NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 015

Di sebuah kamar yang luas dan minimalis, Aksa baru saja meletakkan helmnya. Ia duduk di kursi meja belajarnya, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Abian Winata—pesan yang isinya cukup nekat untuk ukuran orang yang baru dikenalnya.

...​Tok, tok....

​Pintu kamarnya terbuka. Seorang asisten rumah tangga paruh baya masuk membawa nampan berisi susu hangat. "Den Aksa, ini susunya. Oh iya, tadi Den Kenan telepon ke telepon rumah, katanya Den Aksa nggak bisa dihubungi."

​Aksa mengangguk pelan. "Makasih, Bi."

​Setelah asistennya keluar, Aksa membuka lemari pakaiannya. Matanya menyapu deretan pakaian olahraga yang tertumpuk rapi. Ia mengambil sebuah jersey basket hitam dengan nomor punggung 07. Ia jarang sekali menerima ajakan tanding dari orang luar Black Eagle, tapi entah kenapa, memikirkan ekspresi kaget Ziva saat melihatnya di lapangan basket rumahnya nanti memberikan kepuasan tersendiri.

​"Tukang cilok, ya?" Aksa mendengus pelan, mengingat ancaman konyol Abian. Ia kemudian meraih tas basketnya, memastikan sepatu signature-nya masih dalam kondisi prima.

​Malam itu, Zura (dalam raga Ziva) tidak bisa tidur nyenyak. Ia mondar-mandir di kamarnya dengan piyama kaos oversize. Di satu sisi, ia ingin membatalkan pertemuan besok, tapi di sisi lain, ia tahu Bang Abi tidak akan pernah melepaskannya.

​Ia akhirnya memutuskan untuk menyalakan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari grup "Trio Mager"—grup kecilnya bersama Manda dan Tika.

​[Tika]: Ziv! Serius besok si Manusia Es mau ke rumah lo? Gue sama Manda boleh numpang 'belajar' di teras rumah lo nggak? Kita pengen liat Aksa pake baju basket!

[Manda]: Iya Ziv! Plis! Ini demi kelestarian kesehatan mental kita liat pemandangan indah!

​Ziva memutar bola mata. [Ziva]: Nggak ada belajar-belajaran. Ini tanding maut antara kakak gue yang gila sama Aksa yang irit ngomong. Dateng aja kalau mau liat Bang Abi dikuliti di lapangan sendiri.

​Ziva melempar ponselnya ke kasur. Ia berjalan menuju balkon, menatap lampu-lampu kota. Pikirannya melayang pada Liana. Protagonis asli novel itu ternyata jauh lebih asyik diajak bicara daripada yang ia kira. Setidaknya, satu beban di hatinya berkurang: Liana bukan lagi musuh, melainkan kawan dalam "aliansi anti-Reygan".

​Namun, bayangan Reygan yang mematung di gerbang sekolah sore tadi masih sedikit mengusik. Ziva tahu tipe orang seperti Reygan; dia tidak akan menyerah begitu saja sampai egonya terpuaskan.

​"Besok pasti bakal rame," desah Ziva. Ia kembali masuk ke dalam, mematikan lampu, dan menarik selimut.

​Tanpa ia sadari, tangannya tetap memegang pulpen perak 'A.E' di bawah bantalnya, seolah-olah benda kecil itu adalah jimat penenang dari segala hiruk pikuk drama yang akan datang.

Sabtu sore di kediaman Winata biasanya sunyi, tapi tidak untuk hari ini. Abian sudah sibuk sejak pukul tiga. Ia mengenakan jersey basket kebanggaannya, melakukan pemanasan dengan gaya yang sangat berlebihan—mulai dari dribble cepat hingga mencoba melakukan slam dunk yang sayangnya berakhir dengan bola yang memantul mengenai hidungnya sendiri.

​"Duh, sakit..." gumam Abi sambil mengusap hidungnya, lalu menoleh ke arah balkon lantai dua. "ZIVA! TURUN! Tamu lo bentar lagi nyampe, jangan malah hibernasi!"

Ziva muncul di balkon dengan wajah bantal. Ia mengenakan kaos putih kebesaran dan celana pendek selutut, rambutnya dicepol asal dengan bantuan sebuah pulpen (yang ternyata adalah pulpen perak milik Aksa).

​"Dia tamu lo, Bang! Bukan tamu gue! Gue cuma mau nonton sambil makan keripik," sahut Ziva malas, lalu kembali masuk ke kamar untuk mengambil camilannya.

Tepat pukul empat sore, suara deru mesin motor sport yang berat terdengar berhenti di depan gerbang. Tak lama kemudian, sosok Aksa muncul di koridor samping menuju lapangan basket belakang.

​Ziva yang baru saja turun ke pinggir lapangan hampir tersedak keripik kentangnya. Aksa datang tidak mengenakan jaket kulit hitamnya. Ia memakai jersey basket hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang, dipadu dengan celana pendek olahraga dan sepatu basket yang terlihat sangat mahal. Rambutnya tidak ditata rapi, dibiarkan jatuh menutupi dahi, memberinya kesan yang jauh lebih berkharisma dan... berbahaya.

Abi langsung berhenti memutar bola di jarinya. "Wah, dateng juga lo. Gue kira lo takut kena mental breakdown tanding lawan gue."

​Aksa hanya mengangkat sebelah alisnya, tatapannya menyapu lapangan sebelum berhenti pada Ziva yang sedang duduk di kursi lipat di bawah pohon mangga. "Sorry telat. Macet," ucapnya datar.

​Aksa berjalan mendekati Ziva, lalu tanpa permisi, ia meletakkan tas olahraganya di samping kursi gadis itu. "Pegangin. Jangan sampe ada yang nyolong."

​"Siapa juga yang mau nyolong tas keringetan di sini, Aks?" gerutu Ziva, tapi ia tetap menarik tas itu ke dekat kakinya.

Aksa vs Abian

Permainan dimulai. Awalnya, Abi mencoba mendominasi dengan gaya bicaranya yang berisik, mencoba melakukan trash talk untuk memecah konsentrasi Aksa.

​"Liat nih, Aks! Gue kasih teknik crossover maut!" teriak Abi sambil meliuk-liuk membawa bola.

​Namun, Aksa benar-benar seperti robot. Ia tidak terpancing sedikit pun. Gerakannya sangat efisien. Setiap kali Abi mencoba melakukan tembakan, Aksa selalu berada di sana untuk melakukan block bersih.

​BUM!

​Bola terlempar jauh setelah dipukul Aksa di udara. Ziva yang menonton dari pinggir lapangan mulai merasa antusias. "Keren juga si Tiang Listrik," bisiknya pelan.

Permainan semakin panas. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, membuat jersey Aksa sedikit menempel di punggungnya. Aksa melakukan drive cepat, melewati Abi dengan satu langkah panjang, lalu melakukan layup yang sangat anggun.

​"Skor berapa, Ziva?!" tanya Abi sambil ngos-ngosan, tangannya bertumpu di lutut.

​"Sembilan-dua buat Aksa!" teriak Ziva semangat. "Bang Abi mending pensiun aja, jualan martabak lebih menjanjikan!"

​"Sialan lo, Adek durhaka!" seru Abi sambil mencoba merebut bola dari tangan Aksa lagi.

​Di tengah keriuhan itu, seorang asisten rumah tangga mendekat ke arah Ziva. "Non Ziva, itu di depan ada Den Reygan. Katanya mau ketemu Non."

​Ziva langsung menghentikan kunyahannya. Senyumnya pudar. "Reygan? Ngapain dia ke sini?"

​Aksa, yang pendengarannya tajam, langsung menghentikan permainannya. Ia memegang bola basket dengan satu tangan di pinggul, matanya menatap tajam ke arah pintu samping lapangan.

​Benar saja, Reygan muncul tak lama kemudian. Ia masih mengenakan kemeja rapi, terlihat sangat kontras dengan suasana lapangan basket yang penuh keringat.

Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya: Ziva yang sedang duduk santai, dan Aksa yang tampak sangat "di rumah" berada di kediaman Winata.

​"Ziv... gue mau bicara," ucap Reygan, suaranya terdengar bergetar melihat kedekatan mereka.

​Abi, yang menyadari situasi mendadak jadi tegang, langsung berdiri di tengah lapangan. "Wah, makin rame nih. Rey, lo mau ikut tanding juga? Tapi sorry, ini kelas berat.

Takutnya lo cuma jadi pembawa air."

​Reygan mengabaikan Abi, matanya hanya tertuju pada Aksa. "Aksa, lo beneran nggak punya malu ya? Sampai masuk ke rumah orang buat cari muka?"

​Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berjalan perlahan menuju pinggir lapangan, menghampiri Ziva. Ia mengambil botol minum yang tadi ia titipkan, meminumnya hingga separuh, lalu menatap Reygan dengan tatapan dingin yang mematikan.

​"Gue diundang," ucap Aksa singkat. Ia kemudian beralih menatap Ziva. "Lo mau dia di sini?"

​Ziva berdiri, membersihkan remah keripik di bajunya. Ia menatap Reygan tanpa ada sisa-sisa perasaan cinta, hanya ada kelelahan yang nyata. "Rey, gue udah bilang jangan ke sini. Gue lagi menikmati Sabtu gue tanpa drama. Tolong pergi."

​Reygan terpaku. Melihat Ziva yang dilindungi oleh Aksa dan didukung oleh kakaknya sendiri membuat Reygan merasa benar-benar seperti orang asing di sana.

​"Ayo, Aks. Lanjutin. Gue mau liat Bang Abi kalah telak sampai nangis," ucap Ziva sambil kembali duduk, mengabaikan keberadaan Reygan sepenuhnya.

​Aksa memberikan senyum tipis yang sangat provokatif ke arah Reygan sebelum kembali ke tengah lapangan. "Ayo, Bian. Selesain ini."

​Sore itu, di bawah langit yang mulai meredup, Reygan hanya bisa berdiri di bayang-bayang, menonton bagaimana dunianya benar-benar telah digantikan oleh seseorang yang jauh lebih kuat—bukan hanya secara fisik, tapi juga di hati Ziva.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!