ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31—Misi Tuntas : Hadiah 2,5 Miliar
Langit sore itu berwarna jingga pekat. Para murid berbaris, mengikuti upacara penutupan atas kegiatan pentas seni hari ini. Meski ada desas-desus tentang penangkapan penguntit di gudang belakang, suasana upacara penutupan tetap berjalan khidmat.
“Lo, si Alfian mana?” Tanya Rozak bingung, mata dia mencari ke deretan murid, namun belum juga menemukannya.
Kendati mereka saling bermusuhan, bentrok antar fans semenjak mereka mengalami hal senasib, hidup sebagai supporter rumbai-rumbai hubungan persahabatan mereka tercipta.
Rahmat menghela napas. “Dia katanya pulang duluan, ada acara keluarga,” tentu itu adalah sebuah dusta.
“oh,” paham Rozak menganggukan kepala.
Anisa sang ketua OSIS melangkah ke atas podium. Sontak saja semua murid langsung berhenti berbisik-bisik dan suasana lapangan kembali khidmat.
Anisa menyesuaikan letak mikrofon. Suara dia jernih menggema ke seluruh penjuru lapangan.
“Selamat sore, rekan-rekan SMA Garuda dan para tamu undangan,” buka Anisa. “Sebelumnya saya sebagai perwakilan sekolah ingin mengucapkan terima kasih karena sudah rela datang jauh-jauh untuk melihat konser kami. Hari ini kita telah menyaksikan bukan hanya bakat, tapi dedikasi para murid. Pentas seni tahun ini adalah bukti bahwa Di balik seragam ini tersimpan potensi yang hebat.”
Ia menjeda sejenak, matanya menyapu kerumunan dan sempat berhenti satu detik di mata Rahmat. Ada kilatan rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu—tentang pistol, gudang, dan pengkhianatan Alfian.
"Saya ingin berterima kasih kepada panitia, pihak keamanan, dan tentu saja... para penampil yang sudah memberikan segalanya di atas panggung. Sebagai perwakilan kelas 12 saya sangat terharu melihat dedikasi adik-adik kelas 11 dan 10. Kalian semua luar biasa!”
Beberapa murid terharu, beberapa bersorak senang dalam hati karena kebanyakan pendaftar ingin menampilkan yang terbaik buat kak anisa.
Dia memang dikenal sebagai iron lady, tapi bagi adik-adik kelasnya dia itu semacam tempat konseling juga. Mereka berjasa banyak dengannya.
“Biaklah karena aku paham semua sudah bergairah untuk tahu siapa juara disini … jadi tanpa berlama-lama lagi, berdasarkan penilaian dewan juri dan voting penonton..."
Suasana mendadak hening total. Angin sore yang berhembus pelan di lapangan SMA Garuda seolah ikut menahan napas. Rozak mengepalkan tangannya kuat-kuat, sementara Alya yang berdiri di samping Rahmat menunduk dalam, meremas ujung roknya karena gugup.
Anissa membuka amplop putih di tangannya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Pemenang utama Pentas Seni SMA Garuda tahun ini jatuh kepada..." Anissa menjeda, senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibirnya. "... Tim Trio Star!"
BOOOOMMM!!!
Lapangan meledak dalam sorak-sorai yang memekakkan telinga. Rozak langsung melompat kegirangan sampai hampir menjatuhkan botol minumnya. Anggota klub penggemar Alya dan Kanaya yang biasanya berseteru, kini berangkulan merayakan kemenangan mutlak idola mereka.
“Hore!!” Alya tidak bisa menahan rasa senang dan bersorak.
Kanaya juga ikut tersenyum meski dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
Sementara Rahmat.tersenyum senang akan notifikasi sistemnya.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[MISI TERDEKLARASI: THE TRIO LEGENDARY MENANGKAN LOMBA PENTAS SENI SMA GARUDA!]
[Berhasil terselesaikan!]
[Evaluasi ; Sangat baik]
[Hadiah!]
[+ Skil baru "Master of Performance". (Tuan rumah bisa berada di panggung dengan aura yang memukau, bahkan tanpa latihan anda tidak akan pernah merasa grogi sama sekali)
[+Rp 2.500.000.000 telah ditransfer ke rekening anda
+2.500.000 coin sistem]
—---
Itu adalah hadiah yang lumayan 2,5 miliar untuk memenangkan konser seperti ini. Dia juga menghela napas lega, hampir saja dia mengacau karena Alya yang tersandung.
Jika semua berakhir dalam hal buruk saldonya nyaris dibekukan selama 3 bulan.