Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKAD
Zuo Chen tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di antara pepohonan bambu. Ia kemudian menekan kakinya lebih keras hingga hidung Fang Han terbenam sepenuhnya di lumpur.
"Sumpah dari seekor semut tidak akan pernah terdengar oleh naga yang terbang di langit, Fang Han! Kau tidak memiliki kualifikasi untuk bersumpah! Kapten, patahkan satu kaki pria tua itu agar dia tahu rasa sakit karena memiliki keponakan yang tidak tahu diri!"
"TUNGGU! HENTIKAN KEGILAAN INI SEKARANG JUGA!" teriak sebuah suara berwibawa yang mengguncang suasana mencekam itu.
Seorang pria tua dengan jubah putih bersih yang tampak kontras dengan lumpur di halaman itu muncul dengan tergesa-gesa. Itu adalah Tabib Lu. Ia tidak datang dengan tangan kosong; ia membawa sebuah gulungan surat dengan segel emas resmi kekaisaran yang berkilau di bawah cahaya.
"Tuan Muda Zuo! Hentikan tindakan gegabahmu jika kau masih sayang pada masa depan keluargamu!" Tabib Lu berteriak dengan suara yang penuh penekanan dan wibawa yang membuat para pengawal kota ragu-ragu.
"Paman Fang Zhou adalah mantan sersan berprestasi di bawah komando Jenderal Besar di ibu kota. Meskipun ia sudah pensiun, namanya masih tercatat di arsip militer sebagai veteran yang berjasa. Jika kau membunuhnya tanpa pengadilan militer resmi atau alasan yang sah, ayahmu akan kehilangan jabatannya—atau mungkin kepalanya—dalam satu malam karena kemarahan militer!"
Zuo Chen berhenti seketika. Wajahnya yang sombong kini menegang karena ragu. Ia tahu ayahnya sangat takut pada otoritas militer pusat. Ia menatap Kapten Iron, yang perlahan melepaskan cengkeramannya pada leher Fang Zhou. Sang paman jatuh terkapar di tanah, terbatuk-batuk hebat sambil berusaha menghirup udara yang terasa seperti anugerah kehidupan kedua.
Zuo Chen mengangkat kakinya dari kepala Fang Han dan meludah ke arah pemuda yang bersimbah lumpur itu.
"Berterima kasihlah pada tabib tua ini, sampah. Dia baru saja memperpanjang napasmu yang tidak berguna. Tapi dengarkan aku baik-baik. Pajak perlindungan itu tetap berlaku tanpa ampun. Jika dalam tujuh hari kau tidak bisa membayar seratus keping perak sebagai kompensasi atas kerugian moralku, aku akan kembali, dan saat itu, bahkan Jenderal atau Kaisar pun tidak akan bisa menyelamatkan gubuk sialan ini dari amukanku!"
Zuo Chen berbalik dengan kasar, naik ke kudanya dengan angkuh, dan memacu hewannya pergi bersama pasukannya, meninggalkan debu yang berterbangan. Lin Meili memberikan tatapan jijik terakhir—sebuah tatapan yang secara resmi mematikan sisa-sisa kemanusiaan dan cinta di hati Fang Han—sebelum ia berbalik mengikuti kekasih barunya.
Halaman itu kini sunyi, hanya menyisakan isak tangis tertahan dari beberapa tetangga yang menonton dari jauh dan bau debu serta lumpur yang menyesakkan. Tabib Lu membantu Fang Zhou berdiri dengan tangan gemetar, sementara Fang Han masih terduduk diam di tengah lumpur. Ia tidak segera bangkit. Ia menatap tangannya yang kotor, gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang kini telah mendingin menjadi tekad yang membeku.
"Han-er... anakku, kau tidak apa-apa?" Paman Fang Zhou mendekat dengan langkah limbung, mencoba menyentuh wajah keponakannya untuk menghapus lumpur di sana.
"Jangan dengarkan kata-kata mereka, Nak. Kau tidak lemah. Kau hanya... kau hanya belum saatnya bersinar. Paman akan mencari jalan untuk uang perak itu, kau jangan khawatir."
"Tidak, Paman. Berhentilah membohongiku dan membohongi dirimu sendiri," potong Fang Han pelan.
Ia berdiri perlahan, membiarkan lumpur jatuh dari pakaiannya. Matanya tidak lagi menunjukkan kesedihan atau air mata, melainkan kegelapan yang tenang, dingin, dan tajam seperti mata pisau yang baru saja diasah.
"Aku lemah. Sangat lemah. Kemarin aku merasa sombong karena bisa menjatuhkan seorang pengecut seperti Zuo Chen. Tapi hari ini aku sadar dengan sangat menyakitkan, bahwa tanpa kekuatan yang nyata, cinta, harga diri, dan bahkan kebenaran hanyalah sampah yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun yang memiliki kepingan uang dan senjata di tangannya."
Fang Han menoleh ke arah Tabib Lu dengan tatapan yang membuat sang tabib tua itu bergidik, merasakan aura yang sangat berbeda dari pemuda ceroboh yang ia kenal selama ini.
"Paman Lu, ajari aku. Aku memohon padamu. Bukan hanya tentang bagaimana membedakan akar obat atau mencampur serbuk penenang. Ajari aku tentang energi dunia ini. Ajari aku cara mengolah rasa sakit menjadi kekuatan yang menghancurkan. Aku ingin tahu bagaimana cara membuat orang-orang itu berlutut di hadapanmu, bukan karena takut pada secarik surat resmi, tapi karena mereka gemetar mendengar namaku bergaung di telinga mereka."
Tabib Lu menatap Fang Han dengan dalam, mencoba mencari sisa-sisa asistennya yang dulu. Ia melihat sesuatu yang mengerikan sekaligus luar biasa di dalam mata pemuda itu—sebuah tekad yang lahir dari penghinaan terdalam yang bisa dirasakan oleh seorang manusia.
"Jalan yang kau pilih adalah jalan yang penuh dengan genangan darah dan kesepian yang membeku, Fang Han," kata Tabib Lu dengan nada peringatan yang serius.
"Dunia kultivasi tidak mengenal belas kasihan bagi mereka yang ragu-ragu. Sekali kau melangkah, kau tidak bisa kembali menjadi orang biasa yang tenang."
"Aku sudah merasakan kesepian seumur hidupku di dunia lain... maksudku, di masa laluku yang sangat kelam dan dingin," jawab Fang Han dengan nada dingin yang membuat Paman Zhou merinding.
"Lebih baik aku menjadi iblis yang ditakuti oleh para tiran, daripada menjadi malaikat yang terus-menerus diinjak oleh kaki-kaki kotor mereka hanya karena aku tidak memiliki taring."
Paman Fang Zhou ingin memprotes, namun ia melihat sinar di mata keponakannya dan ia tahu bahwa Fang Han yang dulu telah mati di bawah injakan kaki Zuo Chen tadi. Yang berdiri di depannya sekarang adalah jiwa yang baru, jiwa yang telah ditempa oleh penghinaan.
"Jika itu pilihanmu, Han-er," bisik Fang Zhou dengan suara serak.
"Paman tidak akan menghalangimu. Tapi ketahuilah, kekuatan tanpa kebijaksanaan hanyalah kehancuran. Paman akan mendukungmu, apa pun yang terjadi."
Fang Han berbalik, menatap ke arah gunung-gunung tinggi yang puncaknya tertutup salju abadi di kejauhan, tempat para pendekar hebat dari berbagai sekte berlatih untuk melampaui batas kemanusiaan. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri, membiarkan darah segar menetes dan menyatu dengan tanah lumpur Desa Qinghe.
"Lin Meili, kau bilang dunia ini milik yang kuat. Zuo Chen, kau bilang sumpahku tidak akan pernah terdengar karena aku hanya semut," gumamnya pelan namun setiap suku katanya membawa beban janji yang berat.
"Tunggu saja. Saat aku kembali berdiri di hadapan kalian nanti, aku tidak akan membawa seratus keping perak. Aku akan membawa badai kehancuran yang akan meratakan setiap inci kesombongan kalian hingga menjadi abu yang diterbangkan angin."
Malam itu, di bawah atap rumah yang hampir roboh, Fang Han tidak tidur. Ia duduk di bawah pohon tua di belakang rumahnya, menutup matanya dan mulai bermeditasi dengan teknik yang Tabib Lu berikan secara rahasia. Ia mulai merasakan riak-riak energi di udara, partikel-partikel kecil yang selama ini ia abaikan, ia mulai menarik energi itu masuk ke dalam pori-porinya secara paksa, meski rasanya seperti ditusuk ribuan jarum panas.
Transformasi itu telah dimulai secara resmi. Ini bukan lagi tentang sekadar bertahan hidup dari hari ke hari sebagai asisten tabib yang ceroboh. Ini adalah tentang penaklukan total terhadap takdir yang telah mempermainkannya terlalu lama. Di dalam kegelapan malam, mata Fang Han terbuka, dan untuk sesaat, pupil matanya berkilat dengan warna perak yang aneh, menandakan bahwa sang asisten "Penyembuh" kini telah mulai menumbuhkan taring "Penakluk".
Tujuh hari. Waktunya sangat singkat, namun bagi Fang Han, setiap detiknya akan digunakan untuk menempa dirinya menjadi senjata yang paling mematikan. Ia tahu bahwa Tabib Lu menyimpan rahasia tentang kultivasi medis yang bisa mengubah racun menjadi kekuatan, dan ia tidak akan berhenti sampai ia menguasainya. Dunia Qinghe mungkin kecil, tapi bagi Fang Han, ini adalah langkah pertamanya untuk mengguncang seluruh daratan ini.
"Dunia ini telah menolakku sekali," batinnya sebelum fajar berikutnya tiba. "Maka kali ini, aku akan membuat dunia ini tunduk pada kehendakku."
Apakah tujuh hari cukup bagi seorang "semut" untuk menumbuhkan sayap naga? Ataukah ia akan hancur sebelum sempat membalaskan dendamnya?
Fang Han kini bukan lagi Li Jun yang pasrah. Ia adalah pemangsa yang sedang menajamkan kuku di kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk menerjang mereka yang telah berani merusak satu-satunya rumah yang pernah memberinya kehangatan. Setiap tetes keringat dan darah yang jatuh di tanah Qinghe malam itu adalah saksi bisu lahirnya seorang legenda yang akan mengubah peta kekuatan dunia ini selamanya. Seratus keping perak mungkin adalah hutang materi, tapi hutang harga diri hanya bisa dibayar dengan satu hal: kekuasaan mutlak.