Ayahnya 'Raja Neraka', putranya sangat pemaaf. Tapi semua orang lebih takut pada si pemaaf, padahal energi internalnya lemah.
Kekuatan tidak dikenal!
Latar belakang tak diketahui!
Sebenarnya rahasia apa yang dimiliki Long Jue?
Kenapa semua orang takut padanya?
Penasaran?
Ikuti kisahnya hanya di: NovelToon/MangaToon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Seluruh lembah berguncang karena amarah Song Wuji. Dia ingin menunjukkan kepada Long Ziling betapa bodohnya pria cantik itu.
Namun, Long Ziling menanggapinya dengan ekspresi acuh tak acuh yang tampak mengabaikan segala sesuatu tanpa sedikit pun ketertarikan.
Dengan pikiran yang sulit dipahami dan ekspresinya yang tidak tertarik, jelas dia tidak peduli dengan lelucon yang sedang dimainkan Song Wuji.
Satu tangannya menggenggam tombak, tangan lainnya menggendong anak kecil.
Dia bertindak seperti pengamat yang diam yang mencermati dunia dari Alam Atas.
Tak peduli siapa, sepintas saja orang yang melihatnya sudah bisa menyimpulkan bahwa identitas pria berwajah cantik ini benar-benar tak sederhana. Baik itu temperamen maupun sikapnya, membuat orang lain bisa merasakan aura transendensi.
Dia bukan manusia!
Sambil menatap anak yang tertidur nyenyak, Long Ziling terkekeh tipis.
“Kau juga bukan anak biasa. Tidur nyenyak di tengah semua kekacauan ini.”
Penampilan tenang anak laki-laki itu sangat kontras dengan kekacauan di sekelilingnya.
Song Wuji berteriak.
“Bunuh keparat itu! Tunjukkan padanya bahwa Kerajaan Selatan tidak bisa diolok-olok!”
Atas perintahnya, para prajurit berpakaian merah menyerbu ke depan seperti ngengat menuju api.
“Sha!”~Bunuh!
SLASH!
Long Ziling mengayunkan tombak militernya, melepaskan gelombang Qi. Para prajurit Kerajaan Selatan itu meledak seperti kembang api.
DUAAARRR!
DUAAARRR!
CRAAAAT!
Hujan darah membuncah dan berhamburan, namun tak setetes pun mengotori jubah bersih Long Ziling.
“Ng…”
Anak laki-laki di pangkuannya menggumam.
Apakah kebisingan itu mengganggunya?
“Kau sudah bangun?”
Perlahan, anak laki-laki itu membuka matanya. Lalu melihat sekeliling.
Segala sesuatunya bermandikan warna merah.
Apa yang terjadi?
Tempat apa ini?
Kenapa aku di sini?
Pada saat ini, pikiran anak laki-laki itu sedang tersesat dalam keadaan linglung karena ingatannya menyatu dengan ingatan orang lain.
“Tutup matamu. Ini tontonan yang buruk.”
Namun anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa. Aku tidak terganggu.”
“Kau cukup berani.”
“Siapa orang-orang itu? Kenapa Anda melakukan ini?”
“Mereka adalah para penyusup dari Kerajaan Selatan—kelompok orang keji yang berkeliaran dari negara musuh, menyiksa orang-orang tak bersalah.”
“Jadi Anda di sini untuk menyingkirkan mereka?”
“Benar. Kenapa? Apa kau takut padaku?”
“Tidak. Anda terlihat keren.”
“Keren?”
“Ya.”
“Apa kau tidak takut melihat pemandangan ini?”
“Sama sekali tidak. Sebaliknya, gerakan Anda tampak indah bagiku.”
“Hahahaha, dasar berandal kecil.”
“Tapi… siapa Anda?”
“Lalu siapa kau?”
“Aku?”
Benar juga, pikir anak laki-laki itu. Siapa aku?
Samar-samar dia menemukan ingatan tentang dirinya.
Satu saat, dia menemukan ingatan tentang dirinya sebagai New Born—manusia transgenik dengan kekuatan super di zaman modern. Di saat lainnya, dia menemukan ingatan tentang dirinya sebagai seorang anak kecil dengan sedikit ingatan di zaman kuno.
Sekarang dia memiliki dua set ingatan yang tumpang tindih. Tetapi anehnya dia tak ingat siapa namanya.
Ingatannya tidak lengkap.
Hanya ingatan terakhir tentang sebuah tragedi pembantaian seluruh keluarga yang hanya menyisakan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, dan itu adalah dirinya.
Dia bahkan tidak memiliki ingatan apa pun tentang masa lalu pemilik asli tubuh.
Semakin diingat, kepalanya terasa semakin sakit.
Sudahlah, pikirnya menyerah.
Lagi pula apa yang bisa diingat seorang anak kecil di zaman primitif?
“Aku tidak tahu… Aku tidak ingat apa-apa.”
Dia tak dapat mengingat apa pun?
Long Ziling, yang tidak pernah merasa kasihan terhadap siapa pun sepanjang hidupnya, merasakan sesuatu yang baru—kasihan.
Selagi mereka berbicara, para prajurit Kerajaan Selatan terus menyerang tanpa henti.
Dengan satu ayunan tombak Long Ziling, tubuh mereka hancur berkeping-keping, menyebarkan daging ke mana-mana.
Adegan itu adalah pembantaian yang kacau, sangat kontras dengan percakapan damai antara Long Ziling dengan anak laki-laki itu.
Membunuh orang lain tidak berarti apa-apa baginya, namun mendengar cerita anak itu membangkitkan rasa iba yang aneh.
Jadi, dia kehilangan ingatannya?
Long Ziling bertanya-tanya, apakah ini bukan yang terbaik? Mungkin memang lebih baik begini.
Tiba-tiba dia berpikir, mengapa tidak mengakuinya sebagai putraku sendiri?
Dengan raut wajah pura-pura terluka, Long Ziling berkata, “Jadi kau tidak tahu apa pun tentangku? Sungguh mengecewakan. Aku ini ayahmu!”
Ayah? pikir anak laki-laki itu.
Sebuah ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.
___“Tidakkah kau ingin tahu garis keturunan siapakah sebenarnya yang kau miliki?”
Sosok-sosok pria misterius berseragam ninja dengan penutup wajah dan kepala berkelebat di pelupuk matanya.
___“Kau sungguh tak ingin tahu siapa ayahmu? Ayah kandungmu masih hidup. Apa kau tak ingin bertemu dengannya?”
Anak laki-laki itu menatap Long Ziling.
Dia begitu muda!
Anak laki-laki itu berkata dalam hatinya. Merasa sedikit sangsi.
Benarkah dia ayah yang tak pernah ditemuinya selama ini?
“Ayah? Anda adalah… ayahku?!”
“Kenapa? Kau tidak percaya?”
“Bagaimana Ayah menemukanku? Bagaimana pula Ayah mengenaliku?”
Pertanyaan anak laki-laki itu membuat Long Ziling hampir kehilangan fokus.
Apakah dia menyadari sesuatu?
Tidak—tunggu! Dia bilang bagaimana aku mengenalinya?
Apakah dia juga sedang mencari ayahnya?
Long Ziling menatap ke dalam mata anak itu.
Anak itu balas menatapnya dengan sorot penuh selidik.
DEG!
Sesuatu yang tidak terlihat menohok jantung Long Ziling, menusuk telak relung hatinya.
Ini bukan tatapan seorang anak kecil!
Long Ziling menyadari.
Ia membeku beberapa saat. Lalu tiba-tiba teringat liontin giok di leher anak laki-laki itu. Namanya terukir di sana.
“Kau punya tanda pengenal Ayah!”
Mata dan mulut anak laki-laki itu membulat, menampakkan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.
“Jadi, Ayah juga mencariku selama ini?”
Juga?
Ternyata benar dia sedang mencari ayahnya!
Ini pasti bukan kebetulan.
Kehangatan yang menyenangkan berdenyut di dada Long Ziling.
Karena tidak dapat menahan diri, dia memeluk erat anak laki-laki itu.
Itu adalah pertama kalinya dalam hidup Long Ziling, dia merasakan sesuatu yang begitu lembut, begitu hangat, dan begitu nikmat.
Dia ingin menikmatinya lebih lama, tetapi hama-hama itu terus mengerumuninya.
Beraninya mereka mengganggu kebahagiaanku?
DUAAARRR!
Long Ziling menghentakkan kakinya ke permukaan tanah.
GROAAAAAAAAARRRR….
Tanah beriak seperti cairan.
Para prajurit Kerajaan Selatan yang menyerbu ke depan kehilangan keseimbangan.
Pada saat yang sama, tanah meledak, menelan mereka bulat-bulat.
BUUUUUM!
“Aaaargh!”
Adegan neraka pun terjadi ketika suara jeritan memenuhi udara.
Di tengah kekacauan itu, anak laki-laki itu berkata, “Ayah, kau bagaikan Dewa Surgawi.”
Long Ziling tersenyum. “Ayahmu kuat, kan?”
“Ya! Kau Ayah terkuat di seluruh dunia.”
“Tepat sekali! Ingat baik-baik. Ayahmu adalah makhluk terkuat di dunia.”
“Tapi, Ayah….”
“Ya?”
“Siapa namaku?”
“Ibumu tidak memberi nama?”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Long Ziling.
Anak laki-laki itu menggeleng. “Aku hanya tak bisa mengingatnya.”
Benar. Ingatannya tidak sempurna.
“Kalau begitu kuberi kau nama baru. Jue. Long Jue.”
Jue adalah nama dinasti mereka sekaligus nama kehormatan Long Ziling di dunia persilatan---Shen Jue, yang berarti Dewa Bulan.
Nama yang akan dikenang sepanjang sejarah bersama kejayaan dinasti mereka.
“Long-Jue?” Anak laki-laki itu mengeja namanya.
“Ya! Itulah namamu. Mulai sekarang namamu adalah Long Jue.’
“Nama yang bagus! Aku menyukainya!”
“Baguslah kalau kau suka. Oh ya, Xiao Jue, ayahmu akan sibuk dulu. Kau tunggulah sebentar.”
“Hmh!” Long Jue mengangguk bersemangat.
Aroma yang tercium dari tubuh Long Jue yang memeluknya erat, sungguh menyenangkan.
Rasanya begitu nikmat sampai hampir membuat gila.
Dia tak tahu kenapa ini terjadi, tetapi rasanya menyenangkan, lalu apa yang dapat dia lakukan?
Dia memutuskan untuk menikmati momen itu saja.
Sementara itu di sisi lain, Song Wuji menatap Long Ziling dengan tak percaya.
Monster buas ini ternyata punya sisi manusiawi seperti itu?
Tapi kenapa harus di sini? Kenapa harus sekarang?
Rasa frustrasi dan amarahnya hampir membuatnya gila.
Bahkan saat bicara pada anak itu, Long Ziling sedang memusnahkan setengah dari pasukan Kerajaan Selatan.
Sisa terakhir Kerajaan Selatan yang pernah meneror dunia itu sekarang telah runtuh.
Kekuatan mereka saat ini sebenarnya sudah jauh lebih besar dibanding sebelum mereka menyusup setelah negara mereka diluluh-lantakkan oleh pasukan Long Ziling. Mereka telah sembunyi begitu lama—diam-diam memperkuat diri sambil menunggu kesempatan, tetapi pada akhirnya mereka tetap tak dapat berbuat apa-apa melawan satu orang.
Bahkan setelah membantai prajurit Kerajaan Selatan yang tak terhitung jumlahnya, Long Ziling tidak tampak lelah sama sekali.
Seolah-olah dia sedang mengusir lalat yang mengganggu sambil berbincang-bincang dengan putranya.
Song Wuji merasa bimbang.
Haruskah dia melarikan diri?
Atau haruskah dia merangkul kegilaan dan menyerang Long Ziling?
Dia merasa terhina, kesal, dan marah—tetapi dia tak ingin mati.
Tak peduli bagaimana dia memikirkannya, dia sungguh tak punya cara untuk mengalahkan monster ini.
Aku harus tetap hidup untuk berjuang di lain hari.
Akankah “hari lain” itu tiba?
Kalau boleh jujur, itu hampir mustahil.
Namun dia dapat mengubah targetnya untuk membalas dendam.
Anak dalam pelukan Long Ziling.
Suatu hari, Long Ziling akan meninggal, dan anak laki-laki itu akan mewarisi tempatnya.
Aku akan menunggu hari itu. Saat itulah aku akan membalas dendam.
Ini bukan melarikan diri karena takut—tidak, ini mundur demi bawahannya yang gugur.
Berpikir demikian, Song Wuji melontarkan dirinya mundur.
JLEB!
Rasa sakit yang tajam dan menyiksa menusuk lengannya. Ia menunduk melihat pedang tertancap di dagingnya.
Bahkan dalam situasi sekacau ini, raja neraka itu masih sempat menendang sebilah pedang ke arahnya dari tumpukan mayat prajurit Kerajaan Selatan yang berserakan.
Tidak! Dia tidak bisa mati di sini!
Sambil menggertakkan giginya dan menahan rasa sakit, Song Wuji mengerahkan seluruh tenaganya untuk melarikan diri.
Beruntung bawahannya menyerang Long Ziling, mencoba memberi waktu yang ia butuhkan untuk melarikan diri.
Selama dia berlari, darah terus menetes dari lukanya.
Song Wuji mengumpat dalam hatinya berulang kali.
Aku akan kembali. Aku bersumpah akan kembali dan menghancurkan semua yang kau sayangi.
Ketika Song Wuji melarikan diri, terjadi ledakan dahsyat dari kamp para penyusup. Ia tersentak menoleh ke belakang—hanya melihat Long Ziling sedang mengejarnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Demi bisa menangkapnya, raja neraka itu telah memusnahkan seluruh basis Kerajaan Selatan hanya dengan satu serangan.
Apakah dia benar-benar manusia?