Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Salah Siapa?
Acara ulang tahun William berlangsung di sebuah gedung yang telah direnovasi menjadi tempat eksklusif yang sangat tertutup. Setiap cerita, setiap obrolan, setiap tawa yang beredar di lokasi bercampur dengan musik jazz yang dibawakan penyanyi ternama, sementara aroma makanan yang menggoda tercium dari arah dapur terbuka. Para tamu undangan tampil dengan pakaian mewah serta berdandan sangat rapi, saling bergumam dalam berbagai bahasa.
Adapun Seo yeon tampil benar-benar berbeda malam itu. Dirinya mengenakan gaun hitam panjang yang membentuk lekuk tubuh dengan elegan, membiarkan rambutnya terurai bebas, sementara bibirnya dipoles warna merah alami yang memikat. Darren yang berdiri di sampingnya beberapa kali melirik, lalu terpaksa memicingkan mata karena merasa silau oleh kecantikan majikannya itu. Siapapun pejantan di sini juga meliriknya, jadi apa salahnya?
“Konsentrasi pada tugasmu, Tuan Asisten,” perintah Seo yeon tanpa sedikit pun menoleh.
“Saya sedang konsentrasi penuh, Nona,” balas Darren.
“Tapi kamu melirik ke arahku terus sejak tadi.”
“Saya hanya sedang memeriksa keamanan di sekitar Nona secara saksama.”
Seo yeon hanya bisa mendesah pelan mendengar alasan itu.
Tapi pada kenyataannya memang sistem di kepala Darren terus bekerja sepanjang malam tanpa henti. Radar mendeteksi seorang pengusaha tambang dengan akumulasi utang Rp67 miliar. Lalu di dekat bar, terdeteksi seorang kolektor seni dengan utang Rp23 miliar. Bahkan di taman belakang, sistem menandai seorang politisi dengan utang mencapai Rp89 miliar.
Darren bergumam di bawah napasnya jika pesta ini benar-benar menyerupai supermarket utang baginya lantaran segalanya tersedia dan tinggal dipilih. Kendati demikian, saldo Rekening Sistem miliknya masih mentok di angka Rp7,93 miliar dengan akumulasi tagihan total Rp9,79 miliar. Dia hanya membutuhkan Rp210 juta lagi untuk mencapai ambang batas Level 3. Masalah utamanya adalah syarat kenaikan level yang diberikan sistem terasa sangat nyeleneh dan tidak mungkin dihindari, sebuah fakta yang membuat Darren ingin menendang sesuatu karena merasa kesal.
“Kamu kenapa?” tanya Seo yeon menyadari kegelisahan asistennya.
“Tidak apa-apa, Nona. Hanya saja—”
“Hanya?”
“Aku merasa sedikit lapar.”
Seo yeon menatap Darren sebelum berkata, “Sana ambil makanan dulu di meja prasmanan. Aku berada di sini sendiri tidak masalah.”
Darren memberikan anggukan hormat lalu segera melangkah pergi.
Dari kejauhan, saat sedang mengambil makanan, mata Darren menangkap seorang pelayan yang menyodorkan gelas berisi cairan berwarna merah muda kepada Seo yeon. Wanita itu menerimanya lalu menyesap minuman itu secara perlahan. Karena paranoid, Darren seketika mengerutkan kening merasa ada yang ganjil.
“Pelayan itu sepertinya tidak ada di dalam daftar panitia acara,” batin Darren dengan curiga.
Dia segera mempercepat langkahnya kembali ke sisi Seo yeon. Akan tetapi di saat yang sama, William menghampiri Seo yeon dan mengajaknya berbincang akrab. Darren jarang melihat majikannya itu tertawa kecil, sebuah pemandangan yang terasa sangat tidak biasa. Beberapa menit kemudian, kondisi Seo yeon mulai terlihat aneh karena matanya tampak sayu, tubuhnya sedikit oleng, dan dia beberapa kali terlihat menahan kantuk yang hebat.
“Kepalaku terasa sangat pusing,” keluh Seo yeon pada William sembari memijat pelipisnya.
“Kebetulan ada beberapa kamar kosong di lantai dua yang bisa digunakan. Kamu istirahat saja dulu di sana agar lebih tenang,” tawar William dengan sangat perhatian yang membuat Darren muak.
Seo yeon sendiri memberikan anggukan lemah dan William segera memanggil pelayan lain untuk membantu mengantarkan wanita itu ke lantai atas. Darren yang memperhatikan interaksi tersebut dari kejauhan mengepalkan tangannya dengan kuat. Dirinya sangat yakin bahwa kondisi itu bukanlah kelelahan biasa yang dialami majikannya.
Langkah Darren yang hendak menyusul terhenti ketika William secara mendadak menarik lengan pria itu dengan kuat.
“Biarkan dia beristirahat dengan tenang. Dia hanya merasa kelelahan karena beban kerjanya,” cegat William.
Tentu saja Darren kesumat dan menatap tajam langsung ke mata William. “Segera lepaskan tangan Anda dari saya.”
“Wanita itu saat ini sedang butuh ketenangan, bukan gangguanmu.”
“Anda sendiri yang memberinya minuman tadi, bukan?” tuduh Darren tanpa ragu.
Wajah William berubah drastis dalam sekejap. “Apa sebenarnya maksud dari perkataan Anda itu?”
“Apa maksud saya? Maksud saya adalah Anda dengan sengaja memberinya minuman yang membuatnya kehilangan kesadaran!”
“Anda terlalu banyak ikut campur urusan pribadi kami,” balas William jauh lebih dingin. “Kalian itu hanya sebatas rekan kerja, bukan? Tidak. Kalian hanya sebatas bos dan bawahannya.”
Ketegangan di tengah ruangan itu semakin meningkat saat langkah kaki orang tua William terdengar mendekat, memberikan beban visual yang menekan posisi Darren.
William menatap Darren dengan pandangan yang sangat dingin dan penuh penghinaan, lalu berujar dengan tenang yang cukup keras untuk didengar tamu di sekitar mereka.
“Lihat dirimu. Seorang asisten yang lupa di mana kaki harus berpijak,” ucap William sembari merapikan kerah jasnya yang bahkan tidak kusut. “Kau pikir dengan berdiri di samping Seo yeon, kasta kita menjadi setara? Kau hanyalah pria yang kebetulan sedang bernasib mujur.”
Ayah William, yang berdiri di belakang putranya, ikut menimpali. “Keluarlah dari gedung ini sekarang. Pesta ini diadakan untuk martabat, bukan untuk anak muda rendahan yang tidak tahu diri dan hanya bisa membuat keributan.”
William menyeringai tipis, merasa di atas angin, dan benar-benar tidak ingin basa-basi bicara formal. “Katakan yang sebenarnya padaku. Apa kau juga menyukai Seo yeon secara pribadi? Jadi benar itu masalahnya. Kau merasa tidak rela karena akulah yang lebih dulu hadir dalam hidupnya jauh sebelum dirimu bahkan mendengar namanya?”
Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, melemparkan tatapan menghakimi ke arah Darren. Sementara pria itu hanya bisa terdiam, mengepalkan tangan di balik saku jasnya sembari menelan segala hinaan itu bulat-bulat demi tujuan yang lebih besar.
“Jadi benar itu masalahnya,” simpul William dengan senyuman sinis. “Kau merasa tidak rela karena akulah yang lebih dulu hadir dalam hidupnya jauh sebelum dirimu.”
Darren memilih untuk tidak memberikan jawaban apa pun. Sementara itu, orang tua William memandangnya dengan tatapan merendahkan lalu menyuruhnya pergi. “Keluarlah dari gedung ini sekarang!”
Darren akhirnya tersenyum kecut. “Baiklah. Aku akan pergi sekarang juga.”
Dia berbalik badan, namun alih-alih menuju pintu keluar gedung, langkah kakinya justru melesat cepat menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.
Pintu kamar di lantai dua terbuka dengan sekali dorongan. Darren menemukan Seo yeon sedang duduk di tepi tempat tidur sembari menampilkan senyuman yang terlihat sangat aneh. Percaya atau tidak, tapi Darren bisa melihat terdapat dua botol wiski yang sudah dalam kondisi kosong tak bersisa.
Seo yeon berusaha berdiri, namun tubuhnya goyah dan oleng ke arah samping. “Darren... akhirnya kamu datang juga. Rasanya seluruh badanku terasa sangat panas... jadi aku minum saja apa yang ada di sini.”
Wanita itu tersedak karena cegukan, mencoba memakai sepatunya namun justru berakhir terjatuh dan menubruk tubuh Darren yang baru saja mendekat.
“Tubuhmu... terasa sangat dingin dan nyaman,” racau Seo yeon sembari memeluk Darren erat.
Darren sendiri jelas berusaha mendorong pelan tubuh majikannya itu agar menjauh, namun kekuatannya tidak sanggup melepaskan pelukan itu.
“Darren... tolong temani aku saja di sini. Temani saja... .”
Darren akhirnya memutuskan untuk menggendong wanita itu. Sementara Seo yeon terus meracau tidak jelas tentang banyak hal yang sulit dimengerti. Sedangkan William memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan yang sangat tajam dari jendela. Ayah William mendekat dan bertanya, “Ada apa sebenarnya dengan teman wanitamu itu?”
“Aku tidak tahu pasti. Mungkin minumannya sengaja diracuni oleh orang lain tanpa sepengetahuanku,” jawab William sembari mengepalkan tangan dengan kuat. “Tetapi aku rasa itu hanyalah kecurigaanku semata. Akulah yang lalai dan tidak menjaga minumannya dengan benar tadi.”
Matanya menyipit dengan kebencian yang mendalam. William tahu persis bahwa semua ini pasti ulah Darren yang telah mengacaukan pesta ulang tahunnya dengan meracuni Seo yeon.
Mobil akhirnya berhenti di area basement gedung kediaman Han. Darren segera menggendong Seo yeon masuk ke dalam lift. Sepanjang perjalanan menuju unit penthouse, Seo yeon terus meracau, kadang dia tertawa sendiri tanpa alasan, lalu memanggil nama Darren berulang kali dengan sangat manja.
Shinta yang menyambut kedatangan mereka di pintu masuk langsung terlihat bingung dan cemas. Gadis bisu itu segera mengeluarkan ponselnya lalu mengetikkan sebuah pesan, “Ada apa sebenarnya dengan kondisi Nona sekarang?”
Darren tidak sempat memberikan penjelasan panjang. “Shinta, tolong siapkan air hangat di dalam kamar mandi sekarang juga.”
Shinta mengangguk cepat dan berlari menjalankan perintah. Sesampainya di depan kamar utama, Shinta membukakan pintu dengan sigap. Sementara Darren memapah Seo yeon menuju tempat tidur dan menyelimutinya dengan hati-hati.
“Sebaiknya Nona segera beristirahat. Aku akan memanggil dokter pribadi untuk memeriksa kondisi Nona,” ujar Darren.
Namun secara mengejutkan, Seo yeon justru menarik lengan Darren dengan kuat hingga pria itu terduduk di tepi kasur. “Tolong jangan pergi sekarang. Tetaplah di sini dan temani aku.”
Darren mematung dengan posisi kaku, tidak tahu harus berbuat apa.
“Aku mohon... .” pintanya dengan cara bicara yang sangat berbeda dari pembawaan dinginnya sehari-hari.
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang mewah. Sebuah alarm ponsel berbunyi nyaring tanpa ampun.
Darren yang merasa terganggu akhirnya membuka matanya yang masih terasa berat. Langit-langit kamar yang dia lihat saat ini terasa sangat tidak familiar baginya. Tak lama kemudian, dia terkejut bukan main saat menyadari kondisi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun, hanya selembar selimut tebal yang menutupi dirinya.
Dia memberanikan diri menoleh ke arah samping, dan benar saja, Seo yeon terbaring masih dalam keadaan tertidur lelap. Rambut bergelombangnya tersebar di atas bantal, dan dia pun berada dalam kondisi yang sama dengan dirinya.
“Oh iya, gawat! Semalam aku—“ batin pria itu sampai memejamkan matanya rapat-rapat, lalu membukanya kembali sembari berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, kenyataan di depan matanya tetap tidak berubah. Perasaan panik mulai menyelimuti dirinya, dia ingin berteriak sekeras mungkin namun lidahnya tak mampu karena rasa takut yang luar biasa.
Semua ini bukan karena pengaruh mabuk alkohol atau obat-obatan semata. Darren menyadari bahwa dia berada di sana dengan kesadaran penuh, namun entah bagaimana dia bisa berakhir di tempat tidur majikannya sendiri. Dia segera mengendap-endap keluar dari tempat tidur dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Seo yeon.
“Mati aku, mati aku... aku akan mati.”
Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kamar satu per satu, mengenakannya secepat mungkin tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Setelah merasa rapi, dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan. Saat sudah berada di koridor yang sunyi, Darren memeriksa ponselnya secara refleks. Sebuah notifikasi sistem muncul di layar utama.
Selamat. Ambang batas akumulasi tagihan telah terpenuhi. Pencapaian Level 3 berhasil tercapai.
Darren tertegun menatap layar ponselnya. Dia benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa karena kenaikan level yang dinantinya, atau menangis karena nasib buruk yang mungkin akan menimpanya setelah kejadian malam ini.
“Hari ini sepertinya akan menjadi hari pemakamanku sendiri,” batin Darren putus asa, meski dia menatap tangannya yang semalam menyentuh sesuatu yang dirinya anggap sebagai bagian dari surga. “Tapi yang semalam itu memang... .”