dan saat itu juga, pertahanannya runtuh.

Tangisnya pecah.

Ia menepuk dadanya yang terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menghimpit kuat dari dalam. Napasnya terputus-putus dan air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.

“Kenapa… sakit sekali…” lirihnya di sela isak.

Rayna tak pernah menyangka… cinta yang bertepuk sebelah tangan bisa sepedih ini.

Ia sudah mencoba kuat. Sudah berusaha memahami. Tapi kata-kata Deva barusan… terlalu tajam.

Perlahan, tubuhnya merosot hingga duduk di lantai dingin. Kepalanya tertunduk, bahunya bergetar hebat.

Tangisnya semakin menjadi.

Ia mencoba mengendalikan diri, menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar, namun sia-sia. Air matanya terus mengalir, membasahi pipi hingga dagunya.

Hingga tiba-tiba—

Sebuah sapu tangan muncul di hadapan matanya.

Rayna tertegun.

Tangisnya terhenti sejenak. Dengan mata sembab, ia mendongak pelan.

“Deva…” gumamnya lirih berharap itu Deva yang mengejarnya. Namun detik berikutnya, matanya membesar.

Bukan Deva.

Melainkan Asha.

Rayna terpaku, napasnya tercekat hingga akhirnya air matanya berlinang kembali membuat Asha panik dan segera berjongkok untuk berusaha menenangkan adik iparnya yang malang itu. Rasanya ia ingin menghilang sekarang juga.

________

Jangan lupa, like, vote, komen dan favoritkan supaya author semangat nulis ceritanya sampai tamat, terima kasih...

1
Heni Mulyani
lanjut
Lisa Halik
makasih thor...rajin2 ya
tia
semangat thor ,, dn sukses karya nya.
Annabelle
mmm...deva romantis banget ..
tia
lanjut thor ,,belom lengkap kalo gk ada cedal
Mom Ilaa: di bab barunya nanti kak😆
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
lucu🤣
Lisa Halik
mmmmm
AltaeAT
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
Riana
🤭
Lisa Halik
sudah bagi gift thir...lagi2 updatenya...makin seru/penasaran sebab kalendra bakal turun ke jarkarta indonesia
Mom Ilaa: siap-siap Dev disidang ayah mertua 🤭, trima kasih dukungannya ♥️
total 1 replies
ovi eliani
bagus rayna kasih pelqjarqn tuh Deva
Virenneluplup
nih bocah, kirain napa tadi
Heni Mulyani
lanjut
Jj^
terimakasih Thor 🤗
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗
Nurjannah Rajja
Kurkas rusak mana dingin, panas malah....😁
Nurjannah Rajja
Salah duga😁
Adinda
lanjut thor sampai 5bab lagi😄
Lisa Halik
sudah beri gift thor...lagi thor di lanjut updatenya......biar deva galau&betul2 nyesal atas perbuatannya
Lisa Halik
makasih updatenya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!