Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"LANA! JANGAN SENTUH DARAH ITU! ITU SUMBER HEPATITIS DAN MUTASI VIRUS!" teriak Arkan sambil berlari menuruni tangga dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh pria yang sedang dihantui mimpi buruk mikrobiologi.
Evelyn segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia tidak membuang waktu. "Lana, terima kasih atas ledakan saus tomatnya," bisik Evelyn pada jam tangannya.
"Sama-sama, Kak! Aku cuma mencampur soda kue, cuka, dan saus sambal ekstra pedas ke dalam panci presto Kak Arkan. Baunya kayak ketiak naga, tapi berhasil bikin dia panik!" suara Lana terdengar cekikikan dari balik perangkat komunikasi.
Evelyn segera berganti pakaian. Di balik daster polkadotnya, ia sudah mengenakan *jumpsuit* taktis hitam yang tipis namun tahan peluru. Ia memakai topeng silikon transparan yang mengubah sedikit kontur wajahnya, lalu meraih tas pinggang berisi peralatan dekripsi DNA.
"Ed, matikan sensor termal di koridor bawah tanah selama dua menit. Aku harus menukar sampel rambut itu sebelum mesin pengurut DNA Arkan selesai bekerja," perintah Evelyn.
"Siap, Queen. Tapi hati-hati, Arkan memasang sensor tekanan di lantai laboratorium. Kau harus berjalan seperti kucing di atas es."
Evelyn keluar lewat jendela kamarnya, merayap di dinding mansion menggunakan sarung tangan berperekat vakum, dan masuk melalui ventilasi ruang cuci. Ia bergerak tanpa suara, setiap langkahnya presisi—sangat kontras dengan cara jalan "Evelyn Nerdy" yang biasanya menyeret kaki.
Di laboratorium bawah tanah yang serba putih dan sangat steril, sebuah mesin besar bernama The Clean-Sequencer 5000 sedang berdengung pelan. Di dalamnya, sehelai rambut asli milik Evelyn sedang diproses.
Evelyn mendarat dengan anggun dari ventilasi. Ia mengeluarkan botol kecil berisi sehelai rambut dari kantong taktisnya. Itu bukan rambut sembarangan. Itu adalah rambut sintetis berkualitas tinggi yang sudah ia lumuri dengan DNA buatan yang menunjukkan hasil: "Gadis Manusia Biasa dengan Alergi Debu Akut".
"Tiga detik lagi sensor aktif kembali, Queen! Cepat!" peringat Edward.
Evelyn membuka penutup sampel dengan pinset laser. Ia mengambil rambut aslinya dan menggantinya dengan rambut palsu itu tepat saat lampu indikator berubah menjadi hijau.
Pip!
"Berhasil," gumam Evelyn. Namun, saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di layar monitor utama Arkan.
Di sana terdapat peta digital yang menunjukkan titik-titik koordinat di seluruh penjuru kota. Salah satu titik merah berkedip tepat di lokasi Rumah Sakit Universitas, tempat Evelyn biasa menaruh laporan medis palsunya sebagai mahasiswa nerdy.
Dia tidak hanya mengetes DNA-ku, dia juga sedang meretas basis data rumah sakit itu secara fisik malam ini! batin Evelyn.
Tiba-tiba, suara langkah kaki bot karet terdengar lagi. Arkan kembali lebih cepat dari perkiraan!
"Lana, di mana Arkan?!" tanya Evelyn panik.
"Duh, Kak! Kak Arkan cuma menyemprot sausnya pakai busa pemadam kebakaran terus dia langsung lari ke bawah! Dia bilang dia merasa 'panggilan jiwa lab' sedang memanggilnya! Lari, Kak!"
Evelyn tidak punya waktu untuk kembali lewat ventilasi. Ia segera bersembunyi di balik lemari penyimpanan bahan kimia cair yang bertanda "SANGAT BERBAHAYA: JANGAN DISENTUH". Ia tahu Arkan tidak akan berani mendekati lemari itu tanpa pakaian dekontaminasi lengkap.
Ceklek!
Arkan masuk dengan wajah yang masih merah padam karena emosi saus tomat. Ia langsung menuju mesin DNA. "Jika rambut ini membuktikan kau adalah Queen EVG, aku sendiri yang akan mengkarantinamu di ruang isolasi terdalam, Evelyn," gumam Arkan pada dirinya sendiri.
Arkan menatap layar monitor. Hasilnya keluar: [DNA MATCH: 99.9% HUMAN - STATUS: NORMAL / ALLERGIC TO DUST].
Arkan mengernyit. "Normal? Alergi debu? Tapi suara semalam... dan cara dia bergerak di perpustakaan..."
Arkan memukul meja lab-nya (yang sudah dilapisi kain steril). "Tidak mungkin. Instingku tidak pernah salah. Samuel! Periksa lagi log aktivitas sensor di lantai ini!"
Evelyn menahan napas di balik lemari. Debu halus dari sudut lemari mulai menggelitik hidungnya. Jangan bersin... jangan bersin... kalau aku bersin, Arkan akan tahu ada 'kuman' manusia di ruang sucinya ini.
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi di ponsel Arkan.
"Bos! Ada penyusupan di server Rumah Sakit Universitas! Seseorang mencoba menghapus data medis Evelyn Grant!" suara Samuel berteriak dari intercom.
Arkan terbelalak. "Apa?! Cegah mereka! Itu pasti anak buah Queen EVG!"
Arkan segera berlari keluar dari laboratorium untuk menuju ruang kendali utamanya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Evelyn. Ia segera keluar dari persembunyian, tapi saat ia hendak melompat ke ventilasi, ia melihat sebuah botol kecil terjatuh dari saku jas lab Arkan yang ditinggalkan di kursi.
Botol itu berisi cairan berwarna biru bening dengan label: "ANTIDOT TRAUMA - PROTOTIPE #09".
Evelyn tertegun. Antidot trauma? Apakah dia sedang mencoba membuat obat untuk menyembuhkan fobianya sendiri... agar dia bisa menyentuhku tanpa rasa takut?
Hati Evelyn bergetar sesaat, namun ia segera menepis perasaan itu. Ia mengambil botol itu (untuk dianalisis Edward nanti) dan menghilang ke dalam kegelapan ventilasi.
Sepuluh menit kemudian, Evelyn sudah kembali ke tempat tidurnya, mengenakan daster polkadotnya dan pura-pura mendengkur keras.
Pintu kamarnya terbuka sedikit. Arkan berdiri di sana, menatap sosok istrinya yang terlihat sangat tidak berdaya di balik selimut. Arkan memegang selembar kertas hasil tes DNA yang baru saja ia cetak.
"Alergi debu..." gumam Arkan pelan. "Mungkin aku memang sudah gila karena terlalu banyak menghirup uap alkohol."
Arkan mendekati tempat tidur, ia meletakkan botol susu hangat yang sempat ia bawa tadi di atas nakas. Sebelum pergi, ia sempat memperbaiki posisi kacamata Evelyn yang miring di atas meja.
"Tidurlah, My Nerdy Wife. Besok kita akan ke rumah sakit untuk memastikan 'alergi debumu' tidak semakin parah," bisik Arkan dengan nada yang anehnya terdengar... lembut.
Setelah pintu tertutup, Evelyn membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk.
"Ed," bisik Evelyn.
"Ya, Queen?"
"Kenapa rasanya menjadi 'Nerdy Wife' jauh lebih sulit daripada menjadi Queen Mafia?"
"Mungkin karena musuhmu kali ini bukan menggunakan peluru, Queen. Tapi menggunakan susu hangat dan perhatian yang higienis."
Evelyn terdiam, memeluk gulingnya erat. Besok adalah perjalanan ke rumah sakit, wilayah di mana Arkan akan melakukan pemeriksaan medis total padanya. Jika dokter Arkan menemukan bahwa Evelyn tidak punya alergi apapun, tamatlah riwayat penyamarannya.
"Permainan ini semakin gila, Arkan," batin Evelyn. "Tapi aku tidak akan kalah dari seorang pria yang takut pada sebutir debu."