Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Perang Makan Siang
"Biar harganya puluhan ribu, kalau sudah tidak layak dan pucat begini namanya racun, Pak!" omel Aluna sambil berkacak pinggang di depan keranjang sampah.
Elvano menatap nanar ke arah keranjang sampah itu. Wajahnya pias seolah baru kehilangan tender miliaran. "Itu karbohidrat dan protein murni. Masih sangat layak konsumsi. Kamu baru saja membuang aset berharga tanpa izin."
"Aset berharga dari Hongkong!" Aluna berjalan cepat mendekat, menunjuk dada bidang Elvano dengan telunjuknya yang lentik. "Bapak ini CEO Diwantara Group, uangnya triliunan di bank, tapi kelakuan buat makan siang saja persis kayak anak kos akhir bulan! Dengarkan aku baik-baik. Kalau Bapak nekat makan roti sisa basi itu terus sakit maag, asam lambung naik, keracunan lalu masuk UGD, tebak berapa tagihan rumah sakitnya nanti?"
Elvano terdiam sejenak. Otak jeniusnya refleks menghitung estimasi biaya rawat inap kamar VVIP, dokter spesialis, obat-obatan impor, dan kerugian waktu kerja.
"Tagihan rumah sakit jauh lebih mahal dari sebungkus nasi padang, Pak Bos!" cecar Aluna lagi tanpa ampun, suaranya memenuhi ruangan besar itu. "Bapak kira lambung Bapak terbuat dari baja anti karat? Uang Bapak memang banyak, bisa beli pabrik roti sekalian. Tapi beli kesehatan itu tidak ada diskonnya, Pak! Itu namanya rugi bandar! Niat awal mau hemat malah buntung di akhir! Aku ini auditor operasional Bapak sekarang. Mulai hari ini, kesehatan Bapak masuk dalam pengawasanku mutlak. Duduk manis di situ, aku pesankan makanan manusia yang layak masuk perut!"
Elvano akhirnya menyerah. Dia kembali duduk di kursi kulit kebesarannya sambil mengusap tengkuk. Anehnya, dia sama sekali tidak bisa marah dibentak habis-habisan oleh bawahannya sendiri.
Aluna mengutak-atik ponsel bututnya dengan lincah. Jari-jarinya menari cepat di atas layar aplikasi ojek online.
"Nasi Padang Restu Bundo. Rendang satu, ayam pop satu, sayur nangka, kuah bumbu pisah," gumam Aluna membacakan pesanannya dengan suara ceria. Aluna memamerkan layar ponselnya ke wajah Elvano. "Bapak lihat ini! Kebetulan banget ada promo diskon lima puluh persen kalau bayar pakai dompet digital. Ongkos kirim juga dihitung gratis pakai voucher. Total cuma bayar tiga puluh ribu. Murah, kenyang, bergizi tinggi."
Tidak butuh waktu lama, pesanan itu tiba diantar oleh resepsionis lobi depan. Aluna menata bungkusan kertas cokelat itu di atas meja kaca di ruang kerja Elvano. Aroma bumbu rempah khas nasi padang langsung menguar tajam, memenuhi ruangan ber-AC yang biasanya hanya bau kopi hitam kaku dan kertas dokumen.
"Makan, Pak," perintah Aluna sambil menyodorkan sendok plastik warna putih. "Jangan lupa cuci tangan dulu atau pakai hand sanitizer. Aku nggak mau Bapak diare terus salahin makananku."
Elvano menatap bungkusan kertas cokelat itu dengan alis bertaut ragu. "Ini higienis? Dagingnya daging sapi asli, kan? Bukan campuran aneh-aneh?"
"Daging dinosaurus, Pak! Ya daging sapi asli lah! Penjualnya itu langganan aku sejak zaman kuliah! Udah, makan saja cepat keburu dingin!"
Elvano akhirnya menyuapkan sendok pertama ke mulutnya. Matanya sedikit melebar. Bumbu rendangnya kaya rasa, dagingnya sangat empuk, dan nasinya hangat pulen. Sangat kontras dengan roti dingin sisa rapat dewan direksi yang biasa dia makan demi efisiensi waktu.
Tanpa sadar, Elvano makan dengan lahap. Jas mahalnya dia lepas dan dia sampirkan di sandaran kursi.
Sementara sang bos sibuk makan, Aluna kembali ke meja kerjanya di sudut ruangan. Gadis itu menunduk fokus, tangannya sibuk merekap struk-struk pengeluaran Elora ke dalam buku catatan hitamnya. Rambut panjang Aluna yang dikuncir kuda sesekali jatuh ke depan menutupi pipi, dan gadis itu akan menyelipkannya kembali ke belakang telinga dengan gerakan alami yang santai.
Elvano mengunyah makanannya perlahan-lahan. Matanya tak lepas menatap sosok Aluna di seberang ruangan. Aluna memakai kemeja putih sederhana yang lengannya digulung sampai siku, wajahnya polos tanpa riasan tebal, tapi matanya berbinar tajam setiap kali menghitung angka penghematan.
Dug.
Gerakan rahang Elvano mendadak terhenti.
Dug. Dug.
Ada yang salah dengan rongga dadanya lagi. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari ritme normal. Napasnya mendadak terasa sesak, tapi dia yakin seratus persen ini bukan karena pedasnya bumbu rendang.
Elvano meletakkan sendoknya. Dia memegang dada kirinya yang bergemuruh aneh. Gejala ini persis seperti tadi saat berdebat. Penyakit aritmia sialan ini kumat lagi. Kenapa harus kumat saat dia sedang menatap Aluna merekap struk belanja? Apa korelasinya secara medis?
"Bapak kenapa lihatin aku terus dari tadi? Mau nambah rendang?" tanya Aluna curiga, mendapati tatapan bosnya yang tajam.
"Tidak," jawab Elvano kaku, buru-buru mengalihkan pandangan ke arah layar laptopnya yang menyala. "Cuma sedang menghitung kalori masuk."
Aluna mencibir pelan, lalu kembali fokus penuh pada buku catatannya.
Elvano menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang gila. Dia pasti butuh periksa ke dokter spesialis secepat mungkin. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Baru saja Elvano hendak melanjutkan makannya yang tertunda, suara derit gagang pintu mengejutkan mereka berdua.
Pintu ruang kerja CEO yang super ketat dan anti gangguan itu tiba-tiba terbuka lebar dari luar tanpa ketukan sama sekali.
Aluna menoleh kaget, hampir menjatuhkan penanya ke lantai.
Elvano juga langsung membeku di tempat duduknya.
Sepasang suami istri paruh baya melangkah masuk dengan aura dominasi yang sangat kental. Pria itu bertubuh tegap dengan garis wajah tegas yang sangat mirip dengan Elvano. Kairo Diwantara. Sementara wanita di sampingnya memakai setelan desainer elegan dengan tatapan mata setajam elang yang siap memangsa. Sora.
Kairo melirik tajam ke arah Elvano yang sedang makan dari bungkusan kertas cokelat dengan posisi jas dilepas, sebuah pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Sedangkan Sora menatap lurus ke arah Aluna yang duduk di meja asisten dengan senyum tipis penuh rahasia.
Udara di ruangan besar itu mendadak terasa turun beberapa derajat. Sang legenda hidup Diwantara Group telah tiba menginspeksi.
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥