Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut Ilusi
Jalan setapak menuju gunung belakang Sekte Teratai Angin diselimuti oleh kabut putih yang luar biasa tebal. Kabut itu tidak terasa seperti uap air biasa, melainkan memiliki tekstur lengket yang membuat permukaan kulit terasa gatal dan tidak nyaman.
Li Zhen menyusuri jalan berbatu pualam tersebut dengan langkah yang sengaja diseret karena rasa malas yang mendalam. Angin malam berhembus kencang menembus jubah kasarnya, membuat tubuh kurus itu menggigil hebat menahan udara beku yang menusuk tulang.
Dia melipat kedua lengannya rapat-rapat di depan dada, berusaha keras mencari sedikit kehangatan dari tubuhnya sendiri yang sangat kekurangan gizi. Bibirnya yang pucat bergetar pelan, komat-kamit menggumamkan rentetan sumpah serapah untuk setiap anak tangga batu yang dia injak.
"Gunung sialan ini dibangun tanpa memikirkan kesejahteraan pejalan kaki sama sekali," rutuk Li Zhen dengan napas yang mulai terengah-engah. Dia berhenti sejenak, memegang lutut kanannya yang terasa nyeri karena terlalu lama mendaki tanjakan curam yang tidak memiliki ujung pasti tersebut.
Bayangan pohon-pohon pinus di sisi jalan terlihat sangat menyeramkan, meliuk-liuk tertiup angin layaknya monster raksasa berlengan banyak. Dua bulan kembar di langit hanya memancarkan cahaya redup berwarna merah darah, gagal menembus tirai kabut yang semakin pekat di depannya.
Perutnya kembali mengeluarkan suara keroncongan yang panjang dan nyaring, menggema memecah keheningan lereng gunung yang sunyi senyap. Rasa lapar ini jauh lebih menyiksa daripada rasa dingin, mengingatkannya pada betapa buruknya kualitas makanan yang baru saja dia buang.
Dia mengusap perutnya yang kempis dengan raut wajah penuh penderitaan, alisnya berkerut tajam menunjukkan betapa kesalnya dia pada dunia kultivasi ini. Li Zhen menendang sebuah batu kerikil dengan sekuat tenaga, melampiaskan amarahnya pada benda mati yang tidak bersalah.
Batu kerikil itu melayang dan membentur sebuah lentera batu di pinggir jalan hingga hancur berantakan menjadi debu. Suara pecahan batu itu terdengar sangat renyah, memberikan sedikit kepuasan sadis di dalam hati Li Zhen yang sedang kacau balau.
Sebuah layar biru neon tiba-tiba muncul di depan wajahnya, mengusir kegelapan malam dengan cahayanya yang sangat terang dan menyilaukan. Suara mekanis sistem kembali berdenting di dalam kepalanya, memberikan laporan tentang jumlah kekayaan abstrak yang dia miliki saat ini.
[Ting! Saldo Poin Sampah Inang saat ini: 2.100 poin.]
Li Zhen mendengus pelan, menatap angka bercahaya tersebut dengan ekspresi wajah yang masih menunjukkan ketidakpuasan tingkat tinggi. Namun, dia sadar betul bahwa dia harus menggunakan poin itu sekarang jika tidak ingin mati membeku sebelum menemukan makanan yang layak.
"Sistem, buka toko dan berikan aku peningkatan kekuatan fisik paling masuk akal yang bisa dibeli dengan poin menyedihkan ini," perintah Li Zhen di dalam hatinya. Layar biru itu berkedip dengan ritme yang cepat, menampilkan sebuah botol kecil bercahaya merah di halaman utama antarmuka toko.
[Esensi Darah Binatang Iblis Tingkat Dasar. Harga: 2.000 Poin Sampah. Efek: Meningkatkan kekuatan fisik dan ketahanan tubuh terhadap suhu ekstrem secara permanen. Apakah Inang ingin membelinya?]
"Beli dan langsung gunakan, udara di sini sudah mulai membuat cairan di dalam tulang rusukku membeku," jawab Li Zhen tanpa keraguan sedikit pun. Saldo poinnya langsung merosot tajam menjadi 100 poin, dan sebuah botol kaca berisi cairan kental berwarna merah menyala jatuh ke telapak tangannya.
Li Zhen membuka sumbat botol kayu tersebut, mencium bau anyir darah yang langsung membuat perutnya semakin bergejolak hebat. Dengan gerakan memencet hidungnya sendiri agar tidak muntah, dia menenggak habis cairan merah kental itu dalam satu kali tegukan panjang.
Sensasi panas yang luar biasa langsung meledak di dalam perutnya, seolah-olah dia baru saja menelan sebongkah arang yang sedang menyala terang. Panas itu menyebar dengan sangat agresif ke seluruh jalur pembuluh darahnya, membakar setiap inci otot dan tulangnya dari dalam.
Li Zhen mengerang tertahan, tubuhnya ambruk berlutut di atas jalan setapak sambil mencengkeram dadanya yang terasa mau pecah. Keringat hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membuang racun dan kotoran mortal yang selama ini menyumbat tubuh aslinya.
Proses menyakitkan itu hanya berlangsung selama beberapa menit, namun bagi Li Zhen rasanya seperti disiksa di dalam neraka selama satu abad penuh. Dia terengah-engah mengatur napasnya, lalu perlahan bangkit berdiri dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Udara gunung yang tadinya terasa sangat membekukan tulang kini hanya terasa seperti hembusan angin musim semi yang sejuk di kulitnya. Otot-otot di lengan dan kakinya memang tidak membesar secara drastis, namun terasa jauh lebih padat dan dipenuhi oleh tenaga fisik murni.
"Lumayan juga, setidaknya aku tidak perlu lagi berjalan merangkak seperti kakek tua yang kehilangan tongkatnya," gumam Li Zhen sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia mengusap keringat hitam di dahinya menggunakan ujung lengan jubahnya, tidak mempedulikan penampilannya yang kini semakin terlihat kotor dan gembel.
Setelah tubuhnya terasa jauh lebih segar dan kuat, dia melanjutkan perjalanannya membelah lautan kabut tebal yang menyelimuti gunung belakang. Namun, semakin jauh dia melangkah, kabut putih itu perlahan memancarkan pendaran cahaya ungu pucat yang sangat menyilaukan mata.
Pendaran cahaya ungu itu menciptakan ilusi optik yang sangat membingungkan, membuat pandangan Li Zhen menjadi kabur dan kehilangan fokus. Pohon-pohon pinus di sisi kiri dan kanan jalan tiba-tiba mulai bergerak memutar, seolah-olah memiliki akar yang bisa berjalan seperti kaki manusia.
Ini adalah Formasi Labirin Kayu Menangis, sebuah pelindung gaib lapis pertama yang dipasang oleh leluhur sekte untuk mencegah penyusup masuk. Formasi ini dirancang untuk menjebak para penyusup dalam ilusi ruang yang tak berujung hingga mereka mati karena kelaparan dan kelelahan mental.
Li Zhen menghentikan langkahnya, menatap pepohonan yang terus bergerak mengelilinginya dengan gerakan melingkar yang sangat membuat pusing kepala. Dia memijat pelipisnya perlahan, merasa mual melihat putaran pohon yang tidak memiliki pola ritmis yang jelas tersebut.
Alih-alih merasa takut atau mencoba memecahkan formasi itu dengan energi spiritual seperti kultivator normal, Li Zhen justru berkacak pinggang dengan arogan. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' dari sistemnya langsung aktif secara otomatis, memindai sumber energi yang mengendalikan formasi labirin tersebut.
Sebuah teks merah terang muncul melayang di udara, tepat di atas sebuah pohon pinus raksasa yang menjadi inti dari seluruh pergerakan aneh ini.
[Target: Roh Formasi Labirin Kayu Menangis. Kelemahan Mental: Memiliki gangguan obsesif-kompulsif terhadap kesempurnaan geometri, sangat tidak aman karena susunan akarnya sebenarnya tidak simetris sejak awal ditanam ratusan tahun lalu.]
Membaca informasi rahasia yang diberikan oleh sistemnya, senyum iblis yang sangat lebar langsung membelah wajah tirus Li Zhen. Matanya menyipit memancarkan niat jahat yang kental, dia sudah menemukan cara termudah untuk menghancurkan penghalang sakral ini tanpa perlu mengeluarkan keringat.