NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Hangat di Tengah Kabut

Suasana di dalam vila kolonial di Puncak malam itu masih diselimuti kecemasan. Nabila nggak bisa duduk tenang sama sekali. Dia mondar-mandir di depan perapian yang menyala, sesekali meremas kedua tangannya yang sedari tadi terasa dingin karena cemas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan kabut di luar jendela kelihatan makin tebal, menutup pemandangan hutan pinus seutuhnya.

Wijaya Aditama yang duduk di kursi rodanya cuma bisa memperhatikan cucu menantunya itu sambil menggeleng pelan. "Nabila, duduklah. Kamu bisa membuat lantai kayu itu bolong kalau mondar-mandir terus dari tadi."

"Aku nggak bisa tenang, Kek," sahut Nabila spontan, bahkan tanpa sadar dia sudah memanggil Wijaya dengan sebutan 'Kek'. "Kenzo belum ada kabar sama sekali setelah pergi tiga jam yang lalu."

Wijaya tersenyum tipis, sorot mata tuanya memancarkan rasa percaya diri yang tinggi. "Dia itu darah dagingku, Nabila. Seorang Aditama tidak akan membiarkan musuhnya pulang dalam keadaan utuh. Percayalah pada suamimu."

Tepat setelah Wijaya menyelesaikan kalimatnya, layar laptop Hadi yang ada di meja mendadak berbunyi bip pendek, nampilin sinyal enkripsi yang masuk dari Jakarta.

"Tuan Besar, Tuan Muda Kenzo terhubung!" seru Hadi buru-buru.

Nabila langsung berlari mendekati meja, matanya menatap layar laptop dengan napas yang tertahan. Layar itu nampilin wajah Kenzo yang ada di dalam mobil sport hitamnya. Pakaian rompi antipelurunya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang agak basah karena gerimis. Di sudut rahangnya ada sedikit noda debu, tapi tatapan matanya sudah kembali tenang dan teduh.

"Bil," panggil Kenzo lewat pengeras suara, suaranya terdengar berat dan agak serak karena lelah. "Ayah lo aman. Beliau sekarang lagi di mobil ambulans tim Alpha buat diobatin luka kecil di bibirnya, dan sekarang lagi perjalanan pulang ke Jakarta."

Mendengar kata 'aman', pertahanan Nabila langsung runtuh. Dia menangis lega sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Beban berat yang menghimpit dadanya sejak sore tadi mendadak hilang tanpa bekas.

"Kamu... kamu nggak apa-apa kan, Kenzo? Kamu nggak terluka?" tanya Nabila di sela-sela tangisnya.

Kenzo tersenyum miring di layar, senyuman nakal yang selalu berhasil membuat Nabila kesal sekaligus gemas. "Gue aman tanpa lecet sedikit pun, Sayang. Tikus-tikus itu bahkan nggak sempat nyentuh ujung baju gue. Sekarang, gue lagi jalan naik lagi ke Puncak buat jemput lo."

"Jangan ngebut, Kenzo! Di luar kabutnya tebal banget!" seru Nabila panik.

"Gak peduli. Gue mau cepet-cepet meluk pawang gue," sahut Kenzo cuek sebelum akhirnya memutus sambungan video secara sepihak.

Satu jam kemudian, suara deru mesin mobil sport legendaris itu terdengar memasuki halaman vila. Nabila bahkan tidak memedulikan udara dingin Puncak malam itu; dia langsung berlari keluar menembus pintu utama begitu mendengar suara pintu mobil ditutup.

Kenzo baru saja melangkah turun dari mobil saat sesosok gadis dengan piyama satin marun langsung berhamburan memeluk lehernya dengan sangat erat. Kenzo sempat terhuyung ke belakang karena hantaman pelukan itu, namun dengan cepat tangan kekarnya langsung mengunci pinggang Nabila, mengangkat tubuh gadis itu sedikit dari tanah.

Nabila menangis lagi di dada Kenzo, menenggelamkan wajahnya di kemeja suaminya yang berbau aroma maskulin bercampur rintik hujan. "Makasih... makasih banyak, Kenzo..."

Kenzo tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya erat-erat, menikmati kehangatan tubuh Nabila yang sangat dia rindukan sepanjang jalan dari Jakarta tadi. Dia mengecup rambut Nabila berkali-kali, menghirup wangi vanila dari tubuh istrinya yang selalu bisa menjinakkan emosinya yang meledak-ledak.

"Gue udah bilang kan, lo cukup percaya sama gue," bisik Kenzo lembut di telinga Nabila. Dia menurunkan tubuh Nabila perlahan, namun tetap merangkul pundaknya posesif agar terlindung dari angin malam yang menusuk tulang. "Yuk masuk, di luar dingin banget. Lo bisa sakit kalau begini."

Dalam ruang tengah. Di sana, Wijaya Aditama sudah menunggu bersama Hadi yang memegang nampan berisi dua cangkir teh jahe hangat.

"Kerja bagus, Kenzo," puji Wijaya dengan nada suara yang sangat formal namun tersirat kebanggaan besar di dalamnya. "Kamu membuktikan kalau kamu bukan sekadar CEO yang duduk di balik meja. Kamu layak memegang takhta tertinggi Aditama Group."

Kenzo nuntun Nabila buat duduk di sofa depan perapian, lalu dia mengambil salah satu cangkir teh jahe dan meminumnya sedikit sebelum menatap kakeknya datar. "Gue nggak butuh pujian lo, Kek. Urusan luar udah beres. Saham aman, pengkhianat udah ditangkap, dan mertua gue selamat. Sekarang... gue mau restu resmi dari lo buat pernikahan gue sama Nabila. Tanpa ada tes atau ujian gila lagi di masa depan."

Wijaya terdiam sebentar, menatap cucu laki-lakinya yang kini sudah tumbuh menjadi singa jantan yang bener-bener tangguh, didampingi oleh seorang wanita yang setia menjadi perisainya.

Pria tua itu akhirnya menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. "Restu itu sudah ada sejak kamu memutuskan memotong kabel bom demi gadis ini minggu lalu, Kenzo. Aku cuma butuh memastikan kalau kamu tidak akan melunak setelah menikah. Dan malam ini, kamu membuktikan sebaliknya."

Wijaya mengisyaratkan Hadi untuk menyerahkan sebuah dokumen baru berwarna merah tua ke meja depan Kenzo. "Itu adalah surat penyerahan seluruh aset gelap 'Tuan Agung' di Asia Tenggara atas namamu. Mulai besok... kamu adalah penguasa tunggal yang sesungguhnya. Jaga istrimu, dan jaga kerajaan bisnis kita."

Kenzo menatap dokumen itu, lalu beralih menatap Nabila yang sedang tersenyum manis ke arahnya dengan mata yang masih agak sembab. Kenzo menarik tangan Nabila, mengecup cincin pernikahan di jari manis istrinya itu dengan penuh khidmat. Badai besar keluarga mereka akhirnya resmi berlalu, digantikan oleh fajar baru yang penuh kemenangan dan kemanisan rumah tangga yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!