NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Kebenaran yang Mulai Terbuka

Pagi itu Sebasta Galen Sadipta kembali duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir tidak jauh dari sekolah Sabine.

Sudah tiga hari terakhir pria itu datang diam-diam ke tempat yang sama.

Dan semakin lama… perasaannya semakin tidak tenang.

Tatapan dingin Sabine.

Cara gadis itu berbicara.

Kebiasaan menggigit bibir saat kesal.

Semuanya terlalu mirip seseorang.

Dariela Atlanna Zavira Raespati.

Sebasta mengusap wajahnya lelah sambil menatap keluar jendela mobil.

Ia tidak tahu kenapa dirinya terus datang ke sini.

Namun setiap melihat Sabine… ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan.

Tak lama bel sekolah berbunyi.

Murid-murid mulai keluar memenuhi halaman sekolah.

Dan di antara keramaian itu, Sebasta langsung menemukan Sabine.

Gadis itu berjalan sambil mengomel sendiri sambil memegang ponsel.

“Mima pasti lupa masukin botol minum aku lagi…”

Namun langkah Sabine tiba-tiba berhenti saat beberapa anak perempuan menghadangnya.

“Eh Sab.”

Salah satu dari mereka menyeringai kecil.

“Katanya tugas kelompok udah jadi?”

Sabine menghela napas pelan.

“Udah aku kirim.”

“Bagus dong,” jawab gadis itu santai sambil tertawa dengan temannya. “Enak ya punya babu pintar.”

Tatapan Sebasta langsung berubah dingin.

Ia melihat jelas bagaimana wajah Sabine menegang sebentar sebelum kembali datar.

Persis seperti Ela dulu.

Dulu… Ela juga selalu diam saat direndahkan orang lain.

Dan entah kenapa, melihat itu membuat dada Sebasta terasa sesak.

Namun sebelum ia sempat turun dari mobil, suara motor terdengar mendekat cepat.

Dylan datang dengan helm hitam sambil membuka kaca helmnya sedikit.

“Heh pendek!”

Sabine langsung menoleh kesal.

“Apa sih?”

“Naik.”

“Aku masih pengen hidup.”

“Cepetan sebelum Mima marah.”

Sabine langsung mendecih namun tetap naik ke motor kakaknya.

Dan sebelum pergi, Dylan sempat melirik tajam ke arah anak-anak yang tadi mengejek adiknya.

“Kalau ada yang nyuruh adek gue ngerjain tugas lagi…”

Suara Dylan terdengar santai namun dingin.

“Kerjain sendiri tangan kalian.”

Anak-anak itu langsung diam.

Motor pun melaju pergi meninggalkan sekolah.

Sementara Sebasta masih diam di dalam mobilnya dengan rahang mengeras.

Karena untuk pertama kalinya… ia merasa marah melihat Sabine diperlakukan seperti itu.

Sama seperti dulu saat Ela direndahkan.

Namun bedanya…

Dulu ia hanya diam.

Tok tok.

Arsen mengetuk pintu mobil pelan sebelum masuk membawa sebuah map cokelat.

“Tuan.”

Sebasta menoleh singkat.

“Ada hasil yang Tuan minta.”

Entah kenapa jantung Sebasta langsung berdetak tidak nyaman.

Ia menerima map itu perlahan lalu membukanya.

Dan detik berikutnya… dunia pria itu terasa berhenti.

Foto pertama langsung membuat napasnya tercekat.

Foto Ana.

Atau lebih tepatnya… Dariela Atlanna Zavira Raespati.

Masih hidup.

Sebasta langsung membeku.

Tangannya gemetar hebat saat membaca data di bawah foto tersebut.

Nama baru: Ana Lee.

Tinggal di Korea Selatan selama lima belas tahun.

Pemilik café kecil bersama dua anak.

Dua anak.

Mata Sebasta langsung berpindah ke foto berikutnya.

Sabine Savira Lee.

Umur empat belas tahun.

Tanggal lahirnya membuat tubuh Sebasta langsung melemas.

Hitungannya cocok.

Sangat cocok.

Pikiran pria itu langsung kembali ke malam prom lima belas tahun lalu.

Malam yang selama ini menghantuinya.

Malam saat ia menghancurkan hidup Ela dengan tangannya sendiri.

“Tidak mungkin…”

Suara Sebasta hampir tidak terdengar.

Namun matanya mulai memerah saat memperhatikan foto Sabine lebih lama.

Tatapan itu.

Wajah itu.

Dan sifat dingin yang menutupi luka.

Semuanya terasa seperti melihat Dariela kecil kembali hidup di depan matanya.

“Tuan…” Arsen terlihat ragu. “Ada lagi.”

Sebasta mengangkat kepala perlahan.

“Beberapa hari lalu…”

“Tuan Damir Raespati dan keluarganya datang menemui Nona Dariela.”

Deg.

“Mereka tahu Nona masih hidup.”

Sebasta langsung menutup matanya pelan.

Dadanya terasa semakin berat.

Jadi akhirnya… semuanya terbongkar.

Ela yang selama lima belas tahun menghilang akhirnya ditemukan kembali.

Dan yang paling menghancurkan…

Sebasta baru sadar kalau selama ini ia mungkin memiliki seorang anak perempuan yang tumbuh tanpa ayah.

Persis seperti Dariela dulu.

Pria itu tertawa kecil pahit sambil menunduk.

“Lucu ya…”

Arsen diam.

“Aku dulu benci orang-orang yang nyakitin Ela…”

“Tapi ternyata…”

Sebasta mengepalkan map itu kuat-kuat sampai tangannya bergetar.

“Orang paling menghancurkan hidup dia malah aku sendiri.”

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!