NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Menikah

Raya menatap pantulan wajahnya di cermin, jemarinya tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri. Ia hampir tak mengenali dirinya. Riasan yang lembut namun elegan membuat wajahnya bersinar. Mata itu tampak lebih hidup, meski di dasar hatinya tersimpan kegugupan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

Kebaya putih yang melekat sempurna di tubuhnya membuatnya terlihat anggun. Sederhana, tapi berkelas. Seperti sosok yang hari ini akan ia jalani—seorang istri.

"Kamu cantik banget, Ray… Ibu sampai pangling melihatnya," ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca, penuh haru.

Raya tersenyum kecil, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Ini semua berkat MUA yang sudah profesional, Bu," jawabnya ringan sambil menoleh pada Mbak Mira yang berdiri di sampingnya.

Mbak Mira tersenyum bangga. "Bukan cuma karena make up, Mbak. Memang dari sananya sudah cantik."

Suasana hangat itu terpotong saat suara dari luar kamar terdengar.

"Mempelai laki-laki sudah datang! Tolong mempelai perempuan siap-siap. Dalam sepuluh menit lagi akad akan dilaksanakan!"

"Itu suara Om Irwan," gumam Raya pelan.

"Baik, Mas!" sahut Mbak Mira lantang, lalu segera merapikan kembali kerudung Raya, memastikan setiap lipatan jatuh dengan sempurna.

Sementara itu, Pak Santoso dan istrinya bergegas keluar dari kamar pengantin. Wajah keduanya memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Di halaman rumah yang telah disulap menjadi tempat akad yang sederhana namun indah, rombongan mempelai pria sudah terlihat. Mobil-mobil terparkir rapi, dan beberapa pria berseragam batik turun sambil membawa hantaran.

Pak Santoso melangkah maju dengan senyum lebar, tangannya terulur menyambut seorang pria paruh baya yang berjalan paling depan—ayah dari Kamil.

"Assalamu’alaikum…" sapa Pak Santoso hangat.

"Wa’alaikumussalam…" jawab pria itu, menjabat tangan Pak Santoso erat. "Akhirnya… hari yang kita tunggu datang juga, San."

"Iya…" suara Pak Santoso sedikit bergetar, matanya berbinar. "Terima kasih sudah datang. Silakan, silakan masuk."

Istri Pak Santoso pun ikut menyambut para wanita dari pihak mempelai pria dengan senyum ramah.

"Silakan Ibu… mari masuk," ucapnya lembut sambil menyalami satu per satu.

Beberapa keluarga tersenyum hangat, membalas sapaan dengan penuh sopan santun. Suasana terasa khidmat sekaligus hangat, diiringi lantunan shalawat yang diputar pelan dari pengeras suara.

Di antara rombongan itu, Kamil berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tampan, rapi dengan jas dan peci hitam yang menambah kesan berwibawa. Sekilas, ia tampak seperti pengantin pria pada umumnya.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam… ada sesuatu yang berbeda.

Senyumnya.

Tipis. Dingin. Dan entah mengapa… terasa seperti menyimpan sesuatu yang tak diketahui siapa pun.

Pak Santoso sempat menatapnya sekilas, lalu tersenyum bangga.

"Itu Kamil, tampan sekali kan?" bisiknya pada istrinya.

"Iya… tampan sekali," jawab sang istri pelan.

Tak ada yang menyadari… di balik penyambutan hangat itu, ada takdir yang sedang bersiap meruntuhkan segalanya.

Sepuluh menit lagi, akad akan dimulai.

Dan kehidupan Raya… tak akan pernah sama lagi.

Pintu kamar pengantin perlahan terbuka.

Raya melangkah keluar dengan hati-hati, jemarinya menggenggam ujung kebaya putihnya agar tidak tersandung. Langkahnya pelan, anggun, seolah setiap pijakan menyimpan doa dan harapan. Suasana di dalam rumah mendadak lebih hening, beberapa pasang mata menoleh, terpaku pada sosok pengantin perempuan yang berjalan menuju masa depannya.

Raya menunduk sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Antara gugup… dan pasrah.

Di depan, tempat akad telah tertata rapi. Hamparan karpet, meja sederhana, dan kursi yang telah diisi oleh para saksi serta keluarga terdekat. Pak Santoso sudah duduk di sana, mengenakan setelan terbaiknya, peci hitam terpasang rapi. Wajahnya terlihat tegang, tapi juga penuh kebanggaan.

Saat melihat putrinya datang, matanya langsung berkaca-kaca.

Raya menghentikan langkahnya sejenak… menatap ayahnya.

Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

Ini untuk Ayah… batinnya.

Lalu, tanpa sengaja, pandangannya bergeser ke arah pria yang akan menjadi suaminya.

Kamil Riza Mahendra

Pria itu duduk tegap, terlihat tenang. Raya menatapnya beberapa detik, lalu dengan kikuk ia melemparkan senyum kecil. Senyum yang lebih mirip bentuk sopan santun daripada perasaan yang benar-benar lahir dari hati.

Kamil membalasnya… sekilas. Singkat. Sulit ditebak.

Raya segera mengalihkan pandangannya, lalu melangkah mendekat. Ia menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu.

"Ibu…" suaranya lirih.

Sang ibu langsung memeluknya erat, tak mampu menahan haru.

"Jadi istri yang baik ya, Nak…" bisiknya dengan suara bergetar.

Raya mengangguk pelan, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia lalu menyalami ayahnya. Pak Santoso menggenggam tangan putrinya lebih lama dari biasanya.

"Maafkan Ayah… kalau selama ini belum bisa jadi yang terbaik!" ucapnya pelan.

Raya menggeleng cepat. "Ayah jangan bilang begitu… Raya bahagia."

Meski entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelip di hatinya.

Setelah itu, Raya beralih kepada kedua calon mertuanya. Ia menyalami mereka dengan penuh hormat.

"Mohon doa restunya, Om… Tante," ucapnya sopan.

Keduanya mengangguk, tersenyum tipis.

Acara pun dimulai.

Seorang penghulu duduk di depan, membuka akad dengan khutbah singkat. Suaranya tenang, mengalun mengisi ruangan. Semua yang hadir larut dalam suasana sakral itu.

Hingga akhirnya tiba pada inti dari segalanya.

Ijab kabul.

Pak Santoso menarik napas dalam. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam tangan Kamil. Suasana mendadak hening. Bahkan suara napas pun terasa begitu jelas.

"Dengan ini saya nikahkan dan kawinkan engkau, Kamil Riza Mahendra dengan putri saya, Raya Aprillia Safitri, dengan mahar seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat lima belas gram, dibayar tunai."

Hening.

Semua mata tertuju pada Kamil.

Tanpa ragu, pria itu menjawab dengan lantang, suaranya tegas memecah keheningan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Aprillia Safitri dengan mahar tersebut, dibayar tunai."

"Sah!" seru para saksi hampir bersamaan.

Beberapa orang mengucap syukur, terdengar lirih ucapan Alhamdulillah di berbagai sudut ruangan. Senyum dan rasa haru mulai bermunculan.

Raya menunduk, napasnya terasa berat.

Air matanya akhirnya jatuh juga.

Ia kini resmi menjadi seorang istri.

Namun entah mengapa… di tengah kebahagiaan itu, hatinya justru terasa asing.

Seolah… sesuatu yang tak terlihat sedang menunggu untuk menghancurkan semuanya.

"Sudah sah, ya? Aku sudah jadi suaminya, kan?”

Suara Kamil tiba-tiba terdengar lantang, memecah suasana haru yang baru saja menghangat. Ia berdiri dari duduknya dengan tegap, tatapannya menyapu seisi ruangan.

Beberapa tamu saling berpandangan, bingung dengan sikapnya yang mendadak berubah.

"Iya… Alhamdulillah, sudah sah, Nak,” jawab Pak Hasan, ayahnya, dengan senyum bangga yang belum sempat pudar.

Namun tidak dengan Pak Santoso.

Dahi pria itu berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal.

Dan detik berikutnya… semuanya runtuh.

"Kalau aku sudah sah menjadi suaminya Raya,” lanjut Kamil dengan suara dingin, “maka saat ini juga aku talak Raya Aprillia Safitri… dengan talak tiga.”

Hening.

Sunyi yang mencekam.

Seolah waktu berhenti berputar.

Raya terbelalak. Tubuhnya membeku di tempat. Ia menatap Kamil dengan mata yang membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Apa…?” bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang benar-benar keluar.

"Ibu…” gumamnya lirih.

Sang ibu menatapnya dengan wajah pucat pasi, air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar, menutup mulutnya sendiri, seakan tak sanggup menerima kenyataan yang begitu kejam.

"Ya Allah… ini apa maksudnya?” suaranya pecah.

Beberapa tamu mulai berbisik panik. Suasana yang tadinya penuh doa berubah menjadi riuh penuh keterkejutan.

Pak Santoso berdiri setengah dari duduknya, wajahnya memerah, napasnya memburu.

"Kamil… kamu… apa maksudnya ini?” suaranya berat, penuh tekanan.

Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban—

Bruk!

Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke lantai.

"Ayah!!”

Teriakan Raya menggema, suaranya pecah penuh kepanikan. Ia berlari menghampiri, berlutut di samping tubuh ayahnya yang tergeletak tak berdaya.

"Ayah! Ayah bangun… Ayah!” tangisnya histeris, mengguncang bahu Pak Santoso yang sudah tak merespons.

Beberapa pria langsung mendekat, mencoba membantu.

"Cepat! Angkat! Bawa ke rumah sakit!” teriak seseorang.

"Ibu… Ibu…” Raya menoleh, air matanya tak terbendung.

Sang ibu sudah terduduk lemas, hampir pingsan, ditopang oleh beberapa wanita di sekitarnya.

"Pak Santoso kena serangan jantung!” teriak seseorang lagi, membuat suasana semakin kacau.

Di tengah kepanikan itu…

Kamil justru berdiri santai.

"Kamil, kamu apa-apaan sih?!” bentak ayahnya, emosinya meledak.

Namun pria itu hanya tersenyum.

Senyum tipis… penuh kemenangan.

"Ini kan yang Papa mau?” katanya sambil menoleh pada Pak Hasan. “Aku menikahinya. Aku sudah menuruti keinginan Papa.”

Nada suaranya berubah dingin, tajam.

"Tapi… aku menalaknya sesuai keinginanku.”

Ruangan seketika dipenuhi amarah.

"Kamu gila?!”

"Kamu menghancurkan hidup orang!”

"Ini pernikahan, bukan permainan!”

Suara-suara itu menggema, tapi Kamil tak peduli.

Ia justru merapikan jasnya dengan santai, seolah tak ada yang terjadi.

Raya masih terduduk di lantai, memeluk tubuh ayahnya yang lemah. Tangisnya pecah tanpa henti. Dunia yang baru saja ia masuki sebagai seorang istri… kini hancur bahkan sebelum ia sempat menjalaninya.

"Kamil…” panggilnya lirih, penuh luka.

Namun pria itu bahkan tak menoleh.

Dengan langkah tenang, ia berbalik… dan berjalan pergi meninggalkan semuanya.

Meninggalkan kekacauan.

Meninggalkan duka.

Meninggalkan seorang wanita… yang hidupnya baru saja ia hancurkan dalam hitungan detik.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Salsa Billa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 biar prosesnya gk ribet ya thor
total 2 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!